
Vania Mike dan Tuan John sedang berbincang bersama di ruang tamu.
"Vania daddy berharap kalian bisa kembali membina rumah tangga, Daddy yakin, dengan kehadiran kamu Mike pasti bisa berubah. Selama empat tahun ini, Mike terus mencari keberadaan kamu. Pikirkan juga tentang Davina, daddy juga pernah merasakan bagaimana menjadi anak korban dari broken home, dan daddy tak ingin cucu daddy mengalami nasib serupa."
Saat sedang ngobrol tiba-tiba datang sambil menguap.
"Bunda! Vina ngantuk," ucap Davina sambil berjalan mengucek ngucek matanya.
"Oh sini Sayang."
Vania mendudukkan Davina diatas pangkuannya kemudian memeluknya.
"Mike, sebaiknya antar aku pulang, Davina sudah mengantuk," bisik Vania pada Mike yang ada di sebelahnya.
"Daddy, maaf ya saya harus pamit, Davina sepertinya kelelahan dan mengantuk berat."
"Kenapa tidak tidur di rumah ini saja?"
"Lain kali saja daddy."
"Oh iya tak apa."
"Sini Sayang, biar daddy yang gendong" Mike menggendong Davina dan meminta sopir pribadinya mengantarnya pulang.
Davina tidur lelap dalam dekapan Mike hingga gadis cantik itu mendengkur.
"Davina pasti kelelahan," ucap Vania sambil mengusap punggung putrinya tersebut.
"Anak daddy, tidurnya nyenyak banget, di cium-cium gak sadar, malah makin lelap."
"Bunda mau di cium-cium juga biar makin lelap tidurnya?" goda Mike.
"Ehm modus!"
Hehe, Mike menarik tubuh Vania kedalam pelukannya.
"Daddy benar loh Van, jangan karena ke egoisan kita Davina yang jadi korbannya. Biarlah Davina kita merawat dan mendidik Davina tanpa ada orang lain."
"Kamu pikirkan, jika kita berpisah dan Davina ikut tinggal bersama kamu dan keluarga barunya,dia pasti dapat ayah sambung, sementara jika ikut aku, dia akan diasuh ibu sambungnya. Aku mengalami sendiri, bagaimana diasuh oleh ibu sambung dan jangan sampai putriku seperti nasib ku,"Tutur Mike sambil membelai rambut Vania.
Vania hanya diam sambil mencerna kata-kata dari Mike.
**
Pulang dari rumah Mike, Vania langsung membawa Davina tidur di kamar.
Seperti biasanya, Mike akan membawa Davina menuju kamar tidur mereka yang ada di lantai 2, setelah membaringkan Davina, Mike pulang ke rumahnya.
Vania mengganti pakaiannya kemudian berbaring di samping Davina yang sudah tidur begitu lelah.
Karena lelah, Vania juga ikut tertidur di samping Davina, mereka berdua tidur dengan lelap.
Malam semakin larut, Vania menarik selimut untuk menutupi dirinya dan Davina.
Tanpa sengaja ia menyentuh kulit Davina yang teraba hangat.
"Astaga!Davina kenapa?"
"Davina bangun, Nak," Vania panik. ia memanggil nama Davina sambil mengguncang pelan tubuhnya.
Davina membuka matanya sedikit kemudian terpejam lagi.
"Sayang kamu demam ya?"tanya Vania sambil mengusap kening Davina
Davina tak menjawab ia kemudian tidur, tubuhnya terlihat begitu lemah.
Vania beranjak dari tempat tidurnya berinisiatif untuk mengambil termometer dan kompres penurun panas . Kemudian meletakkan termometer tersebut di bagian ketiaknya
"Astaga! suhunya mencapai 39 derajat bagaimana ini? Kasih obat penurun panas dulu."
Vania meraih kotak obat yang ada di lacinya, kemudian memberikan Davina Obat penurun panas.
"Sayang bangun dulu Sayang, minum obat dulu Nak."
Vania membangunkan Davina kemudian ia menyuapi Davina dengan sirup penurun panas.
Davina membuka sedikit matanya kemudian membuka mulutnya untuk menerima obat tersebut.
Gadis kecil itu sepertinya tak berdaya untuk bangun, bahkan untuk membuka matanya sendiri.
Vania menyuapi sedikit-sedikit air minum ke mulut Davina
"Davina! Davina Kenapa Nak?" tanya Vania ketika Davina kembali terkulai lemas tak berdaya.
"Ya Tuhan Davina Kenapa? dia tak pernah seperti ini sebelumnya,' batin Vania.
Vania melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul tiga pagi
Meski merasakan resah dan khawatir, Vania coba untuk tenang, sambil menunggu obat itu bereaksi.
Setiap 1 jam sekali Vania kembali meraba tubuh Davina, ia kembali meletakkan termometer di ketiak Davina untuk mengukur suhu tubuhnya.
Hari sudah pagi, pagi-pagi sekali Vania menyempatkan diri untuk mandi pagi agar bisa fokus mengurus Davina yang sakit.
"Astaga kenapa panasnya semakin tinggi!" Vania pun mulai panik.
"Apa aku bawa saja Davina ke rumah sakit?"
Vania lalu meraih tasnya kemudian menggendong Davina keluar dari kamarnya dan menuju anak tangga.
"Mbak Marina! Mbak Marina! panggil,"Vania dengan cemas.
Marina berjalan terburu-buru menghampiri Vania.
"Ada apa Van. Loh Davina kenapa?" tanya Marina karena melihat Davina wajah Davina yang memerah.
Marina meraba bagian kening Davina yang terasa panas.
"Ya ampun anakmu demam Van,panasnya tinggi sekali."
"Kak aku mau bawa Davina ke rumah sakit. Kakak gendong Davina, ya kita pergi sekarang rumah sakit biar aku yang bawa mobil."
"Iya Van."
Davina dan Marina menuju ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan mereka coba untuk memanggil manggil Davina agar tersadar. Namun Davina tetap tak sadarkan diri.
"Vina! Vina sayang Kenapa kamu Nak?"tanya Vania panik sambil menangis, ketika mereka membangunkan Davina yang belum juga sadarkan diri.
"Hiks ya Tuhan apa yang terjadi pada putriku," ucap Vania sambil menangis mengusap kepala Davina
"Tenang Van, kamu fokus nyetir dulu. Jika tidak, akan bahaya untuk kita semua."
"Hiks iya kak. Aku khawatir saja, terjadi sesuatu pada Davina."
"Iya, sudah sebentar lagi sampai, kamu harus tetap tenang."
Setibanya di rumah sakit, Davina langsung mendapat penanganan medis.
Davina terbaring dengan infus yang terpasang di tubuhnya.
"Ya Tuhan ada apa dengan putriku padahal kemaren dia baik-baik saja."
Vania mengusap rambut Davina sambil meneteskan air matanya, ia tidak tega melihat Davina yang biasa ceria, kini berbaring tak berdaya di atas tempat tidur.
"Cepat sembuh ya Nak," ucap Vania dengan air mata yang menetes.
Davina sebelumnya memang tidak pernah sakit seperti itu, karena itulah Vania yang begitu khawatir apalagi suhu tubuhnya mencapai 40 derajat Celcius.
"Maaf Bu, kami perlu ambil darah pasien untuk melakukan tes darah," ucap seorang perawat.
"Ya Tuhan, anak saya kenapa suster?"tanya Vania dengan sedih.
"Kami belum tahu penyebabnya demamnya pasien, karena itulah perlu dilakukan tes darah dan uji laboratorium."
"Davina," ucap Vania sedih.
Vania meraih handphonenya untuk menghubungi Mike.
"Halo Vania, ada apa?"
"Mike, Davina sakit, sekarang aku ada di rumah sakit, hiks hiks."
"Sakit? Sakit apa, bukannya kemarin malam dia baik-baik saja?"
"Iya, aku juga gak tahu, Davina demam sejak dini hari tadi."
"Baiklah aku akan segera ke sana."
Mike langsung keluar dari kamarnya kemudian menuruni tangga dan menemui tuan Jhon di meja makan.
"Daddy, Davina masuk rumah sakit!"
"Rumah sakit? Memangnya kenapa Mike?"
"Entahlah, aku terburu-buru, aku berangkat dulu."
"Iya daddy juga segera menyusul."
Tuan John menghampiri istrinya.
"Aku mau kerumah sakit, cucuku masuk rumah sakit," ucap Tuan John.
Mendengar berita tersebut Nyonya Wilhelmina tersenyum menyeringai.
"Aku ikut Daddy!"
Bersambung dulu ya gengs.
.