
Menjalani hubungan dengan perasaan yang bahkan belum bisa dia pahami, Aditya hanya berusaha menjalani kisahnya dengan Milea layaknya air yang mengalir. Mencoba merajut kisah layaknya pasangan kekasih pada umumnya. Karna tidak mau menyakiti hati Milea. Sebab, Aditya yang telah menyeret Milea dalam hubungan itu.
4 bulan berlalu, hubungan keduanya mengalami banyak kemajuan. Sudah tidak ada kecanggungan diantara mereka. Milea juga tidak ragu-ragu menceritakan kisah hidupnya pada Aditya. Apalagi Aditya selalu menjadi pendengar yang baik, membuat Milea semakin nyaman berkeluh kesah pada pria tersebut.
Sama halnya dengan Aditya, dia juga tidak segan banyak bicara pada Milea dan terkadang membicarakan hal-hal random pada wanita itu.
Sikapnya tidak lagi kaku, mungkin karna sudah bisa dengan hubungan yang terjalin beberapa bulan terakhir. Walaupun pada kenyataannya, Aditya tidak bisa menjamin perasaannya terhadap Milea.
Siang ini mereka sedang makan berdua di ruangan Aditya. 2 bulan belakangan, Aditya dan Milea rajin makan siang berdua di dalam ruang kerja Aditya. Mungkin itu juga yang membuat hubungan keduanya jadi semakin intens.
"Kenapa.? Makanannya tidak enak.?" Tanya Aditya lantaran Milea tiba-tiba berhenti makan.
Milea menggeleng pelan.
"Perutku sakit, sepertinya maagnya kambuh." Ujarnya dengan sebelah tangan memegangi perut, wajahnya juga tampak pucat. Dengan pelipis yang mulai berkeringat.
"Kamu punya maag.?" Aditya menatap serius. Selama 2 tahun lebih bekerja dengan Milea, dia tidak pernah melihat Milea mengeluh sakit perut. Baru kali ini dia melihatnya dan Milea mengaku sakit maag.
"Aku hanya menduga saja, sakitnya baru akhir-akhir ini." Jawaban Milea tidak pasti dan itu membuat Aditya menautkan alisnya.
Milea hanya,menduga-duga sendiri tentang sakit perutnya, berarti dia belum pernah memeriksakan diri ke dokter.
"Jangan menyepelekan hal semacam itu. Ayo ke rumah sakit sekarang.!" Aditya menyambar air mineral dan meneguknya untuk mengakhiri makan siangnya.
"Tidak apa, aku bisa menahannya. Kamu habiskan saja makanannya." Milea menolak karna Aditya juga belum selesai makan siang.
"Aku tidak suka di bantah. Kita ke rumah sakit sekarang." Aditya beranjak dari duduknya dan menyambar kunci mobil di atas meja kerjanya.
Milea terpaksa mengikuti kemauan Aditya karna tidak di biarkan menolak ajakannya.
...******...
Mobil milik Aditya berhenti di basement apartemen Milea. Mereka baru saja kembali dari rumah sakit setelah memeriksakan kondisi Milea.
Aditya memutuskan mengantar Milea pulang agar kekasihnya itu bisa beristirahat.
"Kamu yakin hanya sakit maag.?" Pertanyaan seperti itu sudah 3 kali di lontaran Aditya pada Milea. Tadi dia tidak ikut masuk ke ruang pemeriksaan karna harus menerima telfon penting. Begitu selesai menerima telfon dan akan masuk ke ruang pemeriksaan, Milea sudah selesai di periksa.
Milea mengangguk kecil.
"Dokter yang bilang begitu. Dia tidak mungkin bohong kan." Jawab Milea seraya melepaskan seatbelt dan membuka pintu mobil.
Aditya menghela nafas pelan, dia tidak puas dengan jawaban Milea. Bukan tidak percaya dengan diagnosa dokter, tapi melihat banyaknya obat yang harus di tebus, rasanya sulit di percaya kalau Milea hanya sakit maag.
tokk,, tokk,, tokk,,
Lamunan Aditya buyar ketika Milea mengetuk kaca jendela dari luar. Aditya buru-buru menurunkan kaca jendela.
"Langsung kembali ke kantor.?" Tanya Milea lantaran Aditya tidak kunjung keluar dari mobil.
"Aku antar sampai ke dalam." Aditya bergegas membuka pintu dan keluar dari mobil. Mana mungkin dia hanya mengantar Milea sampai di basement saja, apalagi kondisi Milea yang jelas sedang tidak sehat.
Keduanya sudah sampai di depan pintu apartemen Milea. Wanita itu merogoh tas untuk mengambil kunci apartemen.
"Aku mengerti. Terimakasih sudah memperhatikan ku,," Ucap Milea yang tiba-tiba menghambur ke pelukan Aditya, memeluk erat seakan enggan untuk di lepaskan.
Aditya membalas pelukan Milea seraya mengusap pelan punggung Milea. Dia sudah tidak kaget lagi mendapat pelukan mendadak dari Milea. Wanita itu biasa melakukannya untuk mengekspresikan rasa terimakasihnya atas semua kebaikan yang dilakukan Aditya padanya.
"Cepat sembuh. Pastikan kamu tidak telat makan." Ujar Aditya seraya melepaskan pelukan Milea.
"Aku harus ke kembali ke kantor."
Milea mengangguk paham.
"Hati-hati di jalan." Ucapnya dengan senyum manis yang merekah. Senyum itu selalu terbit setiap kali Milea selesai memeluk Aditya. Sepertinya pelukan itu cukup memberikan efek luar biasa bagi Milea, sampai-sampai membuatnya terlihat sangat bahagia.
...******...
1 minggu kemudian,,,
Davina dan Dave sedang menunggu Aditya pulang. Putranya itu tadi sore pamit pergi dan sudah pukul 11 malam belum kembali.
Tidak biasanya Aditya pulang lebih dari jam 11 malam meskipun sekarang malam minggu.
Davina sudah menghubungi putranya itu agar cepat pulang karna ada yang ingin dia bicarakan.
Sayangnya ponsel Aditya mati, Davina tidak bisa menghubungi putranya itu.
"Masih ada hari esok sayang, sebaiknya kita tidur saja." Bujuk Dave. Dia tau Davina tidak akan mendengarkan perkataannya karna sudah sangat lama Davina menahan diri untuk tidak membicarakan soal perjodohan itu.
Kini Davina merasa sudah waktunya dia harus bicara dengan putranya. Lagipula 1 setengah tahun lagi Elia akan lulus kuliah, jadi Aditya harus tau kalau sebentar lagi dia akan dinikahkan dengan Elia.
"Sepertinya Aditya sudah pulang." Ujar Davina ketika mendengar suara derap langkah yang semakin mendekat.
Benar saja, tak lama Aditya muncul melawati ruang keluarga. Davina langsung memanggilnya.
"Ada apa Mah. Pah.?" Dahi Aditya berkerut. Dia menduga ada hal penting yang akan di bicarakan oleh kedua orang tuanya. Karna mereka berdua terlihat sengaja menunggunya pulang.
"Duduk dulu, ada yang ingin Mama mu bicarakan." Ucap Dave.
Aditya kemudian duduk di depan kedua orang tuanya.
"Aditya,, kamu tidak lupa kalau Elia bukan anak kami kan.?" Ujar Davina lirih.
Aditya mengangguk.
"Aku tidak akan lupa. Apa Mama dan Papa berniat memberitahu Elia.?" Tanyanya raut wajah cemas. Aditya tentu tidak setuju karna memikirkan perasaan Elia yang pastinya akan hancur jika mengetahui fakta itu.
"Mama memang ingin memberitahu Elia, tapi akan menunggu waktu yang tepat. Bagaimana pun dia harus tau bahwa ada dua orang yang mencintainya lebih dari kita mencintai Elia." Tutur Davina.
Aditya tampak diam merenungi perkataan Mamanya. Apa yang di katakan Davina memang benar, Elia tetap harus tau bahwa dia memiliki orang tua yang memperjuangkan hidupnya.
"Aditya, sebenarnya Mama ingin kamu menikah dengan Elia" Ucap Davina dengan tatapan penuh harap.
Aditya tertegun, dia tampak tidak percaya sangat Mama baru saja meminta hal yang tak masuk akal.