My Baby Twins

My Baby Twins
BAB 7



Kini Vino dan Vina tengah bergelayut manja di pangkuan Bian. Bahkan, Arshi dan Nara sampai di buat terheran-heran pada tingkah bocah kembar itu. Pasalnya Vino dan Vina sangat susah di dekati oleh orang baru, tapi dengan Bian mereka langsung akrab. Sedangkan Armed, ia hanya mengamati bocah laki-laki itu dengan intens. Diam-diam ia membuka ponselnya, ia mencari-cari foto masa kecilnya bersama Bian. Ia terus mengamati keduanya, meski foto yang ada di ponselnya tampak usang tapi Armed yakin jika keduanya sangat mirip. Hanya, bola mata mereka yang berbeda. Namun, Armed menemukan mata itu pada mata Vina.


"Om, nama om siapa?" Tanya Vina sambil memainkan telinga Bian.


"Emm, nama om Bian," jawab Bian.


Vina pun hanya menganggukkan saja, tak


lama....


"Aaarghhhhh..." Teriak Armed.


Sontak saja mereka semua menoleh ke arah Armed. Dilihatnya Armed tengah mengusap daun telinganya yang tampak memerah.


"Vina cuka cama telinga om Bian, makanya Vina gigit telinga om itu coalnya gak tega kalo gigit telinga papa Upcc...." Ucap bocah itu sambil menutup mulut di akhir kalimatnya.


Berbeda dengan Bian dan Arshi yang tengah menahan tawa, Nara malah sebaliknya. Ia menghela napasnya pelan.


"Vina sayang, kamu gak boleh gitu. Ayo minta maaf sama om itu." Bujuk Nara pada Vina.


"Damau! Om itu tadi uda jaat cama Vina dan Vino!" Teriak Vina dengan wajah memerah menahan tangis. Vina mengira jika mamahnya membela Armed padahal Nara hanya tak ingin anaknya bersikap tak sopan pada orang.


"Sayang...." Lirih Nara.


"Mama jaat, mama belain om jaat hwaaaa hiks hiks hikss" Teriak Vina lagi dengan tangisnya yang menggema.


Nara kini tengah kelimpungan, Vina sangat sensitif dan cengeng berbeda denegan Vino. Bahkan, kini bocah perempuan itu tengah berguling-guling sambil menendang-nendang kan kakinya ke


udara.


Nara buru-buru memeluk anaknya. "Sayang, bukan gitu..." Ucapannya terhenti, ia harus memikirkan cara bagaimana ia bisa menghentikan Vina menangis.


Tiba-tiba Bian datang. "Vina, jangan nangis yah. Nanti om... papa kasih om itu pelajaran." Ucap Bian lembut sambil menekan kata papa pada kalimatnya.


Sontak saja Nara membelalakan matanya pada Bian. Sedangkan Bian hanya cengir saja pada Nara.


"Emang hiks om itu hiks hiks macih cekolah yah hiks hiks," tanya Vina polos di tengah isakannya.


Sontak saja Bian gelagapan, ia tak tahu harus memberikan jawaban seperti apa pada Vina. Ia menoleh pada Nara, tapi yang di lihat Nara hanya acuh saja, bahkan terkesan mengejek.


"Ah, iya om itu masih sekolah." Jawab Bian, toh yang di katakannya bukan sebuah kebohongan. Armed masih kuliah dan itu sama-sama sekolah kan?


"Tapi, ko gak catu cekolah sama Vina?" Tanya nya lagi.


Bian menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia kembali melirik Nara, berharap Nara melakukan sesuatu.


"Vina, sayang. Vina laper kan? Mau makan apa biar mama masakin?" Tanya Nara lembut.


Ajaib. Wajah Vina langsung berbinar saat Nara menawarkan makanan. Pantas saja badan Vina lebih berisi ketimbang Vino ternyata Vina hobi makan.


"Vina mau cpaghetti mama..." Ucap Vina dengan wajah polosnya. Matanya tampak berbinar meski ada bekas air mata.


"Yaudah, Vina jangan nangis lagi oke?"


"Oce mama," jawab Vina gemoy.


Di meja, terlihat aura permusuhan yang sangat kentara. Vino dan Arshi memandang Armed dengan tajam. Sebenarnya Armed tidak takut, hanya saja ia tak ingin mengulangi kesalahannya lagi.


Armed menghela napasnya lega saat melihat Nara dan Bian sudah berjalan ke arahnya. Tadi, Vina berlari cukup jauh lalu guling-guling sambil menangis.


"Kalian pulang deh!" Usir Arshi pada Bian dan Armed.


Bian dan Armed mengangguk pasrah. Ralat, hanya Bian saja. Sedangkan Armed bersorak senang, ia sudah tak sanggup bersitatap dengan Arshi yang sedari tadi memainkan pisau bedahnya.


***


Hari sudah beranjak malam, Nara masuk ke dalam kamar anaknya. Ia mengamati wajah kedua anaknya, mereka sangat tampan dan cantik. Nara mengecup dahi anak-anak nya secara bergantian.


"Good night kesayangan mama," ucap Nara lalu bernajak keluar. Nara menutup pintu kamar anaknya pelan. Kemudian, ia berjalan menuruni tangga.


"Lo belum tidur?" Tanya Nara pada Arshi yang masih sibuk menonton tv.


"Kebiasaan shif malem kali gue, jadi susah tidur." Jawab Arshi sekenanya.


"Lo ada masalah?"


Arshi sontak menoleh. "Kelihatan banget yah?" Tanya Arshi.


Nara mengangguk mengiyakan.


Huh, Arshi menghela napasnya kasar.


"Gue mau pindah kayaknya..." Ucap Arshi sambil menatap Nara. Nara hanya diam, sambil mendengarkan ucapan Arshi.


"Gue takut gak profesional, gue takut perasaan gue buat dokter George malah jadi bumerang sama kerja gue di rumah sakit."


"Kemaren gue lihat di salah satu rumah sakit lagi butuh dokter bedah, apa gue pindah yah?"


Nara menghela napasnya, sejujurnya ia bingung harus menanggapi Arshi seperti apa. Tapi, sebagai sahabat yang baik Nara tidak ingin sahabat terus tersakiti karena cinta sepihaknya.


"Senyaman nya Lo aja, kalo emang hal itu buat Lo gak profesional yaudah pindah aja. Tapi, pikiran baik-baik lagi Ar, keluarga besar Lo ada di sana. Jangan sampai Lo menyesal di kemudian hari." Ujar Nara.


Arshi hanya diam, ia tampak berfikir keras untuk hal ini. "Yaudah sana tidur, udah malem!" Ucap Nara sambil beranjak ke kamarnya. Namun...


"Nar, Lo udah lupain Arga?" Tanya Arshi tiba-tiba.


Deg.


Langkah Nara terhenti, tiba-tiba bayang-bayang Arga berputar di ingatannya. Bayangan betapa tampannya wajah Arga, betapa baik dan lembutnya Arga pada dirinya.


Nara menghela napasnya kembali. "Sampai kapan pun gue gak bakalan bisa lupain Arga!" Jawab Nara.


"Emangnya Lo gak tertarik gitu sama brondong tadi, siap namanya?" Ucap Arshi sambil mengingat-ingat pemuda yang hampir saja menjadi korban eksekusinya.


"Bian."


"Nah, iya itu." Ucap Arshi.


Andai Arshi tahu jika umur Bian seumuran dengan mereka, hanya saja stayle Bian yang sangat tidak mencerminkan dengan usianya.


Nara menggeleng kan kepalanya, lalu beranjak menaiki tangga, di lantai atas hanya ada dua kamar, yaitu kamarnya dan juga Vino dan Vina, sebenarnya masih ada satu ruangan lagi, hanya saja rumahan itu kosong tidak ada ranjang dan perabotan lainnya. Jadi, Arshi tidur di kamar tamu yang ada di lantai satu.


"NAR! BRONDONG ZAMAN SEKARANG MERESAHKAN!" Teriak Arshi sambil terkekeh.


"GUE GAK SUKA BRONDONG!" Teriak Nara dari lantai dua.


***


Saat ini Bian baru pulang dari apartemen Armed. Entah ada apa di dalam apartemen Armed sampai-sampai Bian sangat betah disana.


Armed masuk ke dalam rumahnya, di sana ia di sambut pak so kepala pelayan di rumahnya.


"Momi udah tidur?" Tanya Bian.


"Nyonya sudah beristirahat Tuan muda." Jawab pak so.


Bian mengangguk. Lalu berlalu begitu saja. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di kasur kingsaze nya. Hari ini terasa melelahkan. Kemudian ia tertidur tanpa mengganti pakaiannya bahkan sepatu pun masih melekat di kakinya.


Biar menguap lebar, ia menyipitkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang terpancar dari jendela kamarnya. Ia kemudian melirik jam di atas nakas, ia membulatkan matanya saat melihat sudah jam 06:00 Buru-buru ia ke kamar mandi. Namun, setelah selesai mandi ia berdiam diri di walk on closed nya.


"Bukannya gue gak punya jadwal yah," gumam Bian. Setelah itu ia mengambil pakaian biasa lalu ia berjalan ke arah ranjang nya. Baru saja ia berancang-ancang akan menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk itu, tiba-tiba sebuah suara menghentikannya.


Tok! Tok! Tok!


Bian berjalan lunglai ke arah pintu, ternyata pak so yang mengetuk pintu kamarnya.


"Tuan muda, nyonya menunggu anda di ruang makan. Dan ini pakaian anda. Nyonya bilang, jika dalam 15 menit Guan muda tidak turun...." Pak so menhentikan ucapannya, ia bimbang apa harus melanjutkan nya atau tidak.


Pak so hanya diam saja, bahkan Bian sampai heran pada pak so. Terkadang ia berprilaku seperti patung.


Bian langsung mengambil baju yang di berikan oleh pak so, ia mengernyitkan dahinya. Pak so memberika stelan jas. Tiba-tiba saja matanya membulat, ia baru ingat jika mulai hari ini ia akan kembali ke perusahaan. Bian buru-buru menutup pintu kamarnya. Meski Bian pecicilan tapi ia tak akan mengingkari ucapan yang keluar dari mulutnya. Dua tahun hengkang dari perusahaan membuat Bian terlena akan kebiasaan hidupnya yang hanya bangun siang, kuliah, main, dan kegiatan unfaedah lainnya.


Di meja makan Mona sudah menggerutu sedari tadi, anaknya Bian benar-benar membuatnya sakit kepala. Tak, lama terdengar derap langkah mendekati meja makan. Dia adalah Bian.


"Pagi mom," sapa Bian.


"Pagi sayang," jawab Mona. Meski jengkel dengan sikap Bian tetap saja Bian akan menjadi anak kesayangannya.


Mona tersenyum melihat penampilan anaknya yang terlihat dewasa, jika biasanya Bian seperti para remaja labil, kini Bian terlihat seperti seorang laki-laki dewasa yang penuh kharisma. Bian sangat mirip dengan alm suaminya.


"Kamu sangat tampan nak, kamu mirip sekali dengan mendiang Daddy mu." Ucap Mona.


Hati Bian melemah, jika mominya sudah berbicara tentang Daddy nya ia pasti merasa sedih. Ia merasa belum bisa membahagiakan mominya.


Bian janji mom, Bian akan temukan dalang dari kecelakaan itu. Batin Bian.


"Ayo sarapan!" Ajak Mona pada putranya


Bian.


Kedua nya sarapan dengan Hidmat, tak ada lagi Bian yang pecicilan saat ini. Bahkan Mona tampak heran dengan putranya saat ini.


Mona menggapai tangan Bian lalu menggenggamnya. "Momi tidak apa-apa Bian, jangan terlalu dipikirkan." Ucap Mona.


"Maafin Bian mom, Bian janji bakal ngurus perusahaan."


Mona tersenyum, ia mengusap tangan anaknya. Setelah selesai sarapan, Bian dan Mona beranjak menuju kantor.


Sedangkan di sisi lain, Nara baru saja sampai di sekolah anak-anaknya.


"Belajar yang rajin ya sayang," ucap Nara sambil memberikan ciuman di dahi kedua anaknya.


"Iya mama," jawab mereka berdua.


Nara tersenyum pada kedua anaknya, lalu melambaikan tangannya dari luar gerbang. Setelah kedua anaknya masuk, barulah Nara masuk ke dalam mobil. Setelah itu, Nara tidak langsung pergi ke caffe melainkan ia kembali lagi ke rumahnya. Ia harus mengantarkan Arshi ke bandara. Arah sekolah Arshi dan bandara berlawan arah jadi Nara hari kembali lagi ke rumahnya.


Nara memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. Ia melihat Arshi tengah duduk di sofa sambil memakan cemilannya.


"Udah siap?" Tanya Nara.


"Udah. Sorry yah gue ngerepotin Lo," ucap Arshi tak enak.


"Ck, kaya ke siapa aja Lo." Ujar Nara.


"He he..."


"Yaudah, ayo buruan. Nanti Lo telat!"


"Gakpapa, paling gue nginep lagi di rumah Lo." Ucap Arshi.


"Gak yah, beras mahal!" Tukas Nara.


"Elah, pelit lu!"


"Bodo!"


Perdebatan terus terjadi di antara keduanya, entah apa saja yang mereka bicarakan di dalam mobil. Sampai bunyi ponsel milik Arshi mengentikan perdebatan keduanya.


"Siapa? Tanya Nara penasaran.


Arshi memperlihatkan ponselnya, disana tertera nama 'dokrer George'


"Yaudah angkat!" Titah Nara.


Arshi mengangkat panggilan telepon itu.


"Hal..."


"Kenapa lama sekali menjawab telpon dari saya! Segera pulang! kamu memiliki jadwal operasi yang padat!"


"Iy..."


Tut.


"Hmmfff.... Ha ha ha ha...." Nara dan Arshi tertawa. Dokter George adalah dokter kepala di rumah sakit tempat Nara dan Arshi kerja, dan ia sangat otoriter pada para dokter.


"Tuh kan apa gue bilang, dia makin galak." Ucap Arshi sambil tertawa getir. Sungguh ironi ia menyukai pria yang menyukai sahabatnya. Tapi, meski begitu itu tidak ada pengaruhnya pada persahabatan mereka berdua.


Sesampainya di bandara, mereka berdua berpelukan.


"Gue bakalan kangen banget sama Lo Ar." Ucap Nara.


"Gue juga, apalagi sama ponakan gue yang aduhai." Ucap Arshi sambil terkekeh.


Mereka melepas peluknya saat pemberitahuan pemberangkatan menggema di bandara. Kemudian, Arshi berlalu pergi untuk masuk ke dalam pesawat.


Nara membalikan badannya, baru saja ia duduk di bangku kemudi tiba-tiba saja ponselnya bergetar.


"Hallo,"


"Baik Bu, saya akan segera kesana."


Tut. Nara langsung meluncur ke sekolah anak-anaknya. Barusan ia mendapat kabar jika anaknya berkelahi di sekolah, tentu saja ia sangat panik saat ini. Apalagi ia mendengar suara tangisan dari anaknya.


Sesampainya di sekolah, Nara langsung berjalan ke arah ruangan kepala sekolah.


Tok! Tok! Tok!


Nata membuka pintu ruangan itu, ia langsung di sambut oleh pekikan kedua anaknya.


"Mama..." Teriak mereka berdua dengan berderai air mata.


Nara berjongkok menyambut pelukan kedua anaknya.


"Oh, jadi kamu ibu kedua anak ini! Pantas saja anaknya begitu ternyata ibunya masih muda, pasti belum becus mendidik anaknya!" Tukas seorang wanita dengan lipstik berwarna merah menyala.


Sontak saja pembicaraan wanita itu membuat darah Nara mendidih.


"Anda tidak berhak sama sekali menolak bagaimana cara saya mendidik anak saya! Saya sangat tahu betul bagaimana anak saya! Vino dan Vina anak yang baik!" Tegas Nara.


"Halah, lihat! Dahi anak saya memar karena anak kamu!" Tegas wanita itu tak terima.


Nara menoleh ke arah seorang anak laki-laki yang duduk di samping wanita itu, dan benar dahinya nampak memar. Nara memandang kedua anaknya.


"Bukan Vino sama Vina ma," cicit Vino pelan.


Nara mengusap rambut Vino dan Vina.


"Mama percaya sama kalian sayang." Ucap Nara menenangkan anaknya yang mulai ketakutan. Sepertinya telah terjadi sesuatu pada kedua anaknya.


"Anda dengar sendiri bukan, buakn anak saya pelakunya." Ucap Nara santai tapi tegas.


"Halah, mana ada maling ngaku!" Tukas wanita itu.


Baik Nara maupun wanita itu, mereka berdua sama-sama tidak mau mengalah. Bahkan Bu kepala sekolah sampai bingung melihatnya.


"SUDAH!!"


"HENTIKAN!!"


bersambung..