
Elia berbaring menyamping, mengambil tempat di tepi ranjang dan bersembunyi di balik selimut tebal. Dia menyembunyikan tangisnya, tangis seorang anak yang baru mengetahui bahwa kedua orang tua kandungnya sudah meninggal.
Malam ini seharusnya menjadi malam pertama bagi pasangan pengantin itu. Malam pertama yang biasanya di lalui dengan suka cita dan penuh gelora, tidak berlaku bagi pasangan pengantin baru itu. Elia sibuk meratapi takdirnya yang ternyata sangat menyedihkan, walaupun di balik semua itu dia sangat bersyukur karna memiliki orang tua angkat sebaik Davina dan Dave.
Elia mungkin hanya butuh waktu agar bisa berdamai dengan keadaan. Tangisannya semata-mata untuk mengurai kesedihan yang masih erat menyelimuti hatinya. Fakta bahwa dia bukan anak kandung Davina dan Dave cukup mengacaukan suasana hati dan perasaannya. Belum lagi sekarang dia harus menikah dengan Aditya, pria yang selama ini menjadi Kakaknya. Elia mungkin sedang berada dalam fase terberat sepanjang hidupnya.
Aditya keluar dari kamar mandi setelah lebih dari 20 menit di dalam sana. Dia sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi lantaran sedang menghubungi orang-orang suruhannya gang di tugaskan mencari keberadaan Milea.
Salah satu dari mereka berhasil melacak keberadaan Milea terakhir kali setelah dinyatakan hilang 3 jam yang lalu.
Berbekal rekaman cctv di lobby salah satu gedung apartemen mewah, Aditya mengerahkan orang suruhnya agar memantau gedung apartemen tersebut. Padahal informasi terakhir yang Aditya dapatkan, Milea di duga sudah meninggalkan gedung apartemen itu. Mereka mencurigai seseorang yang di duga sebagai Milea, orang itu memakai pakaian tertutup beserta topi saat keluar dari gedung apartemen bersama seorang pria.
Aditya telah banyak berspekulasi tentang hilangnya Milea dan seorang pria yang belum diketahui identitasnya tersebut.
Melihat Milea pergi seorang diri mendatangi ke gedung apartemen dan keluar bersama seorang pria, Aditya bisa menyimpulkan bahwa Milea memang sengaja pergi atas kesadarannya sendiri di hari pernikahan mereka. Karna sampai detik ini Aditya tidak menemukan tanda-tanda Milea di culik seperti dugaan awalnya.
Sekarang setelah tau semuanya, Aditya masih tetap melakukan pencarian pada Milea. Pria itu sepertinya tidak akan melepaskan Milea begitu saja setelah mempermainkannya dan kabur di hari pernikahan mereka. Acaranya jadi kacau sampai membuatnya harus menikahi Elia.
Aditya menatap ke arah ranjang ketika melihat gulungan selimut tebal di sisi ranjang. Dahinya berkerut menatap buntelan panjang itu yang sudah pasti berisi Elia di dalamnya.
Aditya menghampiri Elia, berdiri di sisi ranjang kemudian menarik pelan selimut yang menutupi bagian kepala. Selimut itu dengan mudah bisa disingkirkan dari kepala Elia, Aditya sedikit terkejut melihat wajah Elia di penuhi air mata. Hidung Elia tampak merah, matanya terlihat sembab dan terus mengeluarkan air mata.
Elia segera memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan tangisnya walaupun Aditya sudah melihatnya.
"Kenapa.?" Aditya menggeser pelan tubuh Elia agar sedikit ke tengah dan dia duduk di sisi ranjang.
"Aku masih terkejut," Jawab Elia dengan suara tercekat.
"Mama dan Papa menganggap kamu seperti anak kandung sendiri. Nanti jangan merasa kamu bukan anak mereka." Tutur Aditya seraya menahan tangan Elia saat akan menutupi wajahnya lagi dengan selimut.
Elia mengangguk paham. Davina juga sempat bicara seperti itu sebelum acara pernikahan dimulai. "Aku bisa merasakan hal itu sampai tidak pernah mengira kalau mereka bukan orang tua kandungku." Sahutnya.
Ya, melihat bagaimana perlakuan Davina dan Dave selama ini pada Elia yang tidak pernah membanding-bandingkan kasih sayang serta perhatiannya dengan Aditya, tentu membuat Elia merasa seperti anak kandung mereka.
Aditya mengusap lembut pucuk kepala Elia dengan perasaan sedih. Dia sebenarnya menyesali keputusan Davina, walaupun cepat atau lambat Elia harus tau tentang orang tua kandungnya.
Aditya lantas menatap arloji di tangannya. Sudah hampir pukul 12 malam dan Elia malah terus menangis. "Sudah malam, sebaiknya kamu istirahat." Ujarnya seraya beranjak dari sisi ranjang.
Elia malah menahan tangan Aditya. Mata sembab Elia menatap Aditya dengan air mata yang masih menggenang. "Kakak disini saja, temani aku tidur." Pintanya memohon.
Tatapan sendu Elia membuat Aditya tidak kuasa menolak permintaannya, dia kemudian ikut naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Elia.
Elia bergeser, menghapus jarak yang sempat di buat oleh Aditya. Tangan Elia menarik lengan Aditya kedalam dekapan.
"Kak Adit tetap menjadi Kakak ku kan.? Aku butuh Kakak untuk bersandar." Ujarnya lalu membenamkan wajah di dada bidang Aditya. Pria itu tidak bisa berkutik, dia tidak tega menyuruh Elia bergeser menjauh.
"Nanti kita bicara baik-baik saja pada Mama dan Papa, aku tidak mau menjadi istri Kakak. Aku mau jadi adik Kak Adit saja." Racau Elia dengan mata terpejam. Kenyataan bahwa dia bukan anak kandung Davina dan Dave saja sudah cukup membuatnya hancur, dia semakin hancur ketika harus merubah status menjadi istri Aditya. Lagipula Elia merasa dia tidak akan bisa mencintai Aditya sebagai orang lain.
"Hmm,, tidur sudah malam." Aditya tidak berniat menanggapi perkataan Elia karna wanita itu terlihat kacau dan butuh istirahat agar besok pagi suasana hatinya jadi lebih baik.
Semalaman keduanya tidur dalam keadaan saling memeluk. Tidak terjadi apapun meski malam itu adalah malam pertama bagi pasangan pengantin dadakan tersebut.
Lagipula apa yang diharapkan dari malam pertama mereka, mengingat sejak kecil mereka sangat dekat sebagai Kakak beradik. Pasti akan canggung jika harus melewatkan malam pertama seperti kebanyakan pengantin pada umumnya.