My beloved sister

My beloved sister
Bab 11



Seorang wanita muda yang tadi hadir di ruangan rapat, menghampiri Aditya dan mengulurkan tangan pada Aditya.


"Saya Milea, sekretaris pribadi Anda, Tuan,," Ucapnya memperkenalkan diri secara langsung pada Aditya.


Aditya membalas jabatan tangannya dan dengan cepat langsung melepaskannya lagi.


"Hemm,," Aditya hanya merespon dengan deheman singkat.


Dave memberi interupsi pada semua orang untuk kembali ke ruangan masing-masing setelah mengumumkan pengunduran diri sebagai pemimpin dan mengenalkan putranya sebagai pemimpin baru.


Kini hanya ada Dave, Aditya dan juga Milea yang di perintahkan Dave untuk tetap berada di dalam ruangan.


"Milea, antar putra saya ke ruangannya." Titah Dave.


"Jelaskan apa saja yang harus di kerjakan hari ini." Dave bicara dengan kewibawaan dan kharisma yang begitu melekat pada dirinya.


"Baik Tuan, saya mengerti." Milea menjawab sopan seraya mengangguk paham.


Sementara itu Aditya hanya memasang wajah datarnya. Dia membereskan berkas dan laptop miliknya di atas meja, kemudian beranjak dari kursi.


"Papa harus bertemu Tuan Smith di perusahaannya, kamu belajar dulu dengan Milea. Dia bisa menjelaskan kondisi perusahaan kita saat ini." Tutur Dave ada putranya seraya menepuk pundak Aditya untuk memberikan semangat.


"Hmm. Aku mengerti." Aditya beranjak dari sana. Sikapnya yang cuek pada orang asing membuat Aditya tidak tertarik untuk bicara banyak pada Milea.


Bahkan enggan menyuruh Milea untuk mengikutinya.


Milea sedikit bingung dengan sikap CEO barunya yang irit bicara. Dia pamit sopan pada Dave untuk menyusul Aditya.


"Putra saya memang sedikit dingin, tapi hanya pada orang yang belum dia kenal saja." Dave memberitau Milea agar sekretaris pribadi putranya itu tidak kaget ketika mendapat sikap dingin dari Aditya.


"Saya paham Tuan, terimakasih sudah memberi tau. Saya permisi." Milea membungkuk sopan, dia bergegas keluar menyusul Aditya.


Tubuh pria berbadan tinggi itu sudah tidak terlihat saat Milea keluar dari ruangan.


"Mentang-mentang kakinya panjang, cepat sekali jalannya." Milea menggerutu pelan.


...*****...


Tokk,, tokk, tokk,,,


Milea mengetuk pintu ruangan pimpinan sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam.


"Permisi Tuan,," Ucapnya pada pemimpin baru yang sudah duduk di kursi kebesarannya.


Aditya melirik sekilas, dia juga mengangguk kecil sebagai respon.


"Berikan laporan perusahaan 3 bulan kebelakang, aku ingin melihat perkembangannya."


"Kamu tidak perlu menjelaskan situasi perusahaan sekarang, masih ada waktu besok pagi." Ucap Aditya seraya membuka website resmi perusahaan.


Sebelum menjalankan perannya dan bertanggungjawab atas perusahaan, Aditya perlu memahami dan belajar tentang perusahaannya itu. Karna ini pertama kalinya Aditya terjun ke perusahaan dan langsung di beri jabatan sebagai pemimpin perusahaan.


"Baik, saya mengerti."


"Kalau begitu saya siapkan dulu laporannya." Milea pamit undur diri. Namun belum sempat keluar dari ruangan dia di panggil oleh Aditya.


"Milea,," Suara maskulin Aditya mendebarkan jantung Milea. Dia sampai memegangi dadanya sebelum berbalik badan.


"Ya Tuan.? Apa ada tambahan lain.?" Milea menatap Aditya, namun matanya tidak benar-benar mengarah pada dua manik mata Aditya yang tajam bak mata elang.


"Baik,," Milea segera mengambil kopi dari atas meja Aditya.


”Maaf, apa Anda tidak minum kopi.?" Bukan tanpa alasan Milea bertanya seperti itu, dia harus tau minuman apa yang di sukai dan tidak disukai oleh Aditya agar kedepannya tidak melakukan kesalahan.


"Saya akan minta kalau ingin meminumnya. Selebihnya sediakan air mineral saja." Jelasnya dan kembali mengalihkan pandangan pada laptop.


Milea pamit dan keluar dari ruangan Aditya.


...******...


Elia tertawa renyah bersama Mauren dan Viona. Ketiganya sedang menertawakan kejadian lucu di kantin kampus.


Tanpa Elia sadari, sejak tadi seseorang menatap kagum akan senyum manis Elia dari kejauhan.


Siapa yang tidak kagum pada kecantikan alami dari seorang gadis berusia 18 tahun itu.


Sejak Elia terdaftar di kampus itu, banyak mahasiswa yang dibuat penasaran akan sosoknya. Gosip tentang adanya mahasiswi baru berparas cantik itu menyebar dengan cepat.


Tak jarang para mahasiswa berusaha melakukan pendekatan pada Elia, namun akan berakhir dengan sia-sia karna Elia sangat susah di dekati.


"El,, sepertinya Kak Steven memperhatikanmu sejak tadi." Lirih Mauren. Dia mengarahkan ekor matanya ke salah satu sudut kantin, dimana ada Steven yang tengah menikmati makan siang dengan teman-temannya.


Elia mengikuti arah mata Mauren karna penasaran dan ingin memastikan. Viona juga ikut-ikutan menoleh ke belakang.


Benar saja yang di katakan oleh Mauren, Elia jelas melihat Steven menatap ke arahnya dan kini melempar senyum menawan padanya.


Tak mau menyinggung seniornya, Elia mencoba bersikap sopan dengan membalas senyum Steven.


"Kak Steven tidak lelah mengajakku makan malam bersama, padahal selalu aku tolak." Tutur Elia untuk kedua kalinya. 1 bulan lalu, dia sudah pernah bercerita pada kedua sahabatnya mengenai ajakan malam dari Steven.


Saat itu Elia menolak dengan halus karna alasan tidak mendapat ijin dari orang tuanya. Tapi sepertinya Steven bukan tipe orang yang langsung menyerah begitu saja, sebab sejak saat itu Steven terus menawarkan makan malam bersama pada Elia meskipun berakhir dengan penolakan.


"Sekarang aku benar-benar sedih melihatmu El." Tutur Viona sendu. Lama-lama dia jadi kasihan pada Elia yang tidak memiliki kebebasan dalam menjalani hidupnya. Elia telah melewati banyak momen menyenangkan dan membahagiakan di masa-masa remajanya.


"Kau saja sedih, bagaimana aku." Elia tertunduk pasrah. Hidupnya benar-benar membosankan ketika berada di luar. Untung saja dia mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tua dan Kakaknya. Setidaknya bisa menghibur hati yang terkadang merasa sepi dan hampa.


"Aku harap kamu tidak stress hidup monoton seperti ini." Sambung Mauren prihatin.


"Semoga saja." Jawab Elia tak yakin.


...*****...


Di dalam ruangan luas dan di penuhi furnitur mahal, Aditya kasih sibuk dengan laptop dan laporan bulanan perusahaan.


Dia sangat serius dan fokus dalam bekerja sampai lupa waktu.


Di tunjuk sebagai pemimpin yang akan menjadi pewaris perusahaan, Aditya merasa memiliki bertanggungjawab besar atas perusahaan dengan ribuan karyawan di dalamnya. Jadi dia tidak mungkin main-main dalam bekerja.


Sementara itu, Milea tampak gusar di depan ruang kerja Aditya. Wanita itu sudah mondar-mandir sejak 15 menit yang lalu karna Aditya belum kunjung keluar dari sana.


"Kau kenapa Mil.?" Jordan menautkan alisnya melihat Milea mondar-mandir seperti setrikaan.


"Sudah waktunya pulang Pak, tapi Tuan Aditya masih di dalam." Tuturnya pada asisten pribadi Aditya.


"Masuk saja, mungkin Tuan Aditya terlalu fokus sampai lupa waktu." Usul Jordan, kemudian pamit untuk membereskan pekerjaan di ruangannya. Jordan sudah biasa pulang terlambat, dia akan pulang jika sudah menyelesaikan pekerjaannya.


Milea ragu-ragu mengetuk pintu ruangan Aditya. Tapi tetap melakukannya karna dia juga harus segera pulang ke rumah.