
Elia bergelayut manja di lengan kekar Aditya. Gadis 20 tahun itu seperti akan di tinggal oleh pasangannya saja sampai tidak mau melepaskan tangan sang Kakak dari dekapannya. Beberapa kali Elia merengek, membujuk Aditya agar bersedia mengajaknya ikut serta ke Prancis.
Namun karna perjalanan bisnis itu cukup penting untuk mendapatkan kerja sama dengan perusahaan asing di sana, Aditya tidak bisa mengajak Elia begitu saja. Dia melarang Elia ikut dengannya dengan berbagai pertimbangan.
"Pokoknya aku mau ikut. Aku bisa menunggu di hotel kalau Kak Aditya sedang ada kerjaan di luar." Rengeknya tak mau tau. Aditya menghela nafas berat, dia sudah kehabisan kata-kata untuk bicara baik-baik dengan Elia dan menjelaskan situasinya.
"Kakakmu bukan pergi untuk liburan, jangan mengganggu pekerjaan, El. Lain kali saja kita liburan bersama ke Prancis." Lerai Dave pada akhirnya. Dia juga sudah pusing mendengar perdebatan kedua anaknya yang tak ada habisnya. Yang satu memaksa ikut, yang satu bersikeras menolaknya.
Bibir Elia mencebik, dekapannya perlahan mengendur dan melepaskan tangan Aditya. Elia kemudian bergeser mendekati Davina, mungkin berharap sang Mama bisa membantunya membujuk Aditya.
Namun belum sempat bicara untuk meminta bantuan, dia harus menelan kekecewaan karna Davina menggelengkan kepala. Mamanya itu seolah sudah bisa membaca apa yang dia inginkan.
Aditya tampak menghela nafas lega karna kedua orang tuanya juga tidak ada yang mendukung Elia ikut dengannya. Padahal bisa saja Elia ikut, dan tidak akan menganggu pekerjaan Aditya sama sekali. Hanya saja, Aditya sedang menghindari berinteraksi terlalu intim dan sering dengan Elia.
Dia sudah bertekad untuk menghentikan perasaannya terhadap Elia agar tidak semakin melebar ke mana-mana.
...*****...
Pagi itu Aditya sedikit terlambat datang ke kantor. Dia jalan buru-buru ke ruangannya. Kebetulan dia harus melewati meja Milea yang terletak di samping ruang kerjanya.
Langkah Aditya semakin pelan ketika hampir melewati meja kerja Milea. Sekretaris pribadinya yang sudah menjadi kekasihnya sejak kemarin.
Aditya tidak mungkin mengabaikan Milea begitu saja, bagaimanapun dia yang sudah meminta Milea untuk berkencan dengannya.
Kalau sikapnya masih cuek seperti sebelumnya, Milea pasti akan bingung dan berfikir macam-macam tentangnya.
Sementara itu, Milea langsung berdiri dari duduknya ketika melihat Aditya lewat dan kini sudah berdiri tegap di depannya.
Milea sontak membungkuk hormat.
"Selamat pagi Tuan,," Sapanya sopan. Dia tetap bersikap seperti biasa, kayaknya sekretaris pada bosnya. Tanpa berniat mencampur adukan masalah pribadi di jam kerja. Milea jelas sangat tau batasan. Dia tidak akan merasa tinggi meski menjadi kekasih atasannya. Apalagi semua itu terjadi secara mendadak. Milea sebenarnya tau kalau Aditya tidak mencintainya. Tapi dia memilih menerima ajakan Aditya, dengan harapan suatu saat bisa memulai dari awal.
Lagipula wanita mana yang tidak mau berkencan dengan Aditya. Dia CEO muda, tampan, tidak pernah memiliki catatan buruk, dan tidak suka main wanita. Meski sikapnya terbilang dingin dan cuek, tapi itu bukan masalah besarbesar bagi Milea.
"Buatkan aku teh hangat, bawa ke ruang aku. Dan jangan lupa serahkan laporan yang aku minta kemarin." Ujar Aditya dengan tatapan intens.
Milea mengangguk patuh.
"Baik Tuan." Jawabannya sedikit gugup. Ternyata di tatapan intens oleh Aditya cukup memacu adrenalin. Membuat jantungnya berdetak kencang tak karuan.
Aditya kemudian berlalu, dia masuk ke dalam ruangannya hingga meninggalkan Milea yang berusaha keras menormalkan detak. jantungnya.
Wanita cantik itu reflek menggelengkan kepala saat tiba-tiba sebuah perasaan muncul di benaknya.
Tidak mungkin kan dia langsung mencintai Aditya dengan waktu yang sangat singkat.? Hanya karna Aditya mengajaknya berkencan.
Atau sebenarnya perasaan itu sudah lama ada di hati Milea, namun Milea tidak menyadarinya.
Bisa juga Milea tidak berani mengakui perasaan itu sebagai cinta karna merasa tak pantas memiliki perasaan pada bosnya itu.
...******...
Aditya menghentikan aktivitasnya ketika pintu ruangan di ketuk dan tak lama Milea masuk membawa secangkir teh hangat berserta dokumen di tangannya.
"Laporannya sudah selesai di revisi. Tuan cek lagi saja." Ujarnya.
Aditya mengangguk paham.
"Duduk,," Titahnya setelah menggeser laporan ke tepi meja.
Milea reflek melongo beberapa detik.
"Ya.?" Tanyanya.
"Kita perlu bicara." Tutur Aditya. Dia memperhatikan gesture Milea yang tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Sebenarnya Aditya juga merasakan hal yang sama, namun dia lebih pandai mengontrol diri di depan Milea.
"Baik,," Ucap Milea sembari mendudukan diri di depan Aditya. Kedua tangannya berapa di pangkuan, Milea memainkan jari jemarinya karna merasa semakin gugup.
"Aku tidak akan mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan. Semoga kamu juga begitu." Tutur Aditya dengan ekspresi serius.
Milea langsung mengangguk paham.
"Saya mengerti, Tuan." Ujarnya tanpa berani menatap mata Aditya.
"Aku juga tidak mau kita terlalu formal dan kaku. Jadi kamu bisa memanggil nama saja kalau kita sedang berdua." Tutur Aditya yang membuat Milea langsung membulatkan matanya karna terkejut.
Dia mana berani memanggil Aditya hanya dengan menyebut namanya saja.
Selain tidak berani, Milea merasa tidak sopan memanggil atasannya hanya menggunakan nama tanpa ada embel-embel Tuan di depannya.
"Tapi Tuan,, saya,,,"
Aditya langsung memotong ucapan Milea.
"Lakukan saja apa yang aku katakan.!" Ucapnya tegas.
Milea langsung terdiam, mana berani dia membatah lagi kalau Aditya sudah berucap tegas seperti itu.
Dengan terpaksa, Milea menyetujui permintaan Aditya. Dia hanya akan memanggil Aditya dengan nama saja jika sedang berdua. Sesuai permintaan Aditya.
Milea sadar itu akan sangat canggung, dan mungkin butuh waktu lama untuk membiasakan diri memanggil Aditya tanpa menyebut Tuan di depannya.
"Besok aku dan Jordan akan menjemputmu di apartemen. Kita berangkat ke bandara sama-sama." Ujar Aditya setelah diam beberapa saat.
"Apa tidak merepotkan.? Aku bisa naik taksi." Milea mencoba menolak tawaran Aditya karna merasa tidak enak jika di jemput langsung oleh atasannya.
"Aku tidak akan menawarkan diri kalau merasa di repotkan. Tunggu saja di lobby apartemen jam 8." Sahut Aditya. Dia menatap Milea tak habis pikir. Wanita itu selalu saja ingin menolak ataupun membantah ucapannya. Padahal apa susahnya tinggal menurut saja.
"Baik,, terimakasih."
"Saya permisi dulu." Milea beranjak dari duduknya. Aditya hanya mengangguk dan membiarkan Milea keluar dari ruangannya.
Nyatanya sikap mereka berdua masih sangat kaku. Jangankan disebut sepasang kekasih, dia sebut teman saja rasanya tidak cocok. Mereka lebih mirip orang asing yang bertemu untuk urusan pekerjaan saja.