
Di dalam ruangan milik pimpinan di salah satu gedung perkantoran Ibu Kota, tampak seorang pria tampan tengah duduk kursi kebesarannya dengan tatapan mata mengarah pada meja kerjanya. Dia tengah menatap jari telunjuknya yang terus mengetuk-ngetuk pinggiran meja sejak tadi. Dari ekspresi wajahnya yang datar, dan tatapan matanya yang serius namun menerawang, tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu yang cukup rumit. Sesuatu yang mampu menyita waktu dan pikirannya di tengah-tengah pekerjaannya yang menumpuk.
Berkas-berkas penting dari asisten pribadinya saja masih tergelak di atas meja, belum di sentuh sama sekali. Seharusnya dia memeriksa berkas-berkas itu dan membubuhkan tanda tangan mahalnya di sana. Alih-alih melakukan semua itu, dia justru melakukan hal yang sia-sia.
Sampai akhirnya suara ketukan pintu membuat lamunannya buyar. Dia reflek mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam. Ekspresi wajahnya sedikit kaget, baru sadar kalau dia membuang waktu berharganya hampir 30 menit tanpa melakukan apapun.
Seorang wanita kemudian masuk setelah tadi dia mengetuk pintu. Dia mengangguk sopan dihiasi senyum tipisnya yang tak pernah luntur. Meski masih ada sedikit kecanggungan dengan pimpinan barunya, namun wanita itu berusaha bersikap tenang dan selalu membiasakan tersenyum padanya meski terkadang tidak di tanggapi.
"Maaf Tuan, Pak Jordan menyuruh saya mengambil berkas-berkasnya. Apa sudah selesai.?" Tanya si sekretaris dengan sopan. Dia berdiri di depan meja kerja bosnya tanpa berniat duduk sebelum di suruh.
Bukannya menjawab pertanyaan sekretaris pribadinya, Aditya malah menatap Milea dengan tatapan aneh yang sulit di artikan. Tatapan yang sedikit tajam, tapi tidak ada kemarah di dalamnya.
Entah apa yang di pikirkan oleh Aditya ketika dia menatap lekat wajah Milea.
Sampai sekretaris cantik itu semakin bingung dan mulai salah tingkah mendapat tatapan seperti itu dari bosnya.
"Tu-ttuan,,?" Panggil Milea terbata. Sudah pasti karna dia merasa sangat gugup setelah di tatap lekat hampir 2 menit, dan tanpa ada obrolan apapun.
Jelas itu pertama kalinya bagi Milea. Biasanya Aditya hanya menatapnya sekilas. Bahkan ketika Milea sedang menjelaskan sesuatu atupun membacakan jadwal, Aditya lebih asik menatap ke arah lain, alih-alih menatap lawan bicaranya.
"Mau berkencan denganku tidak.?" Ucap Aditya datar. Setelahnya, dia malah merutuki dirinya sendiri karna melontarkan tawaran konyol pada Milea.
Apalagi ketika melihat reaksi wanita yang baru dia ajak kencan. Kedua mata Milea membulat sempurna, mulutnya menganga, tapi sedetik kemudian langsung menutupnya dengan tangan.
Ekspresi kaget Milea sudah seperti melihat hantu saja.
Tapi wajar saja kalau reaksi Milea seperti itu. Bayangkan saja, selama 2 tahun bekerja dengan Aditya, sekalipun belum pernah membicarakan hal yang sifatnya pribadi. Tidak pernah pergi berdua kalau bukan urusan pekerjaan.
Komunikasi mereka juga masih kaku. Milea meskipun sering menelfon atau mengirimkan pesan pada Aditya, tapi bukan berarti mereka berkomunikasi dengan baik. Karna Milea hanya membahas soal perkejaan.
Bengong beberapa saat, Milea masih tidak percaya kalau bosnya itu baru saja mengajaknya berkencan. Kenapa tiba-tiba.? Itu yang membingungkan. Tidak mungkin juga kan kalau diam-diam bosnya itu menaruh perasaan padanya. Milea langsung menggelengkan kepalanya setelah bermonolog dengan dirinya sendiri. Yang ada dia semakin gugup dan terkejut tak karuan.
"Ma-maksud Tuan bagaimana.?" Tanya Milea setelah berhasil mengurangi keterkejutannya.
"Aku tidak pernah mengulangi ucapanku." Lanjutnya tegas.
"Tapi kenapa tiba-tiba.?" Milea kembali bertanya. Ekspresi wajahnya menunjukkan kalau dia sangat bingung. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba bosnya yang selama ini cuek padanya malah mengajak berkencan. Entah apa tujuannya.
"Kamu tinggal jawab saja, mau atau tidak." Ujar Aditya tak sabaran. Dia butuh jawaban sekarang dari Milea agar bisa memikirkan langkah kedepan seandainya Milea mau berkencan dengannya.
Yang di desak seperti itu malah semakin bingung dan sulit menentukan jawaban. Justru membuat pikirannya terus berkecambuk, banyak pertanyaan yang mucul mengenai ajakan Aditya yang random itu. Padahal niatnya masuk ke ruangan Aditya cuma untuk mengambil berkas, tapi malah di ajak berkencan.
...******...
Pintu ruangan Aditya baru saja di tutup oleh Milea yang pamit keluar. Wanita itu belum memberikan jawaban pasti mengenai ajakan Aditya untuk berkencan. Sekretaris pribadinya itu hanya mengatakan akan mempertimbangkan dulu ajakan Aditya. Sebenarnya Aditya sudah mendesak Milea agar memberikan jawabannya saat itu juga, tapi ini adalah tawaran kencan orang dewasa, mana mungkin Milea akan langsung menerimanya tanpa memikirkan matang-matang.
Aditya juga sebenarnya bisa memahami keputusan Milea untuk mempertimbangkannya lebih dulu. Karna ajakan berkencan itu sangat mendadak. Tanpa ada proses pendekatan lebih dulu sebelumnya. Seperti yang biasa dilakukan orang-orang sebelum berkencan.
"Apa aku sudah tidak waras.?" Aditya bergumam mencibir dirinya sendiri lantaran mendadak mengajak sekretaris pribadinya untuk berkencan. Entah ide gila dari mana sampai dia bisa berfikir berkencan dengan Milea agar bisa menghapus perasaan anehnya pada Elia.
Ya, itulah alasan di balik pertanyaan Aditya yang mengajak Milea berkencan.
karna Aditya semakin menyadari ada perasaan yang salah dalam hatinya ketika menatap Elia, adiknya sendiri. Perasaan yang tidak seharusnya ada, karna sejak kecil mereka sudah hidup bersama sebagai kakak dan adik. Aditya enggan membuat perasaannya terhadap Elia semakin berkembang. Dia harus menghapus perasaan itu secepat mungkin sebelum terlambat. Karna baginya, Elia hanya akan menjadi adiknya sampai kapanpun.
...******...
Sementara itu di , Elia sedang menunjukan foto-foto liburannya saat di Bali pada Mauren dan Viona. Reaksi Mauren dan Viona seperti heran, terkadang keduanya kompak geleng-geleng kepala melihat foto-foto di ponsel Elia.
"Aku rasa kalian lebih mirip seperti sepasang kekasih daripada kakak beradik,," Komentar Mauren tepat setelah melihat foto selvi Arumi di tepi pantai sedang memeluk leher Aditya dari belakang. Ekspresi Aditya sudah pasti datar, meski tidak melunturkan ketampanannya. Sedangkan Elia, gadis itu tersenyum ceria dengan dagu yang di letakkan di bahu Aditya.
"Benar sekali." Viona langsung mengangguk setuju. Komentar Mauren memiliki alasan yang cukup kuat. Bahkan Viona sempat bergumam dalam hati kalau Elia dan Aditya memiliki chemistry sebagai pasangan kekasih. Namun baik Mauren dan Viona, keduanya tidak berfikir terlalu jauh soal pandangan mereka mengenai kecocokan Aditya dan Elia sebagai kekasih. Karna yang mereka tau, Elia adalah adik kandung Aditya. Jadi tidak ada alasan untuk berfikir lebih jauh lagi.
"Ya anggap saja Kak Adit kekasihku, karna aku sangat ingin memeliki kekasih dan liburan bersama." Gumam Arumi dengan kedua tangan menjadi tumpuan dagunya. Dia membayangkan seandainya punya kekasih dan bisa liburan bersama seperti itu. Pasti sangat menyenangkan.