
Aditya sudah bersiap untuk tidur. Dia menyimpan tabnya di atas nakas, setelah beberapa menit yang lalu mengecek laporan dari Milea.
Baru saja mematikan lampu utama, seseorang mengetuk pintu kamarnya berulang kali. Aditya kembali menyalakan lampu dan beranjak membukakan pintu.
"Aku mau tidur di sini,," Elia menyelonong masuk begitu saja seraya menyengir kuda. Dia membawa guling kesayangan yang di balut sarung guling berwarna pink.
Aditya menghela nafas, adiknya itu benar-benar tidak berubah meski usianya makin bertambah. Bukannya sedikit lebih dewasa, Elia malah selalu menunjukkan sisi manja dan sifat kekanakan padanya. Gadis remaja yang sudah beranjak dewasa itu masih tetap menempel padanya.
Tentu saja Aditya sedikit risih, apalagi dengan kebiasaan Elia yang terkadang ingin tidur satu kamar dengannya seperti saat ini.
"Tidur di kamarmu El. Jangan tidur berdua lagi denganku." Tegur Aditya.
Elia menatap sang Kakak, dia terlihat kecewa karna tidak di ijinkan tidur bersama. Padahal 1 bulan yang lalu dia masih di temani tidur oleh Kakaknya. Tiba-tiba sekarang di larang agar tidak tidur satu kamar lagi.
"Memangnya kenapa.? Apa karna sudah ada Milea.?" Sorot mata Elia jelas menunjukkan kekecewaan dengan wajah sendu. Padahal hanya di larang tidur satu kamar oleh Kakaknya, tapi ekspresi wajah Elia seperti orang sedang yang putus cinta.
Aditya menautkan alisnya. Apa hubungannya Milea dengan larangan tidur bersama. Aditya rasa Elia salah paham dengan Milea.
"Ada Milea atau tidak, sudah seharusnya kita tidak tidur bersama lagi, Elia,," Tutur Aditya lembut. Pria itu lantas menghampiri Elia dan ikut duduk di sisi ranjang.
"Aku pria dewasa, kamu juga sudah 18 tahun. Sekalipun kita kakak beradik, akan lebih baik jika tidak tidur satu ranjang lagi."
"Itu tidak baik, Elia,," Aditya mengusap sayang kepala adiknya. Sebenarnya Aditya sedikit kesulitan bagaimana menjelaskannya pada Elia agar Elia paham.
Aditya hanya tidak ingin Elia merasa nyaman jika tidur satu ranjang dengan seorang pria. Aditya khawatir rasa nyaman itu akan menimbulkan rasa penasaran dalam diri Elia dan pada akhirnya membuat Elia mencoba hal-hal baru dengan pria yang dia sukai di luar sana. Seperti tidur satu ranjang.
"Bukankah sejak kecil kita sudah biasa tidur bersama.? Selama ini semuanya baik-baik saja kan.?" Elia menatap dengan tatapan polosnya.
Dia benar-benar gadis 18 tahun yang masih sangat polos dan lugu. Mungkin karna sejak kecil ruang geraknya terbatas, dan semakin terbatas ketika Elia sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama. Sejak saat itu keseharian Elia terus di pantau oleh Kakak dan kedua orang tuanya. Membuat Elia tak pernah bermain dengan teman-temannya di luar jam sekolah.
Mungkin itu yang membuat cara berfikir dan tingkah Elia masih seperti anak-anak. Dia juga tidak tau bagaimana dunia luar yang sesungguhnya. Kehidupannya hanya seputar pada pendidikan dan keluarga saja.
Bahkan baru-baru ini Elia di perbolehkan pergi dengan teman-temannya, itupun tak lepas dari pantauan orang tuanya.
"Nanti kamu tanyakan saja pada Mama, kenapa kita tidak boleh tidur satu kamar lagi." Aditya menyerah, sulit untuk memberikan penjelasan pada Elia. Dia juga takut salah bicara dan nantinya hanya akan membuatnya semakin kehabisan kata-kata di depan Elia. Lebih baik hal semacam itu di tangani oleh Davina agar. Mereka sama-sama perempuan, jadi tidak akan canggung untuk menjelaskan secara detail alasan dan dampaknya jika pria dan wanita dewasa tidur satu ranjang.
"Hmm,," Ujar Aditya sembari mengangguk. Mata Elia seketika berbinar, dia juga reflek memeluk sang Kakak dari samping.
"Kakakku paling baik dan tampan sedunia." Puji Elia. Dia sangat pintar membuat siapapun luluh padanya karna tingkahnya yang menggemaskan. Aditya terdiam, tiba-tiba dia membayangkan banyak pria yang akan tertarik dengan adiknya yang menggemaskan itu. Rasanya tidak rela jika Elia di dekati ataupun mendapatkan pria yang salah nantinya.
Elia dan Aditya kini sudah berbaring di ranjang. Gadis cantik itu sedang memeluk erat lengan sang Kakak, dan terlihat sangat nyaman meletakkan kepalanya di lengan besar itu.
"Kamu jangan coba-coba pergi berdua dengan Juno lagi." Peringatan tegas dari Aditya membuat Elia membuka mata. Tadinya dia sudah bersiap untuk tidur.
"Kak Juno sudah sudah seperti Kakak ku sendiri, kenapa pergi dengan Kak Juno juga tidak boleh.?" Elia menatap serius. Semakin lama dia merasa larangan dari sang Kakak tidak masuk akal. Kakaknya itu terlalu posesif sampai melarangnya dekat dengan pria manapun sekalipun itu Juno. Pria yang jelas-jelas sahabatnya sendiri dan sudah di anggap seperti keluarga.
"Tetap jadi Elia yang penurut, jangan membantah." Sahut Aditya tegas.
Elia mencebik kesal, tapi dia tidak bicara lagi karna malas berdebat.
...******...
"Mama lihat Elia keluar dari kamar kamu. Kalian tidur bersama.?" Davina menatap putranya penuh selidik. Dia seperti sedang mengintrogasi seseorang yang sudah melakukan kesalahan.
"Hem," Aditya mengangguk kecil, membenarkan apa yang dilihat oleh sang Mama.
Davina tampak memijat pelipisnya. Duduk di sisi ranjang Aditya dan menetap putranya itu yang sedang memakai jas.
Dia di buat pusing dengan kedekatan anak-anaknya. Jika dulu dia bahagia melihat anak-anaknya saling menyayangi dan sering tidur satu ranjang, sekarang Davina malah khawatir kalau mereka tidur satu kamar.
"Aditya, kamu tidak lupa kan.?" Tanya Davina lirih. Sudah sangat lama dia tidak mengingatkan putranya, mungkin terakhir sekitar 10 tahun yang lalu.
Aditya terdiam, dia bahkan lupa kalau Elia bukan adik kandungnya. Karna sudah tinggal bersama Elia sejak gadis itu baru lahir, jadi dia menganggap Elia juga terlahir dari rahim yang sama dengannya.
"Mama beri pengertian saja pada Elia agar tidak minta tidur denganku lagi. Aku bingung menjelaskan padanya." Ujarnya datar.
Sekarang Aditya tau kenapa dia mulai risih saat tidur datu ranjang dengan Elia.