My CEO, My Ex-Husband

My CEO, My Ex-Husband
Bertemu Mantan



Hari ini Rumah makan Davina terlihat begitu sibuk karena pesanan catering-an dari perusahaan angkasa pura.


Karena ada beberapa perusahaan yang juga catering hari dan jam yang sama Vania juga terpaksa turun tangan sendiri untuk membantu.


Apalagi Vania baru saja mendapat telepon mendadak dari Roby, jika perusahaan mereka ,meminta makanan yang mereka pesan disajikan secara prasmanan.


Vania menghampiri Marina asisten pribadinya.


"Bagaimana Mbak Marina apa sudah beres catering punya pak Robi?" tanya Vania.


"Oh sudah Van, semua menu dan nasi sudah beres, lengkap dengan 60 snacknya yang juga sudah siap."


"Oke, kalau begitu mbak Marina urusin catering yang lain, biar saya sendiri yang antar ke perusahaan PT angkasa pura nya."


"Iya Kamu pergi dengan siapa?"


"Saya bawa mobil sendiri saja lah Mbak,  Mbak urus saja catering-an yang lainnya, mereka juga minta jam yang sama."


"Oke kalau begitu."


Para karyawan di rumah makan Davina benar-benar sibuk, hingga Vania sendiri terpaksa harus mengantar catering-an dari Robby.


Dengan membawa minibusnya Vania menuju perusahaan Angkasa Pura salah satu perusahaan milik keluarga John Arlan Miller


15 menit kemudian ia sudah sampai parkiran mobil. Vania meraih handphonenya kemudian menelpon Robby.


"Halo pak Robby, saya sudah sampai di parkiran."


"Oh iya Mbak, nanti saya jemput ya. Mbak tunggu saja di lobby."


"Iya Pak Robby terima kasih."


Vania mengarahkan mobilnya menuju lobby.


5 menit menunggu, ia melihat kedatangan Robi yang menghampirinya dengan membawa troli.


Selamat siang Mbak Vania sapa Robi dengan ramah.


"Selamat siang juga pak Robi."


"Maaf ya Mbak Vania, karena saya dapat perintah secara mendadak, boleh tidak saya meminta Mbak Vania untuk melayani tamu di meja prasmanan."


"Oh tapi kenapa begitu Pak?" Tanya Vania yang sebenarnya sedikit agak keberatan karena saat ini di rumah makannya begitu sibuk.


"Karena rapat ini begitu mendadak kami kurang persiapan, pak CEO kami, meminta makanan disajikan secara prasmanan, karena itu kami kesulitan untuk mencari orang berjaga di meja prasmanan, sementara belum ada persiapan sebelumnya."


"Tapi jika Mbak Vania keberatan, tidak apa-apa kok, maaf kalau sudah merepotkan."


" Oh nggak papa, saya tidak keberatan kok." Vania coba mengerti permasalahan Robby.


"Terima kasih kalau begitu Mbak, maaf saya merepotkan," ucap Roby.


"Nggak apa-apa kok."


"Masakannya ada di dalam mobil, turunkan saja dulu."Vania membuka pintu belakang mobil.


Sementara Roby memanggil rekannya untuk membawa makanan tersebut.


Karena disajikan secara prasmanan Vania dan Robby agak sedikit repot apalagi permintaan CEO mereka yang mendadak.


Setelah barang diangkut oleh orang suruhan Robi, ia  menuntun Vania menuju sebuah ruangan.


Saat itu rapat sedang berlangsung dan sepertinya sebentar lagi jam istirahat makan siang.


Dari kejauhan Vania melihat di ada  beberapa orang pria yang berdiri.


Sekitar bola matanya membulat sempurna.


"Astaga! kenapa dia ada di sini?" Vania mulai merasa gugup. Ia jadi serba salah, khawatir jika Mike melihat dan mengenalinya.


"Mbak Vania, ada apa ?"tanya Robi ketika melihat gelagat aneh Vania.


"Ah tidak apa-apa."


"Kalau begitu mbak tolong saya ya, Anda menyodorkan piring untuk para tamu, sementara saya yang akan mengantar minumannya.


"Oke," jawab Vania, sebenarnya pikirannya entah ke mana saat itu.


Tiba-tiba Vania terpikir satu hal.


Tapi kenapa aku harus merasa takut kepadanya?  bukankah hubungan kami sudah berakhir 3 tahun yang lalu, lagi pula dia tak pernah melihat wajahku dia takkan mengenaliku,'batin  Vania.


"Silakan tuan-tuan hidangannya," ucap Mike.


Tamu-tamu penting itu langsung menghampiri meja prasmanan. Vania terlihat semakin gelisah karena sebentar lagi ia dan Mike saling berhadapan, ia berusaha menyembunyikan wajahnya di balik rambutnya yang tergerai.


"Silahkan Tuan," ucap Vania  sambil menyodorkan piring kepada seorang pria paruh baya


"Terima kasih Nona," ucap pria itu sambil tersenyum.


"Silakan Tuan," ucap Vania kembali ketika seorang pria berumur 30 tahun menghampirinya, pria itu beberapa saat menatap wajah Vania kemudian tersenyum.


Setelah beberapa orang pria, kini Vania harus berhadapan dengan Mike. Jantungnya semakin berdetak kencang, seketika keringat dingin mengucur deras di wajahnya, ia masih terbayang kisah 4 tahun yang lalu bersama pria yang menurutnya sangat kejam itu menjadi suaminya.


Vania mengatur nafasnya karena selangkah lagi Mike berada tepat di depannya dan akan menyambut piring yang ia sodorkan.


Mike melihat keanehan di wajah gadis yang ada di hadapannya, ia mengamati wajah Vania sesaat.


Silahkan Tuan, ucap Vania  dengan lirir agar suaranya tidak didengar oleh Mike.


Cukup lama Mike berhenti menatap ke arah Vania, hingga membuat Vania semakin nervous.


Jika saja tidak ada antrian di belakangnya, mungkin Mike akan berdiri lebih lama lagi untuk menatap wanita yang ada di hadapannya.


Mike meraih piring dari Vania dengan mata yang terus menatap ke arah Vania, sehingga membuat Vania semakin gugup. 


Vania terus menunduk agar Mike tak melihat wajahnya dengan jelas.


Setelah mengaut makanannya,Mike kembali menoleh ke arah Vania, begitupun Vania yang tak sengaja menoleh ke arah Mike lagi..


Vania buru-buru membuang wajahnya ketika tak sengaja mereka berdua saling menatap.


Satu persatu tamu rapat pun sudah mendapatkan piring dan duduk dengan tenang.


Sementara Vania semakin gelisah karena Mike tak  henti-hentinya memandang wajahnya


'Siapa gadis itu sepertinya aku pernah kenal,'batin Mike.


"Eh lu liat Pak CEO!" tunjuk Jerry 


"Kenapa?" tanya Robi.


"Lihat saja, bos kita dari tadi mencuri pandang ke arah Vania."


Robby memandang ke arah Mike, benar saja Mike tengah mengamati Vania, sementara Vania semakin insecure karena terus ditatap pria itu dari kejauhan.


"Wah gawat nih bro, saingan kita berat banget nih," ucap Jeremy.


"Kalau Pak CEO sampai jatuh hati pada Vania, Duh pupus harapan Kita," cetus Jerry.


"Bersaing dengan tiga rekan sejawat saja, sudah melelahkan, apalagi jika harus bersaing dengan Pak CEO bisa kalah telak aku," sahut Roby yang berada dalam dilema.


"Dari segi ketampanan Pak CEO lebih tampan Lo, dari segi postur tubuh Pak CEO, juga lebih menawan, apalagi soal dari segi harta tetap dia yang jadi pemenangnya!" Tukas Jeremy memanasi Robby.


Karena dari mereka bertiga Robby lah paling berambisi untuk memiliki Vania.


"Vania pasti klepek-klepek tuh kalau Pak CEO yang menyatakan cintanya," imbuh Jerry semakin memanasi.


Seketika raut wajah Robby jadi berubah.


"Lu berdua jangan gitu dong kan gua jadi Insecure duluan," cetus Robby.


Hahaha Lo, baru saja digertak sama Pak CEO,udah sawan aja lo! bro selama janur kuning belum melambai, masih bisa milik bersama cetus,"  Jerry sambil menepuk budak Robi.


"Gimana Gua nggak sawan, men saingan kita itu loh, kenapa harus pak CEO, kalau sama kalian saja dua kalikan nol, pasti gua menang lah!"


"Jangan songong lu Rob, Kalau gua sih gua masih optimis, Siapa tahu Mbak Vania lebih suka pria sederhana seperti gua," cetus  Jerry.


"Hahaha zaman sekarang cewek dikasih rumah sederhana saja nggak mau, apalagi sama cowok yang sangat-sangat  sederhana seperti lu,"sahut Jeremy.


"Ah loh Bro!"


Haha mereka tertawa kecil.


Karena merasa tugasnya sudah beres, Vania menghampiri Roby.


"Pak Roby,tugas saya sudah selesai, untuk itu saya mohon pamit undur diri ya Pak," ucap Vania.


Saat itu ekor mata Mike masih mengarah ke Vania yang tengah bicara pada Roby kemudian keluar dari ruangan rapat tersebut.