
Mike, Vania dan Davina keluar dari butik setelah melakukan fitting baju pengantin.
Vania sengaja memilih gaun yang tidak terlalu ribet karena waktunya yang sudah mulai mepet.
Selama Vania melakukan fitting, Mike menggendong Davina yang masih kurang enak badan itu, tubuhnya masih lemah meski suhu tubuhnya sudah mulai stabil.
"Davina juga fitting gaun ya, agar Davina juga kelihatan cantik saat pernikahan Daddy dan Bunda."
"Iya Dedi,"lirih Davina
Setelah Vania selesai, kini giliran Davina yang fitting gaun.
"Tante Vina mau gaun yang seperti Cinderella ya," pinta Davina.
"Baiklah tuan putri," ucap karyawan butik tersebut.
Meski kurang fit. Namun Davina ikut bersemangat fitting baju, ia juga ikut merasakan kebahagiaan kedua orang tuanya.
"Daddy Vina mau pulang," ucap Davina tiba-tiba.
"Kenapa Sayang?"
"Vina capek," ucapnya.
"Ya sudah kita pulang ya."
Mike kembali menggendong Davina, Davina menggelayut manja di pelukan Mike.
"Mike, Davina kenapa?"tanya Vania.
"Sepertinya Davina masih lemas."
"Kita pulang saja ya," ajak Vania.
"Ya sudah, nanti aku beli jas saja untuk pernikahan kita. Kita pulang sekarang saja."
Di perjalanan Davina merebahkan kepalanya di pundak Vania.
"Kasihan anak deddy, cepat sembuh ya Sayang, nanti kalau Davina sudah sehat kita jalan-jalan keliling dunia."
Mike mengusap kepala Davina.
"Mike, apa kamu sudah menyelidiki penyebab Davina keracunan?"
"Sudah, aku curiga pada mommy, hanya saja tak ada bukti untuk menuduh dan melaporkan pada polisi."
"Sudah ku duga dia tak akan pernah menyukai kami.Tapi kenapa harus Davina yang jadi korbannya?!"
"Entahlah Sayang, untuk sementara kita jaga saja Davina, jangan sampai kita kecolongan lagi, aku sudah menyuruh orang untuk mengawasi gerak-gerik mommy."
"Iya,aku rasa sebaiknya begitu, awas saja dia jika sudah ada bukti, aku yang akan melaporkannya."
"Iya, bagaimana pun perbuatan itu sudah mengancam nyawa Davina."
***
Karena pernikahan ini terjadi secara mendadak mereka harus membagi tugas.
Vania tengah berdiskusi bersama Marina untuk catering acara pernikahan mereka.
"Jadi kalian butuh Berapa porsi untuk resepsi pernikahan kalian?" tanya Marina.
"Sekitar sekitar 7000 porsi dengan 3 menu makanan yang berbeda Kak."
"Sebenarnya saat ini kita juga masih kekurangan karyawan Van, karena semakin banyak perusahaan yang menggunakan jasa catering kita Bagaimana kalau kita tambah karyawan lagi?"tanya Marina
"Atur saja lah Kak, mulai besok aku sudah sibuk mempersiapkan hari pernikahanku."
"Ih tapi kenapa mendadak begini sih. Untuk membuat tujuh ribu porsi dengan tiga makanan berbeda kita sudah harus mempersiapkan dari sekarang bahan dan bumbunya, belum lagi untuk catering perusahaan.
"Sepertinya Untuk itu kita membutuhkan 10 karyawan lagi Van."
"Iya ambil saja Kak, Sepertinya aku juga akan menambah cabang rumah makanku."
"Iya Van, sepertinya begitu,
Kakak nggak nyangka hanya dalam waktu kurang dari 4 tahun usaha kamu bisa berkembang dengan pesat seperti ini."
"Iya kakak, ini semua juga gak terlepas dari bantuan kakak dan karyawan kita."
Hanya saja, setelah menikah aku gak bisa terjun langsung seperti sebelumnya kak, ya karena Mike memintaku untuk untuk fokus mengurus Davina dan rumah tangga kami."
"Ya iyalah istri CEO gitu loh. Kamu tenang saja, asal kamu percaya sama kakak, kakak bisa kok handle semua jadi kamu tinggal duduk manis mengawasinya saja.Haha."
"Ih percayalah kak, selama empat tahun ini kita bekerja bersama, dan kakak sudah kuanggap keluarga sendiri."
Van ada Anton tuh, dari kemarin nanyain kamu, Kakak cabut dulu ya.
"Hai Van,"sapa Anton.
"Hai Ton, apa kabar?"tanya Vania berbasa-basi.
"Baik Van, kemarin aku dengar Vania masuk rumah sakit ya, maaf aku nggak bisa jenguk karena aku saat itu berada di luar kota."
"Oh nggak apa kok Ton."
"Oh ya Van, kedatangan aku kemarin dengan membawa berita gembira untuk kamu."
"Berita gembira apa Ton?"tanya Vania
"Van aku sudah berhasil membujuk ibuku untuk bisa menerima kamu dan Davina. Van kamu mau kan menemui ibuku kembali, aku berencana untuk membicarakan tentang pernikahan kita Van,"
Vania sedikit kaget dengan pernyataan Anton.
"Aku tahu Van ibuku pernah menyakiti hati kamu, Tapi saat ini beliau benar-benar telah menerima statusmu, dia juga sudah merestui hubungan kita, aku harap kita bisa segera meresmikan hubungan kita Van," tutur Anton dengan penuh harap.
Vania menatap iba wajah Anton,ada rasa tak enak hati melihat wajah Anton yang kembali datang untuk memintanya kembali, padahal mereka sudah putus beberapa waktu yang lalu.
Vania menghela nafas panjang kemudian menghempaskan.
"Maaf Ton, tapi aku sudah menerima lamaran Mike dan bulan depan kami akan menikah."
"Menikah Van?! tapi kenapa cepat sekali kau memutuskan untuk menikah dengannya."
"Kenapa kau tak memberi kesempatan untukku Van?" tanya Anton dengan perasaannya yang begitu kecewa.
"Maaf ya Ton, sebenarnya sejak kamu datang lagi dalam kehidupan aku, aku sudah tidak yakin jika kita berjodoh."
"Bukan karena apa-apa, tapi karena aku merasa pria baik dan tulus sepertimu harusnya bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku."
Wajah Anton tertunduk sedih.
"Ton, maaf ya, aku sudah sering membuatmu kecewa. Aku tak bermaksud menyakiti hati mu Ton, tapi ku rasa ini adalah jalan terbaik untuk kita berdua. Aku berharap kau tak marah dan kita tetap bisa berteman seperti yang dulu lagi," ucap Vania sambil menatap lekat wajah Anton.
Sebenarnya Vania tak tega mengatakan hal ini kepadanya,sejak Anton kembali hadir dalam hidupnya, ia sudah tak menyimpan perasaan cinta terhadap Anton sedikitpun.
Beberapa detik mereka bergeming, bola mata Anton terlihat memerah karena menahan air matanya.
Begitupun Vania, mungkin inilah yang dikatakan orang sebagai misteri jodoh, seberapa besar apapun cinta Anton dan seberapa lama pun penantiannya jika memang bukan jodoh, selalu ada jalan untuk mereka berpisah.
"Iya Van, aku terima kok segala keputusan kamu, aku doakan semoga kamu dan Davina bahagia selalu," ucap Anton dengan suara yang berat dan tertahan.
"Iya Ton, aku juga berdoa semoga kau mendapatkan pendamping yang lebih baik dari aku. Kau pria yang baik, kau pantas dapatkan yang terbaik," tutur Vania dengan bulir bening menetes di pipinya.
Vania tak tega menatap wajah Anton yang sudah ia kecewakan beberapa kali.
"Iya Van, terima kasih. Kalau begitu aku pulang dulu," ucap Anton sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Iya hati-hati hiks."
Vania menatap sedih kepergian Anton dari hadapannya dengan langkah yang longkai.
"Semoga kamu bahagia Ton," ucap Vania sambil menghapus air matanya.
***
Persiapan pernikahan sudah hampir rampung.
Dalam beberapa hari lagi resepsi pernikahan Mike dan Vania akan diselenggarakan.
Nyonya Wilhelmina berada di kamarnya sedang mengatur strategi.
"Bagaimana caranya aku bisa menghabisi si Vania dan Davina itu."
"Jika aku buat kecelakaan lagi,itu hanya akan membuat orang-orang semakin curiga, bisa saja John membuka kasus kecelakaan yang menimpa Mike dan Natasha sebelumnya."
"Jika memberinya racun, itu juga akan menimbulkan kecurigaan karena Davina sebelumnya pernah mengalami keracunan."
"Aku tak ingin harta keluarga ini sampai jatuh di tangan Vania dan anaknya itu. Mereka pasti akan menendangku dari rumah ini jika John memberi seluruh hartanya pada Davina."
"Huh bagaimana caranya aku untuk menghabisi mereka."
"Apa aku sewa pembunuh bayaran saja? Tidak, tidak terlalu beresiko."
"Pokoknya aku harus bisa menyingkirkan Vania Baik itu dengan cara halus maupun dengan cara kasar!"
Nyonya Wilhelmina tersenyum menyeringai.
bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya 🙏 terimakasih