
3 hari menghabiskan waktu bersama di hotel, jangan mengira Aditya dan Elia sudah belah duren pasca resmi menjadi suami istri. Jangankan untuk belah duren, sekeder colek-colek saja sama sekali tidak terjadi selama 3 hari menginap di hotel.
Lagipula keduanya memang tidak berniat untuk belah duren. Terlebih Elia, pikiran wanita itu masih terlalu polos. Acara belah duren di malam pertama tidak pernah terlintas dalam benak Elia.
Mengingat suaminya juga merupakan Kakaknya sendiri, Elia tidak berfikir akan bercinta dengannya.
Sedangkan Aditya, walaupun awalnya dia tidak minat untuk belah duren, tapi pikirannya mendadak mesum setelah melihat duren montong milik Elia. Duren yang lebih menggiurkan dan menggoda di banding duren aslinya.
Sampai setiap kali melihat Elia, mata Aditya reflek melirik area di antara kedua paha Elia. Sepertinya pikiran Aditya sudah tercemar dengan duren montong yang belum dibelah oleh siapapun. Membuat jiwa kelelakiannya penasaran dan ingin menjadi pria pertama yang membelah duren tersebut. Lagipula mereka sudah sah menjadi suami istri, tidak peduli mau belah duren, sedot duren, jilat duren ataupun makan duren sekalipun, mereka bebas melakukannya.
"Kak, ayo pulang." Lamunan Aditya buyar ketika Elia memanggil dan mengguncang pundaknya. Wanita cantik itu tampak sudah rapi dan siap meninggalkan kamar hotel mereka untuk kembali ke rumah.
"Hemm." Aditya beranjak dari sofa, dia menarik 1 koper yang berisi bajunya dan baju Elia. Keduanya lalu keluar dari kamar hotel tanpa meninggalkan jejak ataupun kenangan indah nan panas di dalamnya. 3 hari dilalui mereka tanpa melakukan apapun seperti pasangan pengantin pada umumnya.
Sampainya di rumah, keduanya langsung di sambut manis oleh kedua orang tua mereka. Senyum Davina tampak merekah, dia senang karna anak-anaknya bisa bertahan 3 hari di kamar hotel. Membahayakan hal itu, Davina berfikir kalau keduanya sudah bercocok tanam.
Mengingat pria dan wanita tidur dalam kamar yang sama selama berhari-hari dengan status pernikahan, Davina sangat yakin sesuatu terjadi di antara mereka. Aditya sebagai pria dewasa pasti tidak akan tahan tanpa menyentuh Elia yang selalu tidur di sampingnya.
Davina sangat yakin dengan pikirannya, padahal tidak terjadi apapun diantara mereka.
"Letakkan di situ saja kopernya, kamu pasti capek." Ujar Davina pada Aditya.
"Biar Pak Budi saja yang bawa koper kalian ke kamar."
Aditya menautkan alisnya, dia merasa kalau Davina sudah salah paham. Apalagi melihat senyum Davina yang penuh arti. Aditya yakin kalau mamanya berfikir macam-macam.
"Sayang, sini duduk dulu." Davina merangkul pundak Elia dan membawanya duduk di sofa ruang keluarga. Tatapannya pada Elia tampak mencurigakan, tapi hanya Aditya dan Dave yang menyadari hal itu.
"Kamu sakit tidak.?" Tanya Davina. Elia langsung menggeleng karna merasa badannya sehat-sehat saja, tidak merasa sakit sama sekali. Padahal yang di maksud Davina adalah sakit dalam tanda kutip. Sakit setelah ritual belah duren yang biasa dilakukan pasangan pengantin baru.
Melihat jawaban Elia dan melihat cara jalan Elia yang biasa saja, raut wajah Davina mendadak lesu. Dia sadar kalau ritual belah duren itu pasti belum mereka lakukan.
Sementara itu, Dave langsung mengajak Aditya ke ruang kerjanya. Ada beberapa hal yang harus Dave bicarakan dengan putranya itu, terutama tentang pernikahan Aditya dengan Elia. Dave sadar jika putranya belum bisa menerima pernikahan itu sepenuhnya, jadi Dave merasa bertanggungjawab agar Aditya bisa menerima Elia sebagai istrinya.
Dave menginginkan putra serta putri angkatnya melakukan pernikahan sekali seumur hidup. Begitu juga dengan Davina dan semua orang tua diluar sana.
Davina menarik nafas dalam, dia tau Elia pasti akan menanyakan banyak hal tentang kedua orang tua kandungnya. Sejujurnya Davina juga enggan membahas soal Jordi dan Lucia. Kepergian mereka bedua sangat mendadak dan dalam waktu yang berdekatan, tentu cukup menyesakkan jika di ingat.
"El,, sekali lagi Mama ingin minta maaf karna sudah menyembunyikan fakta ini dari kamu selama 22 tahun lamanya." Davina menggenggam tangan Elia, dia menundukkan wajah, menyebunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Besok Mama akan memberikan foto kedua orang tua kamu dan mengantar ke makam mereka." Ujar Davina seraya mengusap air matanya yang tidak bisa di bendung.
"Sekarang kamu istirahat saja, jangan terlalu banyak pikiran dan berlarut-larut dalam kesedihan. Mama dan Papa tetap orang tua kamu, jadi kamu tidak akan sendirian meski tau bukan anak kandung kami." Davina menarik Elia dalam dekapan, kedua wanita itu kemudian menangis bersama, meluapkan kesedihan masing-masing.
...******...
Selesai makan malam, Aditya dan Elia pergi ke kamar Elia yang sekarang sudah menjadi kamar mereka berdua. Sedangkan kamar Aditya, mungkin hanya akan sesekali mereka tempati. Keduanya sudah tidak bisa tidur di kamar terpisah, apalagi ada Davina yang sudah pasti akan menegur mereka jika berani pisah kamar.
"Nanti kalau Mama dan Papa sudah tidur, Kak Adit pindah ke kamar sebelah saja." Ujar Elia yang berfikir kalau Aditya tidak suka tidur satu kamar dengannya.
"Di depan kamar ada cctv, kamu sengaja ingin liat Mama marah padaku.?" Sahut Aditya dengan wajah kesal. Elia menyengir kuda, dia tidak mengatakan apapun lagi dan langsung berlalu ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan gosok gigi.
Aditya juga melakukan hal yang sama setelah Elia keluar dari kamar mandi.
Kini keduanya sudah berada di ranjang yang sama, hanya ada jarak sekitar 1 meter di tengah-tengah. Tadinya Elia ingin menyuruh Aditya tidur di sofa, tapi dia baru sadar kalau sofa di kamarnya sudah tidak ada ditempatnya.
Elia berbaring menyamping memunggungi Aditya. Wanita itu terlihat kesulitan untuk memejamkan mata. Beberapa kali dia berganti posisi, tapi matanya belum bisa diajak kompromi.
"Kak,,," Panggil Elia seraya berbalik badan. Rupanya Aditya juga memunggunginya.
"Hmm,," Aditya berbalik untuk menatap Elia.
"Aku tidak bisa tidur." Keluhnya, padahal malam semakin larut.
"Kemari,," Aditya bergeser ke tengah dan minta Elia mendekat. Wanita itu menurut tanpa protes, termasuk saat Aditya menariknya dalam dekapan.
"Cepat tidur,!" Titah Aditya tegas. Elia tidak sadar kalau sebenarnya Aditya juga kesulitan tidur, dia memeluk Elia bukan untuk membantu Elia agar bisa tidur, tapi hanya modus saja karna dia juga ingin tidur sambil memeluk tubuh Elia yang semok tapi tidak gendut.