My beloved sister

My beloved sister
Bab 18



Milea mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk ke ruangan Aditya untuk mengantarkan minuman pesanan bosnya itu.


Sudah pukul 8 malam, dia belum di bolehkan pulang karna harus membantu Aditya mengecek laporan keuangan dari tahun lalu.


Kemarin Aditya tidak sengaja menemukan kejanggalan, dia berfikir ada seseorang yang memanipulasi laporan keuangan tersebut. Dugaan sementara, ada penggelapan dana dalam proyek pembangunan hotel di Jakarta 1 tahun yang lalu.


"Tehnya Tuan." Milea meletakkan secangkir teh hangat di atas meja. Aditya mengangguk dan sempat melirik sekilas.


"Coba kamu cek lagi laporan yang ini." Aditya mengarahkan laptop miliknya pada Milea yang duduk berhadapan dengannya.


"Catat jika menemukan perbedaan dari laporan yang di buat Jordan." Tuturnya.


"Baik,," Milea menerima laptop itu, lalu segera mengeceknya. Menghitung total pengeluaran selama pembangunan hotel dari 1 tahun lalu sampai sekarang.


Sementara itu Aditya meraih teh dan meneguknya. Dia di buat pusing dengan kejanggalan-kejanggalan pada semua laporan keuangan itu. Sejak tadi siang dia dan Jordan fokus mengurus masalah yang satu ini. Sekarang Jordan bahkan di tugaskan ke Jakarta agar besok pagi bisa mengawasi proyek pembangunan hotel yang baru berjalan 50 persen selama 1 tahun.


Hampir 30 menit suasana di ruangan itu cukup hening. Milea fokus dengan tugas yang di berikan Aditya. Begitu juga dengan Aditya, dia juga fokus memeriksa laporan keuangan yang lainnya.


"Sebaiknya kamu hubungi keluargamu, sepertinya kita akan pulang larut." Ujar Aditya tanpa mengalihkan pandangannya pada tumpukan berkas di atas meja.


Berbeda dengan Milea yang kini menatap datar wajah serius Aditya.


"Keluargaku di Jakarta,," Jawab Milea dan kembali menatap layar laptop. Dia tidak punya keluarga di Bandung. Selama hampir 3 tahun, dia tinggal seorang diri apartemen sederhana yang dia sewa.


"Jadi kau tinggal sendiri.?"


Ucapan Aditya kembali membuat Milea mengangkat wajahnya. Beberapa saat tatapan mata mereka bertemu, namun Aditya buru-buru mengalihkan pandangan pada kertas di tangannya. Dia mendadak merasa bodoh karna melontarkan pertanyaan tak penting seperti itu.


Padahal Milea jelas-jelas mengatakan kalau keluarganya ada di Jakarta, jadi sudah dipastikan wanita itu tinggalkan sendirian di Bandung.


"Iya Tuan,," Milea tampak kikuk menjawabnya, karna melihat perubahan wajah Aditya yang sedikit memerah.


Bagaimana tidak, Aditya pasti merasa malu pada sekretaris pribadinya itu. Seorang pemimpin perusahaan besar, menanyakan hal konyol di depan sekretarisnya sendiri.


2 jam berlalu. Aditya dan Milea sudah berhasil mengumpulkan bukti penggelapan dana pembangunan hotel di Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, total uang perusahaan yang di gelapkan hampir menyentuh angkat 15 milyar.


Aditya nyaris tidak percaya. Wajahnya tampak menahan amarah mengetahui ada pengkhianat yang hidup enak menggunakan uang perusahaan milik keluarganya.


Sekarang Aditya hanya perlu membongkar kejahatan itu dan menangkap siapa saja yang terlibat di dalamnya.


"Kirim semua bukti ke email pribadiku." Titah Aditya. Milea mengangguk patuh dan segera mengirimkan file itu ke email Aditya.


"Sudah Tuan."


"Hmm. Bereskan berkas-berkasnya, kamu bisa pulang setelah ini." Ujar Aditya yang juga membereskan barang-barang miliknya di atas meja.


...******...


Aditya melajukan mobilnya keluar dari halaman kantor. Dia tiba-tiba menghentikan mobil saat tak sengaja melihat Milea duduk seorang diri di halte depan kantor. Wanita itu tampak fokus pada layar ponsel di tangannya.


Aditya melirik jam, sepertinya Milea akan sulit mendapatkan kendaraan umum karna sudah pukul 11 malam.


Pria itu menurunkan kaca mobilnya, membuat tatapannya beradu dengan Milea.


"Cepat masuk.!" Titah Aditya tegas.


"Sa,,saya Tuan.?" Milea menunjuk dirinya sendiri, bisa di banyangkan ekspresi bingung Milea saat ini karna bosnya yang selama ini terkenal dingin, tiba-tiba menawarkan tumpangan padanya.


"Apa kamu lihat ada orang lain di situ.?" Ujar Aditya acuh. Meski nada bicaranya biasa saja, tapi berhasil membuat Milea semakin malu.


Milea tersenyum kikuk, dia buru-buru menghampiri mobil mewah milik bosnya dan membuka pintu belakang.


"Aku bukan supir, Milea.!" Seru Aditya penuh penekanan. Matanya membulat sempurna saat melihat Milea membuka pintu belakang.


"Ma,,maaf Tuan,,," Milea langsung menutup pintunya lagi dan membuka pintu di samping kemudi untuk duduk di depan bersama Aditya.


"Alamatmu." Kata Aditya seraya melajukan mobilnya. Ekspresi wajahnya sangat datar dan acuh, membuat wanita di sampingnya merasa tidak nyaman.


Milea menyebutkan alamat dan nama apartemen yang dia sewa.


15 menit kemudian, mobil milik Aditya berhenti di depan gedung apartemen sederhana. Milea bergegas turun, berkali-kali mengucapkan terimakasih pada Aditya sebelum menutup pintu mobil dan melenggang memasuki gedung apartemen.


Aditya hendak melajukan mobilnya, tapi ponsel milik Milea di kursi sebelah membuat pria itu akhirnya turun dari mobil dan mengejar si pemilik ponsel yang sudah hilang dari pandangan.


"Dasar ceroboh.!" Dengus Aditya kesal. Sebenarnya bisa saja dia membawa pulang ponsel Milea dan memberikannya di kantor besok. Tapi si pemilik ponsel di pastikan akan gusar karna mengira ponselnya hilang.


Aditya masuk ke dalam lift, dia menekankan angka 12 karna melihat lift sebelah baru saja naik ke lantai 12. Dia yakin pengguna lift sebelah adalah Milea.


Benar saja, begitu pintu lift terbuka, Aditya melihat Milea jalan seorang diri di lorong apartemen.


Langkah Aditya yang lebar membuat pria itu bisa mengejar Milea tanpa harus memanggil wanita itu untuk berhenti.


Milea yang baru saja membuka pintu apartemennya, terkejut karna tiba-tiba Aditya berdiri di sampingnya.


"Tuan.?? Ada apa.?"


"Kamu sudah tidak butuh ponsel.?" Sindirnya sembari menyodorkan ponsel pada Milea.


"Maaf,, saya lupa." Milea mengambil ponselnya dari tangan Aditya.


"Terimakasih banyak, maaf merepotkan." Ujarnya tak enak hati.


"Hmm," Setelah memberikan respon singkat itu, Aditya langsung pergi dengan wajah datarnya.


Milea tampak diam di tempat, menatap punggung pria itu yang semakin menjauh.


Setidaknya meskipun sikapnya dingin dan irit bicara, Aditya cukup peduli dengan orang sekitar.


Kalau tidak memiliki kepedulian, mana mungkin mau mengantar Milea pulang, bahkan menyusulnya hanya untuk memberikan ponsel Milea yang jelas-jelas karna kecerobohan Milea sendiri.