My beloved sister

My beloved sister
Bab 28



Sore itu Aditya keluar dari ruangannya. Sudah waktunya jam pulang kantor dan dia tidak memilih lembur karna ada usuran dengan Milea. Sekretaris yang berani-beraninya belum memberikan jawaban setelah di ajak berkencan.


Kedatangan Aditya di depan meja kerja Milea, membuat wanita yang tengah fokus membereskan meja kerjanya itu perlahan mendongak. Memastikan siapa yang berdiri di depannya itu. Begitu mengetahui orang itu adalah Aditya, Milea mencoba tersenyum ramah meski pada akhirnya terlihat kikuk.


Susah payah selama 2 tahun ini dia mencoba bersikap santai pada atasannya itu, namun hari ini Aditya membuat Milea merasa canggung setelah mengajaknya berkencan secara mendadak.


Tidak ada angin, tidak ada hujan, Milea merasa ajakan Aditya terlalu terburu-buru dan di paksakan. Tapi mungkin saja seperti itu karakter dan cara Aditya ketika mengajak wanita berkencan. Mengingat sikap dingin dan acuh Aditya hampir ke semua wanita di luar sana. Entahlah,, Milea juga hanya bisa menduga-duga dengan rasa penasaran tinggi.


"Hari ini pulang denganku." Titah Aditya. Itu adalah keharusan, bukan ajakan ataupun pilihan yang bisa di tolak oleh Milea.


Kebingungan melanda Milea, dia ingin menolak tapi tidak tau bagaimana caranya. Apalagi sore ini dia harus belanja bulanan untuk mengisi dapur dan kebutuhan yang lain.


"Tapi Tuan, hari ini jadwal belanja bulanan saya." Tutur Milea ragu. Ragu karna takut pernyataannya menyinggung Aditya.


"Aku temani. Cepat bereskan barang-barangmu, aku tunggu di depan." Dengan nada bicara dan raut wajah datar, Aditya beranjak dari hadapan Milea. Dia berjalan tegap dan langkah yang lebar, terkesan buru-buru seperti tidak niat mengajak Milea pulang bersama.


Wanita cantik itu sampai mendesis kesal menatap punggung Aditya yang semakin menjauh, dia cepat-cepat merapikan meja kerjanya dam segera menyusul Aditya dengan setengah berlari. Jangan sampai dia membuat Aditya terlalu lama menunggu Aditya.


Sementara itu, Aditya sudah masuk ke dalam mobil mewah miliknya. Satu tangan tampak mencengkram kemudi, sedangkan satu tangannya lagi mengetuk-ngetuk kemudi dengan jari telunjuk. Persis seperti yang dia lakukan di dalam ruang kerjanya sebelum mengajak Milea berkencan.


Pandangan matanya lurus kedepan dengan tatapan menerawang.


Suara ketukan kaca mobil membuat Aditya menoleh ke sisi kiri. Dia melihat Milea yang baru saja mengetuk jendela mobil.


Aditya menurunkan kaca mobilnya dan bicara datar pada wanita cantik itu.


"Masuk,," Ujarnya hanya sekilas melirik Milea.


Wanita yang masih berdiri di samping mobil mewah bosnya itu tampak menghela nafas sebelum membuka pintu dan duduk di samping kemudi.


"Jadi bagaimana.?" Todong Aditya ketika Milea selesai menutup pintu mobil. Pria itu menanyakan soal jawaban Milea atas ajakan kencannya.


Ditodong pertanyaan seperti itu, Milea langsung berkeringat. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas meski pendingin udara di dalam mobil sudah cukup dingin.


"Maaf Tuan, ini cukup mengejutkan sebenarnya. A-aaku,,, aku belum bisa memberikan jawaban sekarang." Sahutnya gugup. Wanita cantik itu memainkan jari-jari lentiknya dengan kuku berwarna merah muda.


"Tapi aku butuh jawaban sekarang." Tegas Aditya tanpa mau di bantah lagi.


"Aku antar kamu belanja, setelah itu langsung berikan jawaban. Aku tidak biasa menunggu terlalu lama." Sambungnya panjang lebar. Milea terpaksa mengangguk, meski jelas dia sangat ragu.


Karna tidak ada obrolan lagi, Aditya segera melajukan mobilnya menuju supermarket terdekat. Keduanya sampai di sana setelah 20 menit perjalanan dalam keadaan hening.


"Apa tidak merepotkan.?" Lirih Milea tak enak hati. Dia merasa sangat berdosa telah membuat pemimpin perusahaan menemaninya belanja bulanan. Milea yakin ini pertama kalinya Aditya menemani karyawannya belanja di supermarket.


"Aku yang menawarkan diri." Jawab Aditya cepat.


Milea tersenyum kikuk, bisa-bisanya dia melontarkan pertanyaan bodoh seperti itu. Bukan dia yang meminta Aditya menemaninya, tapi Aditya sendiri yang menawarkan diri. Tentu saja Aditya tidak akan menawarkan diri kalau merasa itu merepotkan.


Lagipula Aditya punya maksud tertentu pada Milea, jadi wajar saja kalau sekarang pria itu terus mendekati Milea karna butuh jawaban.


Setelah 30 menit berkeliling supermarket, troli yang di dorong Milea sudah penuh dengan belanjan. Dia mengambil stok bahan makanan untuk 1 minggu kedepan dan beberapa keperluan apartemen serta keperluan pribadi selama 1 bulan.


Tidak banyak obrolan di antara mereka berdua. Aditya juga lebih banyak diam dan sesekali memainkan ponselnya meski tetap membuntuti kamanapun Milea pergi. Pria itu juga hanya mengambil air meneral dingin dan meletakkannya di troli milik Milea tanpa mengatakan apapun.


Aditya ikut mengantri di kasir, berdiri tepat di sebelah Milea hingga membuat sekretaris itu tampak canggung. Terlebih beberapa pengunjung yang sedang mengantri di kasir lain, terlihat curi-curi pandang ke arahnya.


Milea tau kalau mereka memperhatikan bos mudanya yang tampan itu. Bukan hal aneh ketika banyak wanita menatap Aditya dengan pandangan tak biasa.


Milea mengeluarkan satu persatu barang belanjanya dari troli untuk di hitung. Dan Aditya masih setia di dekatnya, meski sekarang sudah perpindah posisi di belakangnya.


"Ada tambahan lagi.?" Tanya kasir dengan ramah.


Milea menggeleng.


"Itu saja." Ucapnya.


"Totalnya 796.500 rupiah." Ujar kasir.


Milea langsung mengeluarkan dompet untuk mengambil kartu atmnya.


Tapi belum sempat mengeluarkan kartu, seseorang dari arah belakang menyodorkan kartu berwarna hitam pada kasir. Tentu saja orang itu adalah Aditya.


"Pakai ini saja." Kata Aditya dengan suara maskulinya.


Tak mau merepotkan, Milea juga menyodorkan kartu yang baru saja dia ambil dari dompet.


"Jangan Mba, pakai ini saja." Ujarnya hingga mereka berdua menyodorkan kartu masing-masing pada kasir.


Kasir itu tampak kebingungan harus mengambil kartu yang mana. Dia menatap Aditya dan Milea bergantian.


"Ambil punya saya.!" Tegas Aditya dan semakin menyodorkan kartu miliknya.


Kasir itu tidak punya pilihan lagi, dia mengambil kartu milik Aditya karna sedikit takut dengan tatapan tajamnya.


...*****...


"Aku akan menggantikannya. Tolong kirimkan nomor rekeningnya padaku." Ucap Milea begitu masuk ke mobil Aditya.


Aditya melirik sekilas, namun tidak berniat merespon ucapan Milea. Apalagi mengirimkan nomor rekeningnya. Pria itu jelas melakukannya karna milik tujuan. Dia ingin membuat Milea merasa tidak enak padanya. Dengan begitu, mungkin dia dan Milea akan cepat berkencan.


Tak peduli meski harus menggunakan cara seperti itu. Yang terpenting bagi Aditya adalah, dia bisa segera memiliki seseorang yang bisa menghapuskan perasaannya terhadap Elia.


Tapi meski terkesan memaksa Milea, Aditya tidak pernah berfikir untuk mempermainkan hubungan.


Dia sudah merasakan bagaimana sakitnya patah hati, jadi tidak akan mematahkan hati siapapun nanti hubungannya tidak di awali cukup baik.