My beloved sister

My beloved sister
Bab 19



2 tahun berlalu,,,,


Di bawah kepemimpinan Aditya perusahaan berkembang dengan saat pesan. Pria yang kini berusia 26 tahun itu cukup di kenal di dalam dunia pebisnis sebagai CEO termuda dengan kemampuan memimpin perusahaan yang cukup baik dan hebat. Kepintarannya dalam bidang bisnis melebihi Dave, Papanya sendiri.


Namun Dave ikut andil atas segala pencapaian besar yang di dapatkan putranya. Sejak kecil Aditya sudah di didik untuk menjadi seorang pebisnis. Dave memberikan pendidikan dan les privat tentang bisnis pada Aditya. Sadar jika perusahaannya hanya akan jatuh ke tangan Aditya sebagai ahli waris, jadi sebisa mungkin Dave mendidik Aditya agar layak menjadi pemimpin.


Namun semua pencapaian dan kesuksesan yang di dapatkan Aditya, berbanding terbalik dengan kisah percintaannya. Sampai detik ini, Aditya belum menemukan sosok wanita yang bisa mengobati luka di hatinya dari kisah masa lalu.


Dia menjadi dingin dengan wanita manapun sejak saat itu. Wanita di luar sana pun merasa segan untuk mendekatinya.


Pintu ruangannya tiba-tiba di buka, Aditya mengalihkan tatapannya yang sejak tadi fokus pada layar laptop.


Dari balik pintu muncul sosok wanita cantik dengan senyum yang merekah sempurna.


Hanya wanita itu yang berani masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Siapa lagi kalau bukan adiknya, Elia.


Tidak di rumah, tidak di kantor, selalu saja menyelonong masuk.


"Kak,,, sedang sibuk ya.?" Elia dengan cepat menghampiri Aditya dan duduk di depan meja kerjanya.


Aditya menatap arloji di pergelangan tangannya, baru pukul 11 siang tapi adiknya yang seharusnya masih di kampus, kini sudah keluyuran ke perusahaan.


Seketika dia menatap curiga pada Elia.


"Kamu bolos.?" Tuduhnya.


"Iishh,,!" Bibir Elia mengerucut, tidak terima di tuduh bolos kuliah.


"Kak Adit lupa bulan depan aku sudah semester 5." Tuturnya.


"Ayo kita liburan. Tahun kemarin saat aku libur semester, Kakak sangat sibuk jadi tidak mengajakku liburan." Wajah Elia cemberut mengingat libur semester tahun lalu yang hanya dia habiskan di rumah saja. Sedangkan dia tidak boleh pergi kemana-mana kalau tidak di temani Kakaknya.


"Aku lihat jadwal dulu, kalau tidak ada rapat penting dan perjalanan bisnis, nanti kita atur tanggalnya." Ujarnya berusaha untuk tidak mengecewakan Elia lagi kali ini.


Mata Elia berbinar, dia tau Kakaknya selalu berusaha untuk menuruti keinginannya.


"Kalau begitu cek jadwal sekarang saja. Aku ingin memilih lokasinya yang tepat sesuai waktu yang Kakak punya." Pintanya.


Aditya mengangguk patuh dan langsung menghubungi Milea untuk menanyakan jadwal 1 minggu ke depan.


"Bagaimana.?" Elia menatap antusias setelah Aditya memutuskan sambungan telfonnya dengan Milea.


"Lusa kita pergi, hanya 4 hari. Minggu depan ada kunjungan ke Prancis." Ujar Aditya hati-hati. Dia tau betul sifat adiknya, 4 hari tidak akan puas di gunakan berlibur bagi Elia. Itu terlalu cepat dan singkat.


"Hanya 4 hari.?" Elia tampak tidak semangat. Dia bingung mau pergi berlibur kemana dengan waktu 4 hari. Sudah pasti tidak bisa ke luar negeri, itu hanya akan memakan waktu di perjalanan.


"Pergi atau tidak sama sekali." Kata Aditya memberikan pilihan. Tentu saja Elia akan tetap memilih berlibur daripada tidak sama sekali.


40 menit di dalam ruangan Aditya, Elia duduk tenang di sofa tanpa mengganggu sang Kakak yang masih fokus bekerja.


Tak lama seseorang mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan dengan membawa makan siang yang di pesan Elia.


"Pesanannya sudah sampai Nona." Kata Milea dan bergegas menghampiri Elia.


"Terimakasih Kak." Elia menerima paper bag itu dan meletakkannya di atas meja.


"Aku juga pesan untuk Kak Milea, kita makan siang bersama ya." Ajaknya ramah.


Karna sering ke perusahaan untuk menemui sang Kakak, Elia jadi akrab dengan Milea. Apalagi pembawaan Elia yang baik pada semua karyawan di perusahaan, membuat Milea tidak sungkan pada Elia meski Elia anak dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


"Terimakasih Nona El,, tapi aku sudah membeli makan siang." Milea menolak halus. Seandainya belum membeli makan siang, sudah pasti dia tak akan menolak ajakan Elia.


"Berikan saja makanannya pada OB atau karyawan yang lain, Kak Milea makan ini saja." Kata Elia seraya melirik paper bag di atas meja.


Obrolan itu membuat Aditya beranjak dari duduknya, dia berjalan ke arah sofa sambil menggulung lengan kemejanya.


"Dia sudah beli makanan, jangan di paksa." Lerai Aditya dengan sura dan ekspresi datarnya.


"Tapi aku juga sudah beli untuk Kak Milea." Keluh Elia.


"Kakak makan dengan kita saja ya.?" Bujuknya pada Milea. Tak mau membuat masalah, Milea akhirnya menerima ajakan Elia.


Milea kemudian pamit keluar lebih dulu untuk memberikan makan siangnya pada OB.


"Kak Milea sangat cantik dan baik, apa Kakak tidak tertarik.?" Tanya Elia begitu Milea keluar dari ruangan.


Aditya melirik datar dengan sebelah alis terangkat. Menurutnya, itu adalah pertanyaan konyol.


"Biasa saja." Jawabnya acuh. 2 tahun bekerja dengan Milea, Aditya memang mengatakan yang sejujurnya. Sekalipun tidak pernah berfikir akan tertarik pada Milea, meski dia membenarkan kalau Milea wanita baik-baik.


Elia jadi kesal mendengar jawaban sang Kakak yang tidak memuaskan.


Jika Aditya tertarik pada Milea, Elia dengan senang hati akan mendukung dan merestui hubungan mereka. Melihat Kakaknya yang masih jomblo di usia ke 26 tahun, Elia merasa kasihan padanya.


"Sampai kapan Kakak akan sendiri dan dingin pada wanita. Jangan sampai aku yang menikah lebih dulu,," Goda Elia, dia sengaja meledek sang Kakak. Berharap Aditya akan terprovokasi oleh ejekannya dan akhirnya mulai berfikir untuk membuka hati pada Milea.


Tapi sayangnya ucapan Elia yang hanya sekedar candaan itu membuat Aditya berfikir kalau adiknya diam-diam memiliki kekasih.


"Jangan bilang kamu punya pacar.!" Tegasnya dengan tatapan menelisik.


"Dia berani mengajakmu menikah.?" Cecarnya lagi.


Elia menepuk jidatnya. Bagaimana bisa dia memiliki Kakak yang sangat over protective seperti itu.


"Kak Adit bercanda.? Aku bahkan tidak punya waktu untuk main dengan teman-temanku." Keluh Elia. Jangankan untuk berkencan, pergi dengan temannya saja harus laporan dan waktunya di batasi.


"Sekali saja aku melihatmu kencan, aku akan menghajarnya." Ancam Aditya. Elia makin cemberut, tapi memilih diam agar perdebatan itu tidak berlanjut.