My CEO, My Ex-Husband

My CEO, My Ex-Husband
Gadis Kecil



Mike membawa laju mobilnya.


Bertunangan? Tidak, ini tidak boleh terjadi, aku harus mengatakan kepada Vania secepatnya jika aku ingin menikahinya kembali.


"Aku tak mau lagi kehilangannya, baiklah besok aku akan datang melamarnya."


***


Karena tak ada tujuan lain, Mike  langsung pulang ke rumahnya. 


Kebetulan saat itu nyonya wihelmina dan tuan  John Arlan sedang membicarakan sesuatu di ruang tamu.


Mike  langsung duduk di sofa.


"Daddy Aku ingin melamar seseorang."


"Hah?" Keduanya saling memandang.


Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja Mike mengatakan ingin melamar seseorang.


Nyonya wilmina membuang mukanya.


"Memangnya wanita mana yang ingin kau lamar, asal derajatnya sama dengan kita Mommy dan Deddy pasti setuju saja," ucap nyonya Wihelmina.


"Setuju atau tak setuju aku tetap akan melamarnya, hanya saja aku minta pada Mommy dan Deddy jika aku bawa dia ke rumah ini, kalian harus berlaku baik padanya, tidak seperti yang dulu-dulu."


"Seperti yang dulu? maksud kamu apa Mike?" Tanya nyonya wilhelmina.


"Aku akan melamar Vania."


"Vania?!"


"Vania mantan istri kamu itu?!"


"Iya, Karena itulah aku ingin mommy bersikap baik terhadapnya. Aku sudah menunggu sejak  lama saat-saat seperti ini, aku sudah mencarinya selama bertahun-tahun dan sekarang aku menemukannya. Aku tak ingin Ia merasa terganggu dengan sikap mommy seperti sebelumnya."


"Vania, oh Mike, apa kau tak punya pilihan lain, Mike sadarlah  dengan dirimu, kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari Vania, lagi pula Bukannya kau sudah puas mencicipinya ketika ia menjadi istrimu. Cari saja wanita yang lain!"


"Mommy, jika sejak dulu  aku bisa mencari wanita yang lain, maka mungkin sudah 3 tahun yang lalu aku menikah. Sudahlah jika kalian ingin melihatku bahagia, kalian tinggal ikuti saja kemauan ku, beres kan?"


Mike  langsung melangkah menuju kamarnya.


"Deddy kau lihatlah putramu itu sudah keterlaluan, padahal Ia bisa saja memilih perempuan lain untuk jadi istrinya Kenapa harus Vania itu."


Sudahlah Mommy, benar kata Mike, Mungkin dia sudah jatuh cinta pada Vania Karena itulah sudah 4 tahun dia menduda. Biarkan sajalah yang penting Mike  bahagia, lagipula aku melihat Vania itu gadis yang baik, tidak seperti Mishel gadis yang pernah ingin kau jodohkan dengan Mike."


Mendengar suaminya membela nyonya wilhelmina kembali membuang wajahnya.


***


Vania turun dari mobil taksi kemudian Marina buru-buru menghampirinya.


"Loh Vania, kamu nggak pulang sama Anton?"


'Enggak Kak,  aku dan Anton  sudah putus."


"Putus?!"


"Iya ternyata hubungan aku sama Anton sudah ditentang sama mamanya karena aku janda dan memiliki seorang anak."


Vania dan Marina sama-sama duduk di kursi, sementara Davina masih berada di pangkuan Vania.


"Oh begitu."


Iya Kak, Jadi aku aku putuskan saja hubunganku dengan Anton."


"Ya sudah Vania, Kakak kira keputusan kamu itu benar kok."


"Eh tapi tadi Pak CEO datang ke sini loh!"


"Iya aku tadi juga sempat lihat."


"Vania setelah kakak lihat, sepertinya Mike juga tulus terhadap kamu.


Tadi wajahnya begitu kecewa ketika kakak  bilang kamu berjalan dengan tunanganmu."


Vania menghela nafas panjangnya.


"Kenapa kamu nggak buka hati untuk Mike saja, siapa tahu  semakin bertambahnya umur, Mike semakin dewasa, apalagi kamu nggak perlu khawatir jika menikah dengan Mike, toh Davina berada dalam asuhan Ayah kandungnya sendiri."


Vania tersenyum.


"Aku rasa dia nggak bersungguh-sungguh Kak, pria sesempurna dia bisa mencari calon istri yang lebih baik dari aku, dia hanya ingin mempermainkanku saja. Sama seperti dulu."


"Itu terserah kamu, kita lihat saja nanti."


"Davina terlihat kecewa sekali ketika mengetahui Anton batal jadi calon ayahnya," ucap Vania lirih 


"Sebaiknya sih begitu."


Davina terlihat mengantuk sekali, berkali kali ia menguap."  Ya sudah ya Kak, aku bawa Devina ke kamar dulu."


"Iya Vania silakan. Kakak juga harus sudah pulang nih."


***


Davina tergeletak tidur di atas tempat tidur.


"Kasihan kamu Nak, begitu merindukan kasih sayang seorang ayah. Kamu begitu, mungkin karena bunda terlalu sibuk,maaf ya Bunda sudah egois terhadap kamu," ucap Vania sambil membelai rambut Davina.


"Itu karena bunda tak ingin kamu jauh dari bunda, bunda tak ingin ayahmu itu merebut kamu dari bunda."


Vania mengecup lekat  kening putrinya, kemudian ia meraba wajah cantik sang putri yang begitu mirip dengan Mike.


Setelah mengganti pakaiannya Vania terlelap di samping putrinya itu.


***


Vania berada di meja kerjanya.


Telepon berdering serta merta mengagetkannya.


"Halo," sapa Vania.


"Halo sayang, Aku mau pesan makan siang, apa kau bisa mengantarnya ke kantor ku?"tanya Mike.


Vania menghela nafasnya


"Maaf ya Pak CEO, saya tidak punya waktu untuk mengantar makanan anda, jika anda memesan makanan, saya akan mengantar melalui jasa kurir saja " sahut Vania.


"Ya  sudah, kalau anda tidak sempat biar saya saja yang datang ke sana,"


Tok tok tok tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintunya.


"Halo bagaimana mau mengantar atau saya datang sendiri ke sana?!" tanya Mike di sambungan teleponnya.


Vania langsung memutus telepon tersebut tanpa menjawab pertanyaan dari Mike.


"Huh dia pikir dia siapa?!"


Vania beranjak dari tempat duduknya kemudian Ia membuka pintu yang sudah digedor sejak tadi.


Kreak… ketika pintu dibuka Vania melihat seseorang yang tersenyum padanya sambil menyodorkan buket bunga.


"Kamu?!" tanya Vania dengan kesal.


Sementara pria tadi langsung nyelonong masuk tanpa permisi.


Vania menyilangkan kedua tangannya ke dada.


"Ada keperluan apa anda kemari?" tanya Vania dengan ketus.


"Tidak ada. Aku hanya kangen saja."


"Vania, bisakah kita bicara baik-baik."


"Tentang apa?" tanya Vania ketus.


"Vania aku ingin melamarmu," ucap Mike dengan santai Namun serius.


"Aku tidak mau! Jadi berhentilah mengganggu ku Tuan."


Vania masih berdiri dengan bersedekap.


"Sekarang kau keluar dari ruangan ku! Aku tidak mempersilahkan kau masuk!" Usir Vania, saat ini ia tak lagi takut pada Mike.


Mike  menatap Vania dengan serius.


"Bunda! Tiba-tiba saja Vania mendengar suara Davina yang berlari ke arahnya sambil berteriak.


"Bunda!" Seru Davina sambil memeluk kaki Vania.


Vania membelalak bola matanya begitupun dengan Mike, ia langsung menatap gadis kecil yang memeluk Vania dan memanggilnya dengan panggilan Bunda.


"Bunda?" Lirih Mike sambil menatap gadis kecil itu.


bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih.


.