My CEO, My Ex-Husband

My CEO, My Ex-Husband
Single Parent



Nyonya Citra dan Tuan Gavin datang menghampiri ke ruang perawatan Mishel.


Sebelumnya mereka mendengar berita jika Mishell melahirkan bayi dengan ras kaukasoid, sementara sebagian besar Indonesia dengan ras malayan mongoloid.


Ketika kedua orang tuanya datang, Mishel tengah menangis, saat itu ia tengah bicara pada Mike.


"Sudah jelaskan, kenapa aku menolak menikahi mu?! Aku menikahimu bukan karena aku bodoh, aku hanya menghargai keluargaku dan keluarga mu! Aku yakin suatu saat kebenaran akan ditampakkan, dan jika bayi yang kau kandung itu bukan anakku!" cecar Mike.


"Hiks hiks Maafkan aku aku telah membohongimu, ini semua aku lakukan karena aku mencintaimu Mike."


"Itu bukan cinta Mishel. Aku tak bisa mentolerir lagi! Aku menceraikan mu saat ini juga Mishel!"


"Hiks Mike, jangan terlalu kejam pada ku, hiks."


Mike menatap sekilas ke arah Mishel kemudian ia berlalu begitu saja.


"Mike ! Mike tunggu Mike!" tangis Mishel.


Tapi Mike tak perduli,ia tetap saja berlalu dari Mishel.


Tuan Gavin langsung menghampiri Mishel!


"Mishel! sebenarnya apa yang telah kau lakukan?! Kenapa kau mengaku hamil anak Mike, sementara yang lahir ...!"


"Hiks, aku gak tau daddy, anak siapa yang ku kandung," ucap Mishel keceplosan.


"Hah apa kata mu?! memangnya berapa laki-laki yang telah menikmati tubuhmu itu! hingga kau tak tahu ayah dari anak yang kau kandung!"


Hiks hiks Mishe menangis segugukan.


"Tak ada  gunanya kau menangis! keluarga kita sudah malu, kau tahu Tuan John juga memutuskan kerjasamanya dengan perusahaan kita!"seru Tuan Gavin dengan penuh emosi.


Tuan Gavin hendak melayangkan pukulan ke wajah Mishel.Namun di tangkis oleh nyonya Citra.


"Cukup Daddy!  ingat Mishe baru saja melahirkan. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya?!"


"Biarkan saja, jika perlu dia mati sekalian! Dia sudah membuat malu kita semua. Kita ini menganut budaya timur, orang-orang pasti akan memandang rendah keluarga kita karena perbuatannya! apa lagi ia telah berbohong pada keluarga Mike! Daddy serasa punya muka lagi!"


Tuan Gavin begitu emosi hampir saja ia memukul Mishel. Namun nyonya Citra selalu membelanya.


Mishel kini hanya bisa menangis karena ia telah diceraikan oleh Mike.


***


Satu jam pasca operasi Vania  dipindahkan ke ruang perawatan.


Saat itu Vania sudah dalam keadaan sadar, Vania bernapas lega, karena operasi yang ia jalani berhasil, ada rasa bangga di hatinya, karena kini ia sudah menjadi seorang ibu.


Ketika melewati koridor, tiba-tiba Vania melihat sosok yang kembali membuat jantungnya berdetak kencang.


"Tuan muda Mike," lirih Vania.


Mike berjalan cepat karena saat itu ia merasa begitu kesal.Namun ketika ia berpapasan dengan Vania,Mike sempat menoleh ke arah pasien yang terbaring di tempat tidur.


Vania sendiri secara refleks membuang wajahnya.


Setibanya di ruang perawatan,Sudah ada Zahra dan Marina.


"Vania, bagaimana keadaan kamu?!


"Baik kak."


"Syukurlah Vania."


Tak berapa lama berselang, seorang suster datang dengan membawa bayi perempuan.


"Permisi Ibu, silahkan ini bayinya," ucap Suster tersebut.


Vania meneteskan air matanya ketika melihat bayi munggil.


"Kak, anak ku cantik sekali ya."


"Iya Vania, anak kamu cantik sekali," sahut Marina.


"Sini kak, aku mau peluk dan cium dia."


Marina mengangkat bayi mungil itu agar Vania bisa semakin dekat dengan putrinya..


"Sayang," lirih Vania, sambil menangis haru.


Bayi itu memiliki mata yang sedikit sipit dan bulu mata yang begitu lentik, hidungnya juga mancung persis seperti Mike.


Meski menyadari putrinya lebih mirip mantan Suaminya, Vania tetap bahagia. Hanya saja karena keadaan yang masih lemah Vania masih belum bisa menggendong anaknya.


Saat tengah menimang anak Vania, Marina mendapat telepon.


"Oh iya Mas, sebentar lagi aku pulang," ucap Marina dan sambungan teleponnya.


Sebenarnya ia tak enak hati meninggalkan Vania sendiri apalagi  keadaan Vania yang sangat lemah.


"Oh iya tidak apa-apa."


"Makasih ya Kak."


Vania bingung karena ia tak tahu bagaimana cara mengurus anaknya sementara dirinya ia baru saja menjalani operasi dan belum bisa bergerak.


"Biar Mbak saja yang akan menjaga Vania, kebetulan suami mbak di luar kota, dan mbak juga belum punya anak Vania," tutur Zahra.


"Terima kasih mbak!" Bola mata Vania memerah.


Sudah dua hari Vania di rawat di rumah sakit dan keadaannya pun mulai membaik, selama dua hari ini ia dibantu oleh Zahra.


Dokter datang memeriksa keadaan Vania.


"Besok sudah bisa pulang ya Bu," ucap dokter setelah memeriksa keadaan Vania.


"Iya dokter," sahut Vania lirih.


'Besok sudah boleh pulang, ya Tuhan, semoga aku di beri kekuatan untuk mengurus anak ku sendiri."


Keesokan harinya Zahra membantu bereskan barang-barang Vania.


"Vania kamu yakin nggak mau tinggal bersama Mbak dulu selama beberapa hari?"


"Enggak mbak, saya sudah terlalu banyak merepotkan Mbak Zahra. Saya yakin saya bisa kok mengurus anak saya sendiri," sahut Vania.


"Ya sudah, jika itu memang keputusan kami mbak hanya khawatir."


"Iya Mbak terima kasih."


Zahra mengantar Vania ke kosannya meski ia sudah berkali-kali coba untuk membujuk Vania agar mau tinggal bersamanya.


Vania sendiri merasa sudah terlalu banyak merepotkan Zahra, lagi ia baru kenal dengan wanita cantik yang baik hati itu.


Mobil Zahra berhenti di depan pintu kos Vania.


Vania yang masih lemah turun dari mobil, sementara Zahra membantu membawa barang-barangnya sedangkan Marina menggendong anaknya.


Tatapan sinis diterima Vania ketika para penghuni kos melihat kedatangannya.


"Eh anak haram datang tuh ," ucap mereka sambil berbisik-bisikn.Namun, masih terdengar di telinga Vania Zahra dan Marina.


"Astaghfirullahaladzim teganya mereka mengatakan hal demikian, padahal mereka tidak tahu kebenarannya."


"Sudah biasa Mbak saya diperlakukan seperti itu," sahut Vania.


"Iya Vania, kamu yang sabar saja ya."


Mereka tiba di kamar Vania yang hanya berukuran 3 * 3 m.


Sebelumnya Vania memang sudah mengantisipasi keadaannya. Itulah segala sesuatu kebutuhan bayinya sudah ia beli jauh-jauh hari.


Ada termos, ada juga tisu basah yang memudahkannya untuk membersihkan bayi dan dirinya sendiri.


Zahra membantu Vania merebahkan tubuhnya.


Setelah semua sudah beres .Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Vania, Mbak permisi dulu ya semuanya sudah mbak deketin ke kamu, anak kamu juga sudah kami bersihkan, Insya Allah besok Mbak datang untuk melihat keadaan kamu," ucap Zahra.


"Iya Mbak terima kasih ya Mbak," ucap nya lirih.


"Iya Vania, Kakak juga pamit ya," ucap Marina..


"Iya Kak terima kasih karena kakak kakak sudah membantu, tidak tahu lagi Bagaimana jika saya sendiri menghadapi saat seperti ini sekali lagi saya ucapkan terima kasih."


"Iya Vania,kalau kamu butuh bantuan kamu jangan segan telepon kakak ya rumah kakak kan nggak jauh dari sini, nanti kalau ada waktu sering-sering kakak lihat kamu," ucap Marina.


"Iya Kak terima kasih."


Zahra dan Marina meninggalkan Vania sendiri. Saat itu mereka sudah membantu Vania dengan memandikan anaknya, Vania juga sudah mandi dan makan  jadi Vania hanya berbaring sambil menyusui bayinya.


Suasana menjadi hening di ruangan itu Vania memeluk dan mencium putrinya.


"Sayang saat ini kita hanya tinggal berdua, kamu jangan rewel ya, Karena perut ibu masih sakit untuk bergerak bebas," ucapannya sambil mengelus-ngelus pipi bayi perempuannya yang cantik.


Vania kembali memeluk putrinya serta menciumnya dengan penuh kasih sayang.


"Ternyata begitu indahnya menjadi ibu," ucapnya sambil kembali mencium pucuk kepala putrinya.


Seperti mengerti keadaan bayi Vania pun tidak pernah rewel.


Hari hari berlalu, Vania mengurus sendiri putrinya, untuk mencuci pakaian Ia menggunakan jasa laundry, begitupun kebutuhan makan dan minum dirinya semua ia pesan melalui online.


Vania tak ingin merepotkan siapapun.


bersambung dulu ya gengs.