My beloved sister

My beloved sister
Bab 29



Aditya duduk santai di ruang tamu apartemen Milea. Apartemen sederhana itu hanya di isi 1 set sofa beserta meja, dan rak buku kecil di pojok ruangan. Tidak banyak furniture ataupun pajangan di sana. Hanya jam dinding minalis yang menempel di tembok ruang tamu.


Sesekali Aditya menyesap kopi buat Milea. Kopi yang dibuatkan wanita itu begitu sampai ke apartemen. Setelah itu Milea pamit untuk mandi lebih dulu. Kini sudah 20 menit Milea meninggalkan Aditya di ruang tamu. Membuat pemilik rahang tegas itu mulai jengah, terlalu lama menunggu hanya untuk sebuah jawaban ya atau tidak.


Jika di pikir-pikir, Aditya terbilang sangat memaksakan diri. Dia terburu-buru ingin memiliki kekasih hanya untuk mengalihkan perasaan dan perhatiannya terhadap Elia. Kini dia seperti sedang meneror Milea dengan mengikutinya kemanapun wanita itu pergi agar ajakan berkencannya di terima.


"Sejak kapan kamu sebodoh ini.!" Gerutu Aditya pelan. Dia tak habis pikir dengan dirinya sendiri, setelah sadar tindakannya sangat keliru dan salah. Tapi apa mau di kata, dia sudah terlanjur mengajak Milea berkencan. Tidak mungkin juga dia membatalkannya, kecuali kalau Milea menolaknya. Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Asal jangan hanya menjadikan Milea sebagai pelampiasan sesaat saja.


"Ekhem,,," Suara deheman dari arah dalam membuyarkan lamunan Aditya.


"Maaf membuat Tuan menunggu lama." Ujar Milea tak enak hati. Dia lantas bergabung di ruang tamu, duduk tepat di seberang Aditya.


Sementara itu, yang di ajak bicara malah diam memperhatikan Milea dari ujung kepala sampai kaki. Mungkin karna tidak pernah melihat Milea memakai baju santai dengan rambut panjang setengah basah yang di biarkan tergerai, Aditya jadi tertarik memperhatikannya. Seperti ada yang beda. Yang jelas, Milea terlihat jauh lebih muda di banding saat berpakaian formal ketika bekerja.


Apalagi saat ini wajah Milea dalam keadaan polos tanpa makeup.


"Tidak masalah. Aku harus pulang sekarang." Ujar Aditya yang pura-pura melirik arloji di tangannya.


Tadinya dia ingin mendapatkan jawaban dari Milea hari ini juga, tapi setelah sadar bahwa dia baru saja bertindak bodoh, Aditya jadi ingin memberikan lebih banyak waktu pada Milea untuk memikirkan jawabannya.


"Soal jawaban tadi siang.?" Tanya Milea. Dia mencegah Aditya beranjak dari sofa. Kini mereka berdua saling menatap tanpa suara sampai beberapa detik.


"Tidak masalah kalau belum bisa menjawabnya sekarang." Sahut Aditya.


Jelas ucapannya tidak konsisten di awal. Padahal sejak tadi siang terus mendesak Milea untuk memberikan jawaban.


Tidak heran kalau sekarang Milea menatap Aditya dengan dahi berkerut. Karna seolah-olah dia tidak butuh jawaban lagi. Padahal beberapa jam lalu baru saja mengatakan kalau dia butuh jawaban sekarang.


"Sebenarnya,,, se-sebenarnya saya sudah punya jawaban." Milea berucap gugup sembari menundukkan wajah. Dia lebih baik memberikan jawaban sekarang daripada suatu saat di teror lagi oleh atasannya itu.


"Jadi bagaimana.?" Tanya Aditya yang tampak santai tapi sebenarnya dia sedang mencemaskan sesuatu dan bergulat dengan pikirannya sendiri.


Seandainya Milea menerima tawarannya, artinya detik itu juga dia sudah berkomitmen dan memiliki hubungan khusus dengan sekretaris pribadinya.


Tidak bisa mundur, tidak juga untuk mempermainkan hubungan.


Aditya keluar dari apartemen Milea. Tepat setelah Milea memberikan jawaban, Aditya pamit pulang.


Dia berbohong pada Milea dengan mengatakan ada acara makan malam keluarga.


Sekarang Aditya merasa terjebak dengan permainannya sendiri, karna Milea bersedia untuk berkencan.


Kini Aditya tidak bisa mengabaikan hubungannya dengan Milea kalau tidak mau menyakiti perasaan orang lain.


...******...


"Menurut kamu bagaimana.?" Tanya Davina meminta pendapat pada suaminya. Hampir 30 menit Davina bicara panjang lebar pada Dave hanya untuk membahas soal masa depan anak-anak mereka. Termasuk rencana untuk memberitahukan pada Aditya soal perjodohannya dengan Elia.


"Elia baru 20 tahun, lebih baik tunggu sampai Elia lulus kuliah kalau ingin membicarakan perjodohan. Jangan sampai nanti menganggu konsentrasi belajar Elia setelah tau semua kebenarannya." Usul Dave memberi saran.


Bukannya tidak setuju dengan rencana istrinya, tapi Dave lebih memikirkan bagaimana psikis Elia kalau tau bahwa mereka bukan orang tua kandungnya.


Karna jika sudah menjodohkan Elia dan Aditya, otomatis Elia akan bertanya kenapa kakak beradik harus di jodohkan. Sebelum ada pertanyaan seperti itu, sudah pasti mereka harus mengatakan yang sejujurnya soal orang tua kandung Elia.


"Tapi kalau tidak buru-buru, bagaimana kalau di antara mereka mencintai sesorang.? Elia mungkin bisa menahannya sampai dia lulus kuliah karna kita melarangnya berkencan."


"Sedangkan Aditya.??" Seru Davina sedikit penuh penekanan.


"Anak kita sudah dewasa, usianya 26 tahun saat ini. Bagaimana kalau dia memiliki kekasih dalam waktu 2 tahun kedepan.?" Davina memasang wajah cemas. Seolah takut jika kedua anaknya tidak bisa di satukan dalam ikatan pernikahan kalau menunda memberitahu mereka.


"Sayang sudahlah,, kamu terlalu mencemaskan hal yang belum pasti."


"Aku tidak setuju kalau kamu memberitahu Elia dalam waktu dekat." Ujar Dave berusaha mencegah rencana istrinya.


"Sebelum dia lulus kuliah, dia tidak boleh tau asal usulnya. Ini demi kebaikan Elia, jangan membuatnya sedih." Dave menatap memohon, berharap Davina bisa merasakan kekhawatirannya terhadap Elia.


Karna mengetahui fakta bahwa Elia bukan anak kandung mereka, pasti akan sangat menyakitkan bagi Elia.


"Kalau begitu aku bicarakan dulu dengan Aditya. Setidaknya dia tau kalau sudah di jodohkan dengan Elia, jadi Aditya tidak akan bisa mengencani siapapun sampai Elia siap menikah." Ujar Davina penuh harap.


Dia menaruh harapan besar pada putranya untuk menyayangi dan melindungi Elia, bukan lagi sebagai Kakak, tapi sebagai suaminya kelak.


Selama ini Elia sudah mereka jaga dan rawat dengan baik. Sebagai seorang ibu, meskipun bukan orang tua kandung, Davina menginginkan putrinya mendapat suami yang baik. Suami yang bertanggungjawab dan tidak akan berbuat kasar ataupun menyakiti perasaannya.


Semua yang Davina sebutkan hanya ada dalam diri Aditya. Karna Aditya tidak akan mungkin menyakiti wanita yang sejak kecil dia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.