
Kejadian di kamar mandi 1 jam lalu masih terbayang-bayang di benak Elia. Masih menjadi tanda tanya kenapa sang Kakak sangat ingin mengecek tubuhnya dengan alasan ingin memastikan tubuhnya tidak di sentuh pria lain.
Lagipula kalaupun di sentuh pria lain, apa reaksinya harus berlebihan seperti itu.?
Ada kemarahan dan tatapan lain dari sorot mata Aditya yang Elia sendiri tidak bisa mengartikannya.
Elia bisa memaklumi selama ini Kakaknya selalu melarangnya menjalin hubungan karna peraturan yang diberikan oleh Davina. Tapi kalau sampai memaksa masuk ke kamar mandi hanya untuk mengecek tubuhnya, rasanya sulit di mengerti.
Harusnya tidak sampai seperti itu kan.?
Elia jadi merasa sedang di curigai berselingkuh dari kekasihnya. Karna reaksi Aditya seperti baru saja memergoki kekasihnya pergi dengan pria lain.
Suara ketukan pintu kamar membuyarkan lamunan Elia. Dia bergegas turun dari ranjang dan membukakan pintu.
Ada Davina yang berdiri di sana dengan senyum teduhnya.
"Ayo makan," Ajak Davina. Elia mengangguk dan menutup pintu kamarnya.
"Pulang jam berapa tadi.?"
"Jam 6 Mah. Ada kecelakaan beruntun, aku sampai terjebak macet hampir 1 jam." Tutur Elia. Dia kemudian menceritakan apa saja yang dia lakukan bersama teman-temannya, juga tempat mana saja yang dia datangi setelah mengerjakan tugas. Elia tidak menyembunyikan apapun pada Davina. Lagipula Elia bukan orang yang bisa berbohong. Dia sangat terbuka dengan Davina jika pergi dengan teman-temannya.
Begitu sampai di ruang makan, Elia langsung berhenti bicara lantaran melihat Aditya. Tiba-tiba saja dia terlihat canggung melihat Kakaknya sendiri.
"Malam Pah, Malam Kak,," Elia mencoba menyapa Aditya seperti biasa, walaupun senyumnya terlihat kaku di akhir.
"Tadi pergi dengan siapa saja El.? Apa ada laki-lakinya.?" Tanya Dave.
Elia menautkan alis, Dave biasanya tidak akan menanyakan hal sedetail itu.
Elia melirik Aditya, tapi pria itu malah membuang muka dan pura-pura sibuk mengambil makanan.
Sekarang Elia tau penyebabnya. Dave tidak mungkin bertanya seperti itu kalau tidak mendengar aduan dari seseorang.
"Ada 2 teman laki-laki dan 4 wanita, kami hanya mengerjakan tugas kelompok Pah." Elia menekankan kata hanya dan mengeraskan suaranya, sengaja agar Aditya mendengarnya.
"Setelah itu kami pergi ke kafe, hanya dengan teman wanita saja. Karna Julian dan Rio ada janji dengan teman wanitanya." Lanjut Elia. Harusnya dia tidak perlu menjelaskan begitu detail, tapi dia ingin membuat Aditya puas mendengar penjelasannya.
Dave menganggukkan kepala. Penjelasan Elia langsung di terima tanpa ada pertanyaan lagi.
Anehnya, setelah itu Dave kembali melirik Aditya. Jelas saja Elia semkin yakin kalau Papanya itu baru saja di ceritakan hal yang tidak-tidak oleh Aditya.
Elia kemudian duduk di samping Aditya, dia semakin canggung saja dan memilih diam. Jika biasanya Elia masih bisa basa-basi, kini dia merasa enggan karna sedikit kesal dengan sikap Aditya.
...******...
Pagi itu Elia lebih dulu menghabiskan sarapannya. Dia sengaja mengambil sedikit makanan agar cepat habis untuk menghindari duduk berlama-lama di samping Aditya.
"Mah, Pah,, El berangkat dulu,," Ucapnya seraya beranjak dari kursi.
Dave dan Davina kompak melirik piring Elia, mereka berdua tidak akan mengijinkan Elia pergi sebelum menghabiskan makanannya.
Melihat piring putrinya sudah bersih, keduanya kemudian mengangguk.
"Hemm,,,"
Elia mendekat, dia mencium Davina dan Dave bergantian.
"Aku duluan Kak,," Pamit Elia sekedar basa-basi agar kedua orang tuanya tidak curiga.
Aditya mengangguk singkat dan kembali fokus pada makanannya.
"Mama tidak memaksa kamu menerima perjodohan lagi, kenapa sikap kamu masih seperti itu pada Elia." Ujar Davina setelah memastikan Elia sudah jauh dari ruang makan.
Dia tak habis pikir pada putranya. Meski tidak melihat Aditya 24 jam karna putranya itu banyak menghabiskan waktu di perusahaan, tapi Davina masih sering melihat interaksi kedua anaknya.
Terlebih ketika sarapan dan makan malam bersama.
Sejak membahas perjodohan dengan Aditya dan putranya itu menentang keras, Davina melihat perubahan sikap Aditya pada Elia. Kedekatan mereka berdua tidak lagi seperti dulu. Sudah tidak aca canda tawa lagi, hanya sebatas obrolan seperlunya.
"Harusnya sejak awal Mama tidak berfikir untuk menjodohkan ku dengan Elia." Protes Aditya.
"Kalian menganggap Elia seperti anak kandung sendiri, begitu juga denganku. Elia sudah seperti adik kandungku sendiri, bagaimana bisa aku menikahinya." Tuturnya frustasi. Akibat pembahasan soal perjodohan itu 6 yang lalu, konsentrasi Aditya gampang buyar. Suasana hatinya juga mudah berubah-ubah. Dia selalu perang batin dan bergulat dengan pikirannya sendiri.
"Oke Mama minta maaf." Sesal Davina. Keputusannya untuk menikahkan mereka berdua mungkin terlihat sangat egois di mata Aditya.
Sejak kecil mereka hidup bersama, bahkan melakukan segala aktifitas bersama. Kedekatan mereka benar-benar layaknya saudara kandung.
Davina tidak berfikir kalau mereka pasti akan canggung jika harus menjadi suami istri.
"Sekarang anggap saja pembahasan itu tidak pernah terjadi."
"Mama hanya minta kamu bersikap normal lagi pada Elia, jangan sampai dia berfikir macam-macam karna sikap kamu berubah." Pinta Davina memohon. Dia merindukan kedekatan Aditya dan Elia, rindu melihat Elia bergelayut manja di lengan Aditya dan rindu canda tawa mereka. Jika tau akan seperti ini, Davina tentu memilih mengubur harapannya daripada melihat kedekatan Aditya dan Elia jadi renggang.
...*****...
1 tahun berlalu,,,,
"Kenapa.?" Tanya Aditya ketika Milea menghentikan langkahnya.
Wanita dengan riasan tipis di wajahnya itu terlihat sedikit pucat.
"Aku sangat gugup,," Milea meremas jemari tangan Aditya yang menggandengnya. Aditya bisa merasakan tangan Milea cukup dingin dan sedikit berkeringat.
"Kamu sering bertemu Papa di perusahaan, kenapa harus gugup." Aditya mengusap lembut punggung tangan Milea.
"Mama juga bukan orang yang galak, kamu beberapa kali bertemu dan berkomunikasi dengannya. Rileks saja,," Ujarnya lalu merangkul pinggang Milea dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Hampir 2 tahun menjalin hubungan tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, malam ini Aditya membawa Milea untuk di kenalkan pada Dave dan Davina. Bukan sebagai sekretarisnya, melainkan sebagai kekasih sekaligus calon istrinya.
Ya, Aditya akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Milea. Alih-alih mengakui perasaannya terhadap Elia, Aditya malah memilih untuk berusaha mencintai Milea. Dia menentang isi hatinya sendiri dibanding mengubah status dengan Elia.
Entah keputusan Aditya akan membawanya pada kebahagiaanmu atau justru sebaliknya.
Tapi yang jelas, Aditya tidak pernah sembarangan mengambil keputusan. Dia akan menjalani dengan sungguh-sungguh, keputusan yang dia pilih sendiri.