
Semua orang tampak tidak sabar menunggu kedatangan Aditya yang katanya akan mengenalkan kekasihnya pada mereka.
Sebagai orang tua, Davina dan Dave sudah pasti sangat penasaran dengan sosok wanita tersebut.
Mereka ingin tau wanita seperti apa yang bisa meluluhkan dinginnya hati putra mereka.
Pasalnya sampai usia putra mereka hampir menginjak 28 tahun, sekalipun belum pernah membawa wanita ke rumah untuk di kenalkan pada mereka.
Tidak hanya Davina dan Dave saja yang di buat penasaran, Elia juga ingin tau seperti apa wanita pilihan Kakaknya. Dia tentu berharap wanita pilihan Aditya adalah wanita baik-baik.
"Kenapa lama sekali.? Apa terjebak macet.?" Gumam Davina seraya melirik arloji di pergelangan tangannya.
Dia benar-benar sudah tidak sabar ingin melihat calon menantunya.
"Kita tunggu saja." Sahut Dave. Walaupun sama penasarannya dengan sang istri, tapi pria paruh baya itu tempak lebih tenang.
Suara derap langkah membuat ketiganya menoleh bersamaan. Aditya yang masih merangkul pinggang Milea, terus menuntun wanita itu mendekati meja makan.
Senyum canggung terbit di bibir Milea. Dia cukup sadar akan statusnya. Berasal dari keluarga sederhana, Milea merasa tidak percaya diri bertemu dengan Dave dan Davina sebagai calon mertua. Takut di tolak karna bukan berasal dari keluarga konglomerat seperti mereka. Takut di tuduh macam-macam, hanya mengincar harta ataupun sebagainya.
"Milea.?" Dahi Davina sampai berkerut melihat sang putra membawa sekretaris pribadinya. Dia cukup terkejut mengetahui bahwa wanita itu adalah Milea.
"Selamat malam Nyonya, Tuan,," Sapa Milea seraya membungkuk hormat. Dia kemudian beralih menatap Elia yang tengah tersenyum tipis padanya.
"Selamat malam Nona Elia." Sapanya.
"Malam Kak." Elia menjawab antusias. Dari ketiga orang yang duduk di depan meja makan, sepertinya hanya Elia yang tidak terkejut. Wanita itu malah tampak senang melihat Aditya bersama Milea.
"Jadi Kak Milea calon istri Kak Adit.?" Tanyanya.
"Kak Milea sangat baik, aku setuju kalau kalian menikah. Kalian juga sangat serasi." Komentar Elia dengan jujur.
Dulu Elia pernah berniat untuk menjadikan Aditya dan Milea sebagai pasangan kekasih. Dia melihat Milea sebagai wanita yang baik, tidak bermuka dua seperti kebanyakan karyawan di perusahaan.
Wajar kalau sekarang Elia yang terlihat paling senang ketika Aditya membawa Milea.
Bukannya mau pilih-pilih calon menantu dari keluarga yang sepadan, Davina hanya heran kenapa putranya bisa kepincut dengan sekretaris pribadinya. Padahal Aditya punya banyak kenalan anak pengusaha bahkan petinggi negara.
Menolak Elia, tapi pilihan Aditya malah tidak sesuai keinginan Davina.
"Sudah berapa lama hubungan kalian.?" Tanya Davina dengan nada menginterogasi. Jiwa emak-emaknya sudah mulai keluar. Setelah ini pasti akan ada banyak pertanyaan yang di ajukan Davina pada pasangan kekasih itu.
"Hampir 2 tahun." Sahut Aditya. Dia melirik Mile yang masih tampak grogi dan canggung.
"Santai saja." Ucapnya lirih. Sebenarnya Aditya bisa memahami apa yang membuat Milea canggung. Hampir 2 tahun menjalin hubungan dengan Milea dan banyak menghabiskan waktu bersama, membuat Aditya paham bagaimana karakter Milea. Wanita itu meski memiliki pendidikan tinggi dan cerdas tapi selalu merasa rendah hanya karena terlahir dari keluarga sederhana.
"Sudah selama itu.?" Gumam Davina terkejut. Putranya sudah hampir 2 tahun berhubungan dengan Milea tapi selama ini tidak pernah bilang kalau memiliki kekasih.
Davina lantas terdiam, dia jadi teringat sesuatu. Ingat saat membahas perjodohan dengan Aditya. Sekarang dia tau kenapa putranya itu menolak saat di jodohkan. Rupanya karna sudah memiliki hubungan dengan Milea Tapi yang membuat Davina heran, Aditya tidak berusaha untuk jujur.
Kalau saja Aditya bilang sudah memiliki kekasih, sudah pasti Davina tidak akan membahas perjodohan itu lagi.
"Kami hanya menunggu waktu yang tepat. Maksudku sampai kami sepakat untuk menikah." Terang Aditya.
Davina lantas melirik suaminya yang sejak tadi tidak berkomentar apapun. Dia jadi bingung sebenarnya Dave menerima kehadiran Milea atau sebaliknya. Di lihat dari raut wajahnya yang datar, sepertinya tidak keduanya. Mungkin sama seperti Davina, masih syok.
"Kalian mau menikah.? Kapan.?" Tanya Elia penasaran.
"Menikah butuh persian yang matang dan tidak sebentar. Kamu bicarakan dulu dengan Milea dan keluarganya, setelah itu tentukan tanggal dan bulannya." Terang Dave panjang lebar. Pria paruh baya yang sejak tadi diam, tiba-tiba bicara panjang lebar. Semua orang jadi kompak menatap ke arahnya.
Kalimat butuh persiapan matang yang di lontarkan Dave membuat Davina menatap intens wajah datar suaminya.
Davina merasa ada maksud lain dari ucapan Dave. Seperti bentuk tidak setuju secara halus. Tapi meski begitu, Davina tidak bisa memastikan dugaannya benar atau tidak.
...****...
Nanti lanjut lagi, othornya lg otw mudik☺.
buat yg lg mudik jg, Hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan. Aamiin