My CEO, My Ex-Husband

My CEO, My Ex-Husband
PDKT



Malam minggu ini Anton berencana mengajak Vania dan Davina jalan-jalan.


Pukul 08.00 malam ia menghampiri Rumah makan sekaligus tempat tinggal Vania.


Pukul 08.00 malam Rumah makan Vania sudah sepi meskipun Rumah makan itu bukan secara 24 jam.


Saat itu Davina dan Vania masih nyantai di salah satu kursi pelanggan.


"Om Anton!" seru Davina ketika melihat Anton tiba dengan motornya.


Davina segera berlari menghampiri Anton.


Vania menoleh ke arah putrinya, ada rasa khawatir pada dirinya jika Anton terlalu dekat dengan Davina.


"Halo cantik Oom belum tidur ya?"tanya Anton.


"Belum om, belum ngantuk."


"Kita jalan yuk, ajak," Anton


"Jalan ke mall ya Om?"


"Iya, Om mau ajak Davina dan Bunda jalan-jalan ke mall yuk !"


"Mau Om!" Sambut Davina dengan bahagia.


"Izin sama  Bunda dulu dong sekalian ajak Bunda ke mall."


"Iya Om, ayo kita?"  tanya bunda.


Vania menatap ke arah Anton yang menggenggam erat tangan Davina.


"Bunda Om mau aja kita ke mall boleh ya Bunda?"


Vania tersenyum simpul.


"Lain kali saja Anton, Hari ini aku lelah sekali."


"Oh begitu, Ya sudah kalau begitu bolehkah  aku menemani kamu di sini?" tanya Anton, meskipun ia merasa sedikit kecewa atas penolakan Vania.


"Yah,  Bunda padahal Davina mau ke mall."


"Lain kali saja ya Nak, ya Bunda Hari ini lelah sekali."


"Iya deh nanti jalan-jalan ke mall-nya sama Bunda Zahra saja, Bunda Zahra nggak pernah nolak diajak ke mall ucap Davina dengan bibir yang mengkerut.


"Bunda Bukannya nggak mau hanya saja bunda lelah sekali hari ini mungkin besok Bunda aja kamu ke mall ya."


"Iya deh Bunda."


Sekarang bilang Mbak yang di dapur Tolong bikinin om Anton minuman ya, perintah Vania pada Davina.


"Oke Bunda," ucapnya.


***


Vania dan Anton duduk bersama kebetulan saat itu Anton ingin berbicara empat mata.


"Van, aku berencana membawa kamu dan Davina menemui mamaku."


"Menemui mamamu untuk apa Ton."


"Van, aku sudah bilang pada mama tentang kamu. Aku bilang jika kamu adalah calon istriku, dan Mama ingin bertemu dengan kamu."


"Bertemu dengan aku? Apa Mama mau terima aku Ton, dengan status dianggap apalagi aku punya anak.


Lagi pula aku belum siap menikah Ton."


"Tapi Kenapa belum siap  Van, Apa kamu nggak percaya sama aku? Van aku mungkin hanya karyawan swasta biasa, Aku akan berusaha menjaga kamu dan Davina dan membuat kalian tetap bahagia,"


"Bukannya begitu Ton, hanya saja Davina masih terlalu kecil dia masih butuh kasih sayang, jika aku menikah lagi pasti perhatianku terbagi untuk suamiku,untuk pekerjaanku, lalu kapan untuk Davina."


"Sejak dari kecil aku tinggalkan Davina untuk memulai karir sebagai wirausaha, dan baru 1 tahun ini Davina bisa kubawa ke mana saja aku pergi. Aku sadar sebagai ibu aku belum bisa mencurahkan sepenuhnya kasih sayangku terhadap Davina karena pekerjaanku, nah itulah aku belum pernah terpikir untuk menikah lagi," Papar Vania panjang lebar.


"Nggak harus sekarang lah Van, tapi setidaknya aku ingin hubungan kita berlanjut ke jenjang yang lebih serius atau minimal Kamu kenal dulu keluarga aku."


Vania yang beberapa saat.


"Kamu mau kan fan bertemu dengan mama dan keluarga aku?" Tanya Anton.


Setelah berpikir beberapa saat Vania pun mengangguk dengan lirih.


"Baiklah," jawabannya sambil mengangguk.


"Gitu dong Van, Aku harap kali ini nggak ada halangan lagi untuk cinta kita, aku bersedia kok menerima kamu dan Vania apa adanya."


"Terima kasih ya Ton, atas ketulusan hati kamu, sejak dulu sampai sekarang kamu nggak berubah sama aku, meskipun banyak hal yang telah merubah diriku."


"Itu karena aku mencintaimu dengan tulus Van, Karena itulah perasaan itu tidak berubah."


Vanua dan Anton saling melempar senyum.


***


Mike tiba di  ruang kerjanya.


"Robi  Ayo ke ruangan saya sekarang!"


"Baik Tuan,"sahut Robi.


Robby duduk di depan Mike.


"Bagaimana apa kau sudah dapatkan tender catering yang cocok untuk para buruh yang bekerja di proyek kita?"tanya Mike.


"Oh sudah tuan, ini tender pengajuannya silahkan anda periksa sebelum saya tanda tangani ini," ucap Robi.


Mike memperlihatkan harga satu porsi makanan yang terdapat dalam proposal milik rumah makan Davina tersebut.


"Oh Tuan tenang saja, masakannya benar-benar nikmat."


"Benarkah?!"


"Iya tuan. Awalnya saya juga tidak percaya, karena harganya yang murah, tapi setelah saya coba datangi restoran itu, tak hanya saya, Jeremy dan Jerry juga memuji masakan di rumah makan Davina," ucap Robby meyakinkan Mike.


"Baiklah, kalau begitu untuk rapat besok kamu pesan saja catering di rumah makan Davina, aku akan cicipi sendiri masakannya, jika memang benar enak berarti untuk catering kita pakai proposal Rumah makan Davina."


"Baik Tuan, siap laksanakan!"


***


Robi keluar dari ruangannya seketika rona wajahnya bahagia.


"Yes! sepertinya rencanaku berhasil."


"Rencana kerja dan mendekati mbak Janda, hehe," sahut Robby sambil tertawa  terkekeh-kekeh.


Robby kemudian kembali ke meja kerjanya dan kemudian meraih smartphone-nya dan melakukan panggilan kepada seseorang.


"Selamat pagi rumah makan Davina di sini, ada yang bisa dibantu ?"


Suara lembut dan merdu, terdengar menyapa Robi di seberang telepon.


Ya ampun Ini janda udah cantik suaranya merdu mendayu-dayu lagi batin Robi.


"Iya Bunda," sahut Robi bernada manja.


"Oh pak Robi, ada apa Pak?" tanya Vania.


Duh jangan panggil Pak dong panggil ayah dong aku kan calon ayah dari anak kamu, batin Robi sambil tersenyum.


Jeremy tiba di meja Robi ia heran melihat Robi yang tersenyum-senyum sendiri.


"Pak Roby,  pak Robi masih di sana ?"tanya Vania karena suara di seberang teleponnya begitu hening.


"Oh iya, iya Bunda, masih masih kok," jawab Roby  dengan gugup, karena baru sadar dari lamunannya.


"Begini Bunda," ucap Robby sok mesra.


"Maaf pak Robi, jangan panggil saya bunda dong.Gak enak dengarnya.


"Hehehe habisnya, saya nggak tahu nama Mbak."


"Panggil saja Vania, pak Robi."


"Oke Mbak Vania. Gini lho Mbak besok perusahaan kami akan mengadakan rapat dan saya bermaksud untuk memesan 50 porsi paket nasi lengkap untuk rapat besok."


"Oh tentu bisa pak Robi."


"Nanti saya kirimkan foto dan harga per paketnya ya."


"Oh iya Mbak Vania, kalau begitu secepatnya ya, biar saya bisa langsung order hari ini juga."


"Oke Pak siap, kalau begitu selamat siang pak."


"Selamat siang Mbak Vania," ucap Robi sambil tersenyum.


"Lu lagi ngomong sama siapa sih?" tanya Jeremy dengan tatapan tajam seperti ingin membunuh.


"Biasa aja lo natap gua!"


"Lu pasti lagi ngomongin sama Bunda Davina ya?" tanya Jeremy.


"Iya, emang kenapa?"


"Lo ingat ya, lo jangan main belakang ya Rob, Kita harus bersaing secara sehat."


"Iya, gua cuman mau pesan paket catering kok nggak ngapa-ngapain."


"Lu aja yang sirik. Mentang-mentang Mbak Vania janda, belum tentu juga mau sama lu," cetus Robi.


"Lu lihat aja, gini-gini banyak janda terjerat sama gua," cetus Jeremy.


"Terjerat apanya, terjerat hutang sama loh?"


"Sudahlah mendingan lo minggir saja, kita lihat Vania pasti akan bertekuk lutut di hadapanku," sahut Roby dengan yakin.


"Alah kepedean lo," sahur Jeremy.


Beberapa saat kemudian Robi mendapat pesan katalog dari Vania.


Setelah mempertimbangkan Roby, akhirnya ia  memilih salah satu dari paket menu yang ditawarkan di rumah makan Davina.


Robby kembali menelpon Vania.


"Halo selamat siang, Bagaimana pak Robi?"tanya Vania.


"Iya Mbak, kalau begitu saya pesan paket a dan dan snack dengan 3 kue yang berbeda."


"Oke pak Robi kalau begitu besok jam berapa harus saya siapkan catering-annya?"


"Besok jam 11.00 harus sudah siap ya Mbak bisa diantar kan di PT angkasa pura."


"Oh tentu saja bisa."


"Oke Mbak, kalau begitu saya langsung transfer dp-nya sekarang ya."


"Oh iya, terima kasih pak Robi,senang bekerja sama dengan anda," ucap 


"Saya juga senang bekerja sama dengan anda," balas Robi sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Jeremy.


Sementara Jeremy mendengus kesal melihat Robby yang seperti meledeknya.


Kedua orang itu sama-sama menutup telepon.