My beloved sister

My beloved sister
Bab 34



Siang itu sedang terjadi kericuhan di dalam kamar Elia. Tepatnya di walk in closet dengan jejeran lemari berisi baju, tas dan sepatu serta aksesoris milik Elia. Hidup dalam keluarga kaya raya membuat Elia dengan mudah memiliki semua barang-barang branded itu. Baik Davina maupun Dave, keduanya tidak segan memanjakan Elia dengan barang-barang mewah. Tidak ada maksud lain, semua itu hanya bentuk kasih sayang mereka terhadap Elia yang sudah meraka anggap seperti putri kandung sendiri.


"Aku mau pakai ini Kak Selly.!" Teriak Jihan dengan satu tangan yang sigap merebut dress celana jeans di tangan Kakaknya.


"Balikin.! Aku yang mengambil lebih dulu.!" Selly tidak terima dan langsung merebutnya lagi. Sampai terjadi tarik menarik celana jeans milik Elia.


Sedangkan pemilik celana jeans itu hanya bisa menutup kedua telinganya yang berdenging akibat teriakan dua sepupunya.


Elia tak habis pikir dengan kakak beradik itu. Sepertinya tiada hati tanpa bertengkar ataupun merebutkan sesuatu.


Sudah 3 hari ini Elia terbiasa dengan pertengkaran mereka. Hal sepele pun akan menjadi besar kalau mereka yang berdebat.


Dalam hati Elia merasa beruntung memiliki kakak laki-laki. Jadi pertengkaran sepele seperti itu tidak pernah dia alami sampai detik ini. Aditya benar-benar berperan baik sebagai kakaknya. Membuat Elia selalu bahagia karna terlahir menjadi adik Aditya.


"Astaga Kak Selly, Jihan.!" Seru Elia nyaring. Ini pertama kalinya dia berteriak kencang di dalam. rumahnya sendiri, mungkin karna sudah terlanjur kesal melihat dua orang itu berebut celana jeans yang sama.


"Aku masih punya celana jeans yang lain, kenapa salah satu tidak mengalah saja dan ambil celana jeans lagi." Ujar Elia frustasi.


Kalau mereka berdua terus memperebutkan celana jeans, bisa-bisa acara makan siang dan menonton filmnya gagal total.


"Tidak mau.!" Jawab keduanya kompak. Mereka sama-sama masih memegangi celana jeans itu.


"Terserah kalian saja, aku pusing." Gerutu Elia pasrah.


"Makan siang dan nontonnya di batalkan saja." Elia beranjak keluar dari walk in closet. Dia sudah rapi sejak tadi, sudah siap untuk berangkat. Tapi saat masuk ke walk in closet, malah mendapati kedua sepupunya masih sibuk memperebutkan celana.


Selang 10 menit setelah Elia keluar dari walk in closet, Selly dan Jihan menyusul dengan pakaian yang sudah rapi. Akhirnya mereka berdua memakai celana jeans yang lain dan menyimpan kembali celana yang sempat menjadi rebutan itu.


Sontak saja Elia melongo tak habis pikir begitu melihat keduanya memakai celana yang berbeda.


Mereka hanya buang-buang waktu saja dan pada akhirnya celana tadi tidak ada yang memakainya.


"Ayo jalan. Aku sudah tidak sabar cuci mata." Ujar Jihan dengan santainya. Elia dan Selly kompak melotot. Wanita itu sejak kemarin selalu memikirkan laki-laki saja setiap kali akan keluar jalan-jalan. Tidak heran kalau Jihan memiliki deretan mantan.


"Dasar playgirl.!" Cibir Selly seraya memutar bola matanya malas. Dia dan adiknya sangat jauh berbeda. Yang satu sangat tertarik dengan laki-laki, satunya lagi justru malas berurusan dengan laki-laki.


"Sebaiknya kalian diam saja, jangan sampai kita gagal pergi karna kalian lanjut berdebat." Tegur Elia. Dia bergegas keluar dari kamarnya, di susul Jihan dan Selly yang mendengarkan perkataan Elia. Lagipula mereka juga capek berdebat terus.


...******...


Di antar oleh supir, Elia membawa dua sepupunya ke salah satu restoran ternama di Jakarta. Mereka sengaja makan siang lebih dulu sebelum pergi ke mall untuk menonton dan shoping.


Ketiganya langsung masuk ke dalam menempati meja yang masih kosong. Beberapa pengunjung di sana kebanyakan pria dengan setelan jas. Seperti tampang-tampang bos dan pengusaha besar.


Hanya ada beberapa anak muda yang makan di sana.


Melihat banyak pria dengan setelan rapi seperti itu dan tampang-tampang orang tajir, mata Jihan langsung menyala terang. Dia membidik semua pria yang di rasa masih muda dan single. Jiwa tebar pesonanya mulai keluar dan hal itu bisa di baca oleh Elia serta Selly.


"Jangan mulai Jihan, kita hanya makan siang disini." Bisik Elia yang tak mau menanggung malu kalau sampai nanti Jihan membuat ulah seperti yang sudah-sudah.


"Tenang saja, aku bisa menahan diri depan pria-pria tampan disini." Ucap Jihan kemudian duduk dengan elegant di sofanya.


Elia dan Selly kompak geleng-geleng kepala. Tingkah Jihan benar-benar di luar zona nyaman mereka berdua yang belum pernah memiliki kekasih.


"Jangan buat kami malu.!" Seru Selly penuh penekan. Dia harus selalu memperingatkan adiknya ketika sedang berada di luar.


20 menit berlalu, di atas meja sudah tertata makan siang yang mereka pesan. Ketiganya kemudian mulai menyantap makan siangnya masing-masing. Menikmati makanan lezat yang memang menjadi daya tarik restoran ini. Tidak heran kalau tempatnya selalu ramai meski harganya cukup menguras dompet.


"El,,," Suara maskulin pria membuat Jihan lebih dulu mengangkat wajahnya. Matanya langsung berbinar seperti melihat sebongkah berlian besar di depan mata.


"Kak Juno,," Ujar Elia begitu melihat siapa yang baru saja menyapanya. Juno tersenyum lembut pada Elia.


"Sudah lama disini.?" Tanyanya.


Elia menggelengkan kepala.


"Belum ada 30 menit. Kak Juno sedang apa.?"


Sebelum menjawab, Juno lebih dulu duduk di sebelah Elia.


"Bertemu klien, tapi mendadak dia tidak bisa datang karna ada hal mendesak."


"Tapi aku sudah terlanjur pesan makan siang." Tuturnya Juno dengan mengukir senyum kecewa. Mungkin karna waktunya jadi terbuang sia-sia.


"Boleh gabung.?" Tanyanya kemudian.


"Boleh, tentu saja boleh." Seru salah satu dari mereka dengan antusias. Siapa lagi kalau bukan Jihan.


"Jihan.!" Tegur Elia dan Selly kompak. Keduanya melotot menatap Jihan. Baru saja di peringatkan, tapi sudah membuat mereka malu.


"Maaf Kak, sepupuku sedikit aneh." Ujar Elia tak enak hati. Pasalnya Jihan sudah seperti perempuan genit yang siap mendekati Juno.


"Kamu membuat harga diriku turun saja." Gerutu Jihan dengan bibir mencebik.


Elia tidak menghiraukan Jihan, dia malah mengobrol dengan Juno setelah membiarkan Juno bergabung di mejanya.


"Kakak mu belum pulang.?" Tanya Juno.


Elia menggelengkan kepala.


"Katanya lusa baru pulang."


Jihan dan Selly saling menatap. Mereka heran melihat Elia yang tampak santai bicara dengan pria, padahal Elia mengakui ruang geraknya dengan pria di batasi. Bahkan tidak boleh pacaran.


Mereka jadi berpikir kalau Elia dan Juno cukup dekat.