
"Mau kah kamu menikah dengan ku Vania?!"
"Gak, aku belum siap! Ini terlalu cepat!"
Vania berjalan cepat pergi dari tempat tersebut. Bahkan ia belum pernah memikirkan tentang pernikahan sebelumnya.
"Vania!"
"Mike berlari mengejar Vania, eh tunggu dulu!" Mike menarik lengan Vania
"Aku mau pulang!"
"Iya kita pulang,aku ambil Davina dulu."
Mike meraih Davina dari gendongan Miranda.
Mereka menuju mobil dan masuk ke dalam mobil.
"Vania, kamu kenapa sih?" tanya Mike ketika melihat wajah Vania yang cemberut.
"Kamu tuh yang kenapa?! Katanya mau kasih aku waktu berpikir ! Aku saja belum sempat mikir sudah di tanyain terus, kok jadi kesannya per"
"Haha oh jadi itu masalahnya."
"Maaf aku sudah ngebet mau nikah,dari pada kamu aku Zinahi haha," cetus Mike dengan nada bercanda
Vania menatap sinis ke arah Mike.
"Vania, aku tahu ini terlalu cepat, tapi kita bukan remaja yang butuh waktu untuk pacaran bertahun-tahun atau berbulan-bulan. Sebelumnya kita sudah menikah dan mengenal karakter masing-masing. Kita tinggal melanjutkan pernikahan ini saja dan memperbaiki apa yang salah."
"Jika kamu tidak menyukai salah satu sikap ku, kamu tinggal bilang saja, nanti akan ku perbaiki."
Vania diam beberapa saat.
Kemudian melirik ke arah Davina.
Mike menyadari jika Vania masih trauma, apalagi ia pernah berlaku kasar terhadap Vania.
Bahkan tak hanya dirinya, kedua orang tuanya pun ikut berlaku kasar terhadap Vania.
***
Mike pulang ke rumahnya saat itu ia mendengar di ruang tamu jika Nyonya Wihelmina sedang bicara pada Tuan John.
"Daddy, kok kamu tuh percaya saja sih jika anak yang dibawa Vania itu adalah cucu kita, mommy nggak yakin Daddy, karena saat Vania keluar dari rumah kita, dia tidak dalam keadaan hamil."
"Bisa saja kan dia hamil diluar nikah, terus bilang ke Mike jika anak yang ada padanya saat ini, adalah anak Mike, agar Mike mau bertanggung jawab."
"Maklum saja lah, Mike itu satu-satunya putra kita, dan dia adalah pewaris tunggal perusahaan kamu, siapa sih yang tidak mau menikah dengan putra kita itu. Berbagai cara pasti dilakukan Vania untuk mendapatkan Mike."
Wilhelmina terus membujuk dan menghasut Tuan John agar ia tak mempercayai jika Davina itu adalah cucunya.
"Mommy!"Mike tiba-tiba datang membuat Nyonya wihelmina kaget.
"Mike ?"
"Sudah aku bilang beberapa kali, jika Davina itu memang anakku! Jadi momny jangan bicara yang tidak-tidak. Sebentar lagi aku dan Vania juga akan menikah, mau tak mau momny harus menerima kenyataan itu dan menerima jika Davina itu adalah putri ku!"
"Mike! Mommy nggak melarang kamu untuk menikahi Vania, hanya saja, status Davina itu masih diragukan, apa salahnya jika kita tes DNA agar kita semua menjadi tenang."
" Mommy hanya ingin yang terbaik bagi kamu Mike, jangan sampai kamu dimanfaatkan dan dibodohi oleh gadis miskin seperti Vania."
Nada bicara Nyonya Wihelmina menggebu-gebu, karena itulah tuan John ikut membuka suaranya.
"Mike, mungkin mommy mu ada benarnya, coba saja kau lakukan tes DNA untuk Davina. Biar semuanya jelas."
"Daddy! Apa Daddy tidak percaya jika Davina itu putriku, lihat saja bola matanya, bulu matanya, sampai hidungnya semua mirip dengan wajahku!"Mike mulai terpancing emosi.
" Mike di dunia ini, banyak sekali orang-orang yang berwajah mirip, meskipun mereka tak saling mengenal atau bersaudara. Jadi setelah hasil DNA-nya Keluar, kita bisa lebih tenang,kamu dan Vania pun bisa hidup bahagia," bujuk Nyonya Wihelmina lagi.
"Terserah Mommy,mau bilang apa, tapi aku ada urusan sama Daddy, Aku ingin bicara empat mata bersama Daddy."
Nyonya Wihelmina mengerucutkan bibirnya.
Ia langsung meninggalkan tempat tersebut, karena Mike mengusirnya secara halus.
"Ada apa Mike! tanya Tuan John sambil menatap serius ke arah.
"Aku baru saja melamar Vania, tapi di tolak olehnya."
"Lalu?"
"Aku ingin Daddy mengundang Vania, untuk acara makan malam bersama kita."
"Makmum saja daddy, Vania pernah mendapatkan perlakuan yang buruk selama tinggal di sini, mungkin dia masih trauma trauma.
"Jika Daddy yang mengundang Vania secara langsung mungkin Vania bisa merubah keputusannya ."
"Oke, Daddy juga sudah kangen sama Devina," ucap Tuan John sambil menepuk pundak Mike.
"Oke, kalau begitu berikan nomor teleponnya pada Daddy,saat ini juga Daddy akan menghubungi Vania."
Tuan John sebenarnya sangat setuju jika Mike menikah dengan mantan istrinya itu.
Dan untuk urusan tes DNA, Tuan John memang sengaja meminta Mike melakukan tes DNA, agar bisa meyakinkan Nyonya Wihelmina jika Davina itu adalah cucunya.
John sendiri akan mewariskan separuh hartanya untuk sang cucu satu-satunya itu, mengingat Mike juga sudah memiliki perusahaan yang besar.
Sedangkan Nyonya wilhelmina sendiri sudah ia beri usaha yang cukup besar dan beberapa aset yang dimiliki oleh tuan John.
***
Vania merebahkan tubuhnya sambil memeluk Davina yang tertidur.
Malam ini ya memang benar-benar merasakan lelah, karena itu sesampainya di kamar dan mengganti baju Vania bermaksud untuk tidur.
Baru saja ingin memejamkan matanya, sebuah panggilan masuk terdengar di handphone-nya.
Vania meraba handphone yang terletak di atas nakasnya.
"Halo siapa ini ?" Tanya Vania karena nomor yang menghubunginya tak berada di dalam kontak.
"Vania, ini Daddy,"
Vania mengenali suara Tuan John tersebut.
"Oh, ada apa daddy, pasti ada hal penting hingga Daddy menelpon malam-malam," tanya Vania.
Iya, besok malam rencananya Daddg,mengundang kamu untuk makan malam bersama keluarga kita Vania."
"Makan malam?"
"Iya kamu bisa kan?"
"Oh iya, tentu saja bisa Daddy!"
"Oke, kalau begitu besok malam Daddy tunggu di rumah, jangan lupa bawa Davina."
"Oh iya tentu saja aku akan bawa Davina, Daddy.".
"Ya sudah, kalau begitu selamat malam ya."
"Selamat malam daddy!"
Vania menaruh handphonenya di atas nakas kembali.
"Huh kenapa tuan John tiba-tiba bersikap ramah terhadap ku?"Vania bermonolog.
"Ah sudahlah, orang bersikap baik ya kita juga harus balas dengan bersikap baik pula," ucap Vania sambil menarik selimutnya lagi.
***
Hari ini sebenarnya Vania begitu lelah, karena kerjaannya semakin bertambah, akibat pesanan catering dari perusahaan Angkasa Pura, belum lagi rumah makannya yang kini semakin ramai dikunjungi pelanggan.
Namun, karena hari ini ia mendapat undangan dari tuan John, Vania sendiri tak enak jika harus menolak undangan tersebut.
Pukul 07.00 malam Vania sudah selesai berdandan, beberapa saat berikutnya ia mendapat telepon dari Mike jika ia sudah menunggu di bawah.
***
Di dalam mobil Vania tak banyak bicara.
"Kamu kenapa sih masih cemberut gitu masih marah ya?" tanya
"Tidak apa-apa."
Vania lebih banyak diam saat itu.
Tiba di rumahnya kehadiran Vania dan Davina langsung disambut baik oleh Tuan John sementara tidak dengan Nyonya Wilhelmina yang masih cemberut.
Setelah berbasa-basi sebentar mereka makan bersama.Tak ada pembicaraan ketika makan,mungkin karena mereka masih terasa kaku, apalagi ada Nyonya Wilhelmina yang sengaja membangung suasana yang tak nyaman karena wajahnya yang cemberut.
Setelah makan malam bersama ,Vania diajak ngobrol bersama di ruang tamu.
Sementara Davina bermain dengan salah satu asisten rumah tangga Mike.
Saat itu hanya ada mereka bertiga yang ngobrol di ruang tamu dan Nyonya Wilhelmina sepertinya enggan ikut bicara.
Nyonya Wilhelmina menghampiri Davina yang sedang main bersama salah satu asisten rumah tangga yang ditugaskan untuk menjaga Davina.
"Davina Sayang, Oma ada permen nih, kamu pasti suka." Nyonya Wilhelmina membuka bungkusan lollipop dan menyerahkannya pada Davina.
"Terima kasih Oma," ucap Davina.
Bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya