
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam menggunakan pesawat, dan lebih dari 30 menit perjalanan menggunakan mobil, kini Elia dan Aditya sampai di resort.
"Akhirnya sampai juga,," Ujar Elia lega. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa empuk dan bersandar di sana. Meski tterlihat sedikit lelah, namun Elia tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya. Karna liburan yang dia tunggu-tunggu sejak lama akhirnya datang juga.
Tak lama Aditya datang dengan 2 koper di tangannya. Pria itu ikut bergabung dengan Elia, namun di sofa yang berbeda.
Begitu duduk, Aditya langsung merogoh ponsel dari saku celana. Dia membuka e-mail yang menumpuk dari Jordan dan Milea.
"Kita makan malam di luar ya Kak,," Ajak Elia, tiba-tiba dia sudah berpindah posisi ke sofa yang di duduki Aditya. Layaknya adik manja pada umumnya, Elia bergelayut di lengan kekar sang Kakak yang pas untuk di peluk.
Aditya menoleh, tapi hanya beberapa detik saja karna setelah itu dia segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Manik matanya sempat bertatapan dengan bola mata Elia yang berwarna kecoklatan. Adiknya itu tengah menatap dengan mata berbinar. Sesuatu tiba-tiba mengusik perasaannya saat beradu pandang dengan Elia, itu sebabnya Aditya buru-buru mengalihkan pandangan. Perasaan itu sangat aneh. Namun, Aditya tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata.
"Kamu pilih kamar dulu, sekalian bawa kopernya." Jawab Aditya dengan tatapan mata fokus pada layar ponsel.
"Oke,,," Elia beranjak dari sofa, saat itu juga perasaan Aditya menjadi lega.
Sembari melihat Elia yang menarik koper untuk memilih kamar, Aditya tanpa sadar memegangi dadanya. Ternyata perasaan aneh itu berasal dari hatinya, karna ketika Elia beranjak, saat itu juga hatinya merasa lega.
Aditya mengusap wajahnya, dia lantas menghela nafas kasar.
Entah perasaan macam apa yang tiba-tiba mengusik hatinya. Sebelumnya perasaan seperti ini tidak pernah ada. Mau sedekat apapun jarak Elia dengannya, Aditya tak pernah merasa gelisah ataupun terusik.
Tapi sekarang, kenapa semuanya terasa berbeda.?
Aditya mulai merutuki dirinya sendiri, dia merasa ada yang salah dengan perasaannya terhadap Elia, adiknya sendiri.
...******...
Elia melangkah ringan, kaki dan tangannya yang bergandengan dengan Aditya mengayun bersamaan di udara. Wajah wanita berusia 20 tahun itu tampak berbinar, memancarkan aura kecantikan alami tanpa riasan. Elia hanya mengoleskan sedikit lipbalm di bibir merah mudanya agar tidak kering. Rambut pajangnya di gulung asal ke atas.
Kalau saja Aditya tidak memakaikan jaket miliknya untuk Elia, mungkin leher jenjang Elia yang putih mulus itu akan terekspos dan menjadi pusat perhatian mata laki-laki.
"Kak,,," Panggil Elia seraya mendongak menatap sang Kakak yang lebih tinggi 25 cm darinya.
"Hmm,," Sahut Aditya tanpa berniat membalas tatapan Elia, meski dia tau adiknya itu sedang mendongak ke arahnya.
"Apa enaknya masih menjomblo di umur 26 tahun.?" Tanya Elia. Dia penasaran sekaligus meledek sang Kakak.
"Harusnya Kakak sudah menikah dan memberiku keponakan yang lucu-lucu. Mama dan Papa juga pasti akan sangat bahagia memiliki cucu." Ujarnya kemudian menyengir kuda.
Kali ini Aditya menoleh, dia mendapati ekspresi Elia tanpa rasa bersalah sedikitpun padahal sudah mencibirnya. Memangnya apa yang salah kalau masih jomblo sampai sekarang. Lagipula untuk ukuran seorang pria, umur 26 tahun belum terlalu tua. Papa mereka saja menikah umur 32 tahun. Itu sebabnya Aditya tidak punya rencana untuk memiliki kekasih ataupun menikah dalam waktu dekat.
"Anak tau apa soal memberi cucu." Cibir Aditya secara memainkan cepolan rambut Elia.
"Aku masih muda. Papa saja menikah umur 32 kalau kamu tidak lupa,," Ujarnya mengingatkan.
"Ya, aku masih ingat. Dan Mama menikah dengan Papa saat umurnya baru 20 tahun." Sambung Elia.
"Tapi lihat, umurku bahkan sudah 20 tahun dan belum pernah memiliki kekasih sama sekali. Bukankah Mama tidak adil padaku.?" Elia mengerucutkan bibir. Keluarganya selalu bilang di belum cukup umur untuk menjalin hubungan, padahal Mamanya menikah umur 20 tahun.
"Jangan berpikir seperti itu. Mama hanya berusaha melindungi kamu, setidaknya sampai kamu menyelesaikan kuliah."
Pernah mengalami patah hati, itu menjadi alasan kenapa Aditya bisa mengatakan kalau berkencan tidak ada manfaatnya. Dia hanya merasakan kebahagiaan sesaat karna cinta, tapi luka yang di dapatkan cukup besar dan butuh waktu lama menyembuhkannya.
...*****...
Duduk di tepi pantai. Elia meletakkan kedua tangan ke belakang untuk menopang tubuhnya. Kepalanya mendongak, dia memejamkan mata dan menikmati deru ombak yang mampu menenangkan jiwa.
Hembusan angin laut bertiup kencang, menyapu wajah Elia yang tampak damai.
Dalam cahaya temaram, Aditya bisa menangkap wajah damai Elia yang tengah menikmati gemuruh ombak dan hembusan angin yang menyejukkan.
Tanpa sadar sudut bibir Aditya terangkat. Tatapannya tak beralih sedikitpun dari wajah cantik Elia. Hatinya menghangat, ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat Elia begitu menikmati suasana pantai di malam hari.
"Ini benar-benar menenangkan,," Ujar Elia tanpa membuka mata. Padahal ini bukan kali pertama Elia menikmati suasana pantai pada saat malam hari. Tapi ketenangan dan kedamaian yang dia rasakan setiap kali menikmati suasana seperti ini, membuat Elia selalu merasa takjub.
"Jangan terlalu lama, udaranya semakin dingin." Seloroh Aditya. Dia meluruskan pandangan sebelum Elia membuka mata dan menoleh padanya.
"Rasanya tidak ingin kembali ke resort. Bagaimana kalau tidur disini saja.?" Ujar Elia sembari menahan tawa. Dia tau akan seperti apa reaksi Aditya setelah mendengar ajakan konyolnya.
Dengan lirikan tajam, Aditya menatao Elia.
"Mau di gulung ombak.?" Ucapnya datar.
Elia menyengir kuda.
"Aku hanya bercanda. Ayo ke resort,," Elia berdiri, dia menepuk-nepuk tubuh belakangnya untuk membersihkan pasir yang menempel.
Aditya juga beranjak dari duduknya dan melakukan hal yang sama seperti Arumi.
Mereka kembali ke resort setelah makan malam dan beberapa jam menikmati udara malam di pantai.
Sampainya di resort, Aditya mengunci pintu dan memastikan semua jendela terkunci. Meskipun resortnya di fasilitasi keamanan, Aditya tetap harus memastikan resortnya tidak di masuki orang lain.
"Kenapa tidak ke kamar mu.?" Aditya menatap Elia heran. Adiknya itu masih duduk di sofa sejak tadi dan ikut berdiri begitu melihatnya selesai mengecek jendela.
"Takut,," Jawabnya dan tersenyum manis penuh arti. Aditya sudah paham arti senyum itu.
"Aku mau tidur sama,,"
"Tidak ada tidur satu kamar, kamu harus tidur di kamarmu sendiri." Potong Aditya cepat.
"Ayo, aku antar kamu ke kamar." Aditya menggandeng tangan Elia dan membawa adiknya itu ke kamar. Elia hanya bisa cemberut, tapi sesekali masih berusaha membujuk sang Kakak agar di ijinkan tidur di kamarnya.
"Ganti baju dulu sebelum tidur." Pesan Aditya dan beranjak untuk keluar dari kamar Elia.
"Kamar Kakak jangan dikunci, kalau sesuatu terjadi di kamarku, aku bisa lari ke kamar Kakak." Tuturnya kemudian terkekeh kecil.
Tak mau berdebat, Aditya memilih menganggukkan kepala.
"Setelah ini langsung tidur, sudah malam." Ujarnya sebelum keluar dan menutup pintu kamar Arumi.