
"Aku duluan,," Ucap Juno seraya berdiri dari duduknya. Tak lupa sebelah tangannya mengusap pelan pucuk kepala Elia layaknya memperlakukan adiknya sendiri.
Pemandangan itu sontak membuat Jihan senyum-senyum sendiri lantaran gemas. Juno dan Elia sudah seperti sepasang kekasih yang akan berpamitan setelah makan siang bersama.
Reaksi Jihan berbanding terbalik dengan Selly. Wanita itu sama sekali tidak tertarik memperhatikan interaksi Juno dengan Elia. Dia sibuk menikmati dessert miliknya yang belum habis.
"Hum,, hati-hati di jalan Kak Juno." Elia tersenyum lebar. Dalam hati merasa berbunga ketika tangan Juno mengusap pucuk kepalanya. Seandainya dia boleh menjalin hubungan, dia akan memaksa Juno untuk menjadi kekasihnya. Tidak masalah kalau wanita yang harus mengejar pria, apalagi kalau prianya seperti Juno. Elia tidak akan rugi sama sekali mendapatkan pria sebaik Juno.
Juno mengangguk singkat, dia juga pamit pada kedua sepupu Elia sekedar basa-basi saja. Mereka baru pertama kali bertemu, jadi masih sangat canggung untuk berinteraksi.
"Ya ampun El,, dia tampan dan cool sekali." Puji Jihan dengan tatapan mata tertuju pada Juno yang sudah beranjak dari meja mereka.
Elia menahan senyum ketika mendengar Jihan memuji Juno. Dia membenarkan penilaian Jihan tentang Juno. Pria itu memang tampan dan cool seperti yang di katakan Jihan. Ketampanannya sebelas dua belas dengan Aditya. Hanya saja mereka berdua memiliki aura yang berbeda. Entahlah, sulit di jelaskan namun bisa dilihat perbedaannya.
"Kamu menyukainya.?" Tebak Selly ketika melihat sepupunya itu senyum-senyum sendiri. Apalagi wajah Elia tampak berseri, persis seperti orang yang sedang jatuh cinta.
"Dasar tidak peka, begitu saja di tanya." Seloroh Jihan mengejek.
"Kakak tidak lihat mata sepupu kita berbinar menatap pria pujaan hatinya." Goda Jihan seraya menatap Elia dan mengedipkan mata.
Wajah Elia memerah karna malu, dia tidak bisa menyangkal ucapan Jihan karna semua itu memang benar adanya. Bahkan sudah sejak dulu dia menaruh perasaan pada Juno meski masih bisa mengendalikan perasaannya karna sadar dia belum di ijinkan memiliki pasangan sebelum lulus kuliah. Untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan seperti patah hati, Elia akhirnya membatasi perasaannya pada Juno. Tak membiarkan perasaan itu berkembang terlalu besar. Kecuali jika sudah mendapat lampu hijau dari kedua orang tuanya, dia akan langsung memperjuangkan perasaannya.
...******...
4 hari berlalu sejak Aditya tiba di Prancis. Malam ini dia meninggalkan hotel untuk terbang ke Indonesia. Perjalanan bisnisnya lancar tanpa kendala apapun. Perusahaannya bahkan bisa menggaet beberapa perusahaan asing untuk melakukan kerja sama. Semua itu tak lepas dari bantuan Jordan dan juga Milea.
Meskipun orang tua Milea sedang terkena musibah di kampungnya, namun wanita itu tetap profesional dalam bekerja. Dia bisa fokus dan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Aditya mengakui hal itu.
"Apa aku boleh cuti selama 3 hari.?" Tanya Milea yang kini sedang duduk di samping Aditya. Mereka sudah berada di dalam pesawat beberapa menit yang lalu.
Aditya menatap serius. Tanpa perlu di tanya alasannya, dia sudah tau kalau Milea pasti akan menjenguk orang tuanya yang 2 hari lalu selesai di operasi.
Aditya mengangguk memberi ijin. Dia tidak sekejam itu untuk melarang Milea menjenguk orang tuanya.
"Hanya 3 hari, pekerjaan kita sangat menumpuk." Tutur Aditya mengingatkan.
Beberapa minggu ke depan mereka akan sangat sibuk setelah melakukan kerja sama dengan perusahaan asing. Jadi keberadaan Milea di perusahaan sangat di butuhkan.
"Baik. Terimakasih banyak." Milea mengulas senyum lega. Dia pasti tidak sabar melihat langsung kondisi Ayahnya. Walaupun tau kondisinya sudah membaik paska operasi, tapi tetap saja tidak bisa tenang sebelum melihatnya langsung.
"Soal biaya operasi, aku akan,," Ucapan lirih Mile langsung di potong oleh Aditya.
"Aku tidak akan menyuruhmu mengembalikannya. Anggap saja sebagai bonus karna karna kamu berhasil meyakinkan klien." Tutur Aditya hampir tanpa jeda.
"Tidak, aku akan mencicilnya saja sampai lunas." Sahut Milea tegas. Dari tatapannya seperti memikirkan sesuatu yang menyeramkan. Dia terlihat ketakutan menerima bantuan secara cuma-cuma dari Aditya. Dan gelagat itu bisa di baca oleh Aditya.
"Tenang saja, aku tidak akan meminta imbalan apapun." Seloroh Aditya dengan makna lain. Milea sampai menundukkan pandangan, sadar kalau Aditya bisa membaca pikirannya.
"tapi,,,"
"Kamu pikir aku pria seperti apa.?" Potong Aditya cepat. Dia sedikit kesal karna Milea tampak tidak percaya begitu saja dengan ucapannya.
"Maaf,, aku tidak bermaksud seperti itu." Milea menunduk malu degan raut wajah penuh sesal. Jelas dia baru saja berfikir macam-macam tentang Aditya. Berfikir Aditya akan mengambil keuntungan darinya setelah mengeluarkan banyak uang secara cuma-cuma tanpa mau di kembalikan.
"Lupakan saja." Jawab Aditya santai.
...******...
Sore itu Elia sudah antusias menyambut kepulangan Aditya dari Prancis. 30 menit yang lalu ketika mendapat kabar dari sang Mama kalau Adit sudah sampai di bandara, Elia bergegas mandi.
Jihan dan Selly sampai heran melihat sepupunya berdandan rapi setelah mandi.
"Kamu mau bertemu Kak Adit atau mau kencan." Seloroh Jihan. Mulut wanita itu memang ceplas-ceplos, beda sekali dengan Kakaknya yang lebih irit bicara dan tidak asal bicara.
Jihan seperti foto copyan Farrel, sedangkan Selly lebih menuruni sifat Nabilla.
"Dia tidak akan mau memelukku kalau penampilanku berantakan." Jawab Elia asal. Dia juga tidak tau kenapa langsung mandi dan berdandan begitu mengetahui Aditya akan segera sampai di rumah. Mungkin karna terlalu antusias setelah beberapa hari tidak bertemu.
Elia dan yang lainnya sudah berada di ruang keluarga. Mereka sedang asik mengobrol sembari menunggu kepulangan Aditya.
Tak berselang lama, Aditya muncul di susul pekerja rumah yang menyeret koper milik pria itu.
Mata Elia berbinar, memancarkan kerinduan pada sosok sang Kakak. Tidak genap 1 minggu, tapi seperti baru di tinggal berbulan-bulan.
Elia langsung berlari ke arah Aditya dan memeluk tubuh pria itu.
"Aku kangen." Ujarnya dengan wajah yang terbenam sempurna di dada bidang sang Kakak.
Aditya diam di tempat, dia tidak membalas pelukan Elia seperti biasanya.
Perlahan Elia melepaskan pelukannya karna Aditya tidak balas memeluknya. Dia mendongak, menatap wajah Aditya yang hanya mengukir senyum tipis.
"Aku harus menyapa Uncle dan Aunty." Ucap Aditya seraya mengusap sekilas pucuk kepala Elia dan berlalu menghampiri yang lainnya.