
Tidur Aditya terusik ketika sesuatu bergerak di sampingnya, menyusup masuk di bawah selimut yang sama. Dalam keadaan mengantuk berat, Aditya di paksa membuka matanya karna gerakan di sampingnya semakin terasa. Awalnya dia pikir hanya sedang bermimpi, tapi gerakan itu semakin terasa dan rupanya nyata.
Dalam keadaan lampu kamar yang temaram, samar-samar Aditya melihat sosok wanita berbaring di sampingnya, menyembunyikan wajah di dada bidangnya dan juga sebelah tangan memeluk tubuhnya. Tidak terlalu erat, tapi cukup membuat Aditya merasa dalam pelukannya.
Tanpa harus melihat wajahnya, Aditya sudah tau siapa wanita yang tiba-tiba naik ke atas ranjangnya dan memeluknya.
Hanya dengan mencium aroma parfumnya yang khas, Aditya bisa mengenali adiknya.
"El,,? Kenapa disini.?" Tanya Aditya seraya berusaha menjauhkan Elia dari tubuhnya. Tapi bukannya menjauh, Elia malah semakin erat memeluk Aditya dan hanya mendongakkan kepalanya.
"Aku takut, di kamarku ada suara-suara aneh." Sahutnya dengan tubuh yang sedikit bergidik ngeri, begitu juga ekspresi wajahnya. Elia tidak bohong, karna ketakutan di wajahnya tampak alami, tidak di buat-buat.
Setelah memberikan penjelasan, Elia kembali membenamkan wajahnya di dada bidang sang Kakak.
"Aku mau tidur di sini saja sama Kak Adit." Pintanya sedikit merengek.
Aditya yang masih dalam keadaan setengah sadar, tampak diam beberapa saat. Rasanya dia baru tidur 1 jam yang lalu, sedang pulas-pulasnya tapi bangun terkejut karna ulah Elia.
Tak mau ambil pusing, Aditya tak mendebat permintaan Elia. Untuk malam ini tidak masalah dia tidur satu ranjang dengan Elia. Lagipula kalau sekarang memaksa Elia tidur sendiri, rasanya sampai mulut berbusa pun Elia tidak akan mau. Karna Elia dalam keadaan sedang ketakutan.
"Menjauh sedikit, aku kesulitan tidur kalau kamu terlalu menempel." Aditya melepaskan paksa tangan Elia yang melingkar di pinggangnya.
"Tidak mau, aku sedang ketakutan." Elia kembali meletakkan tangannya di pinggang Aditya.
"Biasanya Kakak tidak protes kalau aku peluk seperti ini sampai tertidur bersama." Keluh Elia mengingatkan.
Ini bukan kali pertama dia dan Aditya tidur bersama. Bahkan dulu waktu kecil, hampir setiap hari Aditya bersedia menemani Elia tidur. Karna dulu Elia cukup penakut.
Dan setiap kali Aditya menemani Elia tidur, keduanya akan sama-sama memeluk, setelah itu terlelap bersama. Jadi tidak masuk akal kalau sekarang Aditya mengatakan kesulitan tidur hanya karna Elia terlalu menempel padanya.
"Cuacanya sedikit panas El, aku kegerahan." Ujarnya beralasan.
Entah bagaimana bisa Aditya memberikan alasan konyol seperti itu, Elia bukan bayi yang belum bisa bicara ketika merasakan sesuatu. Jelas-jelas kamar yang sedang mereka tempati memiliki suhu udara yang cukup dingin.
"Kegerahan di suhu 20 derajat.? Kakak bercanda.?" Seru Elia setelah melihat temperatur pendingin ruangan.
Aditya tidak bisa berkata-kata lagi mendapat balasan telak dari Elia. Dia akan semakin terlihat tidak masuk akal kalau terus mencari alasan.
Akhirnya Aditya hanya bisa menghela nafas dan memilih diam. Dia berusaha memejamkan matanya lagi untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu karna Elia.
Jarum jam terus berputar, detik berganti menit, suara dengkuran halus mulai terdengar di telinga Aditya. Elia begitu mudah terlelap hanya dalam hitungan menit, sedangkan Aditya.?
Pria itu malah terlihat gusar tidak jelas. Terkadang memejamkan mata, atau membuka mata untuk menatap langit-langit kamar, sesekali juga menatap Elia yang tidur nyenyak sambil memeluknya.
Lama-lama dia mulai merasa panas. Bukan karna udara di kamar itu, melaikan karna tubuh Elia sangat menempel padanya dan menimbulkan perasaan yang keliru.
Wajar jika dia bisa merasakan kekeliruan itu.
Beberapa berusaha menyangkal, tapi perasaan itu terus muncul tanpa bisa di cegah. Sadar jika ini keliru, Aditya mencoba membentengi dirinya.
Perlahan Aditya menyingkirkan tangan Elia, dia bergerak mundur untuk menjaga jarak dengan adiknya itu. Elia sempat menggeliat, namun kembali tenang dalam tidurnya.
Wajah cantik Elia terlihat sangat polos ketika tertidur. Aditya sempat memandanginya beberapa detik dan buru-buru mengalihkan pandangan.
Tidak ada ikatan darah dengan Elia, namun sejak kecil sudah hidup bersama sampai tidak ingat kalau Elia bukanlah adik kandungnya. Dia menyayangi Elia sebagai adik kandungnya sejak 20 tahun yang lalu. Perasaan itu tidak pernah berubah sampai beberapa waktu yang lalu Aditya mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda ketika dia menatap maupun berinteraksi dengan Elia.
Perasaan sayang dia miliki untuk Elia sejak dulu, bukan lagi perasaan sayang terhadap adik kecilnya. Dengan berat hati, Aditya harus mengakui kalau dia menyayangi Elia sebagai pria dewasa kepada lawan jenis.
Jelas ini salah, sekalipun tidak ada ikatan darah, selamanya Elia akan tetap menjadi adiknya.
"Sadar Aditya,! Sadar.!" Serunya dalam hati. Tidak peduli meski sudah menyadari bahwa ada ketertarikan pada Elia sebagai wanita, Aditya berusaha keras menyingkirkan perasaan itu.
Dia tidak mungkin menyukai adiknya sendiri, apalagi sampai mengencaninya. Sungguh hal semacam itu tak pernah terlintas dalam benaknya.
...*****...
Sinar mentari menembus dari jendela kamar yang hanya di lapisi tirai putih transparan.
Cahaya itu mulai mengusik tidur nyenyak seorang wanita cantik yang kini mulai mengerjapkan mata indahnya dengan bulu mata lentik.
Begitu matanya terbuka sempurna, dia langsung beranjak dari tempat tidur karna mencari seseorang yang seharusnya ada di sampingnya.
"Kak,, Kak Adit dimana.?" Elia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar yang cukup luas itu. Tak menemukan keberadaan Aditya, Elia sampai mengecek kamar mandi dan hasilnya tetap nihil.
Sampai akhirnya dia tidak sengaja menangkap bayangan seseorang dari jendela kamar berlapis tirai transparan. Seseorang itu tengah berada di kolam renang, tepat di halaman belakang resort.
Tak mau menyia-nyiakan waktu, Elia keluar dari makar Aditya dan pergi ke kamarnya untuk mengganti baju tidurnya dengan baju renang.
Dia sudah menyiapkan baju renang dari rumah karna berencana akan berenang di resort ataupun bermain air di pantai.
"Kakak,, kenapa tidak membangunkan ku.!" Suara rengekan Elia berhasil membuyarkan fokus Aditya yang sedang melatih kekuatan fisiknya. Karna sudah hambir 2 bulan dia tidak berenang, padahal di rumahnya ada kolam renang yang terbentang luas.
Aditya menampakkan diri ke permukaan, dia cukup terkejut melihat Elia hanya berbalut bikini hingga seluruh tubuhnya yang bak seputih susu itu terekspos sempurna.
Hampir saja Aditya akan menelan salivanya, tapi dia buru-buru menyadarkan dirinya dari pikiran kotornya itu. Meneriaki diri dalam hati bahwa Elia adalah adiknya.
"Aku juga mau berenang pagi-pagi." Ujar Elia dan langsung menceburkan diri ke dalam kolam, padahal bibir Aditya hampir berucap untuk meminta Elia mengganti baju.