
Waktu berlalu dengan cepat, usia kandungan Vania mulai memasuki 3 bulan.
Vania berada di depan cerminnya. Ia melihat perubahan pada bagian perutnya yang terlihat membesar dan melebar.
Setelah mengamati bagian tubuhnya Vania mencari pakaian longgar yang nyaman untuk digunakan ketika bekerja.
Vania pun mencari celana kulot, dan kaos longgar untuk ia kenakan. Meski begitu perut buncitnya masih terlihat.
"Aduh sepertinya aku butuh baju baru nih, celanaku terasa sesak semua," ucap Vania.
"Ya sudah nanti pulang kerja singgah ke toko beli pakaian."
Setelah beberes Vania keluar dari kamarnya.
Ketika berjalan ia melihat dua orang penghuni kos sedang berbisik-bisik sambil memandang ke arahnya.
"Jangan-jangan dia bunting perutnya besar,"
"Iya apalagi aku sering mendengar setiap pagi dia muntah-muntah,"sahut temannya yang lain.
'Ih nggak punya malu ya, nggak punya suami tapi bunting mana tinggal sendirian lagi di kost."
Vania sendiri mendengar obrolan mereka. Namun ia mencoba untuk tak menggubris, Vania tetap lewat di depan mereka.
"Orangnya saja kelihatan pendiam, ternyata nggak nyangka hamil diluar nikah!"salah seorang sengaja berbicara nyaring untuk menyindir Vania.
Vania tetap berlalu dan tak ingin ambil pusing dengan pembicaraan mereka.
Dengan berjalan kaki, Vania tiba di warung. Ia pun segera membereskan meja bagian depan.
Saat itu sudah ada Beberapa pelanggan yang datang dan makan di warung pak Supri.
Dengan perut yang mulai membesar tersebut Vania mulai jadi pembicaraan para pelanggan warung pak Supri.
Seorang pria yang datang menghampirinya, ketika Vania tengah membereskan meja.
''Lagi hamil kamu?" tanya seorang pria dengan senyum menyeringai.
Vania tak menjawab pertanyaan pria tersebut. Ia tetap melanjutkan pekerjaannya itu.
"Kalau begitu berapa biasa bayaran kamu satu kali service?" tanya pria itu sambil menatap Vania dengan tatapan mesum.
Vania yang merasa sedikit emosi dengan ucapan pria itu,langsung menyiramkan air teh yang ada di hadapannya ke wajah pria itu.
"Kalau bicara hati-hati ya!" seru Vania.
Pria itu terdiam beberapa saat sambil mengusap wajahnya yang basah karena tersiram air teh.
Semua mata menoleh ke arah mereka berdua.
"Perempuan sok jual mahal! katakan saja berapa biaya servisnya satu malam?! "Tanya pria itu dengan nada membentak.
Plak… Vania kembali menampar pria itu dengan tubuh yang gemetar karena menahan amarah.
Ada beberapa orang pelanggan lain menyaksikan kejadian tersebut.
"Jangan asal bicara Anda! Kau pikir aku perempuan murahan?!"
"Hei kau itu bunting! dan tak punya suami, apalagi kalau tidak bukan jual diri! Dasar pela*cur!"
Mendengar itu tubuh Vania semakin gemetaran, ia kembali coba menampar wajah pria itu tapi ditangkis oleh pria yang ada di hadapannya itu.
"Beraninya kau memukul wajahku perempuan murahan!" pria itu meremas tangan Vania dengan tangan kekarnya
"Lepaskan!" seru Vania memberontak.
"Sudahlah kau jangan sok suci, aku memang menginginkanmu sejak dulu, kupikir kau perempuan baik-baik nyatanya …"
Pak Supri yang baru tiba langsung menghampiri pelanggannya tersebut.
"Ada apa ini Vania?"tanya Pak Supri.
"Ini Pak! dia mengatakan
saya sebagai perempuan murahan!" sahut Vania sambil menunjuk wajah orang itu.
Air mata mulai mengucur deras di wajah Vania.
"Memang dia perempuan murahan Pak! katanya janda, tapi lihatlah sekarang perutnya besar, lagi bunting! Kalau tidak murahan, Kenapa dia bisa bunting di luar nikah," Cetus pria berumur tiga puluh tahun tersebut.
"Jangan sembarangan bicara kamu!" sahut Vania sambil menangis.
"Maaf, anda salah sangka. Vania memang janda tapi ia hamil sebelum bercerai dari suaminya, dan anak yang dikandungnya adalah anak suaminya," papar Pak Supri.
"Sebaiknya anda tidak membuat kekacauan di warung saya. Karyawan saya semuanya wanita-wanita terhormat, mereka tidak jual diri di sini, Seperti yang anda katakan!" cetus pak Supri.
Pria itu menatap Vania dan Pak Supri secara bergantian.
"Dasar perempuan murahan! lihat saja nanti jangan sok jual mahal kamu!"ucap pria itu sambil berlalu meninggalkan Vania.
Vania menatap sedih kepergian pria yang telah menghinanya tersebut
"Sudahlah Vania! jangan diambil hati, dia memang sudah lama menginginkan kamu, dia sendiri yang bilang pada bapak. Mungkin karena kamu menolak cintanya, ia jadi sakit hati terhadap kamu," bujuk Pak Supri.
"Kalau itu saya permisi dulu Pak."
"Iya Kamu lanjut kerja saja."
Vania melangkah membawa piring-piring kotor menuju dapur.
"Kamu sabar ya Van,"ucap teman-temannya kepada Vania. Ternyata mereka mendengar caci maki pria itu terhadap Vania di dapur.
"Iya aku sudah biasa kok diperlakukan seperti ini."
"Di kosan, aku juga dibilang hamil di luar nikah, karena nggak ada yang percaya jika aku ini seorang janda," tutur Vania sedih sambil mencuci piringnya.
Sambil mencuci piring air mata Vania berlinang tak tertahankan. .
Melihat kesedihan Vania, Marina datang menghampirinya kemudian mengusap pundak Vania.
"Sudahlah, Vania jangan sedih terus, nanti akan berpengaruh pada janin mu, manusia memang seperti itu, tahunya hanya mengatakan dan menghina. Tapi percayalah, semua akan indah pada waktunya."
"Iya mbak aku harus bagaimana lagi, selain pasrah. Yang penting aku tidak mengganggu mereka dan tidak minta makan dengan mereka itu saja prinsipku di sini ya,"tutur Vania.
***
Mike duduk di kursi kebesarannya sambil termenung, sudah tiga bulan lebih ia mencari Vania dan belum pun menemukan jejaknya.
Mike sudah sering memimpikan Vania di dalam tidurnya, meski ia tak pernah melihat Vania sebelumnya.
Mishel datang menghampiri Mike, tanpa permisi ia duduk di hadapan Mike.
Mike menatap Mishel heran.
"Aku hamil Mike!" cetus Mishel dengan santai
Mike mengangkat satu alisnya tanpa mengeluarkan pertanyaan.
"Aku hamil dan kau harus bertanggung jawab!" ucap Mishel semakin mempertegas.
Mendengar ucapan Mishel Mike menyunggingkan senyumnya.
"Kalau hamil, laku kenapa harus meminta pertanggungjawaban ku?" tanya Mike bernada datar.
"Tiga bulan yang lalu kita sering melakukannya, dan yang ku kandung ini adalah benih darimu,."
"Hahaha jangan bercanda Mishel, kau pikir aku orang bodoh! aku tak pernah berhubungan dengan seorang wanita tanpa menggunakan pengaman, ya terkecuali dengan istriku,"papar Mike sambil tertawa.
"Istri? kau punya istri?"tanya Mishel
"Iya, kenapa? aku pernah menikah dua kali."
Mendengar penuturan Mike, Mishel jadi bingung, soalnya ia juga tidak tahu anak siapa yang dikandungnya. Saat ini laki-laki yang dekat dengannya adalah Mike.
Tapi bukan Mishel namanya, kalau dia tak punya sejuta alasan.
"Tapi Mike, percayalah aku mengandung anakmu! Aku tak pernah melakukan nya dengan orang lain selain denganmu," papar Mishel.
Michel
"Sudahlah Mishel, aku tak percaya semua kata-katamu! itu sebaiknya Kau pergi dari sini dan jangan pernah ganggu aku!"
"Tapi Mike, Bagaimana dengan anak ini, aku tak mungkin melahirkan anak ini tanpa seorang suami ,keluargaku bisa malu," tutur Mishel pura-pura sedih.
"Malu, lalu apa hubungannya denganku?" tanya Mike
"Ini adalah anak mu Mike, bisa-bisanya kau tak mengakuinya!"
"Setelah anak ini lahir kita akan adakan tes DNA, tapi untuk menutupi aib ini, aku mohon pertanggung jawabanmu, menikahlah denganku ,"bujuk Mishel.
"Tidak bisa! Kau pikir aku bodoh, percaya dengan ucapanmu itu! sekarang keluarlah dari ruanganku dan jangan pernah kembali lagi!" seru mike.
"Tapi Mike, kau akan menyesal anak jika anak yang kukandung adalah anakmu!"
Seru Michelle semakin ngotot.
Mike masih terlihat santai menanggapi Mishel.
"Kau harus bertanggung jawab, jika tidak akan ku laporkan kau kepada polisi."
"Dengan demikian, nama baikmu dan keluargamu akan tercemar," ancam Mishel.
Ucapan Mishel itu membuat Mike kembali bangkit karena emosi.
"Kau pikir aku takut dengan ancamanmu itu ?!" seru Mike.
"Silakan saja lakukan. kita lihat siapa yang akan menyesal!"
"Sekarang, kau keluarlah dari ruanganku jangan pernah mengganggu aku lagi!" usir Mike sambil menunjuk pintu keluar
Mishel menatap tajam ke arah Mike, beberapa saat kemudian ia keluar dari ruangan tersebut sambil membanting pintu.
"lihat saja akan ku buat kau mengakui anak ini!"
bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya terima kasih.