My beloved sister

My beloved sister
Bab 6



Elia memakai dress sebatas lutut. Dress berwarna navy itu di pasukan dengan sneakers warna putih.


Rambut panjangnya di biarkan terurai dengan dibuat sedikit curly. Dengan sentuhan eyeliner serta blus on merah muda dan lipstik tipis, Elia menggambarkan sosok gadis feminim.


Dan hanya dengan melihat wajah serta penampilan Elia, kebanyakan dari mereka bisa menebak bahwa dia gadis manja.


Mendapat kasih sayang dan perhatian yang begitu besar dari keluarganya, secara tidak langsung telah membentuk kepribadian Elia menjadi gadis yang manja.


Namun manja yang di maksud bukan berarti Elia mengandalkan orang lain dan tak bisa melakukan apa pun. Gadis itu cukup mandiri dalam hal menyiapkan kebutuhan pribadinya sendiri.


"Aku pergi dulu Mah,," Pamit Elia. Gadis cantik itu mengecup pipi Davina dengan penuh cinta sebagai seorang anak terhadap wanita yang telah melahirkannya. Sejauh ini bagi Elia, Davina adalah wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


"Kamu sudah pamit sama Papa.?" Tanya Davina seraya memperhatikan penampilan putrinya dari atas sampai bawah. Davina terlalu over protective dengan penampilan Elia.


Wanita paruh baya berusia 45 tahun itu, tak mau membiarkan putrinya terlihat saat seksi di luar rumah. Jadi dia selalu memperingatkan Elia agar tak memakai baju yang terlalu terbuka atau melekat ketat di badannya.


Setelah penampilan Elia di rasa aman, Davina tampak mengembangkan senyum lega. Putrinya itu memang sangat penurut, sekalipun tak pernah membantah larangan dan aturan yang dia buat.


"Papa di ruang kerjanya, aku takut menganggu." Tutur Elia. Dia sempat pergi ke ruang kerja sang Papa untuk pamit. Tapi setelah membuka sedikit pintu dan melihat Dave sedang serius menatap layar laptop, Elia mengurungkan niatnya untuk pamit.


"Ya sudah, nanti biar Mama yang bilang pada Papamu."


Elia kemudian beranjak dari dapur, dia pergi ke garasi untuk mengeluarkan mobil mewah miliknya yang di berikan oleh Dave dan Davina sebagai kado ulang tahunnya yang ke 17, hampir 1 tahun yang lalu.


Walaupun di fasilitas mobil dan di ijinkan untuk mengendarai mobilnya sendiri, tapi bukan berarti Elia bebas pulang pergi begitu saja.


Bahkan di hari kuliah sekalipun, Elia tidak bisa bebas hangout setelah pulang kuliah.


Karna Davina menegaskan pada Elia agar pulang tepat waktu jika tidak ada kegiatan penting di luar jam kuliah.


...****...


Elia memarkirkan mobilnya di pelataran gedung cafe berlantai 3. Gadis itu sempat melirik pada 2 mobil yang terparkir tak jauh dari mobil miliknya.


2 mobil itu merupakan mobil milik Edgar dan Nik yang tak lain adalah kekasih sahabatnya.


Sekilas Elia menatap sendu. Dia merasa sangat iri pada kedua sahabatnya yang bisa berada dalam satu mobil dengan laki-laki yang mereka cintai.


Pergi berdua kemanapun mereka mau untuk menghabiskan waktu bersama, tanpa ada larangan dari orang tua masing-masing.


Benar-benar berbanding terbalik dengan dirinya yang bahkan tak di ijinkan berteman dekat dengan lawan jenis.


Memasuki kafe dengan nuansa modern. Kedatangan Elia cukup menarik perhatian beberapa laki-laki yang sedang menikmati kopi di salah satu meja.


Elia memang sangat cantik, belum lagi dengan semua benda branded yang melekat di tubuhnya.


Semakin menjadi daya tarik bagi setiap orang yang melihat Elia. Gadis itu layaknya crazy rich muda.


"El,,, disini.!!" Teriakan salah satu sahabatnya membuat Elia menoleh. Tampak Viona sedang tersenyum lebar ke arahnya dengan melambaikan tangan.


Gadis itu buru-buru mendekat ke meja yang tengah di tempati 5 orang itu. Ternyata Mauren tidak berbohong. Edgar benar-benar mengajak salah satu temannya.


Laki-laki yang tengah duduk membelakanginya terlihat sangat keren dari belakang.


"Santai saja, kita juga baru sampai 10 menit yang lalu." Jawab Mauren.


"Oh ya, kenalin dia temannya Edgar." Mauren melirik laki-laki itu dan membuat Elia ikut menatap ke arahnya.


Laki-laki tampan dengan wajah blasteran itu cukup gagah. Dia mengukir senyum tipis pada Elia seraya mengulurkan tangannya.


"Rexy,," Suaranya terdengar berat dan seksi. Elia sempat terpaku pada sosok laki-laki itu. Sejujurnya wajah blasteran seperti ini adalah salah satu tipe Elia.


Gadis itu buru-buru mengumpulkan kesadarannya, dia membalas uluran tangan Rexy seraya mengukir senyum manis.


"Elia, panggil saja El." Ucapnya ramah.


"Sepertinya kamu bukan dari kampus yang sama." Ujarnya menebak. Karna dia tidak pernah melihat Rexy sedang bersama Edgar saat di kampus.


Mereka berempat memang satu kampus, tapi Edgar dan Nik ada seniornya.


"Rexy baru pulang dari Sidney El, dia kuliah di sana." Edgar dengan cepat menjawab ucapan Elia yang di tujukan untuk sahabatnya itu.


"Aku teman Edgar sejak SMA." Sambung Rexy menjelaskan. Elia mengangguk paham.


"Aman kan El.?" Tanya Viona. Sejujurnya dia takut mengajak Elia bertemu dengan laki-laki. Karna kalau sampai Davina tau, dia pasti akan di marahi oleh orang tua sahabatnya itu yang sudah seperti orang tuanya juga.


Tapi Mauren yang tetap memaksa mengajak Elia.


"Selagi aku pergi dengan kalian berdua, semuanya aman." Jawab Elia.


"Ya ampun, aku harus menelfon Mama dulu." Ucapnya ynag seketika ingat kalau dia harus memberikan laporan pada sang Mama jika sudah sampai di tempat tujuan.


Elia lalu mengajak Mauren dan Viona duduk di meja kosong. Dia akan membuat seolah-olah hanya pergi bertiga tanpa ada laki-laki.


"Ya ampun El, sampai kapan kamu akan seperti ini." Gumam Mauren setelah selesai melakukan panggilan video dengan Davina.


Dia merasa heran sekaligus kasihan. Menurutnya usia 18 tahun sudah legal untuk berpacaran, tapi Elia baru di perbolehkan pacaran setelah lulus kuliah.


"Entahlah,," Jawab Elia seraya mengedikan kedua bahunya. Mereka kemudian pindah lagi ke meja sebelumnya.


Mereka memesan minum dan makanan. Dan langsung menyantap makanan begitu pesanan datang. Sesekali melakukan obrolan ringan dan candaan.


Kini 2 pasang kekasih tampak sibuk mengobrol, sedangkan Elia menyibukkan diri dengan ponselnya lantaran canggung pada Rexy.


"Jadi hanya kamu yang belum punya pacar.?" Suara lirih Rexy membuat Elia menoleh. Dia reflek menjauh lantaran merasa jarak Rexy semakin dekat degannya.


"Aku tidak di ijinkan punya pacar." Jawab Elia. Ada perasaan sedih dan malu. Apa lagi saat Rexy mengukir senyum lebar seolah menertawakan keanehannya karna tak di ijinkan berpacaran.


"Lalu kenapa kamu datang kemari.? Bagaimana kalau orang tuamu tau." Ujar Rexy.


Elia baru paham dengan senyum yang sempat merekah di bibir laki-laki tampan itu. Ternyata karna melihatnya sudah berbohong pada orang tuanya.


"Bahkan kamu mau di kenalkan padaku."


"Kamu pasti sudah tau tujuan kita berkenalan bukan.?" Rexy menatap lekat dua bola mata indah milik Elia.