
"Kalian selesaikan makan siangnya, Papa ada urusan dengan Mama kalian." Ucap Dave seraya menaikan sebelah alisnya pada Davina, membuat istrinya itu melotot cemas. Dia sana ada kedua anaknya, tapi Dave bertingkah seperti aneh seperti itu.
"Pada dan Mama mau pergi.?" Elia bertanya dengan polosnya. Menganggap urusan yang di maksud oleh Papanya adalah urusan lain di luar rumah. Otaknya yang masih polos dan suci itu belum terkontaminasi dengan hal-hal kotor, jadi tidak berfikir jauh sampai kesana.
Berbeda dengan Aditya, walaupun sejak tadi pria itu terlihat fokus pada makanannya, tapi Aditya melihat gerak-gerik kedua orang tuanya yang mencurigakan. Terlebih saat Dave bersisik pada Davina, entah apa yang di bisikan oleh sang Papa pada Mamanya. Yang jelas Aditya melihat wajah sang Mama merona.
"Tidak, hanya urusan kecil. Ayo sayang,," Dave menggandeng tangan Davina. Mau tidak mau, Davina harus beranjak dari sana karna kesalahannya sendiri yang telah memancing gairah Dave.
Elia terkekeh kecil melihat tingkah aneh kedua orang tuanya. Meski begitu, Elia cukup bahagia dengan keharmonisan kedua orang tuanya yang masih sama seperti dulu. Bertambahnya usia tidak membuat Davina dan Dave berhenti bersikap romantis, sekalipun dilakukan di depan kedua anaknya.
"El, temani Kakakmu sampai selesai makan." Titah Davina sebelum beranjak dari duduknya.
"Iya Mah," Elia mengangguk patuh.
Kini kedua orang tuanya sudah pergi dari ruang makan, meninggal Elia dan Aditya berdua di sana.
Suasana hening selepas Dave dan Davina pergi dari sana. Aditya kembali fokus menyantap makanannya yang hampir habis. Elia hanya melirik tanpa berani bicara padanya. Dia sedikit takut melihat ekspresi wajah Aditya yang datar dan kaku.
Cukup lama tidak ada suara, sampai Aditya selesai makan dan meneguk air minum. Dia meletakkan gelas itu sembari menatap Elia.
"Kenapa kamu sangat ingin melanggar peraturan.?" Aditya berucap pelan, meski kecewa dengan tindakan Elia di luar sana, tapi Aditya tidak berani membentak atau marah-marah pada adiknya itu.
Kejadian di kafe saat bersikap tegas pada Elia hanya spontanitas saja karna Aditya terkejut melihat seorang laki-laki menyentuh Elia.
Elia menatap Kakaknya, bibirnya mengerucut sedih.
"Aku ingin seperti teman-temanku yang lain Kak." Eli mendekat, dia malah memeluk Aditya dan menangis di sana.
"Maaf sudah melanggarnya, aku janji tidak akan melakukannya lagi." Elia berjanji di sela-sela isak tangisnya.
Aditya membalas pelukan Elia, dia mengusap sayang punggung Elia menggunakan telapak tangannya yang lebar.
"El, dengarkan ini baik-baik." Aditya berucap lirih namun menekankan kalimatnya.
"Kami melakukan semua ini demi kebaikanmu, karna kami sayang dan mengkhawatirkanmu."
"Apa kamu tidak bisa merasakan bagaimana Mama dan Papa sangat menyayangimu.? Mereka akan sangat bersalah kalau gagal menjagamu dengan baik." Tutur Aditya lembut, dia berharap Elia mengerti maksudnya dan tidak menaruh kebencian pada keluarganya sendiri karna sudah membatasi ruang gerak Elia dalam bergaul.
"Hanya Papa dan Mama saja yang menyayangiku.? Kak Adit tidak sayang padaku.?" Elia mendongak untuk menatap wajah tampan sang Kakak yang memiliki perpaduan wajah Davina dan Dave. Berbeda dengan dirinya yang tidak memiliki kemiripan sedikitpun dengan kedua orang tua mereka, dan hal itu pernah membuat Elia berfikir kalau dia bukan anak Dave dan Davina. Namun melihat sikap dan kasih sayang mereka yang begitu tulus, Elia jadi menyesal pernah memiliki pikiran buruk seperti itu.
"Kamu bercanda.? Mana mungkin aku tidak menyayangimu.!" Aditya mencubit gemas hidung Elia dan menariknya main-main sembari terkekeh. Wajah Elia terlihat sangat lucu ketika dia menarik hidungnya.
"Kak, sakit.!" Rengek Elia sambil mengusap pelan hidungnya.
"Tapi Kak, apa Kakak tidak kasihan padaku.? Umurku sudah 18 tahun, tapi sekalipun tidak pernah pacaran." Elia memasang wajah memelas, dia berharap Aditya akan sedikit luluh meski tau itu sangat mustahil.
"Ada waktunya Elia, ingat pesan Mama dan Papa." Ujar Aditya mengingatkan. Elia mendesis kesal.
Surat ijin pacarannya baru bisa keluar 4 tahun lagi, tepatnya setelah dia menyelesaikan kuliah.
Bayangkan saja selama apa Elia harus bersabar, sekarang Elia baru masuk kuliah.
"Sebenarnya kalian takut aku kenapa-napa atau ingin menjadikanku jomblo abadi.?" Keluh Elia seraya menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Menurut saja, jangan jadi pembangkang." Aditya mengacak gemas pucuk kepala Elia.
...******...
1 bulan berlalu, pagi ini Aditya akan menggantikan posisi Dave sebagai pemimpin perusahaan yang baru. Aditya datang ke perusahaan bersama sang Papa. Dave sudah mengumpulkan semua petinggi perusahaan dan beberapa karyawan yang memiliki jabatan penting di sana.
Kedatangan putra pewaris perusahaan itu cukup menggemparkan seluruh karyawan, terutama karyawan wanita. Mereka menatap takjub dan kagum pada sosok Aditya yang gagah dan tampan.
Padahal mereka sudah membayangkan sebelumnya akan seperti apa wujud Aditya, mengingat pemimpin sebelumnya juga memiliki paras yang tampan, mereka sudah memprediksi kalau keturunannya juga sama tampannya dengan Dave.
Tapi rupanya sosok Aditya di luar prediksi dan bayangan mereka. Aditya jauh lebih tampan dari yang mereka bayangkan. Wajar saja kalau mereka melongo melihat kedatangan Aditya di perusahaan.
"Astaga, bagaimana bisa ada manusia setampan itu." Puji salah satu karyawan wanita penuh kekaguman. Aditya mirip aktor-aktor tampan di drama Korea. Walaupun kulitnya tidak seputih aktor-aktor itu, tapi sangat bersih dan terlihat sangat terawat.
Mereka tidak heran jika Aditya melakukan perawatan mahal untuk tubuhnya, mengingat uang orang tuanya tidak berseri.
"Milea akan jadi wanita paling beruntung di perusahaan ini." Sambung karyawan yang lain dengan nada menyedihkan karna iri pada sosok Milea.
"Benar sekali,,"
"Ya, kau benar."
"Ah,, aku sangat iri pada Milea."
"Bagaimana caranya menggantikan posisi Milea."
Berbagai komentar di layangkan oleh karyawan yang sedang berkerumun di ruang divisi keuangan. Mereka membicarakan Milea, gadis muda berusia 23 tahun yang nantinya bisa berinteraksi dengan Aditya setiap hati.
...*****...
"Kalian pasti sudah tau kenapa di kumpulkan di sini." Ucap Dave penuh kewibawaan dan aura pemimpin yang tegas. Dia sedang bicara di hadapan puluhan pejabat perusahaan.
"Usia saya sudah tidak muda lagi, sudah seharusnya perusahaan ini memiliki pemimpin yang masih muda untuk lebih di kembangkan lagi dengan ide-ide segar dan cemerlangnya."
"Hari ini saya menyatakan mundur dari jabatan sebagai CEO dan menyerahkan tugas serta tanggung jawab perusahaan pada putra saya." Tegas Dave seraya melirik Aditya yang duduk di sampingnya.
"Aditya akan menggantikan posisi saya sebagai CEO sekaligus pemimpin perusahaan." Ucap Dave lantang.
Semua orang di dalam ruangan itu berdiri dan memberikan penghormatan pada Aditya dengan membungkukkan badan.
Aditya lantas berdiri, dia ikut membungkuk sopan pada semua orang yang ada di dalam ruangan.
Semua mata tentu saja tertuju padanya.
"Saya akan menggantikan posisi Tuan Dave, mohon bimbingannya." Ucap Dave ramah.
Semua orang tampak menerima keputusan Dave.
Mereka tidak keberatan perusahaan itu memiliki pemimpin yang masih sangat muda.