
10 menit lagi, aku tunggu di depan kamar.
Aditya langsung mengirimkan pesan itu ke ponsel Milea. Pesan ambigu yang pastinya akan membuat Milea kebingungan ketika membacanya. Namun Aditya tak mau mengetik lebih jelas untuk mengatakan apa tujuannya. Mungkin lebih tepatnya dia gengsi.
Maaf Tuan, bukannya pertemuan dengan klien besok pagi.?
Selang 2 menit, sebuah balasan pesan dari Milea muncul di layar ponsel Aditya. Pria itu mendengus setelah membaca kata Tuan. Sudah di ingatkan berkali-kali, tapi tetap saja Milea memanggilnya seperti itu. Bagaimana hubungannya mau berjalan normal kalau selalu memposisikan diri sebagai atasan dan bawahan.
Siapa bilang aku mau mengajakmu bertemu klien.
7 menit lagi, aku tidak mau menunggu.
Selesai mengirimkan balasan, Aditya mengambil jaket kulit dan memakainya sambil berjalan keluar kamar. Udara di Paris ketika malam hari cukup dingin karna memasuki musim dingin.
Sementara itu, Milea kelimpungan sendiri di dalam kamarnya. Dia buru-buru bersiap, hanya sekedar merapikan rambut dan mengoleskan lipstik tipis di bibirnya. Tak lupa menyambar coat tebal untuk membalut tubuhnya yang tadinya hanya di balut dress selutut.
Milea kemudian bergegas keluar kamar.
Begitu juga dengan Aditya yang baru saja muncul di balik pintu kamar sebelah.
Sempat terdiam dan saling menatap beberapa detik, sampai akhirnya Aditya berdehem untuk mencairkan suasana.
"Makan malam di bawah." Tutur Aditya sembari mengunci pintu kamarnya.
Milea tertegun sesaat, tapi langsung tersadar ketikan melihat Aditya jalan mendekat ke arahnya.
"Baik,," Jawab Milea singkat, lalu mengunci pintu dan mengikuti langkah Aditya di sampingnya.
Mereka jalan beriringan tanpa suara, Aditya fokus berjalan. Berbeda dengan Milea yang tampak gugup dan sesekali melirik pria tampan itu.
"Emm,, Apa Pak Jordan tidak ikut makan malam.?" Lirih Milea karna ragu saat akan menanyakan hal itu. Tapi akhirnya tetap keluar juga dari mulutnya daripada penasaran.
Pertanyaan Milea sontak membuat Aditya melirik kesal tak habis pikir. Bisa-bisanya Milea menanyakan seseorang ikut atau tidak ketika mereka akan dinner berdua sebagai pasangan kekasih. Entah Milea hanya basa-basi atau memang tidak tau tujuan Aditya mengajaknya makan malam di luar.
"Milea,!" Panggil Aditya penuh penekanan tanpa membentak.
"Ii-iya.?" Milea tampak gugup lantaran panggilan Aditya di sertai dengan tatapan tajam yang sepertinya menembus sampai hati.
"Apa perlu aku jelaskan kenapa kita hanya makan malam berdua.?" Aditya kembali menekankan kalimatnya. Dia tampak geram sendiri karna Milea tidak tau maksudnya. Harusnya Milea paham sejak awal.
Milea menggeleng cepat. Entah karna sudah mengerti atau pura-pura mengerti agar tidak ada perdebatan lagi.
"Maaf Tuan, saya belum terbiasa." Ucapnya kemudian. Kepalanya tertunduk, menghindari tatapan mata Aditya yang terus menyasar wajahnya.
"Kalau begitu mulai biasakan tidak memanggil Tuan lagi. Kamu jadi sulit beradaptasi dengan hubungan kita." Gerutu Aditya.
Padahal sudah diingatkan berkali-kali, tapi masih saja memanggil Tuan dan bicara formal.
"Baik, saya akan berusaha." Milea menjawab patuh. Padahal bukan hal yang mudah untuk memanggil Aditya hanya menggunakan namanya saja. Pasalnya sudah 2 tahun terakhir Milea terbiasa memanggil Aditya dengan sebutan Tuan.
"Kamu bahkan masih menyebut dirimu dengan sebutan 'saya." Seloroh Aditya cepat.
Terlalu banyak kebiasaan Milea yang harus dia koreksi. Sepertinya tidak akan mudah menjalin hubungan dengan sekretarisnya itu.
...*****...
Dan sepertinya malam ini hanya akan menjadi dinner biasa tanpa kesan apapun selain kecanggungan yang masih kentara.
Kini mereka sedang menunggu makanan setelah memesannya beberapa menit lalu.
Milea mengarahkan pandangan ke luar dinding kaca yang memperlihatkan indahnya kota Paris dari ketinggian. Menara Eiffel juga tak luput dari pandangannya. Semuanya terlalu indah untuk di lewatkan. Meski sebenarnya ada yang lebih indah dari semua itu, yaitu momen romantis yang sia-sia.
Sementara itu, hal yang sama juga di lakukan oleh Aditya. Dia tampak menikmati pemandangan indah itu sembari bersandar dan menyilangkan kedua tangan di dada.
Tak lama terdengar suara dering ponsel hingga keduanya sempat saling menatap. Lalu kompak menatap ponsel milik Milea di atas meja.
Ada panggilan masuk dengan nama 'Ibu'. Aditya sempat membacanya sekilas sebelum Milea mengambil ponsel itu untuk mengangkatnya.
"Ya Bu,," Lirih Milea. Dia sempat melirik Aditya dengan canggung. Mungkin tidak enak karna harus menerima telfon di depannya.
Padahal Aditya tampak santai saja, tidak merasa terganggu sedikitpun melihat Milea menerima telfon. Malah pria itu terus menatap Milea karna penasaran apa yang akan dibicarakan oleh orang tua Milea. Pasti sesuatu yang sangat mendesak, karna menelfon tengah malam waktu Indonesia.
Mungkin di sana sekitar pukul 1 malam.
Benar saja dugaan Aditya. Dia semakin yakin ketika melihat raut wajah Milea yang berubah panik dan sendu. Matanya dengan cepat berkaca-kaca, membuat air matanya menggenang dan hampir menetes.
"Kenapa Ibu baru memberitahu sekarang.?" Tanya Milea dengan nada kecewa.
"Aku baru saja sampai di Prancis kemarin, tidak mungkin bisa pulang hari ini." Ucapnya putus asa.
Air matanya mulai menetes, Milea buru-buru menghapusnya.
"Minta pada pihak rumah sakit untuk melakukan operasi sekarang."
"Jangan khawatir soal itu. Aku akan segera mencari pinjaman."
Milea terus berbicara sembari menahan tangis.
Aditya masih diam di tempat, dia menahan diri untuk tidak menyela pembicaraan Milea dengan orang tuanya.
"Siapa yang sakit.?" Tanya Aditya begitu Milea mengakhiri sambungan telfonnya.
Bukannya menjawab, Milea malah menangis dengan menutupi wajah menggunakan kedua tangannya. Bahunya bergetar, Aditya tau Milea sedang menahan isak tangisnya hingga tanpa suara.
Perlahan Aditya menggeser kursinya ke samping Milea, dia merangkul bahu Milea menariknya dalam dekapan. Hatinya sedikit teriris melihat tangis pilu Milea.
"Katakan ada apa.?" Bujuk Aditya ketika merasakan tangis Milea mulai reda.
Wanita itu tadi sempat menolak saat akan di dekap oleh Aditya, tapi setelah itu malah terisak dalam dekapannya sampai akhirnya tangisnya mereda.
Milea memang sedang butuh sandaran dalam kondisi hancur seperti ini. Ayahnya sudah 4 hari di rawat di rumah sakit karna kecelakaan, tapi Ibunya baru mengabarinya sekarang, itupun karna kondisinya kritis dan harus segera di operasi.
Aditya menarik nafas berat setelah mendengar cerita dari Milea. Dia mengerti bagaimana kesedihan Milea mengetahui kondisi Ayahnya, belum lagi terhalang jarak yang membuat Milea tidak bisa menemuinya saat ini.
"Tanyakan di rumah sakit mana Ayahmu di rawat, aku akan menyuruh Jordan untuk mengurus administrasinya." Ucap Aditya tanpa keraguan sedikitpun. Milea sampai tertegun tak percaya. Semudah itu Aditya memberikan bantuan untuknya dalam jumlah yang tidak sedikit.
Aditya bukan tanpa alasan memberikan bantuan pada Milea. Apalagi menyangkut nyawa seseorang. Seandainya saat ini Milea belum menjadi kekasihnya sekalipun, Aditya pasti akan tetap membantunya.