
Pagi-pagi sekali Nyonya Wilhelmina membongkar isi brankas Tuan John, ketika pria itu terlelap.
Nyonya Wilhelmina melihat beberapa surat-surat berharga dan ada sebuah surat pernyataan tertulis yang sudah ditandatangani oleh Tuan John di notaris.
Surat itu menyatakan jika Tuan John menunjuk Devina sebagai satu-satunya ahli warisnya, mengingat ia sudah membagikan hartanya kepada Mike dan nyonya Wilhelmina.
"Sialan mau cari mati rupanya John!"
"Berani-beraninya, ia menulis surat wasiat ini tanpa sepengetahuanku."
"Aku habisi saja dia! Kemudian surat ini aku sembunyikan terlebih dahulu, agar tak ada yang menemukannya, kemudian aku membuat surat wasiat palsu agar semua harta yang dimiliki oleh Tuan John menjadi milikku."
Nyonya Wilhelmina tersenyum menyeringai, iya sudah gelap mata ingin menghabisi Tuan John tanpa mempertimbangkan resiko nya.
Kemudian ia menyembunyikan surat wasiat tersebut di tempat yang aman.
Nyonya Wilhelmina menatap Tuan John yang sedang tertidur pulas.
"Ternyata dia sudah mempunyai firasat untuk mati dan akulah yang akan membunuhmu."
"Maafkan aku sayang, anak dan cucuku membutuhkan harta darimu, jika saja kau bersikap adil padaku, mungkin aku takkan melakukan ini padamu."
***
Vania dan Mike sedang asik bercumbu di atas tempat tidur mereka.
"Bunda dan Daddy lagi ngapain?!"Davina yang bangun dari tidurnya sambil mengucek-ngucek matanya karena baru bangun tidur.
Mike dan Vania kaget, mereka langsung melepaskan pagutan bibirnya, kemudian mengambil posisi duduk, dengan mode pura-pura bodoh seolah tak terjadi apa-apa.
"Bunda dan Dedi lagi ngapain sih?"tanya Davina.
"Ehm gak kok, bunda dan Daddy tengah berlatih gulat," cetus Mike sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Vania mendekatkan Davina
" Davina baru bangun tidur ya? ayo Bunda mandiin."
"Tidur anak bunda nyenyak sekali ya," ucapannya sambil melepas pakaian tidur Davina.
"Iya bunda, Vina nggak mimpi nenek sihir lagi karena tidur ditemani Bunda dan Dedi."
"Haha, begitu ya ayo kita langsung mandi."
Setelah memandikan anaknya, pasangan pengantin baru itu turun untuk sarapan bersama.
"Eh cucu Oma sudah bangun," ucap Wilhelmina.
"Sini sarapan dengan Oma."
Davina menyembunyikan wajahnya di Curug leher Mike, yang sedang menggendongnya.
"Rencananya kami akan sarapan di rumah makan Davina," sahut Mike.
"Oh begitu," nyonya Wilhelmina tersenyum kecut.
Mike, Vania dan Davina meninggalkan rumah tersebut, itu karena Davina ingin makan bubur buatan salah satu pegawai Vania di rumah makan Davina.
***
Setelah setengah jam, Mereka pun tiba di rumah makan Davina
Baru saja turun dari mobil, Davina langsung mencari keberadaan Marina.
"Tante Marina! bubur Davina man!" teriaknya sambil berlari kencang.
"Duh udah Vina nggak pandai sabar ya," ucap Vania.
"Hai Davina!"
" Tenang saja, Tante sudah siapkan bubur kesukaan kamu, nih makan dulu."
Mike dan Vania ikut duduk bersama di salah satu sudut meja makan.
"Kalian berdua mau sarapan apa?"tanya Marina.
"Suamiku nggak biasa makan yang berat Kak, nanti aku bikin sandwich saja untuknya."
"Sayang kamu tunggu di sini dulu ya, aku bikin sandwich untuk sarapan kita."
"Iya," ucap Mike.
Mike masih memantau pesan-pesan yang dikirim oleh nyonya Wilhelmina.
Tak ada pesan selain dari Mishel dan pesan terbaru itu membuat Mike tersentak kaget dan langsung berdiri.
"Marina tolong kau urus Davina dan bilang pada Vania jika aku punya urusan yang mendadak."
Mike langsung berlari menuju mobilnya.
Drum…. terlihat sekali ia terburu-buru membawa mobilnya itu keluar dari halaman parkir Rumah Makan Davina.
Vania keluar dari dapur dengan membawa 2 sandwich dan minuman hangat.
"Loh Mike pergi kemana ?"tanya Vania pada Marina.
"Katanya ada urusan yang mendadak."
"Ih aku main ditinggal saja. Sudah buatin sarapan untuk dia lagi."
"Tapi sepertinya urusan Mike kali ini begitu mendadak, aku melihat ketegangan dan kecemasan di wajah suamimu itu."
'Ada apa ya?' Vania bertanya-tanya dalam hatinya…
Ingin menelpon Mike, namun Vania takut jika mike mengangkat teleponnya sambil mengemudi itu justru akan membahayakan keselamatan Mike sendiri.
***
Mobil mewah Mike melaju membelah jalan raya, sambil mengemudi ia coba untuk menghubungi seseorang.
"Ayo dong Daddy tolong angkat telponku!"
Mike berusaha berkali-kali menelpon Tuan John. Namun telepon tersebut tidak diangkat.
Mike yang khawatir jadi semakin mempercepat laju kendaraannya, kebetulan hari masih pagi saat itu, jadi jalanan masih lenggang dan ia bebas memacu kecepatannya.
Berkali-kali Mike mengklakson mobil di depannya, dan beberapa kali juga ia hampir menabrak mobil yang ada di hadapannya.
Hanya 15 menit Mike sudah tiba di mansion keluarganya.
Setelah keluar dari mobil Mike langsung berlari menuju meja makan.
"Berhenti Daddy!" serunya ketika tuan John ingin meneguk minuman hangat yang disediakan oleh salah satu asisten rumah tangganya.
"Mike, kau kenapa?" tanya Tuan John ketika melihat Mike berlari menghampirinya.
"Makanan itu jangan dimakan ataupun diminum!"
Nyonya Wilhelmina langsung membelalakkan bola matanya.
"Ada apa ini Mike?" tanya Tuan John yang tak mengerti.
Mike menghampiri nyonya Wilhelmina.
"Mommy sekarang cicipi makanan dan minuman Daddy ini," ucap Mike, sambil menyodorkan piring dan gelas yang berisi minuman hangat kepada nyonya Wilhelmina.
Nyonya wilhelmina semakin kaget.
" Maksud kamu apa Mike?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Mike kau jangan bercanda, jangan main-main sama mommy. Maksudmu apa dengan semua ini?" tanya Nyonya Wilhelmina coba mengingkarinya.
"Jika tak ada apa-apa di makanan ini,aku minta mommy untuk mencobanya, sebelum diberikan pada Daddy!" .
Nyonya Wilhelmina semakin kaget.
"Ayo Mommy cepat dimakan!" Perintah Mike, kali ini wajahnya memerah karena emosi.
"Mike, Apa maksudmu ini dengan semua ini?" tanya Tuan John yang masih belum mengerti.
"Daddy, wanita ini berencana untuk meracuni Daddy!"
Nyonya Wilhelmina dan Tuan John sama-sama kaget mendengar ucapan dari Mike.
"Mike apa-apaan kamu, Kenapa kamu tega menuduh mommy seperti itu, Daddy mu itu, suami mommy! Bagaimana mungkin mommy bisa mencelakai nya?"
"Jika memang mommy tidak menaruh racun di makanan Daddy, silakan Mommy sendiri yang makan!"
Nyonya wilhelmina menatap Mike dengan tatapan tajam penuh kebencian.
"Ayo makan!" bentak Mike.
Tuan John melirik ke arah nyonya wilhelmina yang kelihatan tampak ketakutan.
"Ayo makan, jika memang tidak ada racun di dalam makananku! Ayo makan!" teriak Tuan John yang terlihat emosi dan kecewa terhadap istrinya
Nyonya Wilhelmina bergeming, ia tak mau menyentuh makanan tersebut apalagi memakannya.
"Fix ! kalau begitu makanan ini mengandung racun!"
Mike mengambil piring dan minuman yang diduga beracun itu kemudian membungkusnya.
Setelah itu Mike menelpon polisi untuk datang menangkap nyonya Wilhelmina.
Tuan John masih menatap istrinya yang terlihat ketakutan sambil menundukkan wajahnya.
"Apa yang telah kau lakukan wilhelmina?!" bentak Tuan John.
"Ampun Daddy! aku tidak bermaksud meracunimu," tutur Nyonya pura-pura menyesal.
"Oh, jadi benar, kau yang telah berniat meracuniku."
Nyonya Wilhelmina menangis dengan air mata buaya nya..
"Tidak Daddy! aku tidak bermaksud untuk meracunimu."
"Lalu apa?"
Nyonya Wilhelmina diam.
"Mommy, kau pasti bertanya-tanya, kenapa aku tahu kau akan meracun Daddy!"
Nyonya Wilhelmina tertunduk.
Mike kemudian membuka layar handphonenya dan menunjukkannya pada Tuan John tentang chat yang dikirim oleh Nyonya wilhelmina pada Mishel, begitupun sebaliknya.
Di pesan tersebut, Mishel mendesak agar Nyonya Wilhelmina,segera menyelesaikan tugasnya dengan cara membunuh Tuan John.
Bukan main kagetnya Tuan John saat itu melihat pesan chat nyonya dan Mishel.
"Jadi selama ini, kau adalah duri dalam daging di keluargaku teriak ?!"Teriak tuan John.
"Ampun Daddy! aku tidak bermaksud menyakitimu selama ini aku tulus. Hanya saja aku merasa cemburu ketika Vania dan Davina berada di rumah ini, hiks hiks."
"Kau cemburu?! dia itu menantu dan cucuku, Apa yang membuatmu cemburu kepadanya?"
"Aku cemburu karena kau akan mewariskan seluruh hartamu pada Davina, sementara aku hanya mendapatkan sebagian dari aset-aset Mu saja!"
"Dasar serakah! hanya karena harta, kau tega menghianati keluargamu sendiri!"
"Kau memang pantas dihukum nyonya wilhelmina! tunggulah sebentar lagi polisi akan datang menghampirimu."
Nyonya wilhelmina menangis sambil berlutut memeluk kaki tuan John.
Tolonglah Daddy, lepaskan aku, aku mohon sekali Ini saja! Aku minta maaf, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," Tutur nyonya Wilhelmina mengiba.
Tuan John bergeming, tubuhnya bergetar menahan perasaan emosi,ingin rasanya ia menghabisi wanita yang tengah berlutut memeluk kakinya tersebut.
"Ternyata selama ini apa yang mommy berikan padaku, tidaklah tulus. mommy melakukan semua ini ,karena ada niat terselubung di dalamnya."
"Tidak Mike! Mommy tulus!"
Nyonya wilhelmina berlutut menghampiri Mike
"Tolong jangan laporkan mommy kepada polisi,"minta Nyonya Wilhelmina dengan memelas.
"Jika mommy, berada di dalam penjara, Bagaimana dengan Mishek dan anaknya?"
"Mereka sekarang tinggal di Los Angeles dan hanya mengharap kiriman dari mommy."
Nyonya Wilhelmina kembali berjalan menghampiri Mike dan memeluk lututnya.
"Tolong jangan penjarakan mommy Mike," minta Nyonya Wilhelmina dengan mengiba.
Setelah apa yang mommy lakukan pada keluargaku, mommt pikir aku akan peduli?" tanya Mike dengan membentak.
"Jadi benar kan? Jika mommy ingin mencelakai Davina, ingin membunuhnya dengan racun itu. Sekarang mommy ingin membunuh daddy ku orang yang selama ini telah melindungi Mommy dan telah memberikan kehidupan yang layak, mengangkat derajat mommy dari hanya seorang baby sitter menjadi nyonya yang berkuasa dan hidup bergelimang harta!"
"Jika aku melepaskan mami, aku yakin mommy akan ada korban selanjutnya."
Nyonya Wilhelmina berlutut dan bersujud, memohon kepada mime dan Tuan John agar ia tidak dilaporkan kepada polisi.
Namun, semua terlambat karena 10 menit kemudian polisi sudah tiba di mansion Tuan John.
Mike juga mengirim pesan yang ada di aplikasi chat-nya ke polisi.
"Selamat pagi, tuan Mike dan Tuan John," sapa polisi tersebut.
"Selamat pagi pak polisi."
"Maaf kami harus meringkus tersangka saat ini juga," ucap polisi tersebut.
"Itu dia tersangkanya! silakan saja," ucap mike sambil menunjuk nyonya Wilhelmina yang masih berlutut memohon dan mengiba.
"Tidak mike! Daddy,i tolong suruh mereka melepaskan aku, Aku tidak mau dipenjara. Bagaimana dengan nasib putri dan cucuku disana," tangis nyonya Wilhelmina
Tapi Mike dan Tuan John tidak peduli, Nyonya Wilhelmina benar-benar keterlaluan, ia rela menghabisi keluarganya hanya demi mendapatkan harta.
***
Vania melirik petunjuk waktu sudah setengah jam Mike pergi meninggalkannya. Jika Mike kembali ke rumah, itu berarti dia sudah sampai. Vania memberanikan diri untuk menelpon suaminya itu.
"Halo Sayang kenapa kau tiba-tiba meninggalkan kami?"tanya Vania.
"Panjang ceritanya sayang, tapi syukurlah aku bisa menyelamatkan Daddy dari nenek sihir itu," ucap Mike.
"Nenek sihir apa maksudmu?!" tanya Vania.
Kau tahu, ternyata Mommy merencanakan meracuni Daddy agar ia bisa mengalihkan surat wasiat Daddy menjadi namanya.
"Hah benarkah? lalu Bagaimana nasib Nyonya Wilhelmina sekarang?" tanya Vania.
"Baru saja polisi membawanya ke kantor polisi, kau bersiaplah. Sebentar lagi aku akan menjemputmu, setelah itu kita akan ke kantor polisi bersama."
"Baiklah sayang," ucap Vania sambil menutup teleponnya.
Bersambung dulu ya maaf kalau banyak typonya.