
"Bagaimana Van kamu mau kan ? bertemu dengan orang tuaku malam ini?"
Vania mengingat kata-kata Marina, meski ragu, Ia pun menganggukkan kepalanya dengan lirih.
"Kalau begitu ayo aku sudah bilang sama mama ku, jika aku akan memperkenalkan kamu kepada mama sebagai calon istri ku."
"Ya sudah kalau gitu aku siap-siap dulu."
Vania masuk ke dalam ruangan kerjanya, selain warung makan ruko tersebut juga menjadi tempat tinggal Vania. Vania tinggal di lantai 2 di ruko itu.
Beberapa saat kemudian Vania sudah rapi, Anton tersenyum karena akhirnya ia bisa membujuknya, untuk menemui kedua orang tuanya.
Anton menggendong Davina mereka bertiga berjalan menuju motor.
Ketika berada di parkiran, tanpa sengaja Vania melihat mobil Mike yang hendak masuk ke halaman parkir rumah makannya.
"Anton cepat sedikit kita keluar dari sini!" Seru Vania.
"Emangnya ada apa Van ?"tanya Anton heran. Namun, dia mempercepat laju motornya hingga meninggalkan halaman parkir dari rumah makan tersebut.
"Ah selamat," ucap Vania ketika mereka berada di jalan raya.
***
Mike tiba di depan halaman parkir rumah makan Davina.
Kebetulan saat itu Marina yang menjaga kasir.
Melihat kedatangan pria tinggi berwajah tampan, Marina bisa menebak jika ia adalah sosok Mike Miller, CEO PT Angkasa Pura sekaligus mantan suami dari Vania.
"Selamat malam," sapa Mike terlebih dahulu
"Selamat malam Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Marina pura-pura tidak tahu.
"Saya ingin bertemu dengan Vania, di mana dia?"tanya Mike.
"Oh maaf Tuan, Vania sedang keluar bersama tunangannya."
"Tunangannya?!"Mike sedikit kaget mendengar penuturan dari Marina.
"Iya Tuan, sebentar lagi mereka akan menikah." Marina sengaja menambah-nambahkan untuk memanasi Mike.
"Menikah?"
"Iya menikah dong tuan, Vania janda jah sah-sah saja kalau dia menikah," tutur Marina semakin memanasi Mike.
Awalnya Marina mengira jika Mike itu sosok yang sangat brutal dan kejam. Setelah ia melihat penampakan Mike yang sebenarnya pandangannya terhadap Mike jadi berubah.
Make sosok pria tampan yang menawan, wanita manapun akan setuju akan hal tersebut, begitupun dengan Marina.
Wajah Mike terlihat kecewa sekali.
"Kalau saya boleh tahu, di mana tempat tinggal Vania?"
"Saya tidak tahu Tuan " Marina terpaksa berbohong, ia takut mengatakan hal yang sebenarnya tanpa seijin Vania.
"Ya sudah, kalau begitu terima kasih."
Dengan perasaan kecewa Mike melangkah keluar dari rumah makan tersebut.
"Duh Vania mantan suaminya Ternyata ganteng gitu bisa-bisanya trauma, kalau aku sih Yess!"
"Wis ganteng, ganteng banget, kalau aku mah gak ada istilah trauma dengan pria seperti ini." Marina berdecak kagum.
***
Vania tiba di rumah orang tua Anton.
"Ayo masuk Davina," ucap Anton sambil menuntun keduanya masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu ternyata mama Anton sudah menunggu kedatangan calon menantunya.
Namun yang membuat mama Anton kaget, hingga bereaksi di luar ekspektasi adalah kedatangan Vania yang membawa Davina.
"Permisi," ucap Vania ketika ia memasuki rumah Anton.
"Selamat malam Tante," sapa Vania sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
Ketika bersalaman Mama Anton sudah menunjukkan reaksi yang tidak senang terhadap Vania.
Vania jadi insecure ketika Mama Anton menatapnya dengan sinis dan enggan menyahut salam darinya.
Vania duduk di sofa dengan memangku Davina.
"Mah, ini Vania yang aku ceritakan, calon istri aku," ucap Anton.
Mamanya memandang ke arah Vania sekilas kemudian memandang ke arah Davina.
"Anak kecil itu anak kamu?" tanya Mama Anton dengan ketus kepada Vania.
Vania yang terlanjur insecure mengangguk sambil menundukkan kepalanya.
"Anton! kok kamu nggak bilang kalau calon istri kamu itu janda dan sudah punya anak?! tanya Mama Anton
Anton kaget melihat reaksi ibunya itu.
"Iya Ma, aku belum pernah bilang ya ,kalau Vania janda dan punya anak?" tanya Anton sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Ya belum pernah bilang lah, kalau sudah pernah bilang, tentu Mama akan melarang kamu untuk berhubungan dengan dia!" tunjuk Mama Anton ke arah Vania.
"Ma, ngak usah gitu dong, Vania itu calon istri pilihan aku."
"Anton! Kamu kok kayaknya nggak punya perempuan lain, masa malah memilih janda?! Kamu kan masih perjaka, toh kamu masih muda cari saja perempuan yang masih perawan! Mana gak setuju!"
Mama Anton kemudian beranjak masuk meninggalkan ketiga orang tersebut.
Davina terdiam melihat Mama Anton masuk meninggalkan mereka. Ia pun menghampiri Vania dan langsung memeluknya.
"Bunda Vina, takut Oma itu galak ,"bisiknya.
'Udah kalau kamu takut, kita pulang saja yuk ,"ucap Vania sambil beranjak menggendong Davina.
Entah bagaimana perasaan Vania saat itu, ia sedih kesal dan jengkel terhadap Anton dan mamanya.
"Van, Kamu mau ke mana Van?" Anton coba menahan Vania dengan menyambar tangannya.
"Kamu dengan sendiri kan Ton, apa kata mama kamu?!"
"Iya aku tahu, maafkan, maafkan Mama aku Van . Maaf aku belum cerita pada Mama tentang status kamu."
"Harusnya kamu cerita dulu Ton, status aku ke mama kamu, baru kamu bawa aku menemui keluarga kamu! kalau begini, tidak hanya aku yang terluka tapi Davina juga."
"Lihat Davina kelihatan ketakutan!"
"Maaf Van, tapi aku berjanji aku akan membujuk Mama, kamu tenang dulu ya."
"Tidak perlu Ton, kata-kata mamamu sudah membuatku sadar tentang status kita yang berbeda."
"Aku memang janda dan punya anak tapi aku masih punya harga diri."
"Kamu memang nggak pantas untuk aku Ton, kamu masih bisa mendapatkan gadis perawan yang masih muda seperti keinginan ibumu."
"Aku pulang permisi!"
Vania langsung keluar dari rumah tersebut, sementara Anton masih menahannya.
"Van! Tunggu dulu Van, berilah aku kesempatan."
Vania tak menggubris Anton, ia malah menepis tangan Anton.
"Sudahlah,kalau kamu nggak mau dengar penjelasanku, aku aku antar pulang saja, yuk." Anton masih berusaha membujuk Vania bagaimanapun ia tak ingin kehilangan Vania.
"Aku bisa pulang sendiri!"
"Tapi Van, ini sudah malam, aku yang bawa kamu ke sini dan aku yang akan bertanggung jawab mengantar kamu sampai kamu pulang ke rumah."
"Nggak aku bisa pesan taksi!"
"Aku harap kamu mengerti Ton, kita nggak bisa lagi melanjutkan hubungan ini dan kamu jangan dekat-dekat lagi dengan Davina, aku nggak mau Davina berharap terlalu banyak terhadap kamu!"
"Tapi Van, aku cinta sama kamu dan kita harus perjuangkan cinta kita ini!"
"Aku nggak mau Ton, Mama kamu sudah merendahkan aku! Aku nggak mau kamu memaksa Mama kamu lagi."
"Maaf aku harus pergi."
Vania merogol tasnya, kemudian mencari handphonenya. ia langsung memesan taksi online saat itu juga.
"Van tolong dengerin aku dulu Van! Aku bisa jelaskan ke mama."
"Aku sengaja tidak memberitahu kepada Mama, agar Mama ketemu dengan kamu dulu, aku yakin jika mama mengenal kamu lebih dalam lagi, Mama akan menyukai kamu Van."
Anton terus membujuk, sementara Vania masih tetap dengan keputusannya.
Beberapa saat kemudian, taksi yang dipesan Vania sudah tiba.
Tanpa berbicara apapun pada Anton ,Vania langsung masuk ke dalam mobil itu.
Di dalam mobil Vania meneteskan air matanya karena sedih.
"Bunda, kenapa Oma itu galak sekali ?"tanya Davina.
"Nggak apa dia nggak marahin Davina kok."
"Sudah Davina peluk Bunda saja, bunda akan berusaha menyayangi Davina dan memberikan waktu luang untuk Vania lebih banyak, agar Vina tidak merasa kekurangan kasih sayang dan juga mater,"i ucapnya sambil mencium pipi Davina.
"Bunda, Apakah om Anton batal jadi ayah aku?" Tanya Davina sambil memancungkan bibirnya.
"Iya, nggak apa-apa kok, Davina kan masih punya ayah juga.Nanti bunda akan pertemukan Davina dengan ayah Davina ya."
Mendengar itu Davina tersenyum.
"Benar ya Bunda, janji ya ,"ucap Davina sambil menyodorkan kelingkingnya.
"Iya Bunda janji," ucap Vania sambil mengaitkan kelingkingnya ke kelingking kecil milik Davina.
Kasihan Davina sepertinya aku memang harus mempertemukan Davina dan ayahnya.
bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya ya 🙏 terimakasih.