
Terlalu antusias untuk berlibur, Elia sudah mengemasi baju-bajunya ke dalam koper sejak kemarin. Sedangkan dia dan Aditya akan berangkat pukul 5 sore nanti setelah Aditya pulang dari kantor.
Kini gadis itu tengah duduk di sisi ranjang sembari mengotak-atik ponselnya. Dia sedang mencari tempat mana saja yang akan di kunjungi selama berlibur ke Bali. Masalah resort sudah Elia pesan dari 2 hari yang lalu. Dia memesan resort dengan 2 kamar dan kolam renang pribadi.
Tokk,,,tokk,, tokk,,,
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Elia dari layar ponselnya.
Tak lama pintu di buka dari luar. Elia tersenyum kala melihat sang Mama yang masuk ke dalam kamar.
"Bahagia sekali yang mau liburan,," Goda Davina sambil menghampiri putrinya setelah menutup pintu kamar. Senyum Elia semakin lebar saja saat di goda Mamanya, dia bahkan membenarkan perkataan Davina dengan menganggukkan kepala.
Siapa yang tidak senang berlibur, terlebih bagi anak rumahan seperti Elia yang jarang di beri kesempatan untuk bermain dengan teman-temannya. Tentu Elia tidak akan menyia-nyiakan waktu liburannya meski hanya pergi berdua dengan Kakaknya. Di saat teman-temannya yang lain memilih berlibur dengan kekasih masing-masing.
"Mama dan Papa kenapa tidak ikut.?" Elia sedikit sedih saat kedua orang tuanya menolak di ajak berlibur bersama. Lebih tepatnya Dave yang tidak mau ikut, jadi sebagai istri, Davina mengikuti keputusan suaminya.
"Kamu dengar sendiri Papa ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal." Sahut Davina.
Bibir Elia mengerucut, padahal hanya pergi 4 hari tapi tidak bisa ikut.
"Pekerjaan apa sampai tidak bisa di tinggal.? Apa sangat penting.?" Elia menatap serius wajah Davina.
Seketika wajah Davina bersemu merah, pikirannya berkelana kemana-mana. Tidak mungkin dia jujur pada putrinya yang masih berusia 20 tahun itu. Sekalipun Elia sudah dewasa ataupun menikah, Davina tetap akan berfikir ribuan kali untuk berkata jujur.
Dalam hati, Davina mengumpat kesal pada suaminya. Usianya sudah hampir 60 tahun tapi masih semangat menggoyang ranjang.
Di saat pria seusianya sedang menikmati masa tua dengan bersantai dan menghabiskan waktu dengan keluarga, Dave malah lebih sering mengurung Davina di kamar.
Mungkin karna gaya hidup sehat dan olahraga teratur yang di jalani Dave sejak muda, membuat fisik Dave masih cukup kuat di usianya yang hampir genap 60 tahun.
Tak hanya itu saja, semakin bertambahnya usia, Dave memiliki fantasi bertarung yang tidak ada habisnya.
Ya ampun,, membayangkan hal itu membuat wajah Davina semakin merona dan kini memalingkan wajah dari putrinya.
"Mama kurang tau,," Dusta Davina yang tidak mau rahasia ranjangnya di ketahui oleh putrinya polosnya.
"Kamu sudah pesan resort kan.? Boleh Mama lihat seperti apa.?" Davina langsung mengalihkan pembicaraan. Lagipula tujuannya datang ke kamar Elia juga untuk melihat resort yang di pesan putrinya. Dia ingin memastikan resort itu memiliki lebih dari 1 kamar, jangan sampai hanya 1 kamar dan membuat anak-anaknya tidur satu kamar.
Elia yang tidak tau tujuan Mamanya ingin melihat resort, tampak antusias membuka ponsel dan menunjukkan detail resort itu tanpa menaruh curiga sedikitpun. Lagipula Elia mana tau apa yang di khawatirkan oleh Davina.
Selama ini dia tenang-tenang saja saat tidur satu kamar dengan Aditya karna tidak tau kalau mereka bukan saudara kandung.
"Ada kolam renang di belakang resort, pemandangannya sangat bagus Mah." Tutur Elia dengan mata berbinar.
"Selera kamu cukup bagus, Mama juga suka resortnya." Komentar Davina setelah melihat detail resort itu. Dia tidak terlalu memperhatikan bagian lain, hanya fokus pada kamarnya saja. Mengetahui resort itu memliki 2 kamar, tentu Davina sudah bisa bernafas lega. Nanti dia tinggal mengingatkan Aditya agar tidak sampai tidur satu kamar.
Davina khawatir putranya akan lepas kendali sebagai pria dewasa.
...*****...
Kini Aditya dan Elia sudah berada di bandara, keduanya di antar oleh orang tua mereka.
"Kabari Papa kalau kalian sudah sampai." Pesan Dave pada Aditya. Putranya yang irit bicara itu hanya berdeham sembari mengangguk. Berbeda dengan Elia, gadis itu tengah memeluk Davina dan bergelayut manja. Bicara panjang lebar dan mengatakan akan segera menghubungi Davina jika sudah sampai, tentunya tanpa di minta untuk menghubungi.
"Sayang sekali Papa ada pekerjaan, padahal aku ingin pergi dengan Papa dan Mama juga." Elia beralih memeluk Dave.
"Kita bisa berlibur bersama lain kali, pekerjaan Papa sangat penting." Ujar Dave seraya mengulum senyum dan melirik istrinya, sontak kedua mata Davina membulat sempurna di buatnya.
Memang dasar tua-tua keladi, makin tua makin jadi. Batin Davina kesal.
"Ayo, jangan sampai tertinggal pesawat." Dengan wajah datarnya, Aditya menarik 2 koper kecil milik dia dan Elia.
"Jaga adikmu Dit,," Seru Davina.
"Ya, jangan khawatir." Aditya menjawab tanpa menoleh. Bahkan tidak ada sesi pelukan dengan kedua orang tuanya.
"Kami berangkat dulu Mah, Pah. Byeee,,," Elia segera menyusul Aditya setelah melambaikan tangan pada kedua orang tuanya.
"Kak tungguin,," Elia berhasil menyusul Aditya, tangannya langsung meraih lengan besar Aditya untuk di peluk.
Davina dan Dave masih memperhatikan dari tempat semula.
"Elia sangat manja dan polos, apa karna aku yang salah mendidiknya.?" Gumam Davina dengan tatapan mata yang masih lurus menatap mereka berdua.
"Bagaimana dia bisa menghadapi dunia luar yang terkadang kejam. Tapi aku juga khawatir jika memberinya kebebasan." Nada bicara dan raut wajahnya tampak menunjukkan penyesalan.
"Didikanmu sudah benar, aku lebih suka melihat putri kita manja daripada bergaul tidak jelas di luar sana." Tutur Dave agar Davina tidak merasa bersalah.
"Setelah Elia lulus kuliah, kita bisa memberinya kebebasan tapi tetap dalam pantauan." Ujarnya seraya merengkuh pinggang Davina.
"Sudah tidak perlu mencemaskan hal itu, lebih baik kita pulang dan mulai mencicil pekerjaan." Bisik Dave dengan hembusan nafas hangat di telinga Davina.
"Aawww.!" Dave meringis sembari memegangi perutnya yang di cubit oleh sang istri.
"Kamu sudah tua, kapan berhenti mesum.!" Gerutu Davina dan melepaskan diri dari rengkuhan Dave.
Dave hanya terkekeh, lalu menyusul istrinya.