My CEO, My Ex-Husband

My CEO, My Ex-Husband
Berdikari



Waktu terus berlalu, bayi perempuan Vania itu diberi nama Davina.


Selama 3 bulan Vania selalu dibantu oleh Zahra dan juga Marina dalam merawat Davina. Selama 3 bulan juga ia tak pernah keluar dari kosannya.


Paling-paling hanya sesekali ketika Vania harus membawa Davina ke klinik untuk imunisasi.


***


Vania menghitung sisa uang tabungannya saat Davina tertidur.


"Duh tinggal 30 juta lagi nih. Gimana ya keperluan bayi ternyata besar banget. Kalau begini terus belum 2 tahun uangku sudah habis."


"Kalau begitu aku harus cari kerja, tapi siapa yang akan menjaga Davina. Kasihan sekali kalau dia harus diasuh oleh orang lain,aku  nggak mau anakku kenapa-napa karena diasuh oleh orang lain."


"Tapi jika tetap di sini dan berdiam diri, aku nggak bisa berkembang, uangnya pasti akan habis, kasihan Davina jika aku kehabisan uang."


Vania berpikir sejenak,di dunia ini ia seperti tak memiliki siapa-siapa lagi. Jika saja uang itu habis, ia pasti akan kesulitan untuk mencari nafkah untuk anaknya. Sementara Vania belum terpikir untuk mempertemukan Davina dengan ayahnya.


"Aku buka usaha saja, tapi usaha apa?" Vania diam beberapa saat kemudian ia terpikir sesuatu.


***


Zahra, Marina dan Vania berada di kamar kosan. Sejak Vania melahirkan, Zahra jadi sering mengunjungi Vania karena ia sendiri belum memiliki anak dari pernikahannya dengan suaminya yang sudah berlangsung selama 5 tahun. Karena itulah ia selalu merindukan Davina.


Hampir setiap hari Zahra ke kosan Vania, dia datang untuk menemui Davina dan bermain dengannya.


Zahra juga sering membawakan makanan dan susu untuk Vania dan Davina.


"Vania kamu nggak kepikiran mau kerja?" tanya Zahra, ia berharap Vania menitipkan Davina kepadanya.


"Mau sih Mbak tapi, nggak ada yang mengurus Davina."


"Ah kalau itu mah gampang, Mbak ini nggak punya anak, mbak kepengen sekali mengangkat Davina jadi anak mbak, atau sekedar mengasuhnya untuk pancingan gitu, siapa tahu aja bisa segera hamil."


"Kalau kamu kerja, biar aja mbak yang jagain Davina, bagaimana?" tanya Zahra.


"Gimana ya mbak, aku rencananya pengen buka rumah makan kecil-kecilan saja, agar aku nggak full meninggalkan Davina. Kasihan dia, dia kan masih menyusui. Aku ingin memberikan ASI eksklusif untuk Davina selama dia 2 tahun."


"Wah bagus juga usul kamu tuh Van," sahut Marina


"Ya sudah kalau kamu maunya begitu, mbak punya kenalan yang memiliki ruko di tepi jalan. Kamu bisa menyewa rukonya, kamu bikin deh deh tuh rumah makan kecil-kecilan dulu."


"Kamu juga harus punya karyawan ,karena nggak mungkin kamu kerja sambil mengasuh anakmu."


"Iya, aku juga pikir begitu Mbak, aku masih memiliki uang 30 juta rencananya akan ku modalkan usaha, karena kalau aku hanya berdiam diri saja, uang itu akan habis."


" Sementara aku sudah tidak punya apa-apa dan tak punya siapa-siapa, aku harus bisa mengembangkan uang itu sebagai modal untuk kehidupan kami selanjutnya."


"Bagus, Mbak suka dengan pikiran kamu Vania."


"Kalau begitu, nanti Mbak bicarakan pada pemilik toko, kebetulan tokonya berada di lokasi yang strategis. Biar Mbak yang menawar supaya sewa rukonya lebih murah."


"Oh iya, kalau begitu Terima kasih Mbak, saya merasa terbantu sekali."


"Sama-sama Vania saat kamu kerja kamu boleh menitipkan Davina di rumah Mbak kebetulan Mbak kesepian suami Mbak sering keluar kota."


"Oke Mbak, terima kasih banyak ya."


"Kalau kamu butuh karyawan, Kakak juga mau bantuin kamu Vania," sahut Marina.


"Tapi Mbak kan kerja di warung Pak Supri."


"Mbak berhenti dari warung pak Supri dan bantuin kamu saja "


 "Apa Pak Supri nggak tersinggung kalau aku buka rumah makan dan membawa Mbak Marina bagai karyawanku?"


"Insya Allah nggak akan tersinggung kok, pak Supri orangnya baik dia pengertian."


"Oh iya lah Kakak beritahu saja pada Pak Supri dengan cara yang baik-baik."


Oke.


Sebulan kemudian Vania udah mulai membuka usaha warung makan.


Vania membuka warung makan kecil-kecilan dengan mengusung tema Rumah makan sederhana.


Saat itu ia hanya merekrut dua karyawan.


Hari ini, adalah hari pertama warung makannya mulai beroperasi.


Sejak seminggu yang lalu, Vania sudah sibuk mempersiapkan Grand opening warung makannya.


Menurut saran dari Zahra, Vania harus melakukan promosi, ia pun mengadakan promosi untuk menarik konsumennya.


Dan ternyata promosi yang ia lakukan cukup berhasil, karena banyak sekali pelanggan yang datang di hari itu.


Sejak dua hari yang lalu mereka memang sibuk bahkan ,Davina sampai harus menginap dan tidur bersama Zahra.


Hari ini ada ratusan pelanggan baru yang datang makan di warung mereka. Selain memberikan potongan harga untuk porsi tertentu, Vania juga melakukan survei tentang menu makanan yang paling digemari oleh pelanggan.


Hari yang sangat melelahkan bagi Vania. Namun juga sangat membahagiakan baginya.


Hari ini adalah awal bagi kehidupan yang baru yang akan ia jalani. Kini Vania sudah memiliki status baru sebagai wirausahawan main status janda dan ibu bagi Davina.


Pukul 06.00 sore Vania sudah menutup warungnya karena stok makanan mereka hari itu juga sudah ludes.


Tubuhnya terasa pegal-pegal karena beberapa hari ini sibuk dan kurang beristirahat. Untung saja Davina tidak pernah rewel, sehingga Vania lebih mudah melakukan aktivitasnya.


Seluruh karyawan sudah pulang begitupun toko yang sudah ditutup sebagian.


Vania menghitung pemasukannya di hari pertamanya.


Ia tersenyum meski hari ini hanya mendapat sedikit keuntungan karena promosi. Namun ia sudah memiliki beberapa pelanggan dan hasil surveinya cukup memuaskan.


Para pelanggan menyukai hampir semua menu yang ada di warung makan Vania, itu membuatnya semakin yakin dan bersemangat dengan usaha yang ia jalani saat ini.


"Bagaimana pendapatan kamu hari ini?"  tanya Zahra.


"Lumayan lah Mbak, meski sedikit tapi ada beberapa pelanggan yang meminta nomor telepon saya, katanya untuk catering ulang tahun anaknya, juga untuk acara arisan."


"Alhamdulillah sekali Vania, ini awal bagi kamu untuk memulai usaha kamu."


"Mbak bangga dengan kamu Vania, kamu wanita yang memiliki prinsip, wanita tegar dan mau berusaha, Mbak yakin suatu saat kamu pasti akan jadi wanita yang sukses dan mandiri."


"Amin semoga saja Mbak."


"Ini semua juga karena bantuan Mbak Zahra dan Kak Marina yang selalu support aku. Jika tidak, aku nggak akan kuat menghadapinya semua ini."


"Semua ini aku lakukan demi putriku, aku ingin Davina mendapatkan pendidikan yang layak agar masa depannya lebih cerah tak seperti diriku ini."


Zahra mengacungkan jempolnya ke arah Vania.


"Hebat kamu Vania ,meski kamu masih muda pikiran kamu begitu lues, Davina pasti bangga memiliki ibu seperti kamu."


"Iya Mbak aku juga nggak menyangka aku bisa seperti ini, awalnya aku takut jika modal ku tak kembali, tapi jika tidak mencoba kita mana tahu hasilnya."


"Keren Vania, Mbak salut sekali sama kamu."


"Kamu benar-benar single mother yang mandiri."


Terima kasih Mbak."


"Sekarang aku mau tutup toko ku dulu, Aku sudah lelah, kasihan juga Davina sudah seharian aku tinggalkan. Aku juga kasihan melihatnya yang harus minum susu formula."


"Nggak apa, ini semua kamu lakukan untuk anak kamu juga."


"Iya Mbak, terima kasih."


Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih.