
"Interiornya lebih bagus dari bayanganku." Komentar Viona saat memasuki kafe milik Aditya dan teman-temannya. Juno memang cukup pintar memilih interior dan properti untuk di jadikan spot foto. Di tujukan untuk tempat tongkrongan remaja, kafe itu dibuat semenarik mungkin dan nyatanya memang berhasil menarik minat pengunjung.
Baru 1 bulan di buka, kafe itu sudah memiliki pelanggan tetap yang setiap minggunya akan berkunjung kesana.
"Lihat, kita bisa foto si sana." Mauren menunjuk sudut kafe, di sana khusus untuk pengunjung yang ingin berfoto dan di publikasikan di akun media sosial masing-masing.
"Fotonya nanti saja, kita cari meja yang masih kosong sebelum keduluan orang lain." Sela Elia dan mengarahkan kedua sahabatnya untuk menempati meja yang masih tersisa.
Saat ini kafe sedang ramai pengunjung, lebih tepatnya selalu ramai setiap hati. Hampir 75 persen pengunjung di dominasi oleh wanita.
Bagaimana tidak, mereka akan beruntung jika bisa bertemu salah satu pemilik kafe ini yang terkenal tampan-tampan.
Elia dan kedua temannya mulai memesan makanan. Sebenarnya Elia bisa saja mendapatkan perlakuan berbeda jika dia mau, karna statusnya sebagai adik Aditya yang merupakan pemilik kafe.
Namun Elia tidak suka memanfaatkan nama kakaknya hanya untuk mendapatkan perlakuan khusus. Dia ingin menjadi pengunjung biasa seperti yang lainnya.
Ketiganya mulai menikmati makanan yang baru saja di antar oleh pelayan. Seperti kebanyakan anak remaja pada umumnya, mereka lebih dulu memotret makanan itu sebelum memakannya.
Mauren bahkan sudah mengunggahnya di insta story dengan mencantumkan nama kafenya.
Sementara itu di luar kafe, sebuah mobil warna hitam terparkir di sana. Tak lama salah satu pemilik kafe itu turu dari mobil. Pria dengan celana panjang dan kemeja panjang yang di gulung hingga siku itu, tampak menawan karna tubuh atletisnya.
"Aku baru saja sampai. Alex tidak bisa ikut karna masih sibuk dengan pekerjaannya." Ujarnya pada seseorang melalui ponsel.
Saat keluar dari mobil, dia memang sudah menempelkan ponselnya di telinga.
"Santai saja, memang sudah menjadi tugas kita sesekali mengecek kafe kalau ada waktu senggang." Tuturnya tenang seraya melangkah untuk masuk ke dalam kafe.
"Ya, aku matikan dulu telfonnya." Setelah memutuskan sambungan telfonnya, dia kemudian menyimpan ponsel ke dalam saku celana dan masuk ke dalam kafe.
Kedatangan seperti atmosfir yang mampu menarik perhatian hampir semua pengunjung di sana. Beberapa orang saling berbisik dan memuji ketampanan salah satu pemilik kafe.
Suara bisik-bisik itu rupanya sampai terdengar ke telinga Elia dan kedua temannya, mereka bertiga reflek menoleh untuk mencari tau siapa yang sedang menjadi bahan perbincangan di sana.
"Ya ampun,, pantas saja tiba-tiba heboh. Dia sangat tampan,," Mata Mauren berbinar seperti melihat idola kesayangannya.
"Apa dia cukup terkenal.? Kenapa banyak yang membicarakannya." Viona malah merasa penasaran dengan sosok pria tersebut. Sebelumnya dia memang belum pernah melihatnya.
"Kafe ini milik Kakak ku dan dua orang temannya, pria itu salah satunya." Jawab Elia menjelaskan. Dengan cepat Mauren dan Viona mengalihkan pandangannya pada Elia.
"Serius.?" Ujar keduanya kompak. Elia mengangguk cepat.
"Sayang sekali aku sudah punya Niko." Keluh Viona lesu. Mauren dan Elia menautkan alisnya, menatap aneh pada temannya yang satu itu.
"Memangnya apa yang kamu harapkan kalau belum ada Niko.?" Tanya Mauren. Sebenarnya dia sudah tau kemana arah ucapan Viona. Begitu juga dengan Elia yang sudah paham isi kepala temannya.
Viona mengukir senyum penuh arti, kemudian menatap Elia.
"El, apa dia sudah punya pacar.?" Tanya Viona semangat. Kali ini Elia tidak bisa menahan tawanya, dia terkekeh heran mendengar pertanyaan dari Viona.
"Iissh.! Aku jadi ragu, kamu itu sebenarnya teman atau musuhku.?" Gerutu Viona kesal.
Elia dan Mauren kompak tertawa melihat Viona mengerucutkan bibirnya.
"El, apa dia tidak melihatmu.? Kenapa langsung naik ke lantai dua.?" Viona masih saja di buat penasaran. Dia pikir pria itu akan melihat Elia dan menghampiri ke mejanya.
"Aku tidak tau. Ayo cepat habiskan makanannya. Jangan sampai aku pulang terlalu sore,," Elia buru-buru menghabiskan makannya. Kalau tidak ingat dengan aturan keluarganya, mungkin dia akan lebih santai menghabiskan waktu di sana. Terlebih ada Juno yang tiba-tiba datang ke kafe.
Jujur saja, sejak tadi Elia berusaha menahan diri untuk tidak berkomentar apapun tentang Juno.
Dia menyembunyikan ketertarikannya pada pria itu di depan kedua temannya.
...*****...
Mauren dan Viona sudah pulang, keduanya di jemput oleh pacar masing-masing karna akan berkenan. Sedangkan Elia sudah berada di samping mobilnya, dia harus segera pulang agar tidak di cecar banyak pertanyaan oleh kedua orang tuanya.
"El,, kamu di sini.?" Elia mengurungkan niat saat akan membuka pintu mobil, dia berbalik badan untuk menatap suara familiar yang baru saja menyapanya.
"Kak,," Senyum di bibir Elia terbit kala menatap wajah Juno.
"Sebelum Kak Juno datang ke kafe, aku sudah ada di dalam." Tutur Elia. Wajahnya tampak ceria, jarang sekali dia menunjukkan keceriaannya di depan pria selain keluarganya sendiri dan Juno tentunya.
"Aku tidak melihatmu. Kamu sendirian.?" Juno sekilas mengedarkan pandangan, memastikan kalau Elia memang sendirian di sana.
"Kak Juno buru-buru ke atas, jelas saja tidak melihatku." Sahut Elia dan bibirnya sedikit mengerucut, membuat Juno tersenyum gemas.
"Aku datang bertiga, tapi mereka di jemput pacar masing-masing." Tuturnya dan Juno mengangguk paham.
"Kamu mau pulang.?"
"Hum,," Elia mengangguk cepat.
"Mereka akan jadi tim investigasi kalau aku pulang terlalu sore." Ujar Elia kemudian terkekeh. Antara sedih dan pasrah dengan nasibnya.
"Itu karna mereka sayang padamu." Juno mencoba menghibur seraya mengusap lembut pucuk kepala Elia.
"Ya, Kak Juno benar. Antara sayang dan ingin membuatku tidak mengenal kebahagiaan di luar." Elia tersenyum miris, tapi dia mencoba untuk tidak larut dalam kesedihan yang tidak mereka ketahui.
Juno terdiam melihat senyum Elia yang terlihat menyayat hati. Dia seperti tau bagaimana perasaan Elia yang tidak bisa menikmati masa remajanya.
"Mau nonton.?" Tawar Juno. Suasana seketika menjadi kikuk. Keduanya sama-sama diam dan saling pandang. Juno juga tidak tau kenapa punya keberanian mengajak Elia. Dia hanya ingin menghibur adik dari sahabatnya itu yang sudah dia anggap seperti adik sendiri.
"Kak Juno bercanda.? Mereka pasti tidak akan mengijinkan ku pergi." Wajah Elia tampak sendu.
"Telfon Tante Davina, biar aku yang meminta ijin." Tegas Juno yakin.
Mata Elia langsung berbinar, dia langsung mengambil ponsel dan menghubungi Mamanya.