
Setelah menyelesaikan administrasi.
Zahra menandatangani surat prosedur operasi untuk Vania.
Setelah semuanya selesai, ia kembali ke ruangan Vania.
Saat itu Vania masih merintih rintih menahankan rasa sakit.
"Vania kamu sabar ya dek, sebentar lagi kamu akan menjalani tindakan operasi, kamu sabar dan banyak-banyak berdoa," tutur Zahra sambil menghapus keringat yang membasahi wajah Vania.
Setelah mendengar kisah hidup Vania secara singkat, melalui Marina. Zahra merasa iba pada gadis 19 tahun itu.
"Iya Mbak Terima kasih," ucapnya dengan bibir gemetar, sebenarnya ia sudah tidak tahan lagi menahan rasa sakit.
Beberapa saat kemudian dua orang perawat datang menghampiri Vania.
"Kita masuk ke ruang operasi ya ibu," ucap perawat itu sambil mempersiapkan tempat tidur Vania.
Setelah semua beres, Vania di bawah menuju ruang operasi.
Dengan bola mata yang berkaca-kaca Vania menatap langit-langit sepanjang koridor yang ia lewati.
Sungguh suatu pengalaman yang memilukan, ketika ia berjuang mempertaruhkan nyawanya melahirkan seorang anak, tak ada suami ataupun keluarga yang menemani.
Hanya seorang teman dan wanita yang baik hati yang membantunya di jalanan.
Perlahan bulir bening menetes di pipi Vania. Saat itu dirinya sudah pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya, saat ini Vania merasa takut karena harus dioperasi, tubuhnya pun menggigil.
Terbayang pisah-pisau tajam yang akan menyayat-nyayat perutnya, hal itu membuat Vania semakin meneteskan air matanya perlahan perutnya menjadi ngilu.
Semakin lama air mata Vania semakin deras mengalir, seiring keringat dingin yang terus saja mengalir di sekujur tubuhnya karena menahan rasa sakit.
Vania dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan yang gelap, lampu kemudian menyala.
Kemudian dua orang suster melepas seluruh pakaian Vania dan menggantinya.
Bahkan Vania sudah tak bisa merasakan malu, ketika dua orang perawat pria membantu melepas pakaian dalamnya.
Saat itu Vania benar-benar merasa takut dan bimbang.
"Ibu jangan menangis, ibu harus tenang, banyak-banyak berdoa ya Bu," ucap suster tersebut ketika melihat Vania menangis
Beberapa saat kemudian Vania di bawah kembali menuju sebuah ruangan.
Vania masih menatap langit-langit ruangan tersebut sambil berdoa dalam hatinya, perlahan matanya mulai terasa berat Vania mengalami ngantuk yang luar biasa.
Karena tak mampu lagi menahan rasa kantuknya, ia langsung saja terlelap saat itu juga.
Meski matanya terpejam. Namun Vania masih bisa merasakan pembicaraan beberapa orang tenaga medis yang ada di sampingnya, Setelah beberapa lama kemudian mereka semua hening.
Vania merasakan ada benda yang dingin terasa mengiris bagian perutnya, tidak terasa sakit memang.
Entah berapa lama suasana sekelilingnya dalam keadaan hening, kemudian terdengarlah suara tangis bayi .
Vania saat itu tidak merasakan apa-apa, sampai akhirnya ia tertidur dan tak tahu apalagi yang terjadi selanjutnya.
Di luar ruangan Zahra dan Marina menunggu dengan gelisah.
*Mbak Zahra, Terima kasih ya karena Mbak telah menolong Vania dan mau membantu biaya persalinannya," ucap Marina.
"Iya sama-sama, aku juga kasihan melihat Vania, memangnya dia tak punya orang tua?" tanya Zahra.
"Nggak ada, Mbak dia tinggal sendiri."
'Lalu kenapa dia tidak minta pertanggungjawaban suaminya ?" tanya Mbak Zahra lagi karena penasaran.
Sebelumnya Marina hanya menjelaskan secara singkat jika Vania itu sudah menjanda dan ditinggal suaminya.
"Susah mbak, keadaan Vania itu begitu sulit."
" Vania dan mantan suaminya itu menjalani pernikahan kontrak, Vania dipaksa oleh ibu tirinya untuk menikah dan merawat tuan muda yang mengalami cacat dan buta setelah kecelakaan yang menimpanya. Kalau gak salah nama suaminya itu Mike Miller."
"Mike Miller ? perasaan aku pernah dengar nama itu, sepertinya tidak asing," gumam Zahra.
"Mike Miller itu anak dari John Arlan Miller pengusaha kaya itu loh mbak," mereka berbisik-bisik.
"Ah yang benar saja?!"
"Harusnya Vania memberitahu mantan suaminya itu karena kasihan anaknya. Lagi pula anaknya juga berhak mendapatkan bagian harta Mike dan kehidupan yang layak, tidak susah seperti saat ini," imbuhnya lagi.
"Itu dia Mbak, Vania nggak mau karena saat menikah ia sering mendapat perlakuan buruk dari suami dan juga ibu mertuanya sampai Vania trauma."
"Hah lalu di mana ibu tirinya saat ini?!"
"Astaghfirullahaladzim, kasihan sekali Vania tragis sekali nasibnya."
"Iya mbak."
"Ya sudah mbak Marina, kita berdoa saja semoga operasi Vania dilancarkan dan anak dan ibunya bisa selamat."
"Amin Mbak," ucap Marina.
Zahra dan Marina menunggu dengan perasaan gelisah.
Ketika sedang menunggu Zahra mendapat telepon dari suaminya.
"Halo Papa, Mama lagi di rumah sakit pah, tadi pagi mama mengantar orang melahirkan dan saat ini dia sedang operasi," tutur Zahra di dalam sambungan teleponnya.
"Di rumah sakit mana Mah?" tanya suaminya.
"Oh iya Nanti papa jemput mama ya,sebentar lagi."
Setelah berbincang sejenak, Zahra menutup teleponnya.
"Mbak Marina saya sudah dijemput suami saya, jika ada apa-apa dengan Vania Tolong beritahu saya ya, kita saling bertukar nomor telepon saja." Zahra memberi nomor teleponnya.
"Oh kalau begitu terima kasih Mbak," ucap Marina.
Mereka pun saling bertukar nomor telepon.Setelah itu, Marina kembali menunggu Vania hingga selesai di operasi.
Beberapa saat kemudian suster keluar dan membawa seorang bayi mungil.
Melihat suster yang keluar dari ruangan operasi, Marina buru-buru menghampirinya.
"Suster ini keponakan saya ya, bayi nya Vania ?"tanya Marina.
"Iya Mbak, ini bayi nyonya Vania."
"Mau dibawa Kemana suster?" tanya Marina lagi.
"Untuk sementara, di bawah ke ruang perawatan bayi baru lahir ya mbak."
"Vania melahirkan bayi perempuan atau laki-laki suster?" tanya Marina semakin bersemangat
"Bayi perempuan Mbak."
Marina kemudian mengintip wajah bayi yang terbungkus di balik bedongannya.
"Bayinya cantik sekali," gumam Marina.
"Lalu bagaimana dengan keadaan Vania Suster?"
"Oh pasien masih di observasi pasca melahirkan, mungkin sekitar satu jam lagi baru bisa dipindahkan ke ruang perawatan."
"Syukurlah, kalau begitu, boleh saya ikut mengantar keponakan saya ?" tanya Marina.
"Iya mbak silakan."
***
Mike, Tuan John dan nyonya wilhelmina berada di luar ruang persalinan.
Semua bergeming saat itu karena ditatap dengan sinis oleh Mike.
"Apa Mommy bisa jelaskan, bagaimana bisa DNA aku dan anak yang di dalam kandungan Mishel itu sama?!"tanya dengan emosi.
Tak hanya make Tuan John Arlan pun menatap kesal ke arah Nyonya Wihelmina.
"Iya mommy? Kenapa tes DNA itu membuktikan jika anak yang dikandung oleh Mishel itu anak Mike?"
"Mana mami tahu Daddy, mungkin saja itu kesalahan dari laboratoriumnya atau petugasnya saja yang nggak bener," kilah nyonya wilhelmina.
"Dari awal aku tuh curiga mami perutnya itu besar tapi dia baru mengaku jika ia hamil 5 bulan."
"Lagi pula aku tak pernah berhubungan secara langsung dengan Mishel."
Tapi Mike, mungkin saja anak itu mengalami kromosom hingga kulit tubuhnya begitu putih dan rambutnya menjadi pirang.
"Mommy pikir aku bodoh, tak bisa membandingkan orang yang mengalami kelainan pigmen kulit dengan bayi yang berasal dari ras Eropa?!"
Kali ini nyonya wilhelmina kembali terdiam.
Lalu bagaimana dengan nasib Mishe dan Vania ? Tetap stay tune ya gengs.