My beloved sister

My beloved sister
Bab 12



Aditya menoleh setelah mendengar pintu ruangan di buka.


"Ada apa.?" Dia kembali fokus pada berkas di atas meja dan membiarkan sekretarisnya masuk.


"Sudah jam pulang Tuan." Kata Milea di depan meja kerja Aditya. Di tatapnya pria yang tengah sibuk dengan berkas-berkas di atas meja. Milea bisa melihat keseriusan dan kesungguhan Aditya dalam menjalankan amanat dari Dave.


Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, pepatah itu bisa menggambarkan sosok Aditya yang sangat mirip dengan Dave jika sudah menyangkut soal urusan perusahaan. Mereka kaan sangat fokus dan tak jarang sampai lupa waktu.


"Kamu bisa pulang, aku masih ada yang harus di kerjakan." Aditya tak bergeming meski sudah di ingatkan waktunya pulang.


Di suruh pulang sedangkan atasannya masih berkutat dengan pekerjaan, Milea jadi ragu untuk meninggalkan kantor.


"Kalau begitu saya temani Tuan saja. Apa ada yang bisa saya bantu.?" Milea menawarkan diri memberikan bantuan pada Aditya, dia merasa itu sudah menjadi tugasnya sebagai sekretaris.


"Tidak perlu." Tolak Aditya halus.


"Kamu buatkan kopi saja sebelum pulang." Titahnya seraya melirik Milea sekilas. Saat itu tatapan keduanya bertemu, Milea buru-buru menundukkan pandangan.


"Baik Tuan,," Milea pamit dari ruangan, dia tidak berani membatah ucapan Aditya.


Selesai membuatkan kopi, Milea kembali ke ruangan Aditya untuk mengantarkannya.


Milea seperti biasa mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan. Dia sempat ingin keluar lagi karna mendapati Aditya sedang bicara dengan seseorang lewat telfon. Namun keberadaan sudah di lihat lebih dulu oleh Aditya, atasannya itu memberikan kode dengan anggukan kepala pada Milea untuk masuk.


"Ya, 1 jam lagi aku pulang. Dasar cerewet,," Aditya berucap lembut dan hangat. Milea yang melihatnya sedikit tertegun, diam-diam tersenyum dalam hati karna Aditya menunjukkan sisi yang berbeda. Senyuman di bibir Aditya bahkan merekah, hal yang sejak tadi pagi belum pernah Milea lihat dari wajah tampan itu.


Aditya mengakhiri panggilan telfonnya, bersamaan dengan Milea yang meletakkan secangkir kopi di atas meja.


"Terimakasih, kamu boleh pulang." Nada bicara Aditya kembali ke setelan awal, datar dan terkesan dingin.


"Ya Tuan, saya pulang dulu." Milea buru-buru keluar dari ruangan. Aditya sempat memperhatikan kepergiannya dengan melirik sekilas sebelum Milea menutup pintu.


"Bisa-bisanya Papa memilih sekretaris semuda itu." Aditya menggeleng heran. Dia tau kalau Papanya baru merekrut Milea sekitar 1 tahun yang lalu. Sebelumnya sekretaris Dave berusia 35 tahun, dan itu seorang laki-laki.


...******...


"Rexy maaf, tolong tidak usah menelfon ku lagi. Aku tidak mau kamu mendapat masalah karna mendekatiku." Pinta Elia memohon. Sekalipun dia memiliki sedikit ketertarikan pada Rexy, tapi Elia tak mau mengambil resiko. Mengingat Aditya begitu marah pada Rexy, Elia khawatir dengan kehidupan Rexy nantinya. Karna sang Kakak pasti tidak akan tinggal diam ketika tau adiknya terus di dekati.


"El, aku tidak takut meski harus berhadapan dengan Kakakmu." Terdengar Rexy berusaha meyakinkan Elia.


"Aku akan berjuang agar bisa bersamamu." Ungkapnya yang membuat Elia menghela nafas berat.


"Tidak Rexy. Jika kamu berharap ingin bersamaku, lupakan saja. Itu tidak akan mudah untukmu." Lirih Elia putus asa. Dia bahkan tidak yakin dengan perjuangan Rexy meski laki-laki itu belum mencobanya. Aditya akan sulit di luluhkan, peraturannya juga tidak mudah di langgar.


"Kamu menolak dan meragukan keseriusanku.?" Nada bicara Rexy terdengar kecewa.


"Aku minta maaf, sungguh aku tidak bermaksud menolakmu. Aku harap kamu bisa memahami situasinya." Pinta Elia penuh sesal. Dia harap Rexy tidak akan sakit hati dengan keputusannya.


Elia kemudian memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak, sebab Rexy ingin terus bicara dengannya.


...******...


Elia menyelonong masuk ke kamar Aditya karna tadi saat berdiri di balkon kamarnya, dia melihat mobil Aditya sudah terparkir di halaman rumah.


"Uppss,, Maaf Kak." Elia menyengir kuda dan menutup matanya dengan telapak tangan.


Aditya menghela nafas kesal seperti biasa, tapi tidak bisa marah pada adiknya itu.


"Sudah berapa kali aku bilang, ketuk pintu dulu sebelum masuk." Gerutu Aditya seraya mengencangkan kembali lilitan handuk di pinggangnya. Dia hampir saja melepaskan handuk itu karna akan memakai celana da-lam.


"Iya, iya. Aku akan mengingatnya lain kali." Sahut Elia tanpa menyingkirkan telapak tangannya dari wajah.


"Apa sudah selesai pakai celana.?" Tanyanya dan hendak mengintip dari sela-sela jari.


"Aku pakai di ruang ganti saja." Aditya menyambar baju gantinya dan kembali masuk ke kamar mandi untuk memakai baju di ruang ganti samping kamar mandi.


Biasanya dia memakai baju di ruang ganti, tapi karna tadi ada yang menelfon, Aditya akhirnya ke kamar untuk mengambil ponselnya di atas tempat tidur. Dia lantas sekalian memakai pakaian di sana setelah memutuskan sambungan telfon.


Tidak di sangka adiknya tiba-tiba menyelonong masuk dan hampir melihatnya menurunkan handuk.


Elia menunggu Aditya dengan duduk di sisi ranjang. Dia sangat penasaran ingin mendengar kesan sang Kakak setelah menduduki kursi kepemimpinan untuk pertama kalinya.


Ponsel Aditya berdering, Elia reflek melirik benda pipih yang tergeletak di sampingnya. Keningnya mengkerut, membaca nama yang tertera pada layar ponsel milik Kakaknya.


"Siapa.?" Suara Aditya terdengar sangat dekat di telinga Elia. Rupanya pria itu sudah berdiri di depannya dan mengambil ponsel miliknya.


"Milea,," Jawab Elia dan Aditya hanya mengangguk karna dia juga sudah melihatnya.


Aditya sedikit menjauh untuk menerima telfon. Elia menajamkan penglihatan dan pendengarnya, tiba-tiba penasaran dengan sosok Milea. Baru kali ini dia melihat Aditya mau menerima telfon dari seorang wanita. Dia jadi menduga-duga kalau wanita itu memiliki hubungan spesial dengan sang Kakak.


"Ya ampun, akhirnya Kakak ku punya kekasih lagi,," Lirih Elia bahagia. Dia sangat senang jika sang Kakak benar-benar memiliki kekasih. Pasalnya Elia tau jika sang Kakak sudah menutup hatinya sejak dikhianati oleh cinta pertamanya saat SMA.