
"Kau harus mau Mike! Apalagi alasannya, Mishel benar-benar telah mengandung anakmu!"
Mike meremas rambutnya karena kesal.
"Tapi hasil tes DNA itu bisa saja salah mommy, anak itu belum lahir, jadi itu aku tak bisa memastikan jika itu adalah darah dagingku."
"Mike! Kau tak punya alasan lagi, deddy dan tuan Gavin sudah menentukan hari pernikahan kalian."
"Karena pernikahan ini mendadak, kita akan lakukan pernikahan secara sederhana, kasihan Mishel dan anak yang ada di kandungannya!"
Nyonya Wilhelmina terus membujuk dan sedikit memaksa Mike.
Atas permintaan kedua orang tuanya Mike pun menyetujui pernikahan antara dirinya dan Mishel.
***
Setelah proses pernikahan sederhana, kini Mike dan Mishel resmi menjadi pasangan suami istri.
Dengan bangga Mishel menggandeng tangan Mike yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Setelah prosesi pernikahan selesai, kedua keluarga mengadakan acara makan malam bersama.
"Akhirnya kita jadi besan juga ya, Jeng," ucap Wilhelmina pada Citra.
"Iya Jeng dan sebentar lagi kita akan punya cucu bersama, jadi nggak sabar bagaimana bayi Mishel dan Mike nanti," ucap Citra.
"Tentu ganteng dan cantik dong! Mike dan Mishel itu pasangan yang serasi sekali," sahut Nyonya Wilhelmina.
"Mishel kamu makan yang banyak ya, biar anak kamu sehat," ucap Nyonya Wilhelmina sambil mengaut nasi ke piring Mishel.
"Iya terima kasih mommy."
Mishel terlihat begitu menikmati makan malamnya, sementara Mike tak berselera sama sekali.
Setelah makan malam, mereka ngobrol sejenak, Tuan John dan Gavino terlihat semakin akrab begitupun dengan Nyonya Citra dan nyonya Wilhelmina.
Tapi tidak untuk Mike dan Mishel.
"Sayang aku sudah lelah, bagaimana jika kau antar aku ke kamar sekarang?"
Mike mengangguk.
"Ayo, aku antar."
Keduanya pun beranjak dari tempat duduknya.
"Loh Mike dan Mishel kalian mau kemana?"tanya nyonya wilhelmina.
"Biasalah Jeng, ini kan malam pertama, pastinya mereka sudah tak tahan untuk menikmati malam pertama," sahut Nyonya Citra.
"Oh iya benar juga haha ha."
"Kalau begitu, silahkan nikmati malam pertama kalian ya."
"Tentu saja mommy."
"Iya kan Sayang?" tanya Mishel pada Mike.
Mike tak menjawab. Sikapnya justru semakin acu.
***
Setibanya di kamar, Mishel langsung melepaskan penutup tubuhnya.
Tanpa sungkan ia melepaskan seluruh penutup tubuhnya di hadapan Mike.
Mishel berusaha merayu Mike dengan perutnya yang buncit itu.
Setelah itu, ia mengenakan lingerie transparan.
Mishel berbaring miring dengan posisi menantang. Sementara Mike, setelah melepaskan pakaiannya ia mengganti baju yang lebih santai, kemudian Mike berjalan menuju ruang kerjanya.
"Mike! Kau mau kemana?!" tanya Mishel.
"Aku sibuk mau periksa berkas-berkasku!"
"Tapi Mike, ini tuh malam pertama kita!"
"Malam pertama udah basi!" Seru Mike terus berlalu begitu saja dari Mishel.
Mishel mendengus kesal.
"Kenapa ya Mike, semakin acu tak acuh pada ku," keluh Mishel.
Dengan kesal Mishel menghempaskan tubuhnya diatas ranjang, padahal saat itu ia sudah tak sabar untuk menikmati malam hangat bersama Mike.
***
Pukul dua pagi, Mike kembali ke kamarnya dan naik di atas tempat tidur.
Mendengar guncang di tempat tidur, Mishel membuka matanya dan tersenyum ke arah Mike.
Tangannya merentang di atas perut Mike.
"Mike sudah lama kita tidak berhubungan,aku kangen kamu Mike, anak kamu pasti juga kangen sama kamu."
"Aku lelah, nanti saja."
Mike melepaskan tangan Mishel yang merangkulnya.
Mike masih kesal terhadap Mishel, saat ini ia yakin jika anak yang dikandung Mishel,bukanlah anaknya.
***
Sudah dua hari Mishel tidak mendapatkan jatah nafkah batin dari Mike.
Dan hal itu membuatnya semakin gelisah.
Mishel memeluk Mike yang berbaring terlentang di atas tempat tidur.
"Mike, sudah dua hari kita menikah, tapi kamu belum juga memberi nafkah batin untuk aku,Mike," pinta Mishel dengan sedikit memelas.
Mike berusaha mengabaikan Mishel, karena sejak mengetahui Mishel hamil ia sudah tak bernafsu pada wanita itu.
Namun, bukan Mishel namanya, jika ia menyerah begitu saja. Mishel terus merengek meminta jatahnya pada Mike, hingga membuat Mike menyerah dan tak sanggup mendengar rengekan wanita hamil itu.
Mike bangkit dari tempat tidurnya kemudian berjalan menuju meja.
Sebelum berhubungan dengan Mishel, ia memakai sarung pengamannya terlebih dahulu.
"Mike, aku ini istrimu, kenapa kau masih mengenakan alat kontrasepsi," cetus Mishel bernada protes.
"Tidak, untuk berjaga-jaga saja, jika kau tidak mau ya sudah kita tak usah melakukannya," sahut Mike enteng.
Mishel sedikit kesal dengan sikap Mike tersebut. Namun, apa daya, ia sudah tak lagi bisa menahan syahwatnya.
Pertempuran panas pun terjadi di ranjang itu, setelah sekian bulan Mike tak melakukannya.
Mike mengatur nafasnya sambil bersandar pada headboard tempat tidurnya.
Lagi-lagi pertempurannya dengan Mishel di tempat tidur itu, membuatnya semakin teringat akan sosok Vania yang selalu memberi kehangatan dan kepuasan untuknya.
Bahkan sampai saat ini, Mike masih mencari keberadaan sosok wanita yang terus membuatnya penasaran itu.
***
Vania merapikan perlengkapan untuknya melahirkan.
Berbagai keperluan untuk persalinan sudah Vania siapkan di dalam satu tas besar.
Maklum saja nanti ia akan melahirkan seorang diri dan tak ada siapapun yang akan membantu membereskan kebutuhannya saat persalinan.
Setelah berberes, Vania berencana berhenti dari pekerjaannya di warung Pak Supri untuk mempersiapkan persalinannya.
Vania keluar dari kamar kosannya dan berpapasan dengan penghuni kos yang lain.
"Vania!" panggil salah satu seorang perempuan yang juga penghuni kos tersebut.
Vania menoleh ke arah perempuan yang menghampirinya itu.
"Masih juga kamu pertahankan anak haram kamu itu," ucap salah satu penghuni kos yang bernama Desi.
"Anakku, bukan Anak haram Mbak! Aku sudah pernah menikah dan janin yang ada di kandunganku ini adalah anak hasil hubunganku dengan mantan suamiku!"
"Oh ya, kalau kamu punya mantan suami, setidaknya dia melihat keadaan kamu yang sedang hamil anaknya, meski hanya sekali. Bahkan saat kamu hampir melahirkan pun, aku tak pernah melihat pria yang mengaku sebagai mantan suamimu itu," cetus Desi
"Kami sebagai warga kos di sini keberatan, jika anak haram tinggal di sini, nanti kita ketularan sial," sambung yang lainnya.
Mendengar hal itu Vania menjadi geram.
"Akan aku buktikan Kak, kalau anak ku ini, bukan anak haram, seperti yang kalian bilang."
Vania kembali ke kamarnya, beberapa saat kemudian ia kembali menghampiri Desi dan Rina.
"Ini kak surat perceraian aku," ucapannya sambil menyodorkan surat cerai yang pernah diberikan oleh nyonya wilhelmina kepadanya.
Desi dan Rina meraih surat tersebut kemudian membacanya.
"Hahaha fix, berarti kamu memang perempuan murahan Vania!"
.
'Bisa-bisanya kamu menikah secara kontrak dan hamil, pantas saja kamu nggak berani minta pertanggungjawaban dari mantan suamimu itu!"
"Hahaha dasar murahan, "cetus Desi yang memang selalu iri pada Vania.
Vania meraih kembali surat perceraian itu, kemudian ia berlalu meninggalkan kedua wanita yang selalu usil terhadap dirinya.
Vania berjalan santai menuju warung.
Namun di tengah jalan tiba-tiba ia merasakan perutnya terasa sakit.
"Kenapa perutku jadi sakit seperti ini?"
Vania berhenti, kemudian ia bersandar pada salah satu pohon besar di pinggir jalan.
Seorang pria yang menggunakan kendaraan bermotor menghampiri Vania.
"Neng ada apa neng?" tanya pria paruh baya itu.
"Aduh pak tiba-tiba perutku sakit!" Sahut Vania sambil meringis.
"Aduh Neng, sepertinya kamu mau melahirkan."
"Iya pak, ini sebenarnya baru memasuki bulan ke-9,"sahut Vania sambil meringis kembali.
Beberapa orang pun menghampiri ke arah Vania yang terlihat begitu kesakitan sambil memegang perutnya.
"Ada apa ini Pak?" tanya salah wanita seorang yang menggunakan mobil. Wanita itu singgah karena melihat Vania yang seperti kesakitan.
Beberapa pengendara motor juga ikut berhenti melihat apa yang terjadi.
"Anu Neng, sepertinya Neng itu mau melahirkan,"pria yang pertama kali menghampiri Vania.
"Ahk! sakit sekali!" ucap Vania sambil meringis, karena menahan rasa sakit. Air mata pun keluar begitu saja menetes membasahi pipi Vania.
"Aduh pak bantu bantuin dong! Bawa dia masuk ke dalam mobil saya, nanti biar saya yang bawa ke rumah sakit," ujar wanita yang menggunakan mobil tersebut.
"Ayo Neng bapak bantu," ucap pria tadi Setelah turun dari motornya.
Vania dituntun masuk ke dalam mobil, sementara beberapa orang hanya memperhatikannya saja
Setelah masuk ke dalam mobil, wanita itu langsung bawa Vania menuju rumah sakit terdekat.
Di dalam mobil, Vania masih meringis sesekali. Wanita itu menoleh ke arah Vania.
"Mbak, kok sendirian saja, suaminya mana?"tanya wanita yang membawa mobil.
"Nggak ada mbak ,"sahut Vania sambil meringis…
Mendengar jawaban Vania, wanita itu bisa menebak jika Vania hamil diluar nikah dan tak ada pria yang bertanggung jawab padanya.
"Ya Allah Mbak, lalu keluarganya dimana mbak?"
"Saya nggak punya keluarga Mbak," sahut Vania lagi sambil menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Astaghfirullahaladzim, Ya sudah mbak, mbak yang sabar ya, bertahanlah, Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," ucap wanita itu.
Vania bersandar di jok mobil sambil menggenggam erat tangannya,keringat sudah mengucur deras, rasa sakit yang begitu sakit dirasakan saat itu.
Vania menggigit bibirnya untuk melawan rasa sakit yang timbul akibat kontraksi perutnya.
Air mata Vania mengalir deras. Namun, ia tidak mengeluh karena percuma rasanya jika ia mengeluh, Vania hanya bisa menangis dengan tubuh yang gemetar serta wajah yang pucat pasi.
Sambil menahan sakitnya Vania coba menghubungi Marina.
"Halo Vania," Sapa Marina di sambungan teleponnya
"Halo kak,
kak saat ini aku sedang diperjalanan menuju rumah sakit," tutur Vania sambil meringis.
"Rumah sakit, kamu kenapa Vania ?" tanya Marina.
"Sepertinya aku akan melahirkan Kak."
"Melahirkan?!"
"Iya Kak, Kakak bisa tolong aku bawakan perlengkapan persalinanku yang ada di kamar kost, Kakak bisa minta kunci serepnya kepada ibu kost"
"Oke, kalau begitu baiklah Vania. Sekarang juga Kakak akan ke sana dan langsung menghampiri kamu di rumah sakit."
"Iya Kak,terima kasih, maaf aku merepotkan Kakak, tapi aku tak tahu lagi harus minta tolong pada siapa," tutur Vania lirih.
"Iya nggak apa-apa Vania, sudah Kakak tutup dulu teleponnya ya."
Hari itu Marina memutuskan untuk libur sehari dari pekerjaannya, ia bermaksud untuk menemani Vania yang dalam proses persalinan.
***
Hal yang sama terjadi pada Michelle perutnya tiba-tiba menjadi kontraksi, padahal menurut pengakuannya saat itu kehamilan Mishel baru 7 bulan.
Bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya.