
Nyonya Wilhelmina terlihat gelisah karena rencananya meracuni Davina kurang berhasil, gadis mungil itu hanya demam dan sakit perut biasa. Namun, hal yang lebih menakutkan bisa saja terjadi jika Davina menghabiskan lolipop itu.
Sepanjang malam ia tidak bisa tidur memikirkan kegagalan rencananya itu.
"Gawat, kalau Davina cuma demam dan sembuh, itu berarti obatnya tidak bereaksi"
'Padahal waktu itu aku melihatnya menjilati Lollipop itu. Apa yang harus aku lakukan ya.'
Subuh-subuh sekali iya keluar dari kamar menuju dapur.
Nyonya Wilhelmina memanggil Ninis asisten rumah tangganya.
"Nis, kemarin lolipop yang aku berikan pada Davina dimakannya nggak?"tanya nyonya Wilhelmina.
"Nggak Nyonya ,kata Davina Lollipop nya pahit, Jadi ia memintaku untuk membuangnya."
"Loh nggak dimakannya?"
"Enggak, cuman sekali jilat aja udah dibuang sama Davina."
'Pantesan saja reaksi obatnya tidak bekerja dengan sempurna,' batin nyonya wilhelmina.
"Sekarang di mana Lollipop itu?"
"Sudah saya buangnya di tong sampah."
"Kamu buang?! Sekarang cari dan ambil bawa ke saya kembali."
"Loh untuk apa Nya? permen itu pasti sudah kotor!"
"Kamu jangan banyak tanya! lakukan saja perintah saya!"
"Baik Nya."
Mau tak mau Ninis mengikuti keinginan nyonya Wihelmina.
Nyonya Wilhelmina menatap kepergian Ninis dengan tatapan tajam.'Bisa bahaya jika lolipop itu kedapatan Mike,' batin Nyonya Wilhelmina.
***
Ninis berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.
"Duh permen udah dimasukkan dalam tong sampah, masih disuruh ambil ada-ada aja sih," dengus Ninis.
Ninis terpaksa mengobok-obok tong sampah untuk menemukan Lollipop yang dua hari lalu dibuang oleh nya.
setelah membongkar tong sampah akhirnya ia menemukan Lollipop tersebut.
"Ih jorok sekali,"ucap ini sambil bergidik memegang tangkai Lollipop tersebut.
Setengah jam kemudian, Ninis kembali menemui Nyonya Wilhelmina.
"Ini Nya, lolipopnya, mau dimakan lagi ya nya?" tanya Ninis karena jengkel.
Lippo itu sudah bau karena bercampur dengan sampah lainnya.
"Sembarangan kamu! kamu mau makannya?!" tanya nyonya Wilhelmina.
"Hehehe nggak mau dong Nya, jijik."
"kalau begitu cepat masukkan ke dalam plastik!"
"Baik Nya," ucap Ninis sambil berlalu meninggalkan nyonya rumah itu. beberapa saat kemudian Ninis kembali menghampiri nyonya Wihelmina.
"Ini Nya," ucap Ninis sambil menyodorkan sebuah kantong yang berisi lolipop beracun.
"Bagus, satu lagi saya minta sama kamu ya Nis."
"Apa itu Nya?!"
"Jangan pernah kamu bicara pada siapapun, jika saya yang telah memberi Davina lolipop kamu mengerti?!"
Ninis mulai curiga. namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena Ninis masih ingin bekerja di rumah itu.
Nyonya wihelmina melototkan bola matanya yang tajam itu ke arah Ninis hingga membuat ini semakin ketakutan.
"Baik Nya."
"Sudah kamu kembali bekerja sekarang, dan jangan pernah kau mengatakan pada siapapun jika kau ingin nyawamu selamat,"ancam Nyonya Wihelmina.
"Iya Nya."
***
Setelah dibungkus Nyonya Wilhelmina kemudian membakar sendiri Lollipop itu di halaman belakang rumahnya dengan menggunakan bahan bakar. Ia tidak ada yang menemukan Lollipop itu kemudian membawanya ke laboratorium. Nyonya wilhelmina tersenyum ketika ia berhasil membakar barang bukti.
***
karena pernyataan Vania semalam max sedikit terganggu dan ia berusaha untuk mencari kebenarannya.
Mike datang menghampiri rumahnya pagi-pagi sekali untuk mencari lolipop yang diberikan oleh Davina.
Tok tok tok…
Mike menggedor pintu kamar daddy nya.
"Mike kamu cari siapa?" tanya nyonya Wilhelmina yang tiba-tiba saja berada di belakang Mike.
" Mommy."Mike menatap curiga ke arah nyonya Wilhelmina.
"Kamu ada perlu apa hingga pagi-pagi datang ke sini, bagaimana keadaan Davina?"tanya nyonya Wilhelmina dengan sikap yang biasa saja.
"Mommy apakah mommy, yang telah memberi Davina Lollipop hingga membuatnya keracunan?"tanya Mike.
"Lollipop, perasaan mommy nggak pernah deh beli Lollipop Mike."
"Davina bilang, jika ia makan lolipop yang rasanya pahit pemberian dari mommy."
"Mike, Davina itu anak kecil, kamu percaya sekali omongannya, seandainya mommy beri dia Lollipop pun, lalu apa salahnya, bukannya Davina juga cucu mommy."
Mike menatap Nyonya Wihelmina dengan penuh curiga.Namun karena ia sudah menduga Mike akan menanyakan hal itu, nyonya wilhelmina mencoba untuk bersikap tenang.
Pintu kamar dibuka oleh Tuan John.
"Davina mulai membaik Daddy."
"Syukurlah kalau begitu, rencananya sebelum ke kantor, Daddy akan menyempatkan diri untuk menemui Davina."
"Iya Daddy, kalau begitu aku permisi dulu."
Mike meninggalkan keduanya untuk kembali ke rumah sakit sebelum itu Mike mencari keberadaan Ninis.
Melihat Mike yang menghampiri dapur, Ninis yakin jika Mike sedang mencari keberadaannya.
"Aduh gawat! tuan muda mampir ke sini lagi, dia pasti mau menanyakan tentang lolipop itu, Aku harus pergi, Aku tak ingin terkena masalah."
Lilis berlari kecil menuju pekarangan rumahnya.
"Nis! Ninis panggil Mike!"
Mike mencari Ninis dan menanyakannya dengan para art yang ditemuinya. Namun, mereka tak mengetahui di mana Ninis berada.
Setelah mencari keberadaan Ninis di dapur dan tak ada. Mike kembali mencari keberadaan Ninis di kamarnya, Ninis pun tak ada di sana.
"Kemana perginya Ninis ya?" gumam Mike.
Ketika sedang mencari keberadaan Ninis, Vania meneleponnya.
"Mike, kau di mana?" tanya Vania
"Aku pulang ke rumah, untuk mengambil pakaianku."
"Kalau begitu, jika kau kembali ke rumah sakit, tolong belikan Davina bubur, ia harus makan sebelum minum obat."
"Oke, apa Davina Sudah bangun?"
"Sudah, tadi saat Davina baru bangun tidur, dia langsung mencarimu, katanya kau meninggalkannya saat dia tidur."
"Hahaha kau jelaskan saja padanya, jika aku baru saja pergi dan semalaman ini aku menjaganya."
"Iya, aku sudah jelaskan dan Davina mengerti."
"Baiklah, kalau begitu aku langsung kembali ke rumah sakit."
Karena sudah ditelepon oleh Vania, memutuskan untuk kembali ke rumah sakit secepatnya.
Rencananya ia akan menanyakan kepada Ninis melalui sambungan telepon saja.
***
Pagi harinya keadaan Davina semakin membaik.Ia sudah bisa bangun dan duduk tak seperti keadaannya semalam.
Vania melepaskan pakaian Davina kemudian membersihkan tubuh Davina dengan menyeka menggunakan air hangat.
Mike tiba di ruang perawatan Davina dengan membawa makanan untuk mereka.
"Eh anak daddy sudah sehat ternyata," ucap Mike sambil menghampiri Davina.
"Iya Daddy. Daddy gak tinggalkan Vina kan semalam?"tanya Vina.
"Gak lah, Daddy keluar sebentar katanya Vina mau makan bubur."
"Ayo makan ya, Daddy yang suapi."
Davina membuka mulutnya menerima suapan dari Mike.
"Sayang memangnya Davina Mimpi apa semalam?" Tanya Mike sambil menyuapi Davina.
"Vina mimpi diberi apel oleh nenek sihir terus Vina tertidur dalam waktu yang lama sekali, pas bangun dari tidur Vina mimpi dikejar nenek sihir itu,"tutur Davina.
"Oh itu seperti cerita sleeping beauty Nak, mungkin Davina sering menonton film itu jadi terbawa oleh ke alam mimpi, lagi suhu tubuh Davina begitu panas."
"Tapi tetap saja Vina takut Bunda."
"Iya, makanya hati-hati ya, kalau orang nggak kenal Vina Jangan mau dikasih makan apa-apa."
"Iya Bunda."
"Sejam setelahnya, Vina kembali mengantuk karena reaksi obat.
Ketika ia ingin menutup matanya tiba-tiba saja Tuan John datang dan membuka pintu ruang perawatan Davina..
"Eh cucu opa sudah sehat, "ucap Tuan John sambil menghampiri Davina kemudian menciumnya.
Davina bukannya senang, ia justru ketakutan ketika melihat nyonya wilhelmina yang mendampingi Tuan John.
Tuan John duduk kemudian ia mengusap kepala Davina.
Namun Davina hanya diam saja, masih terlihat sekali ia seperti orang ketakutan.
Setelah berbincang-bincang dengan Davina sebentar ,Tuan John memutuskan untuk pulang dan kembali ke kantor, begitupun nyonya wilhelmina.
Setelah kepulangan Tuan John dan nyonya wilhelmina, Vania menghampiri Davina.
"Sayang, kenapa Opa datang kok Davina nggak senang, Opa bercerita banyak sekali, bertanya pada Davina Kenapa Davina hanya diam.
"Vina takut Bunda."
"Takut kenapa? takut sama Opa?"
Davina menggelengkan kepalanya dengan lirih.
"Vina takut sama Oma, Vina baru ingat kalau nenek sihir yang ada di dalam mimpi Vina itu adalah Oma,"tutur Davina dengan polos.
Mike dan Vania kembali saling memandang, mereka semakin curiga terhadap nyonya wilhelmina.
met mengusap kepala Davina untuk menenangkannya.
"Davina Tenang saja, siapapun nenek sihirnya.Daddy akan melindungi Davina, jadi Davina Jangan pernah takut ya. Davina tinggal bilang pada Daddy,Siapa yang berbuat jahat pada Davina."
"Iya Dedi."
bersambung dulu gengs, jangan lupa ya dukungannya biar author up lagi.