
Mike tiba di rumah sakit dan langsung mencari keberadaan Davina.
Saat itu Davina masih berada di ruang UGD.
'Bagaimana keadaan Davina Van?"tanya Mike.
"Panasnya sudah mulai turun, hanya saja Davina belum sadarkan diri, " ucap Vania sambil meneteskan air matanya.
"Kamu yang sabar ya, kita berdoa saja untuk putri kita."
Mike menghampiri Davina kemudian mendarat kecupan di kening Davina.
"Sayang Daddy ada di sini, kamu harus sembuh ya," bisik Mike di tepi telinga Davina.
Seorang suster dan dokter datang untuk memeriksa keadaan Davina.
"Sebenarnya anak saya sakit apa dokter?"tanya Mike.
"Kami belum bisa memastikannya Tuan, mungkin akan ada pemeriksaan lebih lanjut. Menurut hasil laboratorium anak anda mengalami infeksi, karena leukositnya yang tinggi."
"Selain itu perutnya juga kembung,untuk memastikan kami akan memeriksanya terlebih dahulu. "
Mike menghampiri Davina.
"Sayang daddy, cepat sembuh ya," ucap Mike.
.
"Tuan pasien bisa dibawa ke ruangan perawatan sekarang."
"Iya suster,"ucap Vania.
Tuan John baru tiba bersama nyonya Wilhelmina.
"Bagaimana dengan keadaan Davina?" tanya Tuan John.
"Panasnya masih tinggi Daddy."
"Sejak kapan Davina mulai demam, tadi malam Davina sehat-sehat saja Bahkan ia terlihat ceria dan bahagia."
"Gak tau daddy, Davina mulai demam malam harinya. Padahal dari pagi dia begitu aktif dan tak menunjukkan gejala akan sakit," tutur Vania lirih.
"Ya sudah semoga saja, ini hanya demam biasa dan sebentar lagi Davina akan sembuh."
Tuan John menghampiri Davina.
"Sayang cucu Opa cepat sembuh ya, opah sedih sekali melihat kamu seperti ini, nanti kalau sembuh oppa belikan mainan yang banyak untuk Davina, apa yang Davina inginkan akan Opa belikan," tutur tuan John dengan sedih, berkali-kali ia mencium pipi Davina.
Namun Davina tetap terpejam
Nyonya Wilhelmina mengerucutkan bibirnya. Matanya menatap tajam ke arah Davina.
'Makanya jadi orang jangan asal nyosor saja kamu, enak saja kamu baru datang sudah dikasih jatah warisan seluruh harta John Miller,sementara aku sudah jadi istri John Miller selama 20 tahun hanya mendapatkan sebagian aset-asetnya saja,' batin nyonya wihelmina.
"Permisi ya tuan-tuan pasien akan segera dipindahkan ke ruang perawatan."
Suster mendorong hospital bed menuju ruang perawatan saat itu tubuh Vania terasa lemah.
Mike membawa barang-barang yang Vania bawa sambil merangkul Vania yang berjalan beriringan dengan hospital bed yang didorong.
Mereka tiba di sebuah ruangan perawatan VIP.
"Mike, Vania, Daddy ada urusan sebentar, nanti sore Daddy akan kembali."
"Iya Daddy."
Vania sudah tak terpikir hal lain lagi semua ia serahkan pada Marina untuk mengurus catering-an perusahaan PT Angkasa putra.
"Davina Sayang, bangun Nak, bunda di sini. Kenapa Davina sampai bisa seperti ini Nak?" Vania mengusap kepala Davina, sambil meneteskan air matanya.
Suhu tubuh Davina masih terasa hangat Vania berbaring memeluk Davina dengan perasaan sedih dan khawatir.
Sementara Mike dengan sabar ia mengompres kening Davina untuk membantu menurunkan suhu tubuhnya.
Sudah setengah hari mereka menemani Davina di rumah sakit, Untung saja keadaan Davina tidak terlalu mengkhawatirkan Karena suhu tubuhnya mulai turun setelah mendapat beberapa penanganan medis.
"Van kamu makan dulu," ucap Mike.
"Aku lagi nggak nafsu makan."
"Jangan begitu, jika kamu sakit kasihan Davina, kalau kamu juga sakit siapa yang urus Davina nanti?" Bujuk Mike.
Seharian Vania tak makan dan tak minum, ia tak lagi berselera untuk melakukan sesuatu.
Tubuh Vania juga ikut lemah ia hanya berbaring di samping Davina.
Mereka masih menunggu hasil pemeriksaan uji laboratorium untuk mengetahui penyebab sakitnya Davina secara tiba-tiba.
Mike menyodorkan sendok yang berisi nasi ke mulut Vania.
"Ayo Makan!" Mike menarik tangan Vania agar bangkit untuk duduk.
Kemudian ia menyuapi Vania makanan.
Vania membuka mulutnya menerima suapan dari Mike, hanya beberapa suap ia sudah menolak untuk makan
Setelah itu ia kembali berbaring di samping Davina.
Karena terlalu lelah, Vania akhirnya terlelap sambil memeluk Davina.
Mike tetap terjaga berada di samping Davina, setiap jam Mike memeriksa termometer untuk mengukur suhu tubuh Davina.
"Syukurlah sudah mulai turun,"ucap Mike.
Mike memperhatikan Davina yang terbaring dengan perasaan gelisah, Davina mulai membuka kelopak matanya.
Vania yang tersadar langsung bangkit.
"Davina kamu Kenapa Nak?"
"Bunda perut Davina sakit!"
"Ayo mungkin kamu ingin BAB sayang."
"Kamu bawa standar infusnya, biar aku yang gendong," ucap Mike.
Mike dan Vania membawa Davina menuju kamar mandi.
Berkali-kali Davina buang air besar, hingga tubuhnya semakin lemah.
Tak hanya itu, Davina juga muntah-muntah.
Karena keadaan Davina yang begitu memprihatinkan mereka menghubungi dokter.
***
"Kenapa anak saya dokter?"tanya Mike ketika dokter telah selesai memeriksa keadaan Davina.
"Kami belum tahu pasti hanya saja dari gejala yang terlihat kemungkinan pasien keracunan makanan."
" Keracunan makanan?!"
Mike dan Vania saling memandang.
"Van memangnya apa yang dimakan Davina sebelum ini?"
"Nggak ada makan yang aneh-aneh, terakhir kali Davina makan ketika kita makan malam bersama."
"Jika memang ada zat yang membahayakan di makanan tersebut, tentunya kita juga pasti akan mengalami hal yang sama. Terutama aku aku yang menyuapi Davina dan makan satu piring dengannya."
"Sore harinya Apa kau tidak ada memberi makanan yang aneh-aneh?"tanya Mike.
"Aku selalu menyuapi Davina ketika aku, makan Jadi apa yang aku makan ya Davina juga mau makannya. Jika Davina keracunan tentu saja aku juga ikut keracunan."
"Lalu bagaimana dokter, apa akan berbahaya untuk putri saya?" tanya Mike.
"Saya pikir tidak akan terlalu berbahaya karena ditangani secara cepat, Untung saja tuan dan nyonya segera membawa Davina ke rumah sakit. jika tidak pasien akan mengalami dehidrasi berat akibat kekurangan cairan di dalam tubuhnya."
"Oh syukurlah, kalau begitu terima kasih Dokter," ucap Vania.
Akhirnya Vania bisa bernapas lega, hanya saja ia masih bertanya-tanya Apa yang menyebabkan Davina keracunan.
***
Malam harinya keadaan Davina mulai membaik, meski tubuhnya masih lemah namun Davina Sudah bisa membuka matanya.
Mike dan Vania tak beranjak di samping sang Putri tercinta.
Tak hanya itu Tuan John ikut menjenguk Davina di malam hari.
"Eh cucu opa sudah bangun. Opa ada bawa boneka untuk kamu,"ucap seraya menyerahkan sebuah tote bag yang berisikan mainan.
"Terima kasih Opa," ucap Davina lirih.
Davina terlihat lemas sekali
"Sama-sama sayang yang penting cucu obat cepat sembuh," ucap Tuan John sambil mencium pipi Davina.
"Iya Opa."
Tuan John mengusap kepala Davina, matanya berembun melihat Davina terbaring tak berdaya.
" Vina Mau makan Nak, Bunda suapin?"
"Ngak mau,nanti perut Davina sakit."
"Kalau gak makan justru perut kamu akan sakit."
"Iya Vina, nanti kalau Vina sembuh Daddy beli coklat es krim dan permen Lollipop untuk Davina, makan ya Sayang."
"Vina gak mau makan Lollipop lagi, rasanya pahit."
"loh kok Lollipop rasanya pahit, bukannya Lollipop itu manis?"
"Lollipop pemberian Oma rasanya pahit," cetus Davina.
"Lollipop pemberian Oma? Oma siapa Davina?"tanya Vania.
Davina menggelengkan kepalanya.
"Kapan Davina di beri Lollipop?"
"Semalam waktu Vina main."
"Semalam? di rumah Opa?"tanya Vania lagi.
Davina menggangguk.
Mike dan Vania saling memandang.
"Davina makan Lollipop nya?"tanya Mike.
"Cuma dikit! tapi Oma bilang Lollipop harus habis baru terasa manis," tutur Davina dengan sedih.
Mike dan Vania kemudian saling memandang.
Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih.