My CEO, My Ex-Husband

My CEO, My Ex-Husband
Melamar



Vania tiba di depan rumah makan Davina. Ia keluar mobilnya dengan wajah yang begitu kesal.


"Kok mukamu cemberut gitu sih ?"tanya Marina.


Vania tak menjawab, ia hanya duduk di kursi yang berada di salah satu sudut ruangannya.


Marina menghampiri Vania.


"Kamu kenapa sih kok ,kayaknya kesel gitu setelah bertemu CEO PT Angkasa Pura itu?"


"Gimana gak kesal kak, ternyata CEO itu adalah Mike Miller."


"Itu berarti dia mantan suami kamu?!"tanya Marina dengan kaget.


"Iya."


"Ya sudah, bukannya kalian sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Bisnis is bisnis, nggak usah sangkut pautkan bisnis dengan kejadian masa lalu."


"Iya tapi kelakuannya itu loh, kurang ajar sekali."


"Kurang ajar bagaimana?"


"Dia  sengaja mengundangku datang ke sana, hanya untuk menggodaku, kakak bayangkan saja, dia berani menciumku saat pertama kalinya kami bertemu setelah sekian tahun!"


"Dia pikir aku ini istrinya apa," dengus Vania 


"Hah?! Yang bener saja Vania?!"


"Iya kak, itu bikin aku kesel."


"Ehm, seperti dia masih penasaran sama kamu, atau dia memang benar-benar cinta sama kamu?"


"Entahlah kak, mana aku gak bisa batalin kontrak lagi dengannya."


Huh, Vania membuang napas kasarnya.


"Dia itu licik, bagaimana ya caranya agar aku tak mendapatkan gangguan dari dia?" tanya Vania sambil menempelkan dagunya di atas telapak tangan.


Marina ikut berfikir sejenak.


"Vania aku tahu caranya satu-satu agar dia tidak mengganggu kamu."


"Bagaimana caranya Kak?" tanya Vania.


"Jika kamu menikah, dia pasti akan berhenti mengganggu kamu."


"Menikah?"


"Iya, bukannya Anton pernah melamar kamu, Kenapa kamu tidak coba saja menerima lamaran Anton. Jika kalian sudah menikah, aku rasa dia akan berhenti mengganggu kamu dan gak berani berbuat macam-macam "


Vania berpikir sejenak.


"Bukannya selama ini Anton tulus mencintai kamu, lagi pula Anton dekat dengan Davina, kamu mau cari pria yang Seperti apalagi coba?"


"Iya sih Kak, tapi aku masih belum siap untuk menikah. Apalagi aku belum terlalu kenal dengan keluarga Anton."


"Makannya kamu berkenalan saja dulu, siapa tahu kalian berjodoh."


"Janda seperti kamu memang jadi incaran para lelaki, kamu cantik, muda dan sukses. Jadi wajar saja jika Anton ingin cepat kalian menikah."


"Lagi pula sepertinya sosok Anton bisa menjadi Ayah bagi Davina."


Vania mengangkat satu alisnya.


"Ayolah Vania kamu jangan terjebak pada kisah  masa lalu, buka hati kamu sekarang. Kamu pantas menikmati hidup kamu menikmati berumah tangga dengan seorang pria yang bertanggung jawab, bukankah kamu dan Anton dulu saling mencintai."


"Entahlah kak lihat nantilah, Kalau memang jodoh pasti nggak akan kemana kok. Sekarang kita pikirkan Bagaimana caranya menghandle catering-an 1200 porsi per hari."


"Sepertinya kita butuh karyawan yang banyak."


"Iya kita bisa merekrut karyawan sebanyak mungkin, tapi kontrak kerjasama ini kan hanya berlangsung 6 bulan, setelah kontrak ini selesai Bagaimana nasib karyawannya? "


Vania coba memutar otaknya sejenak, ia melupakan permasalahannya dengan Mike, karena dua minggu yang akan datang kerjasama dengan perusahaan Angkasa Pura akan dimulai.


Waktunya mepet karena mereka kekurangan karyawan.


" Oh aku tahu Kak. Kita rekrut karyawan 20 orang,jika  masa kontrak dengan PT Angkasa Pura berakhir, kita buka cabang baru saja, jadi para karyawan tersebut tidak kehilangan pekerjaannya."


"Oh iya kamu benar Vania itu baru cerdas namanya."


"Oke kakak urus bagian penerimaan karyawannya, sementara aku akan  mempersiapkan keperluan untuk bahan-bahan catering. Kita juga harus siapkan bumbu-bumbu yang banyak karena akan masak dalam jumlah yang banyak."


Ketika sedang asyik mengobrol, Vania mendapatkan telepon dari Robby.


"Halo selamat siang pak Robby?"


"Selamat siang Mbak Vania."


"Ada apa ya pak Robby?"


"10%?"


"Oke Pak Robby terima kasih,"ucap Vania.


"Sama-sama Mbak Vania."


"Ada apa Van ?" tanya Marina.


"PT Angkasa Pura sudah mengirimi 10% dari total nilai kontrak kita kak?"


"Ah yang bener secepat itu?!"


"Sebentar Kak aku cek."


Vania mengecek pesan dari mobil bankingnya.


Entahlah ia harus suka atau justru tidak suka.


"Iya kak, 350 juta sudah masuk ke rekening aku."


"Wah Vania sungguh kerjasama yang sangat menguntungkan."


"Biasanya kita dapat catering-an udah sebulan baru dibayar, ini belum kerja saja sudah dibayar 10% memang top markotop," ucap Marina sambil mengacungkan jempolnya.


Sementara Vania masih berwajah datar.


"Kamu kok nggak senang sih Van?" tanya Marina.


"Bukannya gak senang aku hanya bimbang Kak, aku takut jika aku dan Mike sering bertemu dia jadi tahu jika Davina adalah anaknya.Aku gak mau Davina diambil sama dia."


"Makannya, segera mungkin kamu menikah dengan Anton, setelah kamu dan Anton menikah ia tak akan mengganggumu lagi, karena kamu ada yang memiliki."


Vania diam beberapa saat.


"Ayolah Van. Nikah itu enak loh!" Marina coba mempengaruhi Vania yang sudah trauma dengan pernikahan.


Menurut Vania pernikahan itu hanya sekedar pelampiasan hasrat saja, seperti perlakuan Mike terhadapnya dulu.


Setiap hari ia harus melayani Mike bahkan di sebulan terakhir mereka menikah, Mike sampai tiga kali melampiaskan hasrat padanya.


Karena itulah ia takut menikah, mungkin saja Anton akan melakukan hal yang sama terhadapnya jika mereka menikah.


Walaupun sebenarnya Vania juga ingin seperti wanita-wanita lainnya yang terlihat bahagia dengan pasangannya.


***


Malam harinya seperti biasanya Vania dan Davina bermain di warung karena warungnya sudah sepi, hanya beberapa orang saja yang makan dan membeli nasi bungkus.


Anton tiba di rumah makan Davina, kehadiran langsung disambut suka cita oleh Davina.


"Om Anton!" Seru Davina sambil menghambur memeluk Anton.


Vania melihat ke arah Davina.


'Sepertinya Davina memang butuh sosok ayah, dan ku rasa Anton adalah orang yang tepat.' batin Vania.


Anton langsung menggendong Davina, mereka menghampiri Vania yang terlihat melamun. 


"Davina turun dari gendongan Om," ucap Vania karena Davina terus saja menggelayut manja dengan Anton.


Bocah tiga tahun itu memang begitu merindukan sosok ayah, sama seperti teman-teman sebayanya.


"Gak apalah Van, Davina kan calon anak aku," cetus Anton.


"Iya kan Sayang?" tanya Anton sambil mencium pucuk kepala Davina.


Mendengar itu Davina tersenyum dengan pipi yang merona.Mungkin ia mengira jika sebentar lagi ia akan memiliki ayah.


'Kasihan Davina, mungkin karena aku tersibuk karena itulah Davina seperti haus akan kasih sayang,' batin Vania.


"Davina, Davina mau kan jadi anak Om?" tanya Anton.


"Mau Om! Tapi nanti kalau om jadi ayah Vina, Om sering-sering bawa Vina ke Mall ya Om," pinta Davina dengan polos.


"Iya Sayang."


"Sekarang om mau tanya Bunda dulu, mau gak jadi istri Om?" 


Sontak Vania kaget mendengar pertanyaan Anton, ya walaupun sebenarnya Anton sudah pernah membicarakan tentang rencana pernikahan mereka.


"Gimana Van? Kamu mau kan?" tanya Anton sekali lagi.


bersambung dulu ya gengs.