My beloved sister

My beloved sister
Bab 32



Pagi iu suasana di kediaman Davina cukup ramai. Tidak seperti biasanya yang hanya di huni oleh 4 keluarga inti.


Davina dan Dave sedang kedatangan Farrel. Pria paruh baya berusia 47 tahun itu tak lain adalah Kakak tiri Davina sekaligus keponakan Dave.


Sudah belasan tahun lalu Farrel menetap di New York bersama keluarga kecilnya. Mendirikan perusahaan kecil-kecilan yang sekarang sudah berkembang.


Kini setelah 3 tahun, baru kali ini Farrel dan keluarganya menginjakkan kaki di Indonesia. Hari ini mereka sengaja datang untuk mengunjungi keluarga Davina. Terlebih kedua anaknya sedang libur semester, jadi punya banyak waktu untuk tinggal beberapa minggu di Indonesia.


Farrel menikah dengan Nabilla yang tak lain adik tingkat Davina saat di kampus.


Farrel dan Nabilla di karuniai dua anak yang cantik-cantik. Perpaduan Ferrel yang tampan dan Nabilla yang manis.


Jarak usia putri mereka hanya selisih 2 tahun saja, jadi terlihat seperti anak kembar.


Selly, putri pertama mereka berusia 22 tahun, beda 4 tahun dari Aditya. Wanita yang sejak kecil tinggal di New York itu memiliki kepribadian yang sedikit unik. Banyak bicara dan sulit akur dengan lawan jenis. Melihat pria seperti melihat musuh. Itu sebabnya dia tidak akrab dengan Aditya. Terlebih bagi Selly, pria seperti Aditya sangat menyebalkan karna terlalu cuek dan dingin. Dia paling anti dengan model pria seperti itu.


Untung saja Aditya sepupunya, jadi masih bisa di toleransi.


Berbeda dengan sang Kakak, putri kedua Farrel yang bernama Jihan memiliki kepribadian yang mirip seperti Elia. Apa lagi usia mereka sama, hanya beda 2 bulan saja. Jihan lahir lebih dulu dari Elia. Meski begitu, Elia dan Jihan tetap memiliki perbedaan. Jihan yang sejak lahir tinggal di New York dengan pergaulan yang terbilang bebas, tentu saja tidak sepolos Elia.


Gadis 20 tahun itu meskipun masih pera wan, tapi memiliki banyak mantan pacar. Sangat berbanding terbalik dengan Elia yang belum pernah berkencan.


"Jangan bohong.! Setidaknya kalau sekarang kamu jomblo, pasti punya mantan kan.?" Desak Jihan penasaran.


"Coba lihat, aku ingin tau seperti apa seleramu." Jihan ingin merebut ponsel dari tangan Elia, dia tidak percaya kalau di ponsel Elia tidak ada foto kekasih ataupun mantan kekasihnya.


"Ya ampun, apa gunanya aku bohong padamu." Sahut Elia serius. Jihan tidak tau saja kalau sampai detik ini kedua orang tua dan Kakaknya belum memberikan ijin untuk berkencan.


Seandainya Jihan tau, sepupunya itu pasti akan menertawakan nasibnya.


"Lebih baik tidak usah punya pacar El, nanti kamu seperti Jihan yang mirip orang gila kalau sedang bucin." Celetuk Selly di ujung ranjang. Sejak tadi Selly fokus dengan ponselnya, tapi ternyata ikut menyimak obrolan Elia dan Jihan.


"Aku tidak separah itu.!" Sahut Jihan membela diri.


Jangan sampai Elia tau dia akan sangat bucin pada pasangannya kalau sudah benar-benar cinta.


Tapi sepertinya nasib Jihan akan terus seperti itu jika dia selalu mendapatkan pria yang salah. Karna hubungannya selalu kandas setiap kali Jihan menolak kekasihnya untuk ber-cinta.


Walaupun bucin akut, Jihan masih cukup waras untuk mempertahankan kesuciannya. Satu-satunya harta yang paling berharga dalam dirinya. Jihan bisa seperti itu karna Nabilla selalu menasehati kedua putrinya agar tidak memberikan kesuciannya sebelum menikah.


"Sudah, aku tidak mau bahas pacar lagi." Ujar Elia malas.


"Lebih baik kita jalan-jalan saja. Aku mau mengajak kalian pergi ke kafe milik Kak Adit dan teman-temannya." Usulnya untuk menghindari cecaran pertanyaan dari Jihan soal pacar.


Sementara itu, di ruang keluarga ada Dave dan Farrel yang sedang serius membicarakan soal bisnis. Om dan keponakan itu seperti tidak punya topik pembicaraan lain karna selalu membahas tentang bisnis setiap kali bertemu.


Berbeda dengan istri-istri mereka, Davina dan Nabilla malah selalu membahas keluarga kecil mereka masing-masing. Membicarakan soal kegiatan anak-anak mereka dan apa saja yang mereka lakukan beberapa tahun kebelakang.


Kini Davina sedang berdiskusi dan meminta pendapat Nabilla soal perjodohan Aditya dengan Elia. Walapun Davina sudah sangat yakin untuk menikahkan keduanya suatu saat nanti, tapi dia ingin mendengar pendapat dari orang lain. Takut seandainya pemikirannya tidak baik di mata orang lain karna menikahkan anak kandung dan anak angkat.


"Sebenarnya tidak masalah kalau mereka dijodohkan, tapi kamu bicarakan baik-baik dulu dengan Aditya dan Elia." Ujar Nabilla memberi saran agar Davina tidak mengambil keputusan sepihak. Karna yang akan menjalani pernikahan adalah anak-anaknya, bukan Davina.


"Kalau mereka keberatan, atau salah satu dari mereka tidak setuju, kamu jangan memaksanya." Nabilla menasehati tanpa bermaksud menggurui iparnya itu. Lagipula sesuatu yang di paksakan terkadang berakhir menyakitkan. Nabilla tentu tidak mau melihat keponakannya terluka hanya karna sebuah keinginan orang tua mereka.


"Itu yang aku takutkan. Padahal aku bisa lebih tenang kalau Elia ada di bawah tanggungjawab Aditya sebagai suami Elia." Ujar Davina dengan raut wajah yang mulai serius. Pandangan matanya lurus kedepan, menatap kolam renang di depannya.


Dia merawat Elia sejak bayi itu masih merah, dan kini tumbuh menjadi gadis yang cantik. Davina tak pernah menganggap Elia anak angkat, dia memiliki cinta dan kasih sayang yang sama seperti halnya pada Aditya. Bagi Davina, Elia juga anak kandungnya meski tidak terlahir dari rahimnya.


Jadi tak heran kalau Davina tidak mau sembarangan melepaskan Elia untuk pria asing di luar sana yang belum pasti seperti apa sifat dan karakternya.


sedangkan Aditya, dia tau betul putranya pria baik-baik yang tidak akan mungkin menyakiti Elia.


"Tapi kamu juga harus ingat kalau mereka sudah dewasa. Mereka sudah bisa menentukan jalan hidupnya sendiri dan kamu tidak berhak mengatur hidup mereka."


"Aku bisa memahami kekhawatiran kamu, tapi biarkan mereka memilih sendiri pasangan hidupnya seandainya mereka tidak setuju di jodohkan." Tutur Nabilla seraya menepuk pelan bahu Davina.


Memang tidak ada salahnya kita sebagai orang tua menunjukkan apa yang terbaik untuk anak-anaknya. Tapi kita juga tidak bisa menutup mata kalau mereka hak atas hidupnya.


"Aku mengerti,," Sahut Davina yang terkesan pasrah.