
Aditya menggeliat ketika kakinya terasa kebas. Dia membuka mata dan melihat kedua kaki Elia menindih kakinya dengan posisi badan yang hampir melintang, padahal tadi malam tidur sambil memeluk erat tubuh kokoh Aditya.
Perlahan Aditya memindahkan kaki Elia dari atas kakinya. Si pemilik kaki tidak terusik sedikitpun meski kedua kakinya di angkat untuk di pindahkan. Sejak kecil Aditya sudah biasa melihat dan merasakan kebiasaan tidur Elia yang tidak bisa diam itu. Dia pikir kebiasaan tidur Elia akan berkurang seiring bertambahnya usia, tapi masih saja seperti itu.
"Bisa-bisa suaminya tidak betah kalau setiap bangun tidur di suguhi kaki." Gumam Aditya seraya turun dari ranjang. Aditya membayangkan kalau seandainya Elia menikah dan kebiasaan tidurnya masih berantakan seperti itu, mungkin akan membuat suaminya tidak nyaman.
Aditya tampak tidak sadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan, mungkin Aditya lupa jika kemarin malam dia baru saja menikahi adiknya. Jadi dia bergumam seolah-olah Elia belum menikah dan akan menikah dengan pria lain.
20 menit berlalu, Elia yang sudah puas tidur kini tampak menggeliat dan mulai membuka mata. Kondisi kamar hotelnya sangat terang, itu karna tirai di dekat ranjang sudah di buka. Cahaya mentari jadi menembus dinding kaca di kamar hotel yang dia tempati.
Elia memperhatikan sisi ranjang sebelah kanan yang sudah kosong. Walaupun Elia tidak ingin menikah dengan Kakaknya sendiri, tapi Elia masih mengingat jelas kejadian kemarin malam yang cukup mengejutkan itu. Dia tidak lupa dengan statusnya saat ini. Apalagi keadaan kamar mereka masih dipenuhi dengan bunga-bunga segar khas kamar pengantin untuk malam pertama.
"Kemana Kak Adit,," Ujarnya karna tidak melihat pria itu di sekitar tempat tidur. Elia lantas menyibak selimut dan turun dari ranjang, dia buru-buru pergi ke kamar mandi karna kebelet buang air kecil. Padahal tadi berniat mencari Aditya.
Elia menyelonong masuk ke kamar mandi berdinding marmer itu. Dia menurunkan celana piyamanya sekaligus celana da lamnya, lalu membuka penutup closet dan langsung duduk di sana sembari memejamkan mata. Buang air kecil di pagi hari ketika baru bangun tidur memang sangat melegakan. Elia sampai memejamkan mata saking leganya.
Karna asik memejamkan mata, Elia sampai tidak menyadari kalau di dalam bathtub ada makhluk tampan tanpa busana yang sedang menikmati berendam air hangat sejak tadi. Pria yang awalnya memasang ekspresi santai itu, kini terlihat syok dengan kedua mata melotot sempurna karna tiba-tiba Elia masuk ke kamar mandi dan buang air kecil di depan matanya.
Hanya berjarak 2 meter, bisa dibayangkan apa yang dilihat Aditya ketika Elia menurunkan celana dan duduk di closet. Matanya langsung ternodai detik itu juga. Untuk pertama kalinya Aditya melihat secara langsung bentuk Liang sur gawi yang disebut-sebut bisa membuat para lelaki kalang kabut jika melihatnya langsung.
Kini Aditya percaya dengan kalimat itu setelah dia melihatnya secara langsung. Towernya bahkan langsung menangkap sinyal dengan cepat.
Wajah Aditya sampai memerah merasakan sesuatu dalam dirinya setelah melihat benda paling berbahaya bagi seorang pria. Dia sampai diam saja dan terus menatap pada benda itu, bukannya menegur Elia atau memalingkan wajah agar tidak melihatnya lagi.
Elia membuka mata begitu selesai. Dia belum menyadari keberadaan Aditya bahkan sampai selesai membersihkan area sensitifnya dan memakai kembali celananya. Sepertinya Elia akan pingsan jika melihat Aditya ada di sana, atau mungkin memilih pura-pura tidak melihat keberadaan Aditya. Elia pasti akan malu setengah mati karna tanpa sengaja memperlihatkan benda berharga miliknya. Walaupun saat kecil sudah biasa telanjang bulat di depan Aditya, tapi sekarang benda itu sudah memiliki bentuk dan kondisi yang berbeda.
Begitu Elia keluar dari kamar mandi, Aditya langsung keluar dari bathtub dan mengunci pintu kamar mandi. Dia tadi lupa mengunci pintu kamera mandi dan baru ingat setelah masuk ke dalam bathtub. Karna sudah PW, Aditya malas untuk mengunci pintu. Lagipula Elia tadi masih pulas, belum ada tanda-tanda akan bangun lebih cepat. Aditya pikir dia bisa menyelesaikan mandi sebelum Elia bangun, tapi kenyataannya malah sebaliknya. Pria itu jadi merutuki kecerobohannya sendiri, sekarang dia harus menanggung akibatnya setelah melihat Liang sur gawi milik Elia yang jauh lebih menggiurkan dibanding saat dia melihatnya di video-video de wasa.
Aditya buru-buru menyelesaikan mandinya. Dia terpaksa mengguyur tubuhnya dengan air dingin setelah berendam air hangat. Apalagi alasannya kalau bukan untuk mendinginkan tubuh dan pikirannya yang sempat panas, hanya karna perkara melihat Liang.
...*****...
"Bangun El,," Aditya menggoncang kaki adiknya. Elia rupanya tidur lagi sehabis buang air kecil. Tirai yang tadi sempat di buka Aditya sebelum pergi ke kamar mandi, di tutup lagi oleh Elia.
Aditya terlihat sangat lega ketika tadi keluar dari kamar mandi dan melihat Elia tertidur pulas. Setidaknya dia tau kalau Elia sama sekali tidak tau dengan tragedi di kamar mandi beberapa menit yang lalu. Aditya juga akan memilih bungkam karna tidak mau mempermalukan diri sendiri di depan Elia. Jika Elia tau, sudah pasti dia yang akan disalahkan karna ketahuan diam saja dan tidak menegur Elia saat melihatnya masuk ke kamar mandi.
"Eumm,, jam berapa Kak.?" Tanya Elia dengan kedua mata yang terbuka sedikit.
"Delapan. Cepat mandi, sarapannya sudah di antar." Aditya menarik selimut agar Elia cepat-cepat beranjak dari ranjang.
Bibir Elia mencebik sembari bangun dari ranjang.
"Apa kita akan pulang setelah sarapan.?" Tanyanya.
"Ck,," Aditya langsung berdecak. Dia ingat perkataan Davina yang tidak mengijinkan mereka checkout dari hotel sampai 3 hari ke depan. Belum lagi pengawasan ketak yang dilakukan oleh orang suruhan Mamanya itu.
"Kamu bicara saja pada Mama supaya dibolehkan checkout." Ujarnya.
Elia malah cemberut, dia pergi ke kamar mandi dan tidak bicara apapun lagi. Elia tau dia dan Aditya tidak bisa meninggalkan hotel begitu saja kalau waktu bookingnya belum berakhir.