My CEO, My Ex-Husband

My CEO, My Ex-Husband
Om Dedi



"Bunda, Vina boleh gak  ikut Tante Marina?" tanya Davina sambil memeluk kaki Vania.


"Boleh ya Bunda?"tanya Davina mengulang karena Vania hanya diam.


Mike melihat gadis kecil itu, ia langsung berlutut berhadapan dengan gadis itu.


Mike menyentuh lengan mungil Davina, hingga membuat Davina menoleh ke arah Mike.


"Om ciapa?" tanya Davina dengan cadelnya.


Bola mata Mike memerah melihat gadis kecil di hadapannya.


Matanya berwarna coklat teran,g dengan bulu mata lentik, hidung mancung dan dagu yang menggantung.


Mike bahkan tak mampu menjawab pertanyaan gadis kecil yang berdiri di hadapannya.


Mike langsung menghambur memeluk Davina, tapi ditahan oleh tangan mungil Davina.


"Om gak boleh peluk!" 


"Loh kenapa?"tanya Mike dengan bola mata yang berkaca-kaca.


"Kata bunda, aku gak boleh di peluk atau di cium sama orang yang gak kenal," tuturnya dengan polos sambil bibirnya yang mungil itu di monyongin.


Betapa lucu dan cantiknya Davina di hadapan Mike saat itu.


"Oh begitu, kalau begitu kita berkenalan dulu," ucap Mike sambil menahan perasaan haru dan bahagianya.


Tanpa bertanya sekalipun, ia tahu jika gadis kecil itu adalah putrinya, meski tak pernah ada yang memberitahunya.


"Nama Om ciapa?"tanya Davina sambil menyodorkan tangannya.


Bulir bening menetes di pipi pria perkasa itu.


"Panggil saja Daddy Nak," ucap Mike dengan bibir gemetar.


"Oh, Om Deddi."


"Aku Vina Om,"ucap Davina sambil menyodorkan tangannya.


Mata Mike langsung mengarah  pandangannya ke tangan mungil Davina.


Ia langsung meraih tangan tersebut dan menjabatnya.


Tubuh Mike bergetar ,hampir saja dia menangis sementara bola matanya berpendar menatap gadis cantik dan lucu itu.


Vania membuang wajah, sambil menghapus air matanya. Tak kuasa melihat momen haru pertemuan antara ayah dan putrinya.


Mike kemudian menciumi tangan mungil yang terlihat empuk dan berisi tersebut.


"Vina, nama yang cantik, sama seperti orangnya.Sekarang kita sudah berkenalan, boleh kan daddy peluk dan cium?"tanya Mike.


Davina menoleh ke arah Vania 


"Bunda, boleh gak om Deddy peluk Vina?"tanya dengan polos.


Hiks hiks Vania  mengangguk.


"Iya Sayang."


Davina menoleh ke arah Mike lagi.


"Kata Bunda boleh Om," ucap Davina.


Tanpa menunggu lagi Mike langsung memeluk Davina dengan penuh perasaan, diciumnya seluruh wajah Davina dari mulai pipi, kening hidung dan mata Davina.


Tangan Mike bahkan gemetaran karena terbawa emosinya. Selama ini ia tak pernah tahu jika ia memiliki seorang putri yang begitu cantik.


Davina sendiri heran kenapa pria yang baru dilihatnya itu terus memeluk dan menciumnya.


"Om udah Om, Vina mau pergi sama Tante Marina," ucap Davina sambil mendorong tubuh Mike agar berhenti memeluknya.


Mike melepaskan diri dari Davina, secepat kilat gadis itu berlari meninggalkan ruangan tersebut.


"Bunda, Vina pergi ya!" Serunya sambil berlari.


"Tante Marina!  tungguin Davina!" suara tersebut masih terdengar di ruangan yang kini sepi hanya ada Vania dan Mike.


Mike berdiri menghampiri Vania, ia menarik tangan Vania.


"Kenapa kau tak pernah bilang jika kita memiliki seorang anak?"tanya Mike.


"Emangnya penting untuk mu?!"  Vania langsung menuju meja kerjanya kemudian menyerahkan surat perjanjian kontrak pernikahannya.


Kamu baca saja poin pertamanya.


Mike membaca point' pertama dari kontrak pernikahan mereka.


Setelah kontrak nikah berakhir, tak ada tuntut menuntut antara kedua belah pihak dan apapun yang terjadi pada pihak kedua setelah kontrak berakhir, itu bukan menjadi tanggung jawab pihak kedua.


Mike membelalak bola matanya, ia memang tak pernah membaca isi kontrak pernikahan mereka.


"Keluargamu sendiri sudah menolak apa yang aku kandungan saat itu."


"Sejak kontrak berakhir maka semuanya berakhir,aku sendiri yang mengandung dan membesarkan Davina jadi jangan coba merebut Davina dari ku!"ucap Vania dengan penuh penekanan di akhir kalimat.


Mike menghampiri Vania.


"Aku tak akan merebut Davina dari mu, hanya saja aku ingin kita memiliki Davina bersama."


Vania masih bergeming dengan menyilangkan kedua tangannya di dada kemudian memutar tubuhnya membelakangi Mike.


Mike memeluk Vania dari belakang kemudian melingkarkan tangannya pada bagian perut Vania yang ramping itu.


Napas Mike yang harum terasa menyentuh bagian tengkuk Vania hingga membuat bulu kuduknya berdiri, setelah sekian tahun tak pernah tersentuh lelaki.


"Menikah lah dengan ku Vania, kita bahagiakan Davina bersama-sama, aku berjanji akan menjaga dan membahagiakanmu," ucap Mike sambil mencium bahu Vania.


"Vania melepaskan diri dengan segera. Maaf Tuan saya masih ada urusan." Vania berlalu dari Mike dan meninggalkannya sendiri di ruangan itu.


Mike tersenyum menatap kepergian Vania.


"Aku tahu kau pasti butuh waktu, setidaknya kau tak menolak saat aku peluk tadi."


***


Mike turun dari lantai atas menuju lantai bawah. Saat itu Nyonya Wilhelmina tengah menunggunya di lantai bawah.


"Mike!" Panggil Nyonya wilhelmina ketika melihat berlalu dari hadapannya..


Mike berhenti.


"Ada apa Mommy?"


"Mike sini mommy perkenalkan kau dengan seorang gadis yang cantik."


Nyonya wilhelmina menarik tangan Mike, menuju ruang tamu di sana ada seorang gadis cantik berambut pirang dengan pakaian seksi hingga menampakan lekuk tubuhnya secara sempurna.


"Mike, perkenalkan dia Clara. Putri dari tuan William,"


Mike menjabat tangan wanita yang sedang ingin tebar pesona terhadapnya tersebut.


Senyum merekah di wajah Wilhelmina.


"Permisi Mommy! Aku harus pergi."


"Mau kemana Mike, kamu di sini saja temani Clara ngobrol."


"Tapi aku ada urusan Mommy! Jadi Mommy saja yang temani Clara ngobrol."


"Tapi Mike!"


Mike terus berlalu tanpa mempedulikan Nyonya Wilhelmina.


Mike sudah berada di mobil dan di samping joknya ada sebuah boneka beruang yang besar sekali, saking besarnya boneka tersebut butuh satu jok mobil untuk tempat duduknya.


Mike memasang seatbelt untuk boneka sebesar manusia tersebut.


***


Di rumah makan.


Vania sedang berbicara dengan Anton saat ini. Sementara Davina bermain bersama karyawan Vania yang lainnya.


"Van, kenapa aku telepon gak diangkat sih ?"tanya Anton.


"Aku lagi sibuk Ton."


"Van, untuk saat ini mama aku memang belum bisa menerima kamu, tapi berilah aku sedikit waktu untuk membujuk Mama, aku yakin suatu saat Mama pasti bisa menerima kamu."


"Om Dedi!" Seru Davina tiba-tiba ketika melihat Mike membawa boneka beruang yang besar  menuju teras rumah makan.


Sontak Vania dan Anton langsung menoleh ke arah Davina yang berlari ke arah Mike.


Davina memang anak yang ceria dan mudah akrab dengan orang lain. 


"Siapa dia Van?"tanya Anton.


"Dia ayahnya Davina."


"Ayahnya?"


Mike berjongkok agar bisa sejajar dengan gadis kecil yang tengah berlari menghampirinya itu.


"Om Dedi, om bawa Boneka untuk Vina ya?"tanya Davina dengan percaya diri.


 Mike tersenyum sambil mencubit pipi Davina.


"Kok tau?" 


"Tau dong, Om-om teman bunda kan, sering datang bawakan aku boneka, makanan dan coklat es krim, katanya mau jadi ayah sambung aku Om," tutur Davina dengan polos.


Ketahuan banyak pria yang mendekati Vania, melalui Davina 🤣.


Mike menyimpulkan senyumnya.


"Iya ini untuk Davina," ucap Mike sambil menyerahkan boneka beruang yang jauh lebih besar dari Davina hingga gadis itu kesulitan untuk memeluknya.


"Makasih, Om Dedi juga mau jadi ayah sambung aku ya?"tanya Davina dengan centil.


"Ayah sambung?"


"Kalau mau jadi ayah sambung aku daftar dulu dengan Vina ya Om," ucap Davina dengan polos bikin Mike semakin gemes.


"Ih siapa yang ajari ngomong seperti itu?"tanya Mike.


"Tante Marina Om, katanya kalau ada om-om yang mau jadi ayah sambung aku harus daftar sama Vina," tutur Davina. 


Sementara Marina tertawa terpingkal-pingkal mendengar ajarannya begitu masuk dan meresap pada gadis kecil yang polos itu.


Mike kemudian menciumi pipi Davina dan memeluknya.


"Om, memang ayah Davina kok. Jadi jangan panggil Om tapi, panggil Daddy ya."


"Dedi, Om ? tapi kata bunda gak sopan panggil orang yang lebih tua dengan namanya, halus panggil dengan sebutan Om atau tante," ujar Davina.


"Daddy itu bukan nama, tapi panggilan yang sama untuk seorang ayah."


Davina memiringkan kepalanya coba mencerna kata-kata dari Mike.


Sementara Mike tak berhenti-hentinya mengagumi Davina yang begitu cantik,lucu dan menggemaskan.


Coba belajar panggil Daddy.


"Dad-dy," ucap Mike mengeja.


"Dedi," ujar Davina.


"Bukan Dedi, sayang tapi Daddy."


"Dedi!"


"D-a-d-dy, daddy!"


"D-e-d-i." Davina mengikuti Mike.


Mike semakin gemes, hingga tak berhenti-hentinya ia mencium pipi gadis kecilnya itu.


"Ya sudah, panggil Daddy saja tanpa ada Omnya."


"Siap om Dedi! Ops Dedi maksudnya."


Ehm, Mike lagi-lagi mencium pipi empuk Davina karena gemes.


Ia menggendong Davina dan Boneka beruang Davina.


"Dimana Bunda?"tanya Mike.


"Tuh!" Davina langsung menunjuk ke arah Vania dan Anton yang sedang duduk berdua.


Gimana reaksi Mike ya 


Bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya dan komentarnya biar author up lagi 😄🙏


.