My beloved sister

My beloved sister
Bab 37



"Kemari, biar Mama ambilkan." Ujar Davina. Senyum manis di wajah wanita paruh baya itu tak memudar meski usianya hampir menginjak setengah abad.


Davina mengambil piring milik putranya untuk mengisinya dengan makanan kesukaan sang putra.


"Makasih Mah." Ucap Aditya lembut.


Aditya menjadi pribadi yang begitu menyayangi kedua orang tuanya dan selalu menuruti semua perkataan mereka. Sejak kecil hingga detik ini, Aditya tak pernah membatah sekalipun.


Itulah yang membuat Davina dan Dave sangat bersyukur karena memiliki putra seperti Aditya.


"Bagaimana dengan perkembangan perusahaan.?" Tanya Dave. Sudah lama dia menanyakan perusahaan karna beberapa bulan terakhir lebih fokus menikmati hari-harinya bersama sang istri tercinta.


"3 bulan belakangan ini kenaikan profitnya cukup signifikan. Investasi dan proyek baru kita cukup berpengaruh besar pada perusahaan." Jawab Aditya dengan raut wajah serius.


Dia memang tak pernah main-main jika sudah membahas soal perusahaan. Sebisa mungkin


selalu fokus dan serius setiap kali membicarakan pekerjanya, sekalipun dengan orang tuanya sendiri.


"Syukurlah. Papa percaya kamu bisa mengembangkan perusahaan dengan baik." Ucap Dave. Selama lebih dari 2 tahun Aditya membantunya memimpin perusahaan, Dave tak pernah mendengar perusahaannya mengalami masalah dalam segi keuangan.


Justru semakin banyak proyek baru yang dimiliki oleh perusahaan dengan keuntungan besar.


"Pagi semuanya,,," Suara ceria Elia membuat ketiganya menoleh bersamaan.


"Pagi sayang, ayo duduk,," Davina menyuruh putri angkatnya untuk bergabung di meja makan.


"Maaf terlambat, aku baru menyiapkan tugas kuliah." Tutur Elia menjelaskan. Karna biasanya dia tidak pernah terlambat bergabung di meja makan.


Elia kemudian duduk di samping kursi Aditya seperti biasa.


"Ehem,," Aditya berdehem. Dia beranjak dari duduknya tak lama setelah Elia duduk di sampingnya.


"Aku lupa ada meeting pagi ini, aku berangkat dulu." Ujarnya. Aditya mengambil tas kerjanya yang tadi di letakkan di kursi kosong.


"Tapi Aditya, kamu bahkan belum sarapan." Cegah Davina. Dia bahkan baru saja menyodorkan makanan untuk putranya itu.


"Sebaiknya makan dulu, mereka juga tidak akan memulai meeting tanpa kamu." Tuturnya.


Sudah pasti meeting itu tak akan berjalan selama pemimpinnya belum datang. Jadi tidak masalah meski Aditya datang sedikit terlambat dan menunda meeting beberapa menit.


"Aku belum menyuruh Milea untuk menyiapkan berkas-berkasnya." Ucap Aditya beralasan.


"Duduk.! Kamu harus menghabiskan sarapanmu dulu." Tegas Davina tak mau di bantah.


"Biar Mama yang menelfon Milea agar dia menyiapkan berkasnya sekarang.!" Suara tegas Davina membuat Aditya kembali duduk di tempatnya.


Davina kemudian beranjak dari ruang makan untuk menghubungi sekretaris pribadi putranya.


"Jangan membatah perkataan Mama mu." Tegur Dave lembut. Dia mengerti kenapa putranya tiba-tiba ingin segera pergi ke kantor.


Permasalahan itu berawal dari pembahasan istri dan anaknya tadi malam.


Dave tak bisa berbuat banyak selain membiarkan Davina menentukan pilihannya sendiri yang menurutnya baik untuk anak-anak mereka.


Lagipula Dave juga tidak bisa memilih antara anak atau istrinya, jadi memutuskan untuk tidak ikut campur. Meski begitu,.Dave akan berusaha menjadi penasehat dan penengah yang baik untuk keduanya.


"Hari ini aku berangkat sama Kakak yah, mobilku belum selesai di perbaiki,," Pinta Elia dengan rengekan manja seperti biasa.


"Masih banyak mobil lain di rumah ini, kamu bisa memakainya." Jawab Aditya datar.


Elia seketika terdiam, dia menatap heran pada Kakak laki-lakinya yang tiba-tiba berubah sikap.


Aditya tak pernah bersikap cuek dan ketus padanya, Kakak laki-lakinya itu selalu memperlakukannya dengan lembut dan tak pernah menolak permintaannya.


Tapi hari ini.? Sikap Aditya sangat berbeda. Elia bahkan baru menyadari kalau sang Kakak seperti enggan melihatnya.


"Ya sudah, aku minta di antar supir saja." Lirih Elia dengan senyum tipis. Dia tersenyum bukan untuk di perlihatkan pada Aditya, karna pria itu bahkan tidak meliriknya sama sekali. Elia tersenyum karna ingin menguatkan hatinya yang tiba-tiba merasa lemah. Ada perasaan sedih yang mengusik ketika Aditya bersikap acuh dan enggan mengantarnya ke kampus.


...******...


2 minggu setelah membahas perjodohan dengan putranya, Davina melihat banyak perubahan dalam diri Aditya. Terlebih sikap Aditya terhadap Elia yang dia lihat sangat acuh dan terkesan menjaga jarak. Bukannya merasa lega setelah mengutarakan keinginannya pada sang putra, Davina malah merasa tidak nyaman melihat perlakuan Aditya pada Elia. Padahal Elia tidak tau apa-apa, putri angkatnya itu bahkan belum di beri tau soal perjodohan dengan Aditya.


Elia pasti bingung dengan perubahan sikap Aditya yang tiba-tiba.


Sore itu Davina menunggu kepulangan putranya di ruang keluarga. Selagi Elia masih berada di luar dengan teman-temannya, Davina akan bicara serius pada Aditya agar tidak mengabaikan Elia lagi. Putrinya itu terlihat sedih akhir-akhir ini, pasti karna merasakan perubahan sikap Aditya. Meski Elia tidak pernah menceritakan hal itu, namun Davina bisa melihat kesedihan dalam sorot mata Elia. Senyum cerianya tidak sama seperti sebelumnya. Itu juga yang membuat Davina akhirnya memberikan kelonggaran pada Elia untuk menghabiskan waktu di luar dengan teman-temannya.


Suara derap langkah membuat Davina berhenti fokus pada ponselnya. Dia menoleh dan langsung memanggil Aditya begitu melihat putranya itu lewat.


"Ada apa Mah.?" Aditya berjalan mendekat. Davina menyuruh Aditya untuk duduk lebih dulu.


"Soal pembahasan kita waktu itu tentang kamu dan Elia,," Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Aditya langsung memotongnya.


"Apa tidak ada pembahasan yang lain.? Pekerjaan di kantor sudah cukup membuatku pusing." Potongnya dengan intonasi pelan.


Davina menghela nafas berat. Harus bagaimana lagi membujuk Aditya supaya menerima perjodohan itu dan kembali bersikap seperti biasa pada Elia. Davina belum ingin menyerah sekarang, dia merasa tidak jika rela anak-anaknya mendapatkan pasangan di luar sana. Terlebih untuk Elia, Davina takut putrinya mendapat pasangan yang salah.


"Kamu yakin tidak mau menikahi Elia.?" Davina akhirnya melontarkan pertanyaan tegas pada putranya. Kalau Aditya kembali menolak, sepertinya impiannya melihat mereka berdua menikah harus dia kubur dalam-dalam.


"Dia adikku, mana mungkin aku menikahinya." Jawabannya.


"Kamu jawab saja, mau atau tidak.?" Tegas Davina memastikan.


Aditya terdiam sejenak, pria itu tampak sedang berfikir sampai akhirnya dia mengatakan tidak.


"Baik, kalau begitu Mama akan memberikan kebebasan pada Elia untuk memiliki pasangan mulai hari ini." Ujar Davina tanpa keraguan.


Perkataan itu membuat bola mata Aditya membulat sempurna.


"Elia bahkan lulus kuliah, apa Mama lupa."


Davina menggeleng.


"Melarang Elia memiliki kekasih sebelum dia lulus kuliah hanya alasan Mama saja. Mama ingin laki-laki pertama dan terakhir yang di cintai Elia hanya kamu, tapi karna kamu menolak menikahi Elia, Mama tidak mau lagi menahan kebahagiaannya."


Suasana mendadak hening, Aditya tidak merespon namun raut wajahnya penuh dengan ekspresi yang sulit di artikan.


Apa dia akan diam saja dengan membiarkan Elia menjalin hubungan dengan pria lain.? Entahlah,,