My beloved sister

My beloved sister
Bab 41



Sudah 1 bulan berlalu sejak Aditya membawa Milea ke rumah dan mengenalkannya sebagai calon istri. Aditya mulai mempersiapkan segala keperluan untuk pernikahannya dengan Milea.


Sudah menentukan tanggal dan bulan, Aditya juga sudah membawa kedua orang tuanya menemui orang tua Milea untuk meminta putri sulung mereka.


Davina yang melihat putranya mempersiapkan pernikahan dengan matang, tidak bisa berbuat apa-apa selain memberikan restu dan mendukung keputusannya menikahi Milea. Meski dalam hati kecilnya dia masih berharap Aditya menikah dengan Elia.


Milea memang wanita baik-baik, dia smart dan sangat sopan. Para orang tua di luar sana pasti akan merasa bersyukur jika memiliki menantu seperti Milea. Apalagi parasnya juga cantik, sudah pasti akan menghasilkan keturunan yang cantik pula. Namun hati tak bisa di bohongi. Ada sesuatu yang mengganjal di hati Davina. Dia tidak benar-benar menerima Milea sepenuhnya, bisa dibilang masih setengah hati. Mungkin karna kecewa, sebab harapannya ingin melihat Aditya dan Elia menikah tidak terwujud.


Jadi Davina tidak terlalu antusias dan semangat ketika ikut mempersiapkan rencana pernikahan putranya. Seperti siang ini, Aditya menyuruhnya untuk melakukan fitting gaun. Davina malah terlihat bermalas-malasan. Berbeda dengan Dave dan Elia yang sudah siap untuk pergi ke butik.


"Kenapa belum siap.? Aditya sudah menunggu di bawah dengan Milea." Dave menghampiri istrinya yang masih duduk di depan meja rias. Belum ada polesan make up di wajahnya, rambutnya juga dibiarkan tergerai begitu saja.


"Aku sebenarnya tidak terlalu setuju dengan pilihan putramu. Milea memang baik dan pintar, tapi jika untuk dijadikan menantu, rasanya,,," Ucapan Davina terjeda ketika melihat tatapan mata Dave dari pantulan cermin di depannya. Davina sadar bahwa dia baru saja mengatakan sesuatu yang salah. Tidak seharusnya dia bicara seperti itu di saat persiapan pernikahan putranya sudah sampai 85 persen.


"Kenapa tidak bilang pada Aditya saat baru mengenalkan Milea." Ujar Dave. Rasanya sudah terlambat kalau sekarang Davina mengatakan tidak setuju dengan pilihan putra mereka.


Pernikahan akan di gelar 1 bulan lagi. Tidak lucu kalau tiba-tiba meminta Aditya membatalkan pernikahan. Harga diri dan martabat Dave juga akan dipertaruhkan, begitu juga dengan Aditya.


Citranya sebagai pengusaha muda bisa buruk kalau sampai hal itu terjadi.


"Semuanya sudah di depan mata, kita hanya perlu mendoakan dan mendukung keputusannya. Aditya bukan anak kecil, dia pasti tidak sembarangan menentukan pilihan. Apalagi menyangkut hidupnya." Tutur Dave seraya mengusap lembut pundak Davina.


Wanita paruh baya itu tampak mengangguk serta tersenyum samar.


Benar kata Dave, pernikahan putra mereka sudah di depan mata. Menentang pernikahan itu sama saja menciptakan masalah besar.


...*****...


"Kak,," Elia menarik tangan Aditya dan bergelayut manja.


"Bagaimana gaunku.? Bagus tidak.?" Tanyanya sembari menatap gaun berwarna putih gading yang melekat di tubuhnya.


Aditya memperhatikan sekilas kemudian mengangguk.


"Gaun apapun akan terlihat bagus kalau kamu yang pakai." Komentarnya yang terdengar seperti pujian.


Senyum di bibir Elia langsung merekah. Dia jadi semakin menyukai gaun itu setelah Aditya memujinya.


"Bagaimana dengan Kak Milea.? Apa belum selesai pakai gaun.?" Elia melepaskan tangan Aditya kemudian mendekat ke arah pintu ruang ganti yang sedang di pakai oleh Milea.


Di dalam sana Milea sedang memakai pilihan gaun pertama, di bantu oleh pemilik butik dan pegawainya.


"Sepertinya masih lama." Jawab Aditya. Mengingat gaun itu cukup berat dan memiliki ekor sedikit panjang, pasti memerlukan waktu lama untuk mencobanya. Belum lagi harus menyesuaikan pinggang, bagian dada dan sebagainya.


"Mama dan Papa juga belum selesai. Mereka minta pilihan gaun dan model jas yang lain." Ujar Elia seraya menatap sekeliling, hanya ada dia dan Aditya di sana.


Butik itu sangat sepi. Semua pegawai yang berjumlah 5 orang sedang membantu Milea, Dave dan Davina mencoba pakaian mereka masing-masing. Pemilik butik juga sengaja menutup butiknya selama beberapa jam ke depan, sampai keluarga pengusaha sukses itu selesai melakukan fitting. Jadi tidak ada pengunjung lain.


"Nanti saja, tunggu pegawai butik." Aditya menolak. Bukan apa-apa, masalahnya bagian punggung Elia sedikit terbuka, Aditya sedikit khawatir ketika harus berdiri di belakang Elia.


"Tapi aku mau ke toilet Kak, tidak mungkin masih pakai gaun ini kan." Rengek Elia dengan bibir mencebik.


"Sudah tidak tahan, mau pipis." Rengeknya lagi.


Aditya menghela nafas berat. Dia akhirnya bersedia membantu Elia melepaskan gaunnya.


"Ada cctv disini, ke ruang ganti saja." Ujar Aditya ketika Elia sudah memposisikan diri di depannya. Adiknya itu sedikit ceroboh, di sana ada cctv. Semua orang bisa melihat seluruh punggung Elia jika membukanya di sana.


Kini mereka berdua sudah berada di ruang ganti. Ukurannya tidak terlalu besar, hanya 2 kali 3 meter dengan kaca besar yang menempel di dinding.


Elia sudah berdiri di depan Aditya, satu tangannya menggenggam rambut dan mengangkatnya ke atas agar Aditya bisa menemukan jarum dan peniti di bagian punggungnya.


Aditya tampak gusar, perasaan itu nyatanya masih ada sampai detik ini. Namun dia selalu menepisnya.


Perlahan tapi pasti, Aditya berusaha fokus hanya untuk melepaskan peniti dan jarum. Meski sesekali matanya melirik pada punggung dan leher jenjang Elia.


"Sudah." Ujar Aditya. Suaranya jadi sedikit serak. Dia buru-buru bergeser ke samping agar tidak berdiri tepat di belakang Elia.


"Resletingnya sekalian di buka Kak, sedikit susah menurunkan resletingnya sendiri." Pinta Elia dengan entengnya. Dia benar-benar tidak berfikir bisa membuat Aditya semakin gelisah.


Tak mau berlama-lama di dalam ruangan itu bersama Elia, Aditya akhirnya menurunkan resleting gaun Elia, tapi sengaja membuang pandangan ke arah lain saat melakukannya.


"Sudah." Ucap Aditya kemudian keluar begitu saja dari ruang ganti.


Pria itu sedikit terkejut ketika melihat Milea berdiri tak jauh dari depan ruang ganti. Tatapan mata mereka bertemu. Milea tampak sedikit heran melihat Aditya keluarga dari ruang ganti wanita.


"Elia kesulitan melepaskan peniti dan jarum di punggungnya." Kata Aditya meski Milea tidak menanyakan apapun padanya.


"Menurutmu bagaimana dengan gaun pertama.?" Tanya Milea tanpa merespon ucapan Aditya. Lagipula dia juga tidak meminta kejelasan, hanya penasaran saja kenapa Aditya keluar dari ruang ganti wanita.


Aditya mendekat, mengamati Milea dari ujung kepala sampai kaki. Dia juga melihat bagian belakang tubuh Milea.


"Bagus. Punggungnya tidak terlalu terbuka." Komentarnya.


"Kamu nyaman tidak.?"


Milea menggelengkan kepala.


"Terlalu berat, aku kesulitan berjalan." Keluhnya.


"Kalau begitu coba gaun yang lain."


Milea mengangguk paham.