My CEO, My Ex-Husband

My CEO, My Ex-Husband
Terungkap



Dengan cepat Vania berjalan menuju pintu lift, ia tak ingin Mike mengetahui keberadaannya dan kembali mencari masalah dengannya.


Ting… pintu lift terbuka dan ternyata bukan hanya dirinya yang masuk di dalam lift itu, tetapi seseorang juga masuk di dalam lift yang sama dengan nya.


Jantung Vania berhenti dengan cepat, seakan mau meledak saat itu juga, ketika ia melihat pria yang berada satu lift dengannya.


Vania terpaku dengan kaki tangan yang terasa dingin.


Ting.. pintu lift tertutup beberapa detik kemudian.


Vania ingin keluar tapi terlambat lift itu sudah bergerak turun, kini tinggal lah ia bersama dengan seseorang pria dari masa lalunya.


Karena gugup, Vania tak berhenti menggerakkan anggota tubuhnya, seperti jari-jarinya yang terus saja memintal ujung kemejanya.


Wajah Vania terus menunduk, sementara yang tengah menatapnya menangkap kegelisahan pada gadis yang ada di sampingnya itu.


Hm… Mike berdehem untuk memecahkan kesunyian di antara mereka.


Vania tak menoleh sedikitpun, justru ia semakin terlihat gelisah.


Tenanglah Vania, jika kau gugup seperti ini, dia akan curiga, harusnya kau  bersikap biasa saja tadi, dia pasti curiga kepada dirimu,batin Vania sambil terus menundukkan wajahnya.


"Maaf Nona, sepertinya kita pernah bertemu sebelum ini?" tanya Mike yang bermaksud memulai percakapan.


"Nggak pernah Tuan," sahut Vania lirih.


Vania berusaha mengontrol dirinya agar tidak semakin gugup dan nervous. Namun, tetap saja ia ketakutan ketika pria itu berada di sampingnya. Bahkan mereka berada dalam satu lift yang sama.


Mike semakin mendekap dan aroma maskulin yang keluar dari tubuhnya semakin menyeruak di indra penciuman Vania.


Aroma maskulin yang begitu lembut, hingga membuat setiap wanita merasakan debaran jantung yang berbeda, ketika berdekatan dengan pria ganteng yang mempesona itu.


Ting…


 pintu lift terbuka, Vania langsung menarik nafas leganya kemudian berjalan keluar dengan cepat.


"Hai, Nona tunggu!" seru Mike.


Mike  memang penasaran dengan Vania  sejak ada di ruang rapat. Kebetulan saat itu, rapat telah selesai setelah makan siang. Ia pun memutuskan untuk menyusul Vania dan  pergi meninggalkan ruang rapat.


Selain merasa tak asing dengan wajah Vania, Ia juga melihat gelagat Vania yang mencurigakan dan semakin membuatnya penasaran tentang sosok gadis itu.


Vania berlari menuju halaman parkir kemudian ia masuk ke dalam mobilnya dan segera meninggalkan halaman parkir dari gedung tersebut.


Mike menatap heran kepergian Vania.


"Siapa gadis itu kenapa gadis itu terlihat begitu mencurigakan," gumam Mike.


Karena Mike  masih ada tamu penting, Ia tak menyusul Vania. Ia pun kembali ke ruangan rapat.


Robby dan ketiga rekannya masih sibuk membereskan piring-piring bekas rapat , sementara beberapa pengusaha kembali berkumpul mereka berbincang sambil berdiri sebelum semuanya pulang.


Mike  menghampiri tamu-tamunya itu setelah berbincang ia mengantar tamunya-tamunya menuju lobby.


"Terima kasih Tuan, senang bekerjasama dengan anda," ucap Mike  sambil berjabat tangan dengan beberapa orang pria.


"Terima kasih juga tuan Mike, saya yakin proyek di tangan Anda akan sukses. Anda adalah pengusaha muda yang berbakat, Siapa yang tak mengenal Mike Arlan Miller," sambung salah seorang pria lainnya.


"Haha  bisa saja Tuan, Terima kasih atas sanjungannya," ucap Mike.


Setelah mengantar tamunya Mike kembali ke ruangannya.


Begitupun dengan Robby, Jeremy dan Jerry mereka masing-masing kembali ke ruangan mereka.


"Robby ke ruangan saya sekarang!" titah Mike.


Robby langsung masuk ke ruangan Mike.


"Ada apa Tuan?" tanya Robby.


"Robby, Siapa gadis yang membantu menjaga meja prasmanan tadi?"


Robby jadi sedikit shock mendengar pertanyaan itu.


Wah ternyata benar Tuan naksir sama Vania. Kasih tahu nggak ya? kalau dikasih tahu itu berarti aku melapangkan jalan Tuan untuk memiliki Vania, kalau nggak dikasih tahu, aku bisa dipecat.


"Robby!" bentak Mike.


Robby tersentak kaget


"Eh iya tuan," sahur Robby dengan gelalapan.


"Sekarang aku tanya,siapa gadis yang membantu di ruang rapat tadi?!"


"Kau tahu namanya?!"


"Ehm namanya Vania Tuan," jawab Roby  dengan lesu.


"Vania?!"


Mike langsung membelalakkan bola matanya karena kaget.


'Apa dia adalah Vania yang aku cari selama ini?' batin Mike.


"Di mana alamatnya?"


Wah benar-benar nih orang,'batin Robby.


Alamatnya di rumah makan Davina tuan, Robby pun memberi alamat rumah makan Vania.


Mike  menghela nafas panjang.


"Kalau begitu kau urus surat kontrak dengannya saat ini juga! " Perintah Mike.


"Sekarang Tuan?" tanya Robby.


"Iya sekarang, urus  kontrak kerja sama dengannya dan pastikan dia mau menandatangani surat kontrak itu."


"Baik, baik Tuan. Kalau begitu saya permisi tuan." 


"Silakan!"


Mike menatap lurus ke arah depan.


Ia kembali mengingat wajah gadis yang ia temui dan membandingkannya dengan sketsa wajah Vania yang disimpannya di laci meja kerja.


Mike memang tidak pernah melihat Vania sebelumnya, tapi kebersamaan mereka selama 6 bulan membuat Mike  jatuh cinta tanpa ia menyadarinya.


Sosok Vania yang pernah hadir di hidupnya, begitu melekat meninggalkan kenangan manis hingga membuat Mike tak pernah mencari wanita lain.


Hingga saat ini, ia masih penasaran terhadap sosok wanita yang pernah menjadi istrinya.Namun tak pernah Ia lihat sekalipun.


"Apa aku susul  saja Vania di rumahnya," guman Mike  sambil memutar bolpoinnya.


"Ah Mike,  kau jangan gegabah, Jangan lakukan kesalahan untuk kedua kalinya jika kau tak ingin kehilangan dia lagi."


"Yang penting sekarang adalah, dia ada di hadapanmu."


Make bermonolog sambil tersenyum.


Pencariannya selama hampir 4 tahun kini membuahkan hasil.


"Ternyata dia lebih cantik daripada yang aku duga," ucap Mike  tersenyum sambil meraba sketsa wajah Vania.


***


Jerry menghadang langkah Robby Yang sepertinya terburu-buru.


"Eh lo mau ke mana Rob?"


"Mau ke rumah makan Davina!" sahut Robby dengan ketus.


"Biasanya lo kalau ke sana dengan wajah yang bahagia, kok sekarang serius banget sih muka lo?"


"Emang ada apa sih?"


"Tuan Mike  meminta aku untuk menyerahkan surat kontrak ini pada Vania."


"Wah harusnya lu senang dong, itu berarti kita juga akan mendapat keuntungan, rencana kita berhasil."


"Iya, tapi sepertinya Tuan Mike memiliki maksud tersendiri."


"Haha Jadi lo jealous sama Pak CEO?"


"Hahaha sabar aja bro Kalau memang jodoh nggak kemana kok, belum tentu juga Pak CEO naksir dengan gebetan Lo tuh!"


"Iya tapi kalau udah saingannya Pak CEO, gua kok jadi lemas gitu," cetus Robby dengan wajah yang lesu.


"Haha Sudahlah Rob, Jangan sedih, sabar saja!" 


"Sudah sebaiknya lo serahkan kontrak kerjasama itu pada Vania daripada lu dimarahin bos dan dipecat Bos, itu baru lo boleh sedih nangis tua loh sekalian! Haha." 


Jerry menepuk-nepuk pundak Robi kemudian berlalu meninggalkannya.


Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya, insya Allah ada satu bab lagi