
Aditya berdiri di balkon kamarnya yang menghadap ke halaman depan rumah.
Pria itu melihat arloji di tangannya, jam sudah menunjukkan pukul sengah 6 sore. Artinya sudah hampir 1 jam dia berdiri di balkon, menatap ke arah gerbang yang menjulang tinggi, menunggu pengendara mobil new lexus RX 350 kembali ke rumah setelah seharian pamit mengerjakan tugas kelompok di apartemen temannya.
Tak berselang lama, security keluar dari pos jaga dan membukakan gerbang yang menjulang tinggi itu. Daei kejauhan, Aditya menatap sebuah mobil mewah yang mulai memasuki halaman rumah.
Ekspresi wajahnya langsung berubah, kedua alisnya menukik tajam. Dia langsung beranjak dari balkon dan keluar dari kamarnya.
Sementara itu, Elia keluar dari mobilnya setelah memarkirkannya di garasi. Dia buru-buru masuk ke dalam rumah agar bisa segera mandi, menyegarkan badannya yang sudah berkeringat setelah seharian berada di luar dan tadi terjebak kemacetan hampir 1 jam. Ada kecelakaan beruntun di jalan raya yang menyebabkan kemacetan parah.
"Dari mana saja kamu.?" Suara bariton sang Kakak menghentikan langkah Elia yang baru selesai menaiki tangga.
Elia mengukir senyum, sikapnya pada Aditya masih sama seperti dulu meski sadar belakangan ini banyak perubahan dalam diri Aditya. Perubahan yang membuat Elia merasa bahwa Aditya seperti orang lain, pria itu tidak seperti Kakaknya yang dulu selalu bersikap lembut dan memanjakannya.
Elia merasa seperti orang bodoh yang tidak tau apa-apa tentang perubahan sikap Aditya padanya. Dia bahkan sering bertanya pada diri sendiri, kesalahan apa yang telah dia perbuat pada Aditya. Namun Elia tidak menemukan jawabannya karna merasa tidak pernah melakukan kesalahan. Tiba-tiba saja Aditya berubah sikap, dan tak jarang menghindar darinya.
"Dari apartemen Viona." Elia menjawab santai, walaupun tatapan mata Kakaknya sedikit tajam menelisik.
"Aku ke kamar dulu ya Kak, mau mandi." Pamit Elia, selain enggan berlama-lama melihat tatapan mata Aditya yang seperti sedang mencurigainya, Elia memang ingin buru-buru mandi karna badannya semakin berkeringat.
Tak ada jawaban dari Aditya, pria itu malah semakin menatap intens tubuh Elia dari atas sampai bawah, entah apa yang sedang dia cari.
Melihat sikap Aditya yang semakin aneh, Elia buru-buru masuk ke dalam kamarnya.
Melihat Elia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan buru-buru, tatapan mata Aditya malah semakin tajam. Dia beranjak, bukan ke kamarnya ataupun ke ruangan lain, tapi menyusul Elia ke dalam kamar adiknya itu.
Entah pikiran apa yang muncul di kepala Aditya sampai dia ingin menyusul Elia dan memastikan adiknya itu tidak habis pergi ataupun bersentuhan dengan pria di luar sana.
Pasalnya sejak Davina memberikan kebebasan pada Elia 2 bulan yang lalu, Elia sering pergi dan pulang sore. Walaupun mengaku hanya pergi dengan teman-teman wanitanya, tapi Aditya tidak percaya begitu saja. Aditya mencurigai Elia sudah memiliki kekasih, padahal dia tidak memiliki bukti apapun yang patut di curigai. Hanya mengandalkan prasangkanya saja.
Entah apa yang ada dalam pikiran Aditya saat ini. Tidak seharusnya Aditya menyelonong masuk ke kamar Elia di saat dia tau Elia akan mandi.
Kini pria itu malah mencari keberadaan Elia yang sudah pasti sedang berada di kamar mandi. Aditya mengetuk pintu kamar mandi tanpa berfikir lebih jauh. Elia pasti akan semakin merasa heran dengan sikapnya.
Mendengar pintu diketuk, Elia buru-buru menyambar handuk kimono. Dia membalut tubuh polosnya dan segera membuka pintu kamar mandi. Wanita yang baru bertelanjang bulat itu hanya mengeluarkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.
"Kak,, ada apa.?" Dahi Elia berkerut. Padahal saat bertemu di luar kamar, Aditya seperti enggan berbicara dengannya lagi, tapi sekarang malah menyusulnya ke dalam kamar sampai mengetuk pintu kamar mandi. Bagaimana Elia tidak merasa heran.
"Buka pintunya." Aditya mendorong pintu perlahan, Elia berusaha menahannya karna tidak mungkin membiarkan Aditya masuk ke dalam kamar mandi.
"Jangan. Sebenarnya Kak Adit mau apa.? Kita bicara nanti saja setelah aku mandi." Elia menahan pintu kamar mandi dengan tubuhnya. Tiba-tiba dia ketakutan pada Kakaknya sendiri.
"Tidak usah protes, cepat buka pintunya." Ujar Aditya tegas.
"Tapi aku cuma pakai handuk saja, Kak Aditya tidak boleh masuk kesini." Sahut Elia cemas. Tiba-tiba pikirannya mendadak kacau, dia takut Aditya akan berbuat yang tidak-tidak padanya meski terkesan mustahil. Tidak mungkin Aditya akan berbuat macam-macam pada adiknya sendiri. Begitu pikir Elia.
"Cepat bukan El.! Jangan sampai aku mendorong pintunya." Nada bicara Aditya terdengar tegas dan tidak mau di bantah lagi.
Elia akhirnya memberanikan diri membuka pintu kamar mandi lebih lebar, namun masih menyembunyikan tubuhnya di balik pintu.
Melihat ada celah yang cukup, Aditya langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia menutup pintu dan menguncinya.
Kedua mata Elia membelalak lebar, wajahnya mulai pucat karna merasakan tanda bahaya. Dia menggeleng cepat di depan Aditya, memberikan isyarat pada Kakaknya itu kalau apa yang sedang dia lakukan tidak benar.
"Kak,, jangan membuatku takut." Elia memberingsut mundur.
"Aku hanya ingin memastikan tubuhmu tidak di sentuh pria manapun." Sahut Aditya yang langsung mengunci tubuh Elia di dinding kamar mandi berlapis marmer itu.
"Kakak bicara apa.? Tidak ada pria yang menyentuhku selama ini." Elia berkata jujur.
Meski sudah di beri kebebasan untuk memiliki kekasih, tidak membuat Elia langsung dekat dengan pria di luar sana. Dia juga tidak mungkin sembarangan menjadikan pria sebagai kekasihnya. Selain Juno, belum ada pria lain yang membuat Elia merasa tertarik. Sayangnya Elia tau kalau sekarang Juno sudah memiliki kekasih.
Jadi Elia tidak berfikir untuk memiliki kekasih dalam waktu dekat. Dia sedang patah hati.
"Kalau begitu biar aku memastikannya sendiri." Tegas Aditya. Kedua tangannya langsung menyibak handuk kimono di kedua bahu Elia. Sontak Elia reflek menutupi dadanya dengan kedua tangan.
"Kakak tidak boleh seperti ini." Elia mencoba menyingkirkan kedua tangan Aditya.
"kamu lupa dulu kita sering mandi bersama. Hanya melihat saja tidak apa-apa." Ucap Aditya lirih. Nada bicaranya tidak setegas tadi, begitu juga dengan tatapan matanya. Meski masih tajam, tapi sama sekali tidak menyeramkan.
"Tapi tetap saja tidak boleh, kita sudah dewasa."
"Kalau Mama dan Papa tau, mereka pasti akan,,,"
"Sh-iitt,,,!" Umpat Aditya yang membuat Elia menghentikan ucapannya. Aditya juga langsung menjauh, lalu keluar dari kamar mandi tanpa mengatakan apapun lagi.
Elia menghela nafas lega setelah Aditya keluar dan menutup pintu kamar mandi. Jantungnya berdetak kencang tidak karuan sejak Aditya menyibak handuknya dan melempar tatapan aneh pada bagian dadanya.