My CEO, My Ex-Husband

My CEO, My Ex-Husband
Rencana Pernikahan



Setelah kesehatan Davina membaik,  Vania memilih untuk merawat Davina di rumah.


Setelah mengurus surat administrasi rumah sakit mereka bermaksud untuk segera pulang ke rumah.


Meski sudah tidak merasakan keluhan, Namun tubuh Davina tidak seperti biasanya, ia masih terlihat lemah.


"Anak Dedi Ayo kita pulang Sayang," ucap Mike sambil menggendong putrinya sementara barang-barang bawaannya dibawa oleh Bodyguard Mike.


***


Mereka pun tiba di rumah makan Davina


Mike  seperti biasa menggendong Davina kemudian membawanya ke kamar mereka, kemudian ia membaringkan tubuh Davina di atas tempat tidur.


"Dedi, malam ini Dedi akan tidur di sini bersama Vina kan ?"tanya Davina.


"Hehe kalau itu, Vina tanya sendiri sama bunda boleh nggak daddy tidur di sini menemani bunda dan Vina?" sahut Mike.


"Gak boleh," sambar  Vania sambil melototkan bola matanya ke arah Mike.


"Tuh kan nggak boleh, Vina sih mintanya aneh-aneh, Bunda jadi ngambek kan."


"Ya Bunda, tapi kalau nenek sihirnya datang lagi di mimpi Vina ,bagaimana?" tanya Davina.


"Nggak apa sayang, bunda akan ada bersama Vina, jadi Vina jangan takut ya."


"Iya sayang, ini tak akan lama kok, karena sebentar lagi bunda dan Dedi akan segera menikah, dan setelah menikah, Daddy akan tidur bersama Vina kembali."


"Yey asik!"seru Davina.


"Ya sudah kalau begitu Dedi pulang dulu ya nak. Davina butuh sesuatu tinggal telepon Dedi."


"Iya Dedi."


"Vania mana KTP kamu?" Tanya Mike.


"Untuk apa?" tanya Vania.


"Aku akan urus pernikahan kita sekarang juga."


"Hah! apa tidak terlalu cepat? Davina kan lagi sakit."


"Aku sendiri yang akan mengurusnya, Kau jaga saja Davina."


Vania meraih dompetnya kemudian mengeluarkan kartu tanda penduduknya dan menyerahkannya kepada Mike.


"Ya sudah kalau  begitu aku permisi dulu," ucap Mike.


Sebelum pergi tak lupa Mike mendaratkan ciuman pada kening Davina dan bibir Vania.


***


Pulang dari rumah makan Davina, Mike langsung mengurus surat menyurat untuk pernikahannya.


Tak hanya itu, hari itu juga ia menetapkan tanggal pernikahan dengan Vania dan menyewa sebuah gedung yang akan digunakan untuk resepsi pernikahan, serta memesan undangan.


Dering ponsel Vania berbunyi.


"Ada apa Mike?" tanya Vania.


"Kau silahkan pilih, di antara undangan-undangan ini, yang mana yang menurutmu bagus untuk undangan pernikahan kita."


Mike  memvideokan beberapa model undangan ada di percetakan.


"Apa? Sudah memesan undangannya, kenapa kau tak bicarakan padaku?"tanya Vania dengan kesal.


"Hehe, jika aku bicarakan padamu, kau pasti akan menunda-nundanya, sudahlah, kau tahu bersih saja, biar aku yang urus semuanya, besok kita akan fitting baju pengantin."


Vania memutar bola matanya ke segala arah.


"Hah kau selalu saja memaksa."


"Aku tidak memaksa, hanya mempercepat saja untuk apa buang-buang banyak waktu."


"Terserah kau lah Mike."


"Ya sudah Kalau begitu Kau pilih yang mana?"


Vania menunjuk salah satu desain undangan yang sederhana.


"Aku pilih yang ini saja."


"Oke baiklah."


"Kau mau souvenir apa untuk pernikahan kita?"


"Entahlah Mike, kau tanya aku seperti ini, urus saja, saat ini aku masih fokus mengurus Davina."


"Oke Sayang tenang saja pilihanku takkan mengecewakan. Jaga saja putriku itu dengan baik."


"Satu lagi kau mau mengundang berapa orang?" tanya Mike.


Vania sebenarnya malas meladeni pertanyaan Mike karena ia juga lelah, apalagi Davina saat itu tengah tertidur dan itu adalah waktu istirahat bagi Vania.


"Entahlah, aku tak memiliki keluarga, sepertinya aku akan mengundang karyawan dan teman dekat saja paling juga cuman 100 orang."


"Okelah sayang aku suka jika Kau pasrah seperti itu, semoga saja saat malam pertama nanti, kau juga akan pasrah seperti ini."


"Mike! Kau ingat perjanjian kita kan?!"


"Haha iya aku ingat, tapi apa salahnya aku berharap."


"Dasar mesum!"


"Haha resiko, Karena itulah aku menginginkan pernikahan ini dipercepat."


"Oh ya sayang, untuk masalah cateringnya, Bagaimana jika kita catering di rumah makanmu saja," cetus Mike dengan santai.


"Apa ?! Kau mau catering untuk resepsi pernikahan kita di rumah makanku?! dasar kau tidak mau rugi! " Semprot Vania.


"Apa di hari pernikahan aku juga harus mengurus catering untuk resepsi?!"


" Tentu tidak Sayang. Bukannya asistenmu ada, kau akan kujadikan ratu pada pernikahan kita dan hari-hari selanjutnya. Lagipula  Apa salahnya memanfaatkan rumah makanmu itu, tenang saja aku yang akan membayarnya full tanpa diskon, kau takkan rugi sedikitpun.Haha. " Mike tertawa bahagia.


"Terserah kau saja, kalau begitu kamu kompromikan saja dengan Kak Marina dan asistennya."


"Oke sip, baiklah kalau begitu aku tutup dulu teleponnya."


Vania menghela nafas panjang kemudian menghempaskan.


Ia tak tahu lagi harus berkata apa lagi.


***


Seharian ini Mike  disibukkan dengan mengurus pernikahannya.


Setelah mengurus segala sesuatu untuk keperluan pernikahannya seorang diri.


Mike  menghampiri asistennya Robby.


"Robby kamu awasi proyek kita yang terbaru, karena mungkin bulan ini saya akan cuti."


"Cuti  Tuan?  tapi kenapa tiba-tiba sekali?"tanya Robby yang sedikit penasaran.


"Aku mau mengurus pernikahanku."


"Bukan urusanmu kau kerjakan saja apa yang aku perintahkan!"


"Hehehe bukannya lamaran kemarin anda ditolak," cetus Robby. Dia pikir Mike  hanya bercanda.


Mike  menepuk pundak Robby.


"Aku akan mendapatkan apa saja yang aku  inginkan Robby,"ucap Mike sambil berlalu dari Robi.


Mike kemudian memanggil Jerry sekretarisnya. Mike memang tak mempunyai asisten wanita, ia lebih suka bekerja dengan asisten pria.


"Ada apa Tuan?" tanya Jerry.


"Kau data semua karyawan kita satu persatu."


"Untuk apa Tuan? Apa Anda ingin membagikan THR ?" tanya Jerry.


"THR dari mana?! hari raya saja masih lama!"


 "Aku tugaskan kau untuk mendata seluruh karyawan di perusahaan kita dan perusahaan Daddy, catat semua jangan sampai ada yang tertinggal."


"Iya Tuan, tapi untuk apa?!"


"Aku ingin seluruh karyawanku, melihat kebahagiaanku di hari pernikahan ku, aku akan mengundang mereka semua! Jadi undangan itu harus merata."


"Anda akan menikah Tuan ?" tanya Jerry yang juga ikut tak percaya.


"Memangnya kenapa?!"


"Tidak Tuan, rasanya baru beberapa hari yang lalu anda ditolak, sekarang sudah mau persiapan pernikahan pula."


"Hahaha, sudah! kau urus saja apa yang menjadi tugasmu, waktu kita tidak lama. Dalam waktu 2 hari, kau harus sudah bisa mendata seluruh karyawan di  seluruh perusahaan milik keluarga Miller."


"2 hari Tuan? untuk mendata ribuan orang?"


"Emangnya kenapa? jika kau tidak sanggup aku akan kuberikan tugas ini pada Jeremy."


"Tentu saja sanggup tuan."


Meski berat, Jerry tetap menyanggupinya karena biasanya Mike  akan memberikan bonus yang sangat besar, jika ia berhasil mengerjakan tugas  darinya.


Setelah mengurus pernikahannya yang akan berlangsung sebulan lagi, Mike pulang ke rumahnya untuk memberitahu berita tersebut kepada tuan John.


 Sekaligus ia mencoba untuk mencari bukti tentang lolipop yang diduga membuat Davina keracunan.


Setibanya di rumah, Mike  disambut dengan sapaan ramah nyonya Wilhelmina.


 


"Mike mommy dengar, Davina Sudah pulang dari rumah sakit ?"tanya Nyonya Wilhelmina.


"Iya Mommy."


Mike langsung meninggalkan Nyonya Wilhelmina, kemudian menghampiri Tuan Jhon yang sedang duduk di ruang kerjanya.


Kebetulan rekaman CCTV berada di ruang kerja Tuan John.


"Davina Sudah pulang ke rumah Mike?" tanya Tuan John ketika melihat putranya berada di hadapannya.


"Sudah Daddy."


"Bagaimana keadaannya sekarang? maaf Daddy  belum sempat menjenguknya lagi, kapan-kapan bawah Davina kemari Mike."


"Keadaan Davina Sudah mulai membaik. Daddy  tenang saja, nanti Davina akan sering-sering main ke sini, karena aku dan Vania sudah  sepakat untuk menikah bulan depan."


"Bulan depan?! Kenapa terburu-buru sekali Mike.


Mike tersenyum.


"Karena aku sudah tidak sabar ingin menikah Daddy, sudah hampir 4 tahun aku menduda."


"Haha, kalau aku sendiri takkan tahan menduda selama itu Mike,"cetus Tuan John menggoda putranya.


"Iya daddy, aku sudah mendaftar dan mempersiapkan sebagian besar persiapan untuk resepsi pernikahan."


"Baiklah kalau begitu, terserah kau saja. Jadi hanya ingin melihat kau dan dia bersatu dan kalian bertiga menjadi keluarga yang bahagia."


"Terima kasih Daddy atas doanya."


"Iya Mike, Semoga semua berjalan dengan lancar. Jika kau butuh bantuan Daddy, akan membantumu dengan senang hati."


"Tentu saja aku akan butuh bantuan Daddy."


Mike  menghampiri layar monitor yang ada di pojok ruang kerja Tuan John.


"Daddy, Aku ingin melihat rekaman CCTV bolehkah?"


"Untuk apa?" tanya Tuan John.


"Tidak apa-apa."


"Silakan saja."


Mike  melihat kearah DVR yang merekam situasi ruangan yang digunakan Davina untuk bermain, ia mencari tanggal di mana makan malam keluarga itu berlangsung.


"Ada yang janggal,"ucap Mike, ia  kembali memutar rekaman CCTV tersebut dan melihat ada beberapa menit yang terpotong di ruang bermain Davina saat itu.


"Mencurigakan," gumam Mike.


Mike semakin curiga terhadap Nyonya Wilhelmina. Namun ia tidak bisa menuduh sembarang yang tanpa bukti.


Bagaimanapun Nyonya Wilhelmina juga berjasa, karena telah membesarkannya dan saat ini statusnya pun masih resmi menjadi istri dari daddynya, seseorang yang begitu ia hormati. Ia tak ingin menuduh tanpa bukti dan menyakiti Daddynya.


***


Mike kembali menemui Ninis .


setelah mencari Ninis ke dapur dan berbagai tempat ,ia kembali tak menemukan Ninis.


"Surti Ninis kemana?" tanya Mike,ketika berpapasan dengan Surti.


"Oh Ninis pulang kampung Tuan muda, katanya ibunya sakit."


"Sejak kapan?"tanya Mike.


"Sehari yang lalu, ia tiba-tiba saja mendapat telepon dari kedua orang tuanya menyuruhnya untuk pulang."


"Oh begitu ya sudah."


Mike kembali berpikir, Kenapa semuanya terjadi secara kebetulan


Ia coba menghubungi Ninis. Namun sambungan teleponnya berada di luar jangkauan.


Karena ia tak bisa membuktikan apapun, Mike  kembali ke kamarnya.


Mike menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Aku jadi semakin curiga pada mommy, tapi kenapa mommy tega melakukan keji itu pada anakku sendiri. Davina salah apa, okelah jika ia tidak menyukai Vania tapi Davina?"


'Aku tak akan membiarkan putriku berada dalam bahaya, akan ku awasi saja dia.'


bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya Insya Allah satu bab lagi. Terima kasih