My CEO, My Ex-Husband

My CEO, My Ex-Husband
Dimana Ayah



 Nyonya Wilhelmina menghampiri Mike yang tengah duduk di meja makan. Kemudian ia menarik kursi di sampingnya.


"Mike, kamu tuh sudah 2 tahun menduda, apa kamu nggak pernah kepikiran untuk menikah lagi?" tanya nyonya wilhelmina.


"Belum ada calon Mommy,"sahut Mike dengan santai.


"Kalau masalah calon istri, biar mommy yang pilihkan. Mommy punya loh kenalan anak pengusaha yang …."


Nyonya Wilhelmina tak melanjutkan kata-katanya.


Mike beranjak dari tempat duduknya, ia sudah bosan mendengar bujuk dari Nyonya Wilhelmina yang memaksanya untuk menikah.


"Sudahlah mommy,aku bisa memilih jalan hidupku sendiri, mommy tak perlu memaksa aku, atau mencarikan jodoh untuk ku," ucap Mike sambil berlalu.


Nyonya Wilhelmina mengerucutkan bibirnya menatap kesal ke arah Mike.


"Daddy, kau lihat sendiri anakmu itu, dia akhir-akhir ini ia sering sekali bersikap kasar terhadapku. Padahal niatku baik, ingin mencarikannya jodoh agar ia segera melepas masa dudanya."


"Sudahlah mommy, Mike sudah dewasa, biar saja dia menentukan pilihannya sendiri. Mungkin Mike trauma karena pernah dijodohkan dengan Mishel."


"Lihat saja, pasti  putramu itu memilih perempuan miskin untuk jadi istrinya. Putramu itu memiliki selera rendahan, Ia suka dengan gadis yang sederhana dan kampungan, kau mau punya menantu yang miskin?"


"Kalau aku terserah pada Mike, dia sudah dewasa bisa menentukan pilihannya sendiri, kita jangan terlalu ikut campur dengan urusannya. Bagiku yang terpenting adalah kebahagiaannya, karena dia adalah putraku satu-satunya."


Nyonya menatap sinis ke arah suaminya.


***


Davina sedang bermain boneka Barbie di dalam ruangan kantor Vania.


Vania menghampiri putrinya itu, karena saat itu ia juga tidak sibuk


"Anak Bunda, main apa sih kok kayaknya asik sekali?"


"Aku main boneka Bunda, lihat deh bunda, ini anaknya, ini bundanya dan ini ayahnya," ucapnya sambil menunjuk satu persatu mainannya.


"Anak Bunda pintar, lanjut saja mainnya."


Davina menirukan adegan drama yang ditonton dengan peragaan boneka.


"Ayah, yuk kita ke pasar beli susu untuk dedek," ucap Davina sambil memperagakan boneka tersebut bergandengan tangan.


Vania tersenyum melihat anaknya.


Tiba-tiba Vina berhenti bermain.


"Loh kenapa berhenti bermain sayang?"tanya Vania.


"Bunda sebenarnya ayah Vina kemana sih? bonekaku punya ayah, teman-teman ku juga ayah, di film-film yang Vina tonton anak-anak juga punya ayah dan bunda, Kenapa cuma aku yang nggak punya ayah?" tanya Davina dengan bibir yang mencebik.


Sert … deg… ketika Vania merasakan jantungnya yang berdebar kencang.


Vania langsung menarik Davina ke atas pangkuannya.


"Davina punya ayah kok. Nanti suatu saat Davina juga akan bertemu dengan ayah dan Vina."


"Yang bener Bunda?!"tanya Davina dengan semangat.


"Iya benar."


"Masih lama nggak?!"tanya Davina.


Vania diam beberapa saat, Ia juga merasa bersalah terhadap Davina dan Mike karena telah memisahkan mereka.


Bagaimanapun Davina membutuhkan sosok seorang ayah, agar ia tidak merasa berbeda dengan teman-teman sebayanya.


Namun satu sisi Vania belum siap, ia tahu jika keluarga Mike begitu berkuasa, Vania tak ingin kehilangan Davina karena Mike  bisa saja membawa Davina pergi jauh, apalagi Mike mempunyai ibu sambung yang yang tak menyukainya.


"Jadi kapan Davina bisa bertemu dengan ayah Davina bunda?" tanya Davina lirih. 


"Tunggu Davina besar ya sayang, Nanti kalau sudah besar ,bunda akan ajak menemui ayah."


"Kenapa nggak sekarang saja bunda, Aku pengen digendong sama ayah di pundaknya, sama seperti temanku Gisella," ucapannya dengan wajah yang mengkerut dan bibir yang mengkerut.


Lagi-lagi Vania dibuat terdiam.


Ketika sedang asyik mengobrol, pintu diketuk oleh seseorang.


Keduanya pun menoleh ke arah pintu


"Iya silakan masuk,"  seru Vania.


Ketika pintu dibuka Vania menjadi kaget, Namun seketika ia tersenyum setelah itu 


"Anton ternyata kamu."


"Wah ternyata sudah jadi orang sukses nih sekarang, pantas saja sekarang susah dihubungi."


Masuk ke ruangan itu dan duduk di samping Vania.


"Hehehe ada deh."


Anton melihat ke arah Davina.


"Ini anak kamu ya, Vania?" tanya Anton sambil mencubit pelan lengan Davina.


"Iya, ini anak aku  Ton. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?" 


"Baik,  aku sudah dapat pekerjaan di kota ini, karena itulah aku memilih tinggal di sini."


"Oh, maksudku kamu sudah menikah Ton?"tanya Vania.


"Hehe kok tiba-tiba nanya aku sudah nikah, sih?"tanya Anton menggoda Vania.


"Enggak apa-apa sih."


Anton mengedarkan pandangannya  sekeliling ruangan tersebut.


"Sekarang kamu sudah sukses Vania, baru juga 3 tahun setengah aku tinggalin. Kamu memang wanita hebat, aku salut banget sama kamu,"


"Biasa sajalah Ton."


"Eh Kamu mau minum apa, aku buatin minum ya."


"Gak usah repot-repot."


"Ah gak repot kok."


Vania keluar dari ruangannya meninggalkan Anton dan Davina.


"Nama kamu siapa?" tanya Anton sambil mencubit pipi Davina.


"Davina Om."


Davina mengamati wajah Anton.


"Om ini siapa?" tanya Davina.


"Om temennya, Bunda."


"Om, Om  tahu nggak di mana Ayah Davina?" Tanya Davina.


"Ayah ? Memangnya selama ini Davina tidak pernah bertemu dengan ayah Davina?" tanya Anton 


Davina menggelengkan kepala lirih.


"Om nggak tahu gak dimana ayah Davina?" tanya Davina lagi.


"Om gak tau Sayang," jawab Anton sambil mengusap kepalanya.


Vania tak sengaja mendengar percakapan itu.


Kasihan sekali Davina, maafkan bunda Nak, bunda terpaksa melakukan ini, suatu saat bunda akan bawa kamu menemui ayahmu.batin Vania.


***


Hari terus berlalu, Anton semakin sering berkunjung ke rumah makan Ia pun semakin dekat dengan Davina.


Anton keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi dan modis.


"Kamu mau ke mana?"tanya Bu Mona.


"Biasa lah Ma, malam minggu namanya juga anak bujang."


"Iya Nton, mama dengar kamu lagi dekat dengan seorang wanita ya?" tanya Bu Mona.


"Hehehe iya Ma."


"Usia seperti kamu sebenarnya memang sudah sepatunya menikah sama juga sudah tak sabar ingin memiliki cucu."


"Jika  memang kamu serius dan wanita itu serius sebaiknya kalian percepat saja pernikahan kalian," saran Bu Mona.


"Rencananya sih gitu Ma, tapi Anton belum bicara langsung sama Vania."


"Vania, sepertinya Mama pernah dengar nama itu."


"Hehe iya Ma, Vania teman sekolahku dulu."


"Oh iya deh."


"Aku pergi dulu ya Ma."


"Iya hati-hati."


Semoga Mama mau menerima Vania yang berstatus janda satu anak,batin Anton.


Maaf ya reader, kemaren ada kesalahan teknis yang membuat tak nyaman, dimana author salah upload 😭, maafkan diriku yang tak sempurna ini.