My beloved sister

My beloved sister
Bab 24



Tingkah Elia di dalam kolam renang sepertinya cukup menguji kesabaran Aditya. Pria itu sampai kedapatan memijat pelipisnya karna kepalanya berdenyut ngilu akibat kelakuan Elia. Sudah tau hanya pakai bikini yang mengekspos seluruh bagian tubuh kecuali gunung kembar dan lembah, tapi dengan wajah tanpa dosa, Elia selalu dekat-dekat ke sekitar Aditya. Padahal kolam renangnya cukup luas, tapi seperti sedang menguji iman Kakaknya sendiri tanpa sadar.


Elia tentu saja tidak risih memakai bikinin di depan Aditya. Karna di mata Elia, Aditya adalah Kakak kandungnya. Jadi dia santai saja ketika memperlihatkan lekuk tubuhnya yang tidak dia perlihatkan pada orang lain. Lagipula dulu mereka sering mandi bersama saat kecil.


"Kamu kenapa dekat-dekat.?" Aditya mendorong bahu Elia dengan jari telunjuknya, menggeser Elia dari hadapannya. Kepalanya bisa pecah kalau terus-terusan menatap tubuh putih Elia.


Belum lagi gunung yang di balut kain mirip kaca mata, sesuatu terlihat menyembul karna ukurannya cukup besar.


"Ckk,, sebenarnya Kak Adit kenapa.? Sudah berapa kali menyuruhku jauh-jauh." Elia mencebik kesal.


Padahal Aditya hanya ingin menyelamatkan diri dari godaan berat di depan matanya, tapi itu membuat Elia kesal karna merasa Kakaknya tidak mau dekat-dekat dengannya.


"Kolam ini sangat luas, kamu bisa berenang di ujung sana." Aditya mengarahkan telunjuknya ke ujung kolam renang agar Elia segera pindah.


"Aku ingin fokus berenang, jangan menganggu dulu." Ujarnya kemudian pura-pura berenang lagi, mengabaikan reaksi Elia yang semakin cemberut.


Kesal karna terus di suruh menjauh, Elia akhirnya pindah ke ujung kolam renang di sisi yang berlawanan dengan sang Kakak. Dia menyibukkan diri dengan berenang, seperti yang di lakukan Aditya.


Sesekali Elia melirik Kakaknya, dia merasa ada yang aneh dengan Kakaknya itu akhir-akhir ini. Kalau biasanya Aditya akan cuek ketika dia menempel padanya, sekarang lebih sering menyuruh menjauh dan telihat tidak nyaman saat dia peluk. Hal yang membuat Elia bertanya-tanya.


Tapi dia tidak akan pernah menemukan jawabannya. Kecuali jika Aditya jujur dan keluarganya memberitahu siapa Elia sebenarnya.


...******...


Pagi itu mereka menghabis waktu di resort sampai selesai sarapan, lalu pergi ke pantai sesuai permintaan Elia. Mereka baru kembali ke resort setelah pukul 6 sore karna berkeliling mengunjungi beberapa tempat wisata indah di pulau dewata.


"Kak, ayo ke kamar. Aku mau mandi tapi takut mandi sendirian,," Rengek Elia sambil menarik-narik ujung baju Aditya. Bola mata Aditya reflek membulat, apa maksudnya takut mandi sendirian.? Apa Elia sudah gila sampai ingin mengajaknya mandi bersama.?


Aditya yang tadi sedang duduk santai sambil memainkan ponsel, terlihat memijat pelipisnya.


"Elia,," Aditya menyebut nama adiknya dengan penuh penekanan.


"Kita sudah besar, mana boleh mandi bersama.!" Serunya tegas.


Elia tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai memukuli lengan besar Aditya.


"Hahaha,,, Ya ampun,, Kak Aditya yang benar saja." Ujarnya sambil terus tertawa. Kakaknya itu salah mengartikan ucapannya, padahal hanya minta untuk di temani ke kamar sampai selesai mandi, bukan mengajak mandi bersama.


"Aku cuma minta di temenin di kamar sampai selesai mandi." Tutur Elia menjelaskan.


Raut wajah Aditya berubah kaku, dia jadi malu sendiri pada Elia karna berfikir seperti itu.


Dia lantas berdeham untuk menghilangkan rasa malunya pada Elia. Lalu menyuruh Elia untuk segera ke kamar dan keduanya beranjak dari sofa.


Aditya merebahkan diri di ranjang sembari mengotak atik ponselnya, kadang menghubungi orang kantor atupun membuka email. Meski sedang berlibur, Aditya tidak bisa lepas dari pekerjaan kantor.


Sementara itu, Elia masih mandi di bawah guyuran shower. Dia bisa mandi dengan tenang di kamarnya karna ada Aditya di sana.


Sudah hampir 30 menit Elia membersihkan diri. Dia kemudian mengambil handuk kimono dari tempatnya, tapi belum sempat di pakai, handuk itu jatuh dan basah sebagian.


"Kak,, Kak Aditya masih di kamar kan.?!" Teriak Elia dengan kepala yang menyembul di balik pintu, namun dia tidak bisa melihat Aditya. Mungkin Kakaknya itu ada di ranjang. Tempat itu tidak bisa dilihat dari pintu kamar mandi.


"Ya, kenapa.?" Sahut Aditya.


"Handuk ku jatuh, jadi basah. Tolong ambilkan handuk baru di lemari, tadi pagi aku lihat di sana masih ada." Elia kembali berteriak agar di dengar Kakaknya.


"Hmm, sebentar." Aditya beranjak dari ranjang dan membuka lemari yang dimaksud Elia. Dia mengambil 1 handuk kimono, lalu berjalan ke arah kamar mandi.


Elia tampak menyengir kuda padanya dengan hanya kepala saja yang terlihat dari balik pintu kamar mandi.


"Ini,," Aditya menyodorkan handuk di depan pintu, Elia sontak membuka pintu lebih lebar agar bisa mengambil handuknya. Tapi hal itu membuat Aditya melotot lantaran bisa melihat tangan Elia hingga bahunya yang masih basah. Dan hal itu membuat Aditya jadi berfikir macam-macam, jadi langsung berbalik badan agar tidak melihatnya lagi.


"Makasih Kak,," Elia berhasil mengambil handuk dari tangan Aditya dan buru-buru menutup pintu. Aditya juga langsung pergi dari sana. Lama-lama dia bisa kesulitan mengontrol diri kalau terus berinteraksi sedekat itu dengan Elia.


"Ingat, dia adikmu. Walaupun tidak ada ikatan darah, Elia hanya akan menjadi adikmu selamanya.!" Serunya dalam hati.


Berkali-kali Aditya menyadarkan diri sendiri bahwa perasaannya terhadap Elia adalah kesalahan, karna bagaimana pun, Elia hanya akan menjadi adiknya.


...*****...


Memang dasar Elia, dia benar-benar tidak bisa memahami kekhawatiran dan kondisi sang Kakak. Sudah berkali-kali di ingatkan agar tidak terlalu menempel, masih saja seperti perangko. Malam ini Elia juga merengek untuk tidur 1 kamar lagi dengan alasan takut tidur sendirian.


Aditya sampai kehabisan kata-kata untuk melarang Elia. Jadi dia terpaksa membiarkan Elia tidur bersama.


"Kak,, Mama telfon." Ujar Elia seraya menunjukkan ponselnya pada Aditya yang berbaring di sebelahnya.


Aditya langsung bangun, dia tampak bersiap untuk turun dari ranjang.


"Jangan bilang kalau kita tidur satu kamar. Aku mau ambil minum di dapur." Ujarnya lalu buru-buru keluar dari kamar.


Elia sampai bengong melihatnya.


"Aneh sekali,," Gumamnya sebelum menerima panggilan vidio dari Davina.


"Hallo Mah,,," Sapa Elia dengan wajah yang ceria.


"Bahagia sekali anak Mama." Sahut Davina, dia tampak senang melihat binar bahagia di wajah putrinya.


"Humm,,, Aku menikmati liburannya, sangat seru." Ujar Elia antusias.


Keduanya kemudian mengobrol, Elia banyak bercerita tentang apa saja yang dia lakukan di Bali dan tempat mana saja yang sudah dia kunjungi.


"Apa Kakakmu sudah tidur.?" Tanya Davina begitu Elia selesai bercerita.


"Belum, kalau Kak Adit mau tidur pasti masuk ke sini." Jawab Elia. Entah karna terlalu polos, atau lupa dengan ucapan Aditya. Padahal sudah di suruh agar tidak mengatakan mereka tidur satu kamar.


Davina lansung panik di seberang sana, dia buru-buru mengakhiri panggilan dengan Elia karna harus menelfon putranya.